Aku melipat kedua tanganku, berdiri di tengah tangga sambil menatap si Gita yang baru tiba di ruang tengah bersama Om Adam.
“Dara? Ngapain kamu keluar kamar?” Om Adam yang menyadari keberadaanku langsung bersuara.
Aku tidak menggubrisnya, mataku masih menghunus tajam pada tangan Kak Gita yang melingkar sempurna di lengan pria yang kucintai.
Om Adam yang mengetahui arah tatapanku seketika langsung menyingkirkan tangan Kak Gita dari lengannya.
Bagus, dia cepat menyadarinya. Mungkin jika sedetik saja Om Adam tidak peka dan tidak lekas menyingkirkan tangan wanita itu dari lengannya, bisa saja saat ini kuku-kukuku sudah syahid karena bertarung dengan kulit badaknya Kak Gita.
“Hai, Dara. Kita ketemu lagi. Ayahmu bilang, kamu lagi dihukum ya. Ayahmu udah cerita ke aku soal kejadian malam itu, lagian kamu sih udah dibilangin kok ya masih bandel, padahal malam itu aku udah bilang sama kamu, jangan pergi jauh-jauh. Kamu juga izinnya ke toilet tapi malah pulang tanpa pamit,” kata Kak Gita.
Aku mengembuskan napas berat, dadaku panas mendengar ocehan wanita itu.
“Kamu juga udah gede, Dara. Harusnya kamu bisa lebih bersikap dewasa, bukannya malah buat ulah terus. Kasihan ayahmu ini,” lanjutnya.
Aku mengorek kupingku dengan jari telunjuk, mendengar perkataan si Gita membuat telingaku seperti dirayapi tentara semut, gatal.
“Om Adam pungut burung beo dari hutan mana sih? Berisik banget,” ujarku kemudian.
Bola mata Kak Gita seketika membulat tajam mendengarku berbicara lancang seperti itu padanya. Ups, sepertinya kalimatku tepat sasaran, dia tampak sangat tersinggung dengan kata-kataku tadi.
Aku pun tersenyum miring membalas tatapan tajamnya. Puas dengan tanggapannya yang terlihat sangat kesal padaku.
Namun, ada satu hal yang membuatku merasa aneh. Kulihat diam-diam Om Adam mengulum senyumnya. Kenapa pria itu mesam-mesem sendiri? Bukankah seharusnya dia marah padaku karena pacarnya itu aku katain? Ini kok malah senyum-senyum, seolah merasa lucu dengan mulut sarkasku pada si Gita.
Aku sontak menyipit ke arah Om Adam, menatapnya penuh selidik.
Saat pandangan kami bertemu, kulihat Om Adam berdehem pelan. Kemudian dia berkata, “Kembalilah ke kamarmu, Dara.”
Aku mencebik menanggapinya. Tapi kemudian, pandanganku kembali pada Kak Gita, aku menatapnya sinis sembari berkata, “Oke, aku akan kembali ke kamarku, lagian mataku juga udah sakit lihat seseorang yang mukanya lebih cantik mbak kunti daripada dia.”
Sekali lagi aku tersenyum puas melihat wajah Kak Gita yang kembali memerah karena emosi.
“Sayang, Dara barusan ngatain aku kan?” ujarnya sembari mengguncang pelan tangan Om Adam.
Aku yang baru saja menaiki dua anak tangga pun sontak menoleh sesaat ketika mendengar si Gita berkeluh kesah seperti itu pada Om Adam.
“Dara barusan cuma bercanda,” kata Om Adam sembari melepaskan tangan Kak Gita yang hendak bergelayut manja di lengannya.
Setelah itu, kulihat Om Adam berlalu pergi, usai menyuruh Kak Gita menunggunya di ruang tengah.
Senyum senangku seketika terukir, sepertinya sampai sekarang Om Adam tidak secinta mati itu pada si Gita.
***
Theo membuka pintu apartemennya, terlihat seorang wanita cantik berpakaian minim mengurai senyum padanya.
“Hai.” Wanita itu berniat menyapa untuk sedikit basa-basi. Tapi, Theo tampak cuek saja, dia hanya diam menatap tubuh wanita itu dari atas sampai bawah. Setelah menilai kalau tubuh wanita itu masuk dalam kriterianya, Theo pun menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk wanita itu melangkah masuk ke dalam apartemen sewaannya itu.
“Masuklah.”
Si wanita pun masuk, dia masih mengumbar senyumnya, seolah tak masalah dengan sikap cuek Theo padanya, dia juga tampak tak risih saat mata keranjang Theo sibuk mengamati tubuhnya.
“Aku mandi dulu, kamu tunggulah di sofa itu,” kata Theo.
Wanita itu mengangguk, dia pun berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu. Ia duduk di sana dengan anggun, lalu menoleh dan kembali memamerkan senyum cantiknya ke arah Theo.
Namun, lagi-lagi Theo tak begitu menggubris senyuman itu, dia berlalu pergi menuju kamarnya untuk mandi, membersihkan dirinya yang belum lama tadi baru pulang dari kantor.
Beberapa saat kemudian.
Sekitar dua puluh menit berlalu. Theo pun turun dari lantai atas. Rambutnya masih tampak basah, bahkan beberapa air masih menetes dari rambut hitamnya itu.
Theo lantas berjalan mendekati si wanita panggilan yang sejak tadi sudah menunggunya. Wanita itu tampak tersenyum menyambut kedatangan Theo yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang hingga lututnya.
“Cepat lakukan tugasmu,” ujar Theo. “Aku membayarmu mahal bukan hanya untuk mengumbar senyum jelekmu itu padaku,” timpalnya.
Si wanita tidak protes diejek seperti itu, baginya tidak masalah mendapatkan ejekan apa pun dari pelanggannya, asalkan bayarannya setimpal, ejekan ataupun makian tak akan dia pedulikan.
Wanita itu pun dengan patuh langsung mendekati Theo, dia berlutut di depan Theo yang duduk di sofa.
“Dara ...,” lirih Theo, sepertinya dia mulai mengaktifkan fantasi liarnya, dia membayangkan wanita yang tengah melayani nafsu bejatnya itu adalah sosok Dara, sepupunya sendiri, sekaligus wanita yang sangat dia cintai sejak kecil.
***
Benar-benar menjengkelkan. Bahkan makanan kesukaanku tak lagi menggoda untuk kusantap saat melihat betapa genitnya si Gita pada Om Adam.
Lagian ngapain sih Om Adam enggak usir si Gita, dari sore tadi wanita itu sudah ada di rumah ini, bahkan aku merasa udara di rumah ini sudah tercemar. Yang membuatku makin kesal, Om Adam malah ajak Kak Gita makan malem bareng. Maksudnya apa coba, mau simulasi jadi suami istri? Menyebalkan.
“Neng Dara, kok makanannya enggak dimakan? Apa Neng Dara mau makan makanan yang lain?” Bi Ida yang baru saja menyajikan air minum tampak heran menatapku yang sibuk mengaduk-aduk makanan di piringku tanpa berniat menyantapnya.
“Biarin dia makan makanannya yang ada, Bi. Bibi jangan terlalu manjain dia,” sahut Om Adam.
“Dara, di luar sana banyak loh orang yang enggak bisa makan. Jadi, makanlah apa yang dihidangkan sama Bi Ida. Lagian masakan Bi Ida enak kok,” kata si Gita. Lagi-lagi dia bersikap sok menasihatiku demi mendapatkan muka dan nilai plus di hadapan Om Adam.
Sebenarnya aku bisa saja menyahut perkataan wanita itu. Tapi, mood-ku saat ini sedang tidak baik, emosiku sudah berada di pucuk ubun-ubun, jika aku meluapkannya, bisa-bisa amarahku meledak tak terkendali, dan aku tidak mau menyesal setelah itu.
“Makanlah, Dara,” ujar Om Adam. Nada suaranya memang terdengar halus, tak ada bentakan tapi terasa tegas. Dan karena emosiku masih melambung tinggi, bagiku perkataannya itu seperti kembang api yang meledak-ledak di telingaku, membuat kekesalanku semakin menjadi-jadi.
Aku kemudian meletakkan sendokku, lalu bangkit dari dudukku, setelah itu aku melenggang pergi dari meja makan tanpa berkata apa-apa.
Kulihat Om Adam juga diam saja saat aku pergi, seolah tidak peduli dengan kepergianku. Padahal biasanya dia akan mengomel jika aku belum menyantap makananku atau tidak menghabiskannya. Tapi sekarang, seolah dia membiarkanku pergi dan tak berniat mencegahku.
Aku semakin kesal saat kulihat si Gita semakin melancarkan aksi genitnya usai aku melangkah pergi dari meja makan. Aku mendengus kesal melihat wanita itu mengusap tangan Om Adam. Dasar ular. Kejengkelanku pada mereka semakin menjadi-jadi, aku pun dengan segera kembali melangkahkan kakiku menaiki tangga, tak ingin menoleh lagi ke arah meja makan, melihat mereka berdua hanya membuat hatiku menyesak sampai ke tenggorokan.
*
Adam menghela napasnya berat, dia menyingkirkan tangan Gita dari lengannya, kemudian ia menatap Bi Ida yang tengah membereskan makanan Dara yang sama sekali tak disantap sedikitpun.
“Bi, tolong siapkan makanan baru untuk Dara ya. Biar saya yang antarkan ke kamarnya,” pinta Adam.
Bi Ida mengangguk tanpa berbicara, diamnya Bi Ida membuat Adam sedikit merasa heran. Apalagi raut wajah Bi Ida tampak muram, tak ada senyuman hangat yang biasa wanita paruh baya itu ukir. Sikap Bi Ida itu menunjukkan seolah beliau juga tidak menyukai keberadaan Gita di rumah ini.
“Sayang, kamu istirahat aja. Biar aku yang anterin makanan itu ke kamar Dara,” ujar Gita, dengan nada yang mengalun lembut, dia menawarkan diri secara sukarela.
Bi Ida yang mendengarnya tampak mencebik, dalam hati beliau mencemooh sikap Gita yang sok baik. Padahal biasanya jika Adam tidak ada di rumah dan Gita datang berkunjung ke sini, wanita itu tak pernah sebaik ini pada Dara. Bahkan beberapa kali Bi Ida mendapati Gita secara terang-terangan tidak menyukai keberadaan Dara sebagai anak angkatnya Adam.
“Tidak perlu, biar aku sendiri yang mengantarkannya ke kamar Dara. Kamu sebaiknya pulang saja, ini sudah malam,” cakap Adam.
“Tapi aku masih mau di sini, Sayang,” rengek Gita.
“Bukankah kamu bilang besok kamu punya jadwal pemotretan?” ujar Adam. “Sebaiknya kamu pulang dan istirahat, kecuali kamu mau ada lingkar hitam di bawah matamu saat pemotretan besok,” katanya.
Gita memberengut, tapi karena perkataan Adam ada benarnya, dia pun akhirnya mengangguk setuju.
“Kamu enggak berniat antar aku pulang?” Tiba-tiba Gita meminta servis yang lebih. Adam pun langsung menatap heran.
“Emang biasanya aku pernah anterin kamu pulang? Lagian kamu tahu sendiri kan, aku lagi sibuk urus anak gadisku yang lagi ngambek. Aku pikir kamu mengerti keadaanku, Git,” tutur Adam.
Helaan napas berat Gita terdengar, dia pun bangkit dari duduknya usai meraih tas berlogo G dan C.
“Suatu saat nanti aku berharap kamu mau sekali aja mengesampingkan Dara dan lebih perhatian sedikit saja padaku. Jujur, aku terkadang cemburu pada Dara yang lebih banyak kamu perhatikan daripada aku,” cakap Gita, mengutarakan isi hatinya yang terpendam selama bertahun-tahun berpacaran dengan Adam.
Adam pun ikut bangkit, dia berdiri berhadapan dengan Gita yang tampak kesal.
“Aku minta maaf kalau kamu merasa terabaikan, tapi sejak awal kita pacaran, aku sudah menjelaskannya padamu kalau aku memiliki Dara dalam hidupku. Jadi, jika kamu mau aku mengabaikan Dara walau hanya satu detik saja, aku tidak bisa, Git. Maaf jika itu membuatmu kesal. Karena itu aku berkali-kali menawarkan pilihan padamu, jika kamu tidak tahan dan tidak betah dengan hubungan kita, kamu berhak mencari laki-laki lain yang lebih baik daripada aku,” urai Adam. Dia berbicara dengan sangat santun, tak ada niat untuk melukai hati Gita sedikit pun.
Helaan napas Gita kembali terdengar, wanita itu kemudian mengangguk pelan.
“Aku mengerti, aku yang salah. Tidak seharusnya aku egois seperti ini,” ucap Gita, senyumnya pun kemudian terukir. Lalu dia memeluk Adam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia berpamitan pulang.
“Aku pulang ya,” pamit Gita.
“Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa hubungi Aren ya,” kata Adam, seperti biasa dia akan menyuruh Gita meminta bantuan pada Aren jika terjadi sesuatu.
Gita pun mengangguk paham. Setelah itu dia berlalu pergi dari hadapan Adam dengan senyum manisnya.
Senyum Gita terus terukir sampai ketika dia sudah berada cukup jauh dari Adam, senyum manisnya itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan penuh kebencian sambil menatap foto Dara bersama Adam di ruang tengah.