Mencari orang baik dan tulus itu bagai mencari jarum ditumpukan jerami. Susah dan peluangnya bertemu sangat sulit. Audrey sering bertemu dengan orang baik tapi sayang orang baik itu meminta imbalan. Termasuk Dean.
Mata hitam itu menatap berbagai cemilan dan minuman yang tersaji di depan. Dia kira, dia hanya mentraktir Dean saja tapi sepertinya lelaki itu mengambil keuntungan di setiap kesempatan. Dia ternyata diminta untuk mentraktir sahabat Dean juga.
“Makan dong, Dree. Nggak enak nih lo yang bayarin masa lo nggak makan.”
Telinga Audrey rasanya panas mendengar ucapan Dean yang sok peduli itu. Dia menoleh, melihat Dean mengulum senyum. Sejenis senyum penuh kemenangan.
Arah pandang Audrey lalu tertuju ke lelaki yang duduk di hadapannya, Jeremy yang lebih akrab disapa Remy. Di antara Dean dan sahabat, Jeremylah yang sedikit sopan dan supel kepada semua orang, begitu menurut Audrey.
“Dree. Lo ikhlas kan traktir kita? Kalau enggak mending nggak usah.”
Audrey menghela napas lalu menoleh ke Moren. Lelaki berkulit sawo matang yang terkenal dengan kepiawaiannya dalam public speaking. Menurut Audrey, Moren pandai merayu. Yah, sifat playboy melekat di diri lelaki itu.
“Nggak usah banyak bacot deh. Kalau mau makan ya makan aja,” jawab Audrey jutek.
Jawaban itu membuat tiga lelaki di meja makan itu tertawa tapi di antara tiga lelaki itu suara Noel yang paling dominan. Noel, anggota terakhir. Lelaki berkulit putih yang hobinya melempar banyolan. Banyak gadis yang menyukai Noel karena dinilai lucu tapi bagi Audrey, lelaki itu tak ada lucu-lucunya sama sekali menyebalkan iya.
“Dree. Makan ya,” kata Dean sambil menyodorkan sushi ke mulut Audrey.
Dean tersenyum melihat gadis itu yang ogah-ogahan tapi dia tetap menyodorkan sushi hingga akhirnya Audrey si keras kepala itu menerima suapannya.
“Nah, gini dong. Nurut,” ucapnya sambil mengusap puncak kepala Audrey.
Sejak tadi Dean berusaha menahan tawa. Dia memang meminta traktir karena tadi memberi tumpangan. Namun, tanpa sepengetahuan Audrey, Dean menghubungi temannya agar datang.
“Udah deh kalian makan aja. Makan gratis aja susah banget.”
Audrey bertopang dagu. Dia sangat tidak mood makan. Lebih tepatnya dia enggan menambah pengeluaran untuk memesan makanan lain. Demi Tuhan, Dean memilih restoran berbintang ditambah saat ini Audrey belum gajian. Gaji sebelumnya telah habis buat ke salon dan ke mal. Hanya tersisa beberapa untuk kebutuhan akhir bulan.
“Dree. Kalau gue pesen lagi boleh?”
Dean mendekat ke telinga Audrey. Lelaki itu merasakan tubuh di depannya menegang.
“Lo meres gue?”
Sekarang, emosi Audrey telah sampai di ubun-ubun. Dia ingin meluapkan kekesalannya, napasnya tak beraturan karena emosi yang menguasainya itu.
“Meres gimana? Dari tadi tangan gue nggak ngapa-ngapain!”
“Hahaha!!”
Dean tertawa karena berhasil mengerjai Audrey. Sebenarnya dia tahu arti kata “meres” yang diucapkan, dia hanya ingin mengerjai gadis di depannya saja.
“Otak lo!!” maki Audrey sambil menonyor kepala Dean.
Tangan Audrey ditahan oleh Dean. Audrey menunduk, melihat tangannya yang terlingkupi oleh tangan besar itu. Sadar dengan apa yang terjadi Audrey menarik tangannya dan mengusap tangan itu ke belakang punggung.
“Jangan pegang-pegang. Modus banget sih lo!”
“Kalau nggak modus bukan Dean namanya, Dree.” Noel bersuara. Dia terbahak melihat Dean yang tersenyum tipis sedangkan Audrey terlihat semakin emosi itu.
Audrey memilih diam, menulikan pendengarannya daripada telinga dan pikirannya terkontaminasi oleh pembicaraan Dean CS. Saat sedang berdiam diri, ponsel di tasnya berbunyi. Audrey menegakkan tubuhnya lalu merogoh tasnya. Dia lalu tersentak melihat nama papanya muncul di layar.
“Lo harus anterin gue pulang sekarang!!” katanya dengan nada memerintah.
“Oh. Papa lo udah nyariin, ya?”
“Ck!! Udah ayo, De!!” Audrey berdiri sambil menarik tangan Dean hingga lelaki itu ikutan berdiri.
Dean lalu menatap ke sahabatnya. “Gue anter Audrey dulu ya. Yah, dia nggak boleh pulang lebih dari jam dua belas.”
“Cepetan, De!!”
Dean mengikuti langkah Audrey yang telah sampai di depan meja kasir. Saat melihat gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang, tangan kanan Dean dengan cepat mengambil uang itu dan mengembalikannya ke Audrey.
“Biar gue yang bayar.”
Audrey menatap Dean tak mengerti. “Gue udah janji mau traktir. Gue nggak mau lo ungkit-ungkit lagi masalah ini.” Dia merasa Dean akan membahas masalah ini suatu saat nanti. Ingat zaman sekarang masih banyak orang lain yang mengungkit hutang budi.
“Udah deh, Dree. Gue nggak tega ngeliat wajah lo. Tampang-tampang orang belum gajian.”
“Sialan lo!!”
Tangan kanan Audrey hendak memukul, tapi kali ini lelaki itu dengan cepat menahan. “Daripada berantem mending kita cepet pulang. Daripada papa lo marah-marah.”
Kali ini Audrey mengikuti saran Dean. Untuk pertama kalinya dua orang yang tak pernah akur itu sedikit berdamai.
***
“Masa ya, Kin gue disuruh traktir temennya juga. Kan sialan!”
“Tapi akhirnya Dean kan yang bayar?”
“Iya sih. Tapi awalnya nyebelin banget, kan?”
Kina menoleh ke Audrey yang berbaring di sebelahnya. Malam ini Kina menginap di rumah Audrey karena bosan tinggal sendiri di apartemen.
“Lo kok apes banget sih Dree ketemu Dean terus.”
“Nah, itu gue juga nggak tahu!!”
Audrey merengek merenungi nasibnya yang akhir-akhir ini bertemu Dean. Berawal dari tawa mengejek lelaki itu di kafe, setelah itu Dean mengantar pulang lalu esok selanjutnya seolah waktu mempertemukan mereka lagi.
“Gue harus potong rambut kali, ya? Biar nggak apes,” usul Audrey sambil menatap Kina meminta dukungan.
Kina membenarkan posisinya, duduk di kepala ranjang sambil menatap Audrey. “Lo inget kan kejadian setahun lalu waktu lo potong rambut terus kependekan?” ingatnya. “Gue nggak mau denger rengekan lo yang bilang kangen sama rambut panjang.”
Audrey terdiam ingat dengan kejadian itu. “Gue harus gimana dong, Kin? Kalau ketemu Dean, hari gue makin suram!”
“Menghindar dari Dean. Kalau ketemu Dean lo langsung pergi aja.”
Seketika Audrey mengangguk setuju dengan usulan Kina. “Bener juga lo. Daripada gue darah tinggi ketemu dia.”
Kina tersenyum. Menurutnya hanya ini saran agar Audrey tak selalu berhubungan dengan Dean. “Oh ya. Gue penasaran, apa Dean masih sering nongkrong plus sama cewek-cewek genit?”
Dia tahu bagaimana lingkup pergaulan Dean. Lelaki itu termasuk golongan lelaki hedon yang sering nongkrong di kafe, club, lengkap dengan gadis-gadis yang menemani.
“Seminggu lalu gue liat postingannya lagi di club sama cewek.”
Kina tampak tertarik mendengar cerita itu. “Masa? Gue pengen lihat posting-annya dong.”
Tatapan Audrey tertuju ke wajah Kina yang tampak antusias itu. Sebenarnya Audrey tak suka dengan Kina yang begitu antusias ingin melihat postingan Dean.
“Jangan mikir aneh-aneh. Gue pengen liat aja,” kata Kina saat menyadari tatapan menyelidik sahabatnya itu.
Audrey lalu menggapai ponselnya di nakas. Dia membuka i********: mencari id Dean lalu menyerahkan ke Kina. Sekarang, Kina melihat posting-an Dean. Kebayakan posting-an lelaki itu berisi sebuah kafe. Ibu jarinya bergerak ke bawah, tak ada posting-an aneh apapun dari i********: itu.
Saat sibuk mencari, muncul foto Dean setengah badan. Lelaki itu mengenakan kemeja merah dengan dasi hitam. Di bagian rahang, ditumbuhi bulu-bulu halus serta tatapan Dean yang tajam.
“Dree. Lihat deh. Kalau kayak gini muka Dean dewasa banget ya. Kayak nggak nyangka kalau dia nyebelin.”
Mata Audrey mengamati foto itu. Memang benar, Dean terlihat dewasa dan cool. “Biasa aja, ah. Nyebelinnya tetep kelihatan,” jawabnya berbohong.
“Sini lihat lagi!!” Kina merebut ponsel itu tapi Audrey menahan ponselnya.
“Kin ngapain sih ngepoin dia?”
“Penasaran doang.”
Audrey menggeleng. Dia hendak memencet gambar home, tapi Kina masih berusaha merebut. Hingga jari Audrey tak sengaja memencet foto itu lama hingga muncul love.
“Nah, kan kepencet love!!” ucap Audrey menyalahkan Kina.
Kina mengangkat kedua tangannya, tak menyangka aksi merebut ponsel hingga kepencet tombol love. Buru-buru Audrey memencet love lagi, hingga love itu tak lagi berwarna.
Drrtt!!
Audrey melihat notif dari i********: dan terlihat ada satu DM masuk. Seketika Audrey terbelalak membaca DM itu.
Nggak sengaja kepencet love, ya? Ketahuan stalking akun gue. Btw lo suka nggak sama foto yang lo love beberapa detik tadi?
“DEAN!!!” Audrey berteriak.
Kina yang melihat DM itu seketika geleng-geleng. Dia tak menyangka aksi kepencet sampai berakibat mendapat DM dari Dean.
Sedangkan Audrey, dia tak tahu harus bagaimana. Dia malu plus marah karena DM itu.
“Sialan lo, Dean!!”
***
“Guys lihat deh apa ini.”
Dean berbicara ke tiga sahabatnya. Dia bergeser mendekati Noel yang duduk di sebelahnya itu. Sedangkan Remy dan Moren yang duduk di kursi seberang segera mendekat ke Dean.
“Audrey Fionatalia like your post,” ucap Dean melihat notif i********:-nya. Setelah itu dia membuka foto itu melihat siapa saja yang menyukai fotonya. Namun, id Audrey.Fionatalia tidak ada.
“Habis di-like di unlike! Hahaha,” kata Dean tertawa terbahak.
Tindakan itu membuat Noel, Remy dan Moren tertawa. “Pasti kepencet tuh. Tapi sayang notif-nya udah muncul,” ucap Moren.
Dean manggut-manggut sambil jemarinya mengetik pesan untuk Audrey.
Noel ingat dengan Audrey, teman semasa kuliahnya yang antipati dengan Dean. Awalnya dia mengira kalau Dean dan Audrey akan jadian. Namun, sayang sampai detik ini mereka masih saja bertengkar dan tak jadian-jadian.
“Kok lo tadi bisa sama Audrey?” tanya Remy ingat Dean memberi kabar agar datang ke restoran karena Audrey akan mentraktir.
Dean membenarkan posisi duduknya hingga duduk bersila di atas sofa. “Gue tadi habis meeting. Pas di jalan ngeliat cewek lagi nendang ban mobil,” Dean mulai menceritakan kronologisnya. “Karena gue ngerasa aneh dan ngerasa kenal sama tuh cewek ya udah gue samperin.”
“Terus dia nebeng lo dan lo minta imbalan?” tebak Moren hafal dengan sifat jail Dean.
“Ya iyalah. Dari dulu kan dia gue kerjain.”
Tiga sahabat Dean geleng-geleng. Sedangkan Dean terkekeh karena puas menggoda apalagi pesan yang barusan dia kirim untuk Audrey. Dean lalu melihat akun i********:-nya, tak ada pesan balasan dari Audrey tapi terlihat jika gadis itu telah membaca pesannya.
“DM gue nggak dibales!” kata Dean menarik perhatian tiga sahabatnya.
“DM apa?” tanya Noel sambil melongok ke ponsel Dean.
Dean menyerahkan ponselnya. Noel menerima benda itu lalu terkekeh membaca DM Dean. Setelahnya Noel menyerahkan ponsel ke Remy dan Moren.
“Sumpah, De. Lo jail banget,” kata Remy sambil mengembalikan ponsel ke Dean.
Dean menerima uluran ponselnya itu. “Kayak nggak kenal gue aja.”
“De, gue denger lo bikin web buat Jaya Raya Properti?” tanya Noel.
Dean menoleh menatap Noel dengan satu alis terangkat. “Kok lo tahu?”
“Tahu dari mama lo. Kemarin gue ketemu di supermarket.”
“Iya. Gue bikin web buat Pak Jaya. Eh kalian tahu sekretaris Pak Jaya?” tanya Dean sambil menatap tiga sahabatnya itu bergantian.
“Cantik? Body-nya bagus? Dadanya gede? Asli nggak tuh?” tanya Moren.
“Pikiran lo, Ren!!” maki Remy dan Noel.
Dean menatap tiga sahabatnya dengan tersenyum penuh arti. “Sekretarisnya tuh Audrey.”
“Audrey?” tanya tiga sahabat Dean bersamaan.
Melihat tanggapan tiga sahabatnya, Dean tertawa.
“Sialan! Gue kira sekretarisnya siapa,” protes Moren.
“Terus kalau ke sana lo sering godain Audrey dong?” tebak Noel.
Dean manggut-manggut. “Iyalah. Jadi ke club nggak nih?” tanyanya ingat dengan rencana sahabatnya tadi.
“Jadilah,” Moren menjawab dengan semangat.
Setelah mendapat jawaban, Dean berjalan ke arah kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan di ruang tengah, tiga sahabatnya itu geleng-geleng. Noel menatap Moren dan Remy bergantian.
“Kalau mereka sering ketemu, meski sering berantem nggak menutup kemungkinan kalau mereka jadian.”
Remy menjentikkan jarinya setuju dengan ucapan Noel. “Kita tunggu aja deh mereka kapan jadian.”
Berbeda dengan Noel dan Remy, Moren menggeleng tegas. “Kayaknya enggak deh. Gue tahu selera Dean kayak gimana. Sedangkan Audrey, nggak termasuk ke kriteria cewek idaman Dean.”
“Tapi Audrey termasuk cewek baik-baik. Buktinya dia nggak pernah pulang lebih dari jam dua belas,” sela Remy.
Ucapan Remy membuat Noel dan Moren tertawa. Mereka ingat dengan info dari Dean kalau Audrey masih diberlakukan jam malam.
“Gila! Cewek sekarang masih ada ya yang kayak Audrey,” kata Moren.
“Iya. Langka tuh. Kalau Dean dapetin Audrey kan Dean menang banyak,” jawab Remy dengan kedipan penuh arti.
Moren manggut-manggut, kali ini dia setuju dengan ucapan Remy. “Bener juga lo. Ada untungnya juga kalau Dean dapetin Audrey.”
“Kalian ngomong apa!!”
Noel, Remy dan Moren seketika menoleh. Tiga lelaki itu meringis melihat Dean berdiri sambil bertolak pinggang.
“Kalian bayangin apa? Gue sama Audrey?”
Dean tadi sempat mendengar nama Audrey disebut. Lalu dia juga mendengar ucapan Moren, kalau dia betuntung mendapatkan Audrey.
“Kita lagi bayangin kalau lo jadian sama Audrey,” jawab Moren apa adanya.
Mendengar hal itu Dean geleng-geleng. Dia berjalan melewati ruang tamu yang diikuti oleh tiga sahabatnya.
“Kalian tahu kan tipe cewek idaman gue kayak gimana?” tanya Dean sambil melangkah.
“Yang cantik,” jawab Remy.
“Yang putih,” jawab Noel.
“Yang anggun,” jawab Moren dengan tersenyum.
Dean menghentikan langkahnya menatap tiga sahabatnya sambil manggut-manggut.
“Nah, tuh tahu cewek idaman gue kayak gimana.”
Remy mendekat lalu melingkarkan lengannya di pundak Dean. “Satu lagi. Lo juga pengen cewek baik-baik.”
Moren, Noel dan Remy saling melirik. “Nah, cewek baik-baik itu Audrey!!”
Seketika Dean tersentak. Dia menatap tiga sahabatnya bergantian dengan tatapan tajam. Dia menyentak tangan Remy lalu keluar rumah. “Enak aja kalian ngomong! Ogahlah gue sama Audrey!”
“Terus siapa? Qanesa?”