Sikap Protektif Adam

1165 Words
Tatapan pria itu menyorot tajam para direktur yang sedang berkumpul di meja rapat. Keheningan yang terjadi terasa sangat mencekam. Bahkan napas mereka seolah dicekat oleh sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Adam memijat pelipisnya saat melihat laporan keuangan perusahaan pada kuartal empat tahun ini. “Kalian tahu apa yang terjadi kalau sampai kesalahan laporan ini diterbitkan?” tanya Adam, netra hitam legamnya itu kembali menyorot para direktur dengan sangat tajam. “Perusahaan ini bisa kehilangan kredibilitasnya!” amuk pria itu, tak segan dia membanting dokumen yang tengah dipegangnya. “Dari tiga tim auditor yang dibentuk departemen keuangan, hanya satu tim yang melaporkan kesalahan ini pada saya. Bagaimana dengan dua tim lainnya?! Apa kalian sengaja tutup mata dengan kesalahan yang ada? Parahnya lagi kalian yang bungkam ini dari tim satu dan tim dua, harusnya kalianlah yang paling awal tahu kesalahan ini.” “Tidak, Pak Adam. Kami bisa menjelaskannya.” Adam mengembuskan napas berat. “Kalian jelaskan saja pada Aren,” tukasnya. Setelah berkata seperti itu, Adam bangkit dari kursinya, lalu dia melenggang pergi dari ruang rapat usai membanting dokumen laporan keuangan untuk yang kedua kalinya. Selepas kepergian Adam, semua orang di ruang rapat itu tampak mengembuskan napas lega. Jantung mereka akhirnya bisa berdetak normal. “Bukankah kita sudah melobi semua orang? Bagaimana bisa ada yang berani melaporkan kesalahan audit padanya, pasti ada salah satu orang dari tim tiga yang sudah menerima uang kita tapi diam-diam berkhianat,” bisik seorang pria pada pria paruh baya yang duduk di sampingnya. Helaan napas berat pria paruh baya itu terdengar. Dia mengendurkan dasinya yang terasa sesak mencekik leher. “Sepertinya sudah saatnya kita harus menyingkirkan dia dari perusahaan ini. Lagian, dia itu siapa, dia bahkan bukan bagian dari keluarga Sadanu,” kata si pria paruh baya, menatap sengit sosok Adam yang sudah lenyap dari pandangan. *** Pukul 15.45 WIB. Matahari masih sangat terik, dan aku terpaksa berdiri di tepi jalan demi menunggu seseorang yang katanya ‘sebentar lagi sampai’. Tapi yang membuatku jengkel, sampai detik ini pria itu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Padahal sudah hampir empat puluh menit berlalu sejak pesannya itu dia kirimkan padaku. “Sialan si om-om itu, tahu begini kan enakan aku naik ojek atau transportasi umum aja,” dumelku sambil mengibaskan tangan di depan mukaku. Ya Tuhan, rasanya gerah sekali. Jika di depanku ada kolam air, mungkin aku sudah mencoba berendam di sana. Benar-benar panas. “Dara.” Seseorang tiba-tiba memanggil namaku. Aku langsung menoleh. Pria itu datang mendekat padaku dengan senyuman ramah yang terukir lebar. Aku mengenal pria itu, dia adalah Theo—salah satu sepupuku dari keluarga mendiang papa. “Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Theo, dengan sigap dia berdiri di depanku, menghalau matahari yang tajam menyengat mukaku. “Aku lagi nungguin Om Adam, katanya mau jemput, tapi udah hampir sejam dia belum dateng-dateng,” ujarku, sedikit berkeluh kesah padanya. Aku dan Theo memang cukup akrab, tapi tidak terlalu dekat juga. Apalagi saat dua tahun lalu dia secara mendadak menyatakan perasaannya padaku. Sejak saat itu, aku perlahan menjauhinya. Aku khawatir dia kecewa karena aku tidak bisa membalas perasaannya lantaran diriku masih menyukai sosok Om Adam. Aku dan Theo sebenarnya beda usia dua tahun. Dia lebih tua dua tahun dariku, tapi karena dalam silsilah keluarga ayahnya adalah adik mendiang ayahku, jadi secara hierarki kekeluargaan, aku adalah kakak sepupunya, karena itu sejak kecil sampai detik ini aku tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel ‘kak’. Dia pun juga tidak mau memanggilku dengan embel-embel seperti itu. “Wajar dia belum dateng, baru beberapa menit lalu kami selesai rapat. Aku bahkan belum lama keluar dari ruang rapat,” kata Theo. “Terus ngapain kamu dateng ke sini?” Aku balik bertanya padanya. Heran saja melihatnya datang ke kampus ini, padahal dia sudah lulus dua tahun lalu. “Aku dapet undangan ngisi seminar hari Sabtu nanti, jadi aku dateng ke sini mau briefing dulu,” terang Theo. “Oh.” Aku menanggapinya sambil mengangguk pelan. “Kamu daripada nunggu kepanasan di sini mending ikut aku aja deh, kita bisa nunggu Kak Adam di dalem aula kampus,” anjur Theo. “Atau kalau enggak aku temenin kamu nunggu Kak Adam di kafe deket sini, seenggaknya biar kamu enggak kepanasan,” lanjutnya. “Enggak deh, aku nunggu di sini aja. Lagian aku enggak mau ganggu jadwal kamu. Aku yakin kamu pasti sibuk banget.” Aku berusaha menolak tawarannya secara halus. Semoga saja dia tidak tersinggung dengan penolakanku ini. “Kalau gitu, aku bakal tetep di sini temenin kamu,” kata Theo. Dalam hati aku mendesah, pria ini masih saja keras kepala seperti dulu. “Kamu enggak perlu repot-repot temenin dia,” sahut suara lain. Bersamaan dengan itu, tubuhku tiba-tiba dinaungi oleh sesuatu yang membuatku merasa teduh. Saat aku mendongak, terlihat sebuah payung melengkung di atas kepalaku. Sontak aku menoleh, Om Adam memegang payung itu dan mengarahkannya padaku, bahkan dia tidak peduli dengan tubuhnya sendiri yang disengat terik matahari. Inilah yang membuatku tidak mampu membencinya. Dia memang sering kali mengomel dan memberi hukuman yang menyebalkan padaku, tapi di sisi lain pria itu juga sangat perhatian dan menunjukkan kasih sayangnya padaku. Semua perlakuannya mampu membuat hatiku bergelinjang senang. Aku selalu meleleh dengan sikapnya yang menurutku romantis. Ah, sial. Aku benci perasaanku yang semakin hari semakin tergila-gila padanya. Sadarlah Dara, dia ini ayah angkatmu. “Maaf terlambat, ban mobilku bocor, jadi tadi aku cari bengkel dulu yang bisa derek mobilku,” terangnya. Oke, alasannya memang terdengar masuk akal, apalagi melihat kondisinya yang tampak sedikit berantakan dan kusut membuatku yakin kalau alibinya itu benar. “Terus kita pulang naik apa?” tanyaku kemudian. “Taksi,” jawabnya. “Biar aku antar aja,” sahut Theo. “Maksudnya, Dara biar aku antar pulang, jadi Kak Adam bisa urus mobil Kak Adam di bengkel,” imbuhnya. “Enggak usah, kamu enggak perlu repot-repot antar Dara. Aku bisa urus dia, kamu urusin aja urusanmu.” Om Adam langsung menolaknya tanpa basa-basi. Dari raut wajahnya, dia terlihat sangat tidak menyukai keberadaan Theo. “Aku sama sekali enggak ngerasa direpotin kok, apalagi ini tentang Dara. Aku siap lakuin apa pun untuk Dara,” tutur Theo, senyumnya terukir tulus padaku. Jujur saja, aku bukannya tidak menghargai perasaannya padaku. Hanya saja, sikapnya itu terlalu membuat organ dalamku merinding seperti disisir bulu halus yang menggelikan. “Aku bilang enggak usah ya enggak usah. Lagian kamu kayak pengangguran aja. Buruan selesaiin kegiatanmu di kampus ini, setelah itu balik ke kantor. Kamu enggak lupa kan masalah di kantor belum selesai. Aku menunjukmu sebagai manajer keuangan bukan untuk membuang-buang waktu seperti sekarang ini,” tukas Om Adam. Ugh, perkataannya itu sangat tajam. Raut wajah Theo bahkan langsung berubah masam. “Ayo, Dara.” Om Adam kemudian menarik lenganku, dia menyetop sebuah taksi dan masuk ke dalam taksi itu bersama denganku. “Bye, Theo,” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah Theo yang berusaha mengukir senyumnya untukku. “Tck, kamu itu emang gatel banget ya jadi cewek,” cibir Om Adam, mukanya terlihat sengit melihatku membalas senyuman Theo. Dih, dia kenapa sih. Cemburu kah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD