Empat-Perkara Ban Mobil

1789 Words
Setelah semalam ada arisan di rumah, pagi harinya Audrey merasa tubuhnya masih lelah. Perutnya terasa bergejolak dengan kaki yang terasa pegal. Dia mengira itu semua karena dress terbuka yang dia kenakan. Ditambah semalam dia tak bisa tidur karena kepikiran nama itu. James. Sebenarnya Audrey paling enggan mengingat nama James. Nama yang langsung membuat dirinya sakit hati sejak lulus dari SMA. Bertahun-tahun Audrey berusaha melupakan rasa sakitnya terhadap James. Hingga dia tumbuh menjadi seseorang yang bisa dibilang tak begitu peduli soal urusan asmara. Namun, masa abu-abu sudah berlalu, dia mulai menata hati dan kehidupannya. Sekarang dia ingin menambatkan hati sekaligus berharap tambatan hatinya tak pernah membuatnya sakit hati. “Aduh!!” Sambil berjalan ke lobi, Audrey memijit lehernya yang terasa berat. Jika dia adalah bos sudah pasti pagi ini dia bergelung di balik selimut. Tak lama dia mendesah mengingat jika dia hanyalah karyawan biasa. “Selamat pagi, Audrey.” Mendengar sapaan itu Audrey mengangkat wajah. Dia kaget melihat lelaki berambut klimis berdiri di depan lift. Audrey menghela napas panjang. Disaat seperti ini, dia enggan bertemu dengan segala jenis makhluk yang menyebalkan dan Dean termasuk dalam pengkategorian. “Dosa apa sih gue pagi-pagi ketemu lo!!” Dean geleng-geleng mendapat ucapan ketus itu, padahal dia hanya mengucapkan selamat pagi. “Lo banyak dosa emang. Termasuk nggak jawab salam gue barusan.” “Ck! Pagi-pagi bikin nggak mood aja.” “Mood tidaknya seseorang tergantung pikiran sendiri. Seburuk situasi kalau pikirannya positif juga nggak ngerasa buruk.” Audrey manggut-manggut, seolah mengiyakan. Itu semua dia lakukan untuk menghemat tenaganya. “Gimana semalem?” Pertanyaan itu membuat Audrey mengernyit. Dia menatap Dean dengan senyum kecut. Melihat itu jemari Dean refleks menarik ujung bibir Audrey agar membentuk senyuman. “Sakit bego!!” Refleks Audrey memukul lengan lelaki itu. Dean mundur untuk mengamankan lengannya dari jangkauan gadis bar-bar macam Audrey. “Jadi gimana acara semalem?” Dean mengulang pertanyaannya.  “Ya gitu sih acaranya, lo tahu sendiri, kan? Bikin gue pagi ini pegel,” jawab Audrey sambil memijit pundaknya. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melemaskan otot lehernya. “Capek, ya? Gue bisa pijitin kok!!” Tangan Audrey terangkat sekarang sasarannya ke wajah Dean dan mendorong wajah berkulit putih itu ke belakang. “Pagi-pagi pikiran jangan ngeres!!” “Kayaknya otak lo yang ngeres. Gue kan bilang pijit doang. Bukan pijit plus-plus!” “Ck!! Masih pagi ini, De. Jangan ngomong aneh-aneh,” ujar Audrey sambil menutup telinganya. Tring! Perdebatan mereka terinterupsi oleh suara lift. Dean masuk lebih dulu dan diikuti oleh Audrey. Gadis dengan blazer hitam itu memilih berdiri di depan tombol dekat pinut lift lalu memencet angka lima. Setelah itu dia menoleh ke pengguna lift di belakangnya. “Lantai berapa?” Dean melirik ke tombol yang menyala. “Sama kok kayak lo.” Audrey lalu balik badan dan lebih memilih menatap angka di depannya. Saat sedang menatap, dia sadar dengan kehadiran Dean. Buru-buru Audrey menoleh. “Ngapain lo di sini? Lo kan nggak kerja di sini.” “Akhirnya.” Dean seolah lega mendengar kalimat itu keluar dari bibir manis Audrey. Berbeda dengan Dean, Audrey malah mengernyit bingung dengan reaksi lelaki di depannya itu. “Gue ke sini mau ketemu Pak Jaya. Bos lo.” “Ngapain?” Kaki panjang itu maju selangkah. “Pak Jaya butuh jasa gue buat ngerombak website Jaya Raya Properti.” “Kok gue nggak tahu?” tanya Audrey lebih kepada dirinya sendiri. Sebagai sekretaris, seharusnya dia tahu apa yang menjadi agenda Pak Jaya. “Lo nggak bohong, kan?” tanyanya memastikan. Tring! Pintu lift terbuka. Tangan Dean terangkat menyentuh puncak kepala Audrey dan mengusapnya pelan. “Apa untungnya gue bohong sama lo? Bye, Dree.” Setelah mengucapkan itu Dean keluar lebih dulu. Dia menggeleng heran karena Audrey tak tahu rencana Pak Jaya yang ingin mengubah website. “Dean!!” Audrey berjalan cepat menyusul Dean yang hampir sampai di depan pintu ruangan Pak Jaya. Audrey lalu berdiri di hadapan Dean dan menatap lelaki itu. “Lo kan anak manajemen. Kenapa bisa bikin website?” Satu alis Dean terangkat, melihat Audrey yang kali ini kepo membuatnya jadi curiga. Tangan Dean lalu terangkat menyentuh kening gadis itu. “Nggak panas. Kok tumben sih lo aneh!” “Ck!!” Audrey menyentak tangan Dean menjauh dari keningnya. “Dree. Kalau lo penasaran sama gue, gue punya banyak waktu buat lo. Kenali gue sedalam yang lo mau,” kata Dean dan diakhiri dengan kedipan. Dean seolah puas dengan jawabannya apalagi sampai membuat Audrey tak bisa berkata-kata. Dean lalu balik badan dan mengetuk pintu di depannya. Dia tahu, Pak Jaya sudah di ruangan, menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu. Selepas kepergian Dean, Audrey berjalan ke meja kerjanya. Dia melempar tas slempangnya ke bawah kursi lalu menghempaskan tubuhnya di kursi biru itu. “Kok gue nggak tahu sih kalau website Jaya Raya Properti mau ganti? Atau gue aja yang pelupa?” Audrey menggeleng. Dia tak mau menjadi seorang pelupa tapi seingatnya Pak Jaya memang tak memberi tahu masalah ini kepadanya. “Sialan! Dean pasti ngira gue bego! Ck! Ngapain juga nih mulut tanya soal dia? Nggak penting banget.” Pagi-pagi Audrey sudah menggerutu karena Dean.   ***   “Iya, nanti gue ke sana! Tenang aja deh!!” Lelaki dengan rambut yang mulai acak-acakan itu mengendarai mobil dengan satu tangan memegang ponsel. Dia mendengar gerutuan di ujung sana, membuatnya terkekeh pelan. “Iya nanti gue ke sana. Udah ya, gue lagi nyetir.” Setelah mengucapkan itu Dean mematikan sambungan lebih dulu. Kini kedua tangannya memegang kemudi. Sambil mengemudi, dia ingat perbincangannya dengan seseorang di telepon. Dia gemas mendengar rengekan yang tadi dia dengar. Dia jadi tak sabar bertemu dengan gadis itu. Saat melewati jalanan yang cukup sepi, dia melihat sebuah mobil berhenti dan ada seorang gadis yang sibuk menendang ban mobil. Dean merasa kenal dengan postur tubuh itu: tubuh yang kurus dan tinggi yang tak seberapa. Dean menekan sen, lalu menepikan mobilnya. Dia menatap dari spion samping, memastikan jika gadis yang dia lihat adalah Audrey. Setelah beberapa detik mengamati, Dean yakin jika gadis itu adalah Audrey, teman kuliahnya yang berwajah jutek itu. “Kenapa lagi tuh anak!” Akhirnya, Dean memutuskan untuk keluar. Dia berjalan mendekat dan melihat bagaimana Audrey bertolak pinggang sambil menendang ban mobil. “Kenapa lagi ban mobil lo?” Pertanyaan yang Dean lontarkan membuat gadis itu menoleh. Ekspresi kaget begitu kentara dari wajah berbentuk hati itu. Dean lalu menunduk, melihat ban mobil Audrey yang kempes lagi. “Kayaknya baru kemarin ban mobil lo kempes,” kata Dean heran. Audrey sendiri juga heran kenapa ban mobilnya kempes lagi. “Kenapa ya, De mobil gue kok kempes terus?” “Ya mana gue tahu, kan yang punya mobil lo. Bukan punya gue!” “Ck!!” Audrey merasa salah mengajukan pertanyaan itu. Dia berjalan menjauh, merasa emosinya mulai bergejolak. Dia lalu memutuskan masuk ke dalam mobil, mengambil ponsel hendak meminta jemput orang rumah. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh ponsel, dia dikejutkan dengan tarikan Dean. “Ngapain lo malah masuk!! Gue kan lagi ngomong sama lo.” Dean tak tahu bagaimana menyikapi Audrey yang keras kepala dan berharga diri tinggi plus terkadang aneh itu. Dia menunduk, melihat ban mobil Audrey yang terlihat mulus. Tanda jika sudah lama tak mengganti ban mobil. “Ban mobil lo sama ya kayak lo.” “Maksudnya?” “Rata!” “Enak aja lo!!” Audrey menendang b****g Dean. Dean hampir terjungkal, beruntung satu tangannya menyentuh bagian mobil. Dia lalu mendongak, menatap Audrey dengan senyum miringnya. “Mulai berani nendang-nendang nih,” godanya. Audrey mendengus kesal, bisa-bisanya Dean masih menjailinya. Gadis itu lalu memilih berjalan menjauh dan berdiri di trotoar. Rasanya dia ingin marah ke siapapun. Tadi di kantor, dia tak bisa konsentrasi karena tubuhnya yang terasa pegal. Waktu pulang, dia harus sabar lagi mendapati ban mobilnya bocor. Sekarang Dean tanpa diundang datang dan mengganggunya. “Dree. Kalau punya mobil itu dirawat. Kalau kayak gini gimana? Untung ban mobil lo kempes pas bukan malem hari.” Dean mendekat sambil mulai menasihati. “Lo kok jadi ceramahin gue?” Dean membuang napas, harus ekstra sabar menghadapi Audrey. “Bukan ceramah, Dree. Cuma ngasih tahu. Lo inget nggak berapa kali ban mobil lo kempes? Baru kemarin, Dree.” Mendengar penjelasan itu, Audrey menunduk menatap kuku kakinya yang tak diwarnai kuteks. Sebenarnya ucapan Dean ada benarnya, hanya saja Audrey gengsi mengakui. Dia tak ingin saja lelaki itu makin besar kepala. Atau bahkan semakin semena-mena. “Mobil lo sama kayak orangnya,” kata Dean sekali lagi. “Apa? Rata?” Senyum Dean terukir. Dia mendekat, lalu berbisik di telinga Audrey. “Kurang service!” Mata Audrey membulat lalu mendorong pundak Dean. “Apaan sih lo!!” “Emang bener kok.” Dean menjawab dengan gampang. Dia tersenyum miring menggoda gadis di depannya itu. Dari dulu menggoda Audrey ada kesenangan tersendiri. Apalagi kalau gadis itu sampai mencak-mencak tak jelas. “Kedatangan lo ke sini ngapain?” tanya Audrey yang lagi-lagi telat menanyakan kedatangan Dean. Audrey menatap Dean yang mengenakan kemeja marun itu. Berbeda dengan kemeja yang tadi lelaki itu gunakan untuk menemui Pak Jaya. Tatapan Audrey lalu tertuju ke rambut Dean yang lebat dan tampak bergerak karena tertiup angin. “Tadi gue cuma lewat. Terus ngilat cewek nggak jelas yang lagi nendang-nendang ban mobil. Karena gue punya hati yang baik, jadi gue samperin.” Mendengar jawaban itu, seolah ada angin segar untuk Audrey. Dia mendekat dan menarik tangan besar itu. Dean yang sedang menatap ke depan seketika tersentak karena seretan itu. “Dree. Ngapain seret-seret sih!!” “Mana mobil lo? Gue nebeng ya,” kata Audrey masih menarik tangan Dean. Perlahan Dean melepas cekalan Audrey, membuat gadis itu menoleh. “Tapi nebeng kali ini nggak gratis.” Audrey memutar bola matanya malas. Dia lalu mengangguk mengiyakan saja. “Iya-iya nanti gue bayar.” “Gue nggak mau bayaran duit. Gue bukan sopir” “Lo mau cium gue?” “Enggak.” Sontak mata Audrey melotot. Kalau bukan ciuman yang dimaksud lalu apa? Audrey memasang kuda-kuda, takut lelaki itu akan berbuat macam-macam kepadanya. “Berani dekat gue tonjok hidung lo,” ancamnya. Satu alis Dean tertarik ke atas, tak mengerti dengan ancaman aneh itu. “Lupa siapa yang narik ke sini? Lupa siapa yang tadi minta tolong?” Perlahan Audrey menurunkan kedua tangannya. Dia menatap Dean meyakinkan diri kalau lelaki itu tak berbuat macam-macam kepadanya. Audrey menatap mata Dean yang menyorot tajam ke arahnya. Biasanya mata itu menatap dengan kilat jail, tapi sekarang tidak lagi. Kata orang mata adalah cermin dari isi hati. Lalu arah pandang Audrey tertuju ke bibir Dean yang tipis. Biasanya bibir itu tersenyum menggoda tapi sekarang tak ada senyum sedikitpun. “Oke gue percaya,” ucap Audrey. Mendengar kalimat itu Dean tersenyum penuh arti. Dia punya ide cemerlang untuk mengerjai gadis ajaib seperti Audrey. Tunggu tanggal mainnya, Dree.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD