Maunya Sama Om

1333 Words
Alunan musik lembut mengiringi langkah kakiku yang baru saja masuk ke aula tempat resepsi pernikahan diadakan. Aku berjalan sambil menggandeng lengan Om Adam erat, bahkan saking eratnya tubuhku sampai menempel padanya. Persis seperti gurita yang melilit tiang dermaga. “Oh ya ampun, Dara. Kamu cantik banget malam ini,” kata seorang wanita. Telingaku langsung panas saat mendengar suaranya yang sangat familier. “Gaunmu cantik, ayahmu pinter banget pilihinnya,” pujinya sambil melirik Om Adam dengan senyum sok cantiknya. “Kayaknya lain kali kalau ada acara, aku bakal ajak kamu ke butik buat pilihin aku gaun deh, Sayang.” Dia berbicara pada Om Adam dengan nada yang gemulai, aku bahkan merasa mual mendengarnya. “Om Adam sibuk, enggak ada waktu buat temenin kamu ke butik,” sungutku. Wanita itu mengurai senyumnya, aku yakin itu senyum palsu, lihat saja sudut bibirnya, melengkung dengan sangat terpaksa. “Gita.” Om Adam tiba-tiba bersuara, memanggil nama wanita itu. “Iya Sayang?” jawab si Gita, pandangannya dengan cepat tertuju pada Om Adam, bahkan dalam sekejap senyumnya langsung merekah sempurna. Cih, dasar bunglon. “Aku titip Dara ya. Aku mau sapa Pak Trisna dulu sama rekan bisnis yang lain,” cakap Om Adam, sontak aku langsung menatapnya dengan tampang protes. Ya jelas ogahlah aku dititipin ke wanita itu. Lagian Om Adam seenaknya aja nitipin aku, dikira aku barang apa. Ngeselin banget. “Kamu tenang aja, Sayang. Aku pasti jagain Dara kok.” Sumpah ya, jantungku rasanya lompat-lompat saking gelinya denger dia manggil Om Adam ‘sayang’ berulang kali. Hih! Pengen banget aku tuh ngolesin cabe sekilo ke mulutnya. “Makasih,” ucap Om Adam, kemudian dia mencoba melepaskan tanganku yang masih melingkar kuat di lengannya. “Dara, jangan buat masalah. Aku mau sapa rekan bisnisku dulu,” bisik Om Adam saat tahu kalau aku tidak mau ditinggal bersama wanita itu. “Aku ikut Om aja,” pintaku. “Enggak.” Dengan tegas Om Adam menyentak lenganku. “Kamu sama Gita dulu, aku cuma sebentar,” cakapnya. Kemudian, dia langsung berlalu pergi sebelum sempat aku menahannya. Aku berniat menyusulnya, tapi sialnya si wanita ondel-ondel menahan tanganku, membuat langkahku terhalang olehnya. “Kamu sudah besar, harusnya kamu paham kalau ayahmu pergi bukan untuk hal sepele, dia pasti akan membahas hal penting dengan rekan-rekan bisnisnya. Jadi, turuti saja perkataannya,” kata dia. Aku mencebik, kemudian menarik tanganku dari cengkeramannya. “Aku dengar kemarin malam kamu tidak pulang ke rumah ya. Aku harap kedepannya kamu tidak buat ulah lagi, Dara. Sikap nakalmu itu bisa membuat Kak Adam kelelahan,” ujarnya, kembali memberiku nasihat yang lebih terdengar seperti omong kosong menyebalkan. Aku bukannya tidak menghormati dia sebagai pacarnya Om Adam, tapi aku merasa dia itu tidak akan pernah pantas menjadi istrinya Om Adam. Lihatlah wajahnya yang penuh dengan polesan make up. Memang terlihat cantik sih, tapi aku sebagai perempuan merasa aneh melihat make up tebalnya itu. Apalagi hampir semua sudut mukanya dipermak, entah berapa kali dia melakukan operasi plastik. Yang membuatku lebih tidak menyukainya. Dia itu sedari awal kenal denganku, dia tidak pernah menyukaiku. Baginya, aku ini seperti hama yang ingin sekali dia singkirkan. Di depan Om Adam, dia selalu bersikap sok baik padaku layaknya calon ibu tiri yang baik pada calon anak tirinya. Tapi, ketika Om Adam tidak ada, mulutnya itu tidak akan pernah berhenti mengkritikku. Itulah kenapa aku tidak pernah menyukainya walau sudah tiga tahun kami saling kenal. “Ayo ikut aku. Aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku,” ajaknya. “Ada beberapa dari mereka yang seumuran denganmu juga, kamu bisa kenalan—” “Maaf, aku mau ke toilet,” ujarku, menolaknya dengan gamblang. Bahkan, aku langsung pergi saat dia hendak memegang tanganku. “Cepatlah kembali dan jangan pergi terlalu lama. Jangan buat ayahmu khawatir,” serunya dengan nada yang mengalun halus, seakan dia tengah menasihatiku dengan cara yang baik. Aku mencebik, dia sengaja berkata seperti itu agar orang lain yang mendengarnya menilai dirinya sebagai calon ibu tiri yang baik. Padahal semua itu hanya kamuflase. *** Adam tersenyum mendengar obrolan rekan-rekan bisnisnya yang saling membicarakan keharmonisan keluarga mereka. “Oh ya, Dam. Aku dengar beberapa hari yang lalu Dara buat ulah lagi ya?” tanya salah satu rekan bisnisnya, Pak Winarto namanya. Adam mesem menanggapi pria paruh baya berkumis itu. “Padahal dulu Dara anak yang manis, bahkan sifatnya mirip seperti mendiang ibunya, enggak tahu kenapa sekarang dia berubah jadi gadis pembuat ulah,” cakap Pak Damar, salah satu rekan bisnis Adam yang lain. “Kamu pasti kerepotan ngurus dia ya, Dam,” timpalnya. “Sama sekali enggak kok, Pak Damar. Justru menurut saya, Dara yang sekarang adalah Dara yang dulu saya kenal saat keluarganya masih hidup,” kata Adam, teringat kembali dengan pertemuan pertamanya saat Dara masih SMA. “Sejak dulu dia memang gadis yang ceria,” imbuhnya. “Tapi, apa kamu enggak ada niat buat nikah, Dam. Walaupun mukamu itu masih kelihatan seperti umur dua puluhan, tapi kamu harus inget, umurmu sudah tiga puluhan tahun,” kata Pak Trisna. “Bener kata Pak Trisna, apalagi di luaran sana banyak yang nyebar isu kalau kamu melakukan hubungan gelap dengan anak angkatmu sendiri,” sahut Pak Winarto. “Ya, walaupun kamu bisa saja menikah dengan Dara, tapi bagaimanapun juga secara hukum dia masih anak angkatmu, kecuali kamu melepaskan hak adopsimu dari Dara,” tandasnya. Adam menghela napasnya pelan. Masalah pernikahan, dia paling benci membahasnya, tapi tak sedikit orang selalu saja menyinggung soal pernikahan saat berbincang dengannya. Padahal semua orang bisa melihat sendiri bahwa muka Adam masih terlihat muda, otot-otot bisep dan trisepnya bahkan masih terlihat kekar, sampai-sampai para bapak-bapak itu seringkali mengeluh iri, karena jika saja Adam mau, pria itu sangat bisa mendapatkan gadis muda berusia dua puluhan dengan tubuh dan wajah sempurnanya. Tapi anehnya, Adam justru masih belum menikah sampai detik ini. Bahkan walaupun dia menggunakan Gita sebagai tameng agar tidak tertimpa isu miring, tetap saja selama dia belum resmi menikah, pandangan negatif orang tentang dirinya terus saja berkembang biak. “Oh ya, Dam. Kalau kamu enggak keberatan, anak pertamaku Henry, dia ingin mengenal Dara lebih dekat. Sejujurnya, aku setuju-setuju saja. Apalagi aku dengar walaupun Dara sering buat ulah, tapi dia sangat berprestasi, bahkan Henry terpesona dengannya karena beberapa waktu lalu melihat seminarnya Dara di Great Start Up,” kata Pak Trisna. “Wah, bagaimana ini. Anak saya juga meminta hal yang sama,” sahut Pak Damar. Adam tersenyum mendengar dua bapak-bapak itu sekarang malah saling berebut Dara untuk menjadi calon menantu. Seketika, Adam pun menoleh ke tempat terakhir kali dia melihat Dara bersama Gita. Namun, saat dia menatap ke arah Gita yang tengah mengobrol ria dengan teman-temannya, Adam justru sama sekali tidak mendapati sosok Dara di dekat wanita itu. Adam seketika pamit undur diri sebentar dari para bapak-bapak konglomerat. Dia berniat menghubungi Dara karena khawatir gadis itu membuat ulah lagi. Tapi sayang sekali, ponsel Dara ternyata ada di saku jasnya. Adam baru menyadarinya saat dia merasakan getaran pada saku jasnya ketika dirinya mencoba menghubungi Dara. Adam mendesah, dia yakin Dara pasti sengaja melakukannya. Kaki panjang Adam seketika bergerak ke sana kemari memeriksa sekitar, bahkan kini dia sampai di luar gedung pernikahan karena tak mendapati Dara di dalam sana. “Permisi, Pak. Apa ada yang lihat gadis muda usia sekitar dua puluhan pakai gaun motif bunga di lengannya?” tanya Adam pada para satpam yang berjaga di depan gedung. “Gaunnya warna apa ya, Pak?” salah satu satpam itu balik bertanya. “Warna merah gelap.” “Oh, apa maksud Bapak nona muda yang tadi datang sama Bapak ya?” tanya satpam satunya. “Iya, benar. Apa Anda melihatnya?” “Iya, saya melihatnya. Tapi sudah dari tadi nona itu keluar dari gedung ini, Pak. Nona itu meminta tolong pada saya untuk dipanggilkan taksi, dan terakhir kali saya melihatnya naik ke taksi yang saya pesankan,” terang satpam itu. Adam memijat peilipisnya yang seketika berdenyut, helaan napas beratnya pun terdengar mengiri kegelisahan hatinya. “Kamu itu emang paling hobi buat aku khawatir ya, Dar,” gumam Adam, sebenarnya jengkel tapi rasa cemasnya pada gadis itu lebih mendominasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD