Sudah Terlanjur Cinta Sama Om

1469 Words
Aku melirik Om Adam yang tengah berbincang dengan Om Aren di seberang panggilan. Mendengar dari percakapannya, sepertinya mereka membahas soal mobil Om Adam yang tadi katanya pecah ban. “Oh ya, Dara. Besok kamu enggak dateng ke kampus kan?” tanya Om Adam padaku, usai panggilannya dengan Om Aren selesai. “Besok aku masih harus dateng ke kampus,” jawabku sembari mengalihkan pandanganku darinya yang secara mendadak menatap ke arahku. “Bukannya kamu udah selesai sidang satu minggu yang lalu? Untuk apa lagi kamu dateng ke kampus? Oh, pasti ini akal-akalan kamu biar kamu bisa keluar dari rumah kan?” ujar Om Adam, tak ragu menuduhku. Tapi, sejujurnya tuduhannya barusan emang bener sih. Aku pergi ke kampus bukan karena ada urusan tapi memang karena itu satu-satunya alasanku bisa keluar dari rumah. Ya, walaupun hanya beberapa jam, tapi setidaknya aku bisa menghirup udara bebas daripada berdiam diri di rumah yang bisa membuatku bosan. “Kamu hobi banget sih nuduh aku. Aku itu dateng ke kampus karena emang ada urusan penting,” kilahku sambil bersungut-sungut kesal padanya, biar aktingku terlihat meyakinkan. Helaan napas Om Adam terdengar, dia diam tak menanggapi perkataanku barusan. Tapi bukan berarti dia kalah apalagi mengalah, aku yakin dia tengah berusaha menahan diri untuk tidak membalas perkataanku karena saat ini kami sedang berada di dalam taksi. Sekesal apa pun dia padaku, dia pasti akan lebih memilih menjaga image-nya agar tidak dinilai buruk di mata orang lain. “Mas, ini alamatnya bener di sini kan?” Tak lama kemudian, taksi yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah dengan pagar tinggi yang membentang luas. Ya benar, ini rumah Om Adam. Rumah yang aku singgahi selama empat tahun terakhir semenjak orang tua dan kakakku meninggal. “Iya, bener, Pak.” Om Adam kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada si sopir taksi. Sedangkan aku, aku bergegas keluar dari dalam mobil, malas berada di dalam satu atmosfer yang sama dengan pria menyebalkan itu. Kakiku bergerak melangkah mendekati gerbang, saat aku melongokkan mukaku ke celah gerbang, terlihat Pak Amin—satpam di rumah langsung membuka pintu gerbang itu untukku. “Loh Neng Dara udah pulang? Pulang sama siapa? Pak Adam mana?” tanya Pak Amin, pandangannya beredar mencari sosok Om Adam yang masih terhalang taksi. Saat aku hendak menjawab pertanyaannya. Suara Om Adam tiba-tiba menyahut. Pria itu entah bagaimana sudah berada di sampingku. “Pulang dengan saya, Pak.” Om Adam pun berjalan melewati gerbang. “Eh, loh, pulang naik apa, Pak Adam? Mobilnya mana?” Pak Amin tampak heran, karena pagi tadi kami berdua pergi menggunakan salah satu mobil milik Om Adam. “Pecah ban, Pak. Tapi udah diurus sama Aren. Bentar lagi Aren ke sini anterin mobilnya. Pak Amin tolong urus ya,” kata Om Adam. “Siap, Pak Adam,” jawab Pak Amin. Pria paruh baya itu memang sangat patuh pada Om Adam. Entah apa yang membuat beliau seroyal itu, tapi berdasarkan cerita yang aku dengar dari Bi Ida, katanya dulu Om Adam banyak membantu Pak Amin terutama dalam perihal keuangan, jadi bisa dibilang sikap baik Pak Amin pada Om Adam saat ini adalah bentuk balas budinya. “Dara, kenapa masih diem di situ, buruan masuk ke kamar kamu,” cecar Om Adam. “Inget, hukuman kamu belum berakhir,” timpalnya. Raut mukaku seketika berubah masam, rasa kesalku kembali menggebu-gebu bagai kayu yang dilempar bara api. Sebal, kakiku menghentak keras, melangkah dengan langkah penuh kekesalanku padanya. Setibanya di dalam rumah, Bi Ida terlihat langsung datang menghampiriku. Wanita paruh baya itu tersenyum menyambut kepulanganku. Melihat senyum hangatnya membuat emosiku seketika padam. Aku pun secara refleks membalas senyumannya. “Neng Dara udah makan?” tanya Bi Ida saat baru tiba di depanku. “Belum,” jawabku jujur. Di depan Bi Ida, aku memang tidak pernah bisa menipu urusan perutku. Bahkan jika ingin memakan sesuatu, aku sering merengek padanya tanpa malu. “Ya udah ayo ke dapur. Neng Dara mau makan apa? Biar bibi masakin,” kata Bi Ida dengan nada suara yang teramat lembut. “Aku pengen makan ayam goreng tepung buatan Bi Ida, pakai sambel yang biasa Bi Ida buat,” jawabku. Senyum Bi Ida terukir menanggapi permintaanku, wanita paruh baya itu kemudian mengangguk, menyanggupi makanan yang aku inginkan. “Kamu mau ke mana, Dara?” Om Adam mendadak muncul, kehadirannya kembali membuat suasana hatiku rusak. “Neng Dara mau makan, Pak. Jadi saya sama Neng Dara mau pergi ke dapur,” ujar Bi Ida, membantuku menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Om Adam. “Bawa aja makanannya ke kamar dia, Bi. Dara masih dihukum. Dia enggak boleh keluar kamar kecuali ada urusan penting,” kata Om Adam. Lagi, pria menyebalkan itu mengutarakan perkataan menjengkelkannya. Selalu saja membahas tentang hukuman dan hukuman. Ngeselin. “Tapi, Pak Adam. Kan cuma di dapur aja,” lirih Bi Ida, berusaha merayu sang tuan agar mau memberiku sedikit keringanan. “Bi Ida tahu kan kalau saya paling enggak suka dibantah,” ucap Om Adam, tegas. “Turuti saja apa kata saya,” tandasnya. “Ba-baik, Pak Adam,” ucap Bi Ida, sontak beliau tak berani membantah. Setelah itu Bi Ida bergegas pergi, tersisalah diriku seorang diri menghadapi Om Adam yang tampak menatapku lekat. Seperti ada yang ingin dia utarakan. “Besok kamu enggak usah pergi ke mana-mana, kalaupun ada urusan penting di kampus, kamu cancel dulu,” kata dia, kembali membahas percakapan kami di taksi tadi. “Ya enggak bisa gitu dong, kalau misal beneran penting banget gimana? Kalau seandainya aku disuruh wajib dateng gimana?” ujarku. Pokoknya sebisa mungkin aku harus membuat alasan agar besok aku bisa pergi keluar. “Emang urusan penting apa sih yang buat kamu harus tiap hari dateng ke kampus?” tanya Om Adam, matanya menyipit, memandangku penuh selidik. “Masalah administrasi untuk kelulusan kamu juga udah aku urus,” timpalnya. “Jadi ada urusan penting apa lagi?” Dia kembali bertanya dengan nada mendesak tinggi. Hatiku mendesah putus asa. Sialnya aku tidak memiliki jawaban yang masuk akal untuk pertanyaannya itu. Seketika aku pun bungkam, bingung sendiri harus menjawab apa. “Pokoknya besok apa pun alasannya, kamu enggak boleh keluar.” Om Adam dengan tegas kembali melontarkan titahnya, membuatku semakin dongkol dengan sikap menyebalkannya itu. Dia selalu saja over protektif dan super otoriter. Semua orang di rumah ini seolah-olah diatur harus patuh pada setiap ucapannya. Andai aku bisa membuang rasa cintaku padanya, pasti sudah dari dulu aku kabur dari rumah ini, huh! Sayangnya rasa cintaku padanya sudah meresap hingga ke pedalaman RNA dan DNA-ku. “Tapi kan kamu bilang aku boleh keluar asalkan kamu yang anter, ya udah besok kamu anterin aku, kayak pagi tadi,” usulku kemudian. “Besok aku enggak bisa anterin kamu, aku punya jadwal kunjungan ke PT Cita Rasa Husada, anak perusahaannya Sadanu Group di Malang,” terangnya. Aku mendengus. “Dasar pria jahat!” ucapku, dengan lancang aku memprotesnya tanpa ragu sembari berpaling muka dan melangkah pergi dengan wajah bersungut-sungut. *** Pukul lima sore. Waktu rasanya berlalu sangat-sangat lambat. Dari balkon kamar, aku sibuk memupuk rasa bosanku yang semakin membumbung tinggi. Pria sialan itu bukan hanya mengurungku di kamar ini, tapi ia juga memutus semua akses hiburanku. Dia menyita televisi yang ada di kamarku, dia menyita handphone-ku, dia juga menyita laptop dan tabletku. Semua yang biasa aku gunakan untuk menghibur rasa bosanku dia sita, kecuali makanan dan camilan yang dia berikan secara berlebihan. Tck, aku benar-benar merasa seperti hewan peliharaan yang disuruh gendut olehnya. “Adam.” Suara itu tiba-tiba menyengat telingaku. Aku yang tadinya sibuk melamun seketika mengedarkan fokusku ke halaman depan rumah yang masih sedikit terlihat dari balkon kamarku. “Wanita centil itu, sialan, ngapain dia dateng ke sini?” Aku mendelik tajam melihat sosok Kak Gita yang entah atas tujuan apa dia datang ke rumah ini. “Adam, aku kangen sama kamu.” Suaranya mengalun manja, membuat telingaku seperti didesak ribuan laron yang menggelikan. Aku masih mencoba mengintip, kulihat Om Adam datang menghampirinya. “Om Adam apa-apaan sih, kenapa wanita kayak dia harus ditanggepin. Sumpah kesel banget aku lihatnya, harusnya kan langsung usir aja,” gumamku, sibuk mengomel sendiri sambil terus memperhatikan gerak-gerik Om Adam yang tengah berbincang dengan Kak Gita. Aku tidak bisa mendengar begitu jelas perkataan Om Adam pada perumpuan sialan itu. Tapi kemudian, kulihat Kak Gita melangkah masuk ke dalam rumah ini bersama Om Adam yang dia gandeng lengannya. “Persetan dengan wanita itu, berani-beraninya dia gandeng lengan Om Adam. Awas aja lo Gita.” Api cemburu seketika membara di dalam sanubariku, membuat dadaku berkobar panas menatap tingkah laku si Gita yang semakin hari semakin banyak tingkah. “Aku enggak akan diem aja, akan aku tunjukkan padanya, Om Adam itu milik siapa,” ujarku. Dengan emosi yang menggebu, aku berniat mendatangi si Gita yang sudah masuk ke dalam rumah ini. Rasanya jari-jemariku sudah meronta-ronta tidak sabar mencakar, mencabik dan menjambak rambut wanita itu. Awas aja lo, Gita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD