Chapter 23

964 Words

"Pa, kemarin Kak Aurel diapelin pacarnya, loh." Putri membuka pembicaraan pada suatu pagi di meja makan yang semula hening. Indra melirik putri sulung yang duduk di samping kanannya. Aurel yang merasa dilihat membesarkam pupilnya. "Nggak, kok, Pa!" "Bohong. Aku sama Mama saksinya," tukas Putri kemudian. "Iya 'kan, Ma?" Ia kemudian menjulurkan lidah pada Aurel yang duduk di depannya saat Vania menganggukan kepala tanda setuju. "Apa, sih, lo, Dek!" "Papa nggak ngelarang 'kok." "Beneran, Pa?" tanya Aurel tak percaya. Ketiga orang di ruangan itu tampak terkekeh. "Tuh, kan!" seru Putri. "Rese, lo, Dek! Gue 'kan cuma nanya." "Sekelas sama kamu orangnya?" tanya Indra. "Papa, ish!" "Kayaknya kakak kelas, Pa. Soalnya Ka Aurel panggilnya pake embel-embel 'Kak' mulu." Putri menjelaskan la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD