Dara Kabur Dari Rumah

1194 Words
Aku mendongak ke bawah balkon, kulihat jarak antara balkon kamarku dan tanah di bawah sana cukup jauh, sekitar kurang lebih enam meter. Sontak aku mendesah, mencemooh ide gilaku yang berniat kabur dari rumah. “Tapi kalau aku enggak buat masalah, Om Adam bisa-bisa makin deket sama wanita itu,” gumamku, lagi-lagi aku menghela napas berat. Kuputar otakku untuk mencari cara agar aku bisa kabur dari rumah ini, dengan begitu Om Adam pasti akan sibuk mencemaskanku alih-alih memanjakan si Gita. Pandanganku kemudian tertuju pada seprai yang membentang rapi membungkus kasur tidurku. Melihat seprai itu seketika senyumku melebar, dengan cepat aku pun menarik seprai tersebut, lalu melemparkannya dari balkon untuk sekedar mengukur panjang seprai itu. Ah, sial. Ternyata tidak cukup. Tapi, aku tidak kehabisan akal. Aku ingat Bi Ida juga menyimpan seprai lain di laci bawah lemari pakaian. Aku lantas bergegas menuju lemari pakaianku, kubuka laci besar yang ada di bagian bawah, sesuai dugaan, ada sekitar empat tumpukan seprai bersih di sana. Senyumku pun kembali mengembang. Aku harus segera menyambung semua seprai itu, mengikatnya kuat agar bisa kugunakan untuk turun ke bawah sana. Tidak butuh waktu lama, aku berhasil mengikat semua seprai itu. “Enggak sia-sia aku ikut pramuka waktu SMA dulu,” gumamku, puas melihat simpul yang kuikat sangat sempurna. Kemudian, aku langsung mengikat seprai yang sudah menjulur panjang itu pada besi balkon. Setelah ikatannya terasa cukup kuat, aku berusaha memberanikan diriku untuk melangkah keluar dari pagar pembatas balkon. Jujur saja, sebenarnya aku takut ketinggian. Tapi untuk kali ini, aku akan menepis rasa takutku. Aku pun mulai menuruni untaian seprai itu dengan mata terpejam, berharap kakiku lekas berpijak pada tanah. Namun, sialnya saat aku baru sampai dipertengahan, aku mendengar suara Om Adam dari arah kamarku. Dia memanggil-manggil namaku karena tidak mendapatiku di kamar itu. Aku harus bergegas sampai di bawah sebelum Om Adam menyadari keberadaanku di sini. “Ayolah, Dara. Sedikit lagi,” gumamku, hanya tinggal sekitar dua meter lagi aku tiba di bawah sana. “Dara! Kamu ngapain?!” Suara Om Adam tiba-tiba terdengar, intonasinya menggelegar keras, memecah keheningan malam. Aku sontak mendongak ke atas sana. Sial! Dia menemukanku. Kulihat tangan Om Adam mulai meraih seprai yang masih kupegang kuat. Dia berusaha menarik seprai ini ke atas. Aku tidak akan membiarkannya berhasil menarik tubuhku kembali ke atas sana. Tidak akan. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah melepaskan pegangan tanganku dari seprai ini, yang artinya aku harus jatuh ke bawah sana apa pun resikonya. “Jangan dilepas, Dara,” ujar Om Adam, seolah dia mengetahui ide gilaku yang berniat melepaskan seprai ini dari genggaman tanganku. Namun, bagiku larangannya adalah perintah yang harus aku lakukan. Detik selanjutnya, aku benar-benar melepaskan pegangan tanganku. Aku sudah pasrah dengan resiko yang akan aku dapatkan. Aku hanya bisa berharap semoga tidak ada tulangku yang patah saat tubuhku menyapa keras tanah berumput di bawah sana. Mataku pun terpejam saat kurasa tubuhku melayang beberapa detik di udara. Aku bahkan sudah mempersiapkan mulutku untuk berteriak kesakitan. Tapi anehnya ... saat aku merasa tubuhku menghantam tanah, aku sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Sontak aku pun membuka mata, kulihat tubuhku benar-benar sudah berpijak pada tanah berumput yang beberapa saat lalu terlihat sangat mengerikan dari atas sana. “Eh? Kok enggak sakit ya?” ucapku. Aku bahkan sempat melompat-lompat di atas tanah itu untuk memastikan bahwa yang kupijak ini beneran tanah. “Apa karena rumputnya yang tebel jadi enggak kerasa sakit ya pas aku jatuh?” gumamku, sibuk sendiri memikirkan tubuhku yang sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Semua tulangku bahkan masih terasa aman. Ah masa bodoh dengan itu, yang terpenting sekarang aku harus segera kabur. Sebelum pergi, aku kembali mendongak ke atas, kulihat Om Adam sudah tidak ada di sana. Ah sialan, dia pasti udah otw turun ke bawah buat kejar aku. Aku pun dengan terburu-buru mengambil tas ransel yang sebelumnya kulempar dari atas balkon. “Dara!” Suara Om Adam terdengar cukup dekat, sepertinya pria itu sudah berada di lantai satu rumah ini. “Jangan sampai usahamu sia-sia, Dara. Ayo lari,” ucapku, pada diri sendiri. Kemudian, aku mulai melangkahkan kakiku yang tak memakai alas apa pun bergegas menuju gerbang. Di gerbang, Pak Amin tampak menatapku heran. “Pak Amin, tolong bukain gerbangnya,” pintaku, dengan napas yang sedikit tersengal-sengal. “Neng Dara emangnya mau pergi ke mana malam-malam begini?” tanya Pak Amin. “Aduh, Pak Amin. Buruan bukain aja, keburu hantunya makin deket,” ujarku. Tatapan Pak Amin semakin bingung, tapi dengan sigap beliau membukakan kunci gembok yang mengunci gerbang rumah. Setelah gembok itu disingkirkan. Aku yang tak sabar langsung membuka gerbang itu sendiri, dan bergegas pergi sebelum Om Adam sampai. “Makasih, Pak Amin. Jangan lupa dikunci lagi gemboknya,” seruku dari luar gerbang. Pak Amin pun menuruti perkataanku, beliau langsung menutup pintu gerbang dan memasang kembali gembok besar itu. Aku tersenyum puas saat kudengar suara kunci gembok itu berdenting. Gerbang rumah sudah kembali terkunci, tepat saat kudengar ada suara Om Adam di balik gerbang itu. “Pak Amin lihat Dara?” tanya Om Adam. “Neng Dara ... barusan keluar,” jawab Pak Amin. “Kenapa Pak Amin biarin dia keluar? Kan Pak Amin tahu kalau Dara lagi dihukum,” omel Om Adam. “Ta-tapi tadi Neng Dara kelihatan panik, Pak. Neng Dara juga bilang kalau dia lagi dikejar sama hantu,” terang Pak Amin, dengan polosnya beliau percaya begitu saja dengan perkataanku tadi. Aku sampai tidak bisa menahan tawaku yang masih menguping percakapan mereka di balik gerbang. “Kalau gitu saya hantunya,” sungut Om Adam. “Saya yang kejar Dara karena dia mau kabur dari rumah,” timpalnya. Aku terkikik sendiri menguping perkataan Om Adam barusan. Dia pasti sangat kesal. “Taksi.” Aku berseru pada taksi yang sangat kebetulan sekali melintas di depan mataku. Sudah hal biasa banyak taksi yang lewat di jalanan ini, karena jalanan di daerah sini merupakan jalanan umum yang cukup ramai dilewati kendaraan setiap harinya. “Taksi, Mbak?” tanya si sopir taksi, menghentikan mobilnya tak jauh dari tempatku berdiri. “Iya, Pak,” jawabku. Sebelum aku masuk ke dalam taksi itu, aku menoleh kembali ke arah gerbang, kudengar suara kunci berdenting dengan gembok yang berusaha dibuka oleh seseorang. Om Adam pasti sedang berusaha membuka gembok gerbang itu. “Bye, Om Adam,” seruku. Sengaja aku memperkeras suaraku agar pria itu mendengarnya. “Dara!” Om Adam berseru, kulihat pria itu mengintip dari celah segi empat yang ada di dekat gagang gerbang. Aku tersenyum miring ke arahnya, lalu bergegas masuk ke dalam taksi ketika gerbang itu berhasil dia buka lebar. “Pak buruan pergi, Pak. Saya mau dikasarin sama pria itu,” ujarku pada si sopir taksi yang percaya dengan perkataanku barusan. Senyumku mengembang puas saat kulihat Om Adam berusaha berlari mengejar mobil taksi yang kutumpangi. Namun, saat kulihat dia berusaha mengejarku dengan keadaan bertelanjang kaki, seketika rasa kasihanku mencuat, aku tiba-tiba merasa bersalah padanya. Ada perasaan yang membuatku ingin sekali meminta si sopir taksi untuk menghentikan laju mobil ini. Tapi, egoku terlalu tinggi, aku berpaling dari menatap Om Adam, kututup mata hatiku rapat-rapat, berpura-pura tidak mendengar suara Om Adam yang masih menyeru namaku beberapa kali. ‘Maaf, Om Adam. Aku cuma minggat bentar kok. Besok aku pasti pulang.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD