Bertengkar Dengannya

1567 Words
“Loh, Neng Dara kok udah pulang? Baru sejam Neng Dara sama Pak Adam pergi, masa udah selesai acaranya?” Bi Ida yang sedang mencuci piring tampak kaget melihat kehadiranku. “Om Adam sibuk sama rekan bisnisnya, jadi aku pulang aja,” terangku sembari meraih sebotol air mineral yang ada di dalam kulkas. Aku berjalan menuju meja makan, lalu duduk pada salah satu kursi yang ada di sana, kemudian meminum air mineral yang kuambil. “Pak Adam tahu kalau Neng Dara pulang?” tanya Bi Ida. “Mungkin sekarang dia lagi panik nyariin aku, itu pun kalau dia sadar aku enggak ada di pesta pernikahan itu lagi,” jawabku sambil meletakkan botol air mineral yang kuminum sedikit. “Bibi, Dara laper,” rengekku kemudian. Bi Ida menghela napas berat, kepalanya menggeleng heran dengan tingkah nakalku. Beliau pasti tak habis pikir dengan sikapku yang seringkali membuat Om Adam khawatir. *** Adam mempercepat langkahnya, dia masuk ke dalam rumah dengan wajah yang diselimuti amarah. Kakinya terus melangkah sampai akhirnya ia tiba di area dapur. Di sana terlihat ada Dara yang sedang makan ditemani Bi Ida. “Pak Adam.” Bi Ida langsung bangkit dari duduknya ketika sang tuan rumah datang mendekat. Wanita paruh baya itu menunduk hormat. “Neng Dara, Pak Adam sudah pulang. Buruan Neng Dara minta maaf,” bisik Bi Ida pada sang nona muda. Namun, Dara tampak abai, gadis itu masih sibuk memakan makanannya, sama sekali tidak peduli dengan kedatangan Adam yang terlihat seperti orang kesetanan. “Kamu itu bisa enggak sih Dar buat aku tenang sebentar aja. Kalau kamu terus-terusan kayak gini, jangan salahin aku kalau aku kirim kamu ke pesantren,” ancam Adam. Gerakan tangan Dara seketika terhenti, dia bahkan langsung meletakkan sendoknya, tak jadi menyuapkan makanan yang hendak ia makan. “Jadi sekarang kamu udah mutusin mau buang aku?” Adam terhenyak dengan asumsi Dara yang salah kaprah, gadis itu selalu saja berpikir negatif tentang semua keputusannya. “Siapa yang mau buang kamu, Dara. Aku cuma mau kamu belajar sopan santun. Aku ngerasa selama ini aku terlalu sibuk sama urusan kerjaan sampai aku gagal didik kamu jadi anak yang baik,” omel Adam. “Oh, sekarang kamu udah sadar kalau selama ini kamu terlalu sibuk sama kerjaan, baguslah. Tapi sayangnya kamu belum paham kenapa aku bersikap seperti ini sama kamu,” tukas Dara, gadis itu bangkit dari duduknya. Kemudian menatap Adam sekilas, lalu berlalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Tapi, Adam kemudian menghalangi langkahnya, dia mencekal lengan Dara karena merasa masih belum tuntas membahas permasalahan mereka. “Kalau gitu jelasin ke aku, kenapa kamu berubah jadi seperti ini. Aku tahu kamu memang gadis yang ceria dan dulu kamu juga suka berantem sama Hansel. Tapi, aku juga tahu kalau kamu selalu patuh sama aturan, enggak seperti sekarang ini,” cakap Adam. “Aku rasa tanpa perlu aku jelasin, kamu udah tahu kenapa aku tiba-tiba memberontak seperti ini,” kata Dara. Helaan napas berat Adam terdengar, seketika tatapannya berubah, dia menatap Dara lekat. “Apa karena Gita?” tanyanya. “Kalau sudah tahu kenapa tanya lagi,” sungut Dara sambil memalingkan mukanya karena kesal. “Astaga, Dara. Aku memiliki hubungan dengan Gita itu demi kamu,” tutur Adam. Dara mencebik. “Demi aku?” Dia tertawa, menetertawakan perkataan Adam yang terdengar konyol baginya. “Kalau memang bener demi aku, justru kamu harusnya enggak akan punya hubungan dengan wanita manapun. Karena aku yakin kamu pasti tahu kalau aku suka sama kamu,” tandas Dara. Adam mengusap wajahnya kasar. Dia tahu, dia sudah tahu kalau Dara menyukainya. Tapi saat ini status mereka di mata hukum adalah ayah dan anak. Sangat mustahil bagi Adam bisa membalas perasaan Dara yang selalu menggebu-gebu padanya. “Aku ayahmu, Dara,” ucap Adam. Nada suaranya menggelegar, otot rahannya mengeras, tatapannya begitu tegas menghardik ke arah Dara. “Bukan. Kamu bukan ayahku.” Dara langsung membalas, intonasi suaranya tak kalah keras. Matanya bahkan melebar sempurna, menatap Adam penuh emosi. “Ayahku sudah meninggal. Aku juga enggak pernah minta diangkat jadi anakmu. Aku enggak pernah berharap namaku ada di daftar kartu keluargamu sebagai anak. Apa aku pernah merengek jadi keluargamu? Enggak.” Dara menatap pria itu tajam, hingga Adam terpaku dengan kemarahan Dara. Ditatapnya wajah Dara lekat, ada gejolak amarah yang singgah membara di mata gadis itu. “Aren!” teriak Adam, memanggil asisten pribadinya. Sosok Aren pun muncul tak lama setelah Adam memanggilnya, dia langsung datang ketika namanya disebut oleh sang bos. “Ada apa, Pak Adam?” tanya Aren, sikapnya sangat sopan walaupun dia dan Adam seumuran. “Bawa Dara ke kamarnya, kurung dia dan bawa kunci kamarnya ke ruanganku,” titah Adam. Dara terbeliak mendengar perintah yang Adam lontarkan. Ini pertama kalinya pria itu menghukumnya dengan cara seperti ini. Bi Ida bahkan sama kagetnya. “Kamu enggak punya hak buat kurung aku, berengsek!” amuk Dara, dia berusaha memberontak, tapi Aren telah mencekal kuat tubuhnya. “Lepasin! Lepas!” Dara terus berusaha memberontak dengan emosinya yang membumbung tinggi. Tapi sayang sekali, tenaganya tak sebanding dengan Aren yang bahkan jauh lebih besar darinya. “Pak Adam, bukannya saya mau lancang. Tapi hukuman seperti ini, saya rasa Pak Adam perlu mempertimbangkannya lagi,” kata Bi Ida, merasa kasihan melihat Dara yang terus memberontak saat diseret paksa oleh Aren menuju lantai atas. “Bi Ida tidak perlu kasihan pada Dara, saya ayahnya, saya hanya berusaha mendidik anak saya dengan cara yang benar,” cakap Adam, sikapnya itu sangat otoriter, sama sekali tak ingin dibantah, dan memang sepeti inilah sikap Adam sesungguhnya ketika dia sudah kepalang emosi. “Apa karena Neng Dara punya perasaan sama Pak Adam makanya Pak Adam bersikap keras seperti ini padanya? Pak Adam, saya sudah memberitahu Pak Adam kalau Neng Dara melakukan pemberontakan karena dia takut Pak Adam meninggalkannya, dia takut Pak Adam melupakannya. Selama ini Neng Dara sangat menyayangi Pak Adam, apalagi Pak Adam adalah satu-satunya orang yang Neng Dara percayai setelah semua keluarganya meninggal. Bahkan Neng Dara juga tidak bisa bergantung pada kerabat dekatnya karena mereka hanya mengincar warisannya saja,” urai Bi Ida. Adam memijat dahinya, ia merasa kepalanya semakin berdenyut kuat memikirkan situasi saat ini. “Saya mohon Pak Adam beri keringanan pada Neng Dara. Neng Dara itu gadis yang polos, dia menjadi seperti itu karena semua orang yang menyayanginya sudah meninggal dalam kecelakaan empat tahun lalu. Neng Dara itu seperti anak kecil yang kehilangan tempat bersandar, mungkin tanpa kita tahu sebenarnya ada luka besar di dalam hati Neng Dara,” lanjut Bi Ida, mencoba membujuk sang majikan. “Bi Ida tidak perlu membujuk saya lagi. Saya mengerti maksud Bibi. Tapi saya tetap tidak bisa mencabut hukumannya begitu saja, biarkan Dara merenungi kesalahannya,” ujar Adam. Setelah itu dia pergi diiringi helaan napasnya yang terdengar berat. *** Terik matahari siang ini rasanya menyentak tubuhku untuk lekas mencari tempat berteduh. Aku berlari kecil melewati lapangan kampus dengan gesit. Setibanya di perpustakan, udara sejuk dari AC langsung merengkuh tubuhku. Aku bernapas lega, akhirnya kulitku bisa berhenti merengek karena sengatan matahari yang sangat panas. Kaki jenjangku bergerak pelan menuju salah satu kursi panjang yang ada di dekat jendela. Di bagian paling pojok sana, ada seorang wanita duduk seorang diri. Saat pandangan kami beradu, aku sontak memperpanjang langkahku agar lekas tiba di hadapannya. “Dara Larasati?” tanya wanita itu. Aku mengangguk menanggapinya. Kami memang tidak pernah bertemu sebelumnya. Jadi wajar kalau dia perlu mengonfirmasi siapa diriku sebelum kemudian dia mempersilakanku duduk di seberangnya. Aku pun singgah di kursi yang berada tepat di depannya. Kami duduk berhadapan, menatap satu sama lain dalam keheningan selama beberapa saat. Dua pekan yang lalu, sebuah akun asing tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat padaku. Awalnya, aku pikir itu hanya pesan spam dari orang iseng. Tapi, suatu ketika salah satu pesan yang dia kirimkan tertinggal di bagian notifikasi ponselku, dari sana aku membaca bahwa dia ingin bertemu denganku untuk memberitahuku sesuatu yang sangat penting. Sesuatu tentang kematian keluargaku. Tentu saja saat itu aku langsung merasa tertarik. Aku juga mulai menerka-nerka. Siapa orang ini sebenarnya? Kenapa dia tahu tentang kematian orang tuaku? Dan informasi penting apa yang akan dia berikan padaku? “Jadi, kamu sebelumnya adalah sekretaris mendiang ayahku?” Aku mulai buka suara saat kami sudah merasa cukup nyaman satu sama lain. “Benar, namaku Amira Anastasya,” ujarnya. “Saat mendiang Pak Adi masih menjabat sebagai CEO Sadanu Group, aku merupakan wakil sekretaris utama,” terang wanita itu. Aku mengangguk paham. “Aku sudah sangat lama ingin menemuimu sejak empat tahun lalu, Dara. Tapi, saat di pemakaman empat tahun yang lalu, kamu terlihat sangat terpukul atas kematian keluargamu. Aku akhirnya mengurungkan niatku untuk bertemu dan berbicara denganmu,” paparnya. “Sampai kemudian, aku teringat kembali dengan sosok Hansel, aku tidak bisa melupakannya, dia pria yang sangat baik. Aku merasa bersalah kalau aku tidak mengungkapkan fakta tentang kematiannya.” Keningku berkerut saat dia berbicara tentang mengungkap fakta kematian kakakku. Apa maksud dari perkataannya itu? Kenapa dia melontarkan kalimat profokatif yang seketika membuatku merasa aneh dengan kematian keluargaku? Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan? Aku masih diam, menunggunya kembali berbicara. “Dara, kecelakaan yang terjadi empat tahun yang lalu, semua itu bukan hanya sekedar kecelakaan biasa,” kata wanita yang mengaku sebagai Amira Anastasya. “Keluargamu dibunuh, Dara. Ayahmu, ibumu, dan Hansel, mereka mengalami kecelakaan karena ada seseorang yang ingin mereka semua mati,” tandasnya. Deg! Tanganku seketika gemetar mendengar perkataannya barusan. Benarkah keluargaku meninggal karena dibunuh oleh seseorang? Benarkah kecelakaan empat tahun yang lalu adalah ulah seseorang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD