“Terus siapa? Qanesa?”
Noel langsung menyuarakan isi hatinya. Karena tindakannya itu, dia mendapat sikutan maut dari Remy dan Moren. Sontak Noel tersadar. Dia langsung nyengir tak jelas lalu merangkul pundak Dean.
“Mending kita pergi yuk,” ajaknya.
Dean tetap diam, masih menatap Noel tajam. Sebenarnya Dean tak begitu suka membahas soal Qanesa. Entahlah menurutnya hal itu bersifat pribadi.
“De. Sorry,” kata Remy kala melihat tatapan tajam Dean.
Si pelaku—Noel seketika ikut meminta maaf, bahkan dengan menunjukkan wajah sedihnya. “Sorry, nggak maksud bahas dia kok.”
Meski sebal, Dean tak bisa terus memarahi sahabatnya itu. Lelaki itu menepuk pundak Noel lalu berjalan lebih dulu.
“Lo sih, El. Mulut nggak ada filter-nya,” kata Moren.
“Ck. Iya-iya sorry,” balas Noel sambil mengikuti Dean.
Di belakang, Remy dan Moren berpandangan lalu mereka mengangkat kedua tangan menghadap ke atas. Seolah tak bisa berbuat apa-apa.
***
Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Lelaki berkaos putih berjalan menenteng kresek yang berisi makanan dan beberapa pakaian. Sampai di pintu paling pojok, dia menghentikan langkah. Tangannya terangkat hendak memencet bel, tak lama dia menurunkan tangannya. Dia menebak kalau seseorang di dalam sana pasti masih terlelap. Dia tak ingin mengganggu tidur lelap gadis itu.
Akhirnya Dean menekan pin. Dia mendorong pintu dan mengintip dari celah pintu. Apartemen itu tampak gelap gulita, membuat Dean berdecak pelan.
“Ck! Kebiasaan!” gerutunya lalu berjalan masuk.
Sebelum melangkah lebih jauh, Dean menyalakan lampu lebih dahulu. Barulah dia meletakkan kresek yang dia bawa ke atas meja. Dia lalu berjalan menuju kamar utama dan membuka pintunya pelan.
Kamar tampak gelap, hanya sedikit terkena penerangan dari ruang tengah. Dari tempatnya berdiri, Dean bisa melihat wajah cantik itu tampak damai dengan tidurnya. Melihat pemandangan di depannya, dia mengulas senyum.
“Andai gue bisa lihat wajah itu setiap bangun tidur,” gumamnya.
Tak ingin berandai-andai dan membuat hatinya sakit, Dean memilih menutup pintu kamar. Dia lalu segera meninggalkan apartemen dan bergegas ke rumahnya sendiri. Dia ingat ada meeting beberapa jam lagi sedangkan matanya belum terpejam sama sekali.
***
Kina menghentikan laju mobilnya tepat di depan kantor Audrey bekerja. Kina menoleh ke sahabatnya yang sedang memoles lipstick itu, tampak terburu-buru.
“Pelan-pelan. Nanti malah belepotan.”
Audrey tak menoleh sedikitpun, masih sibuk memoles lipstick merah di bibir bawahnya. Dia lalu memanyunkan bibirnya, melihat jika lipstick yang dia sapukan telah rata. Setelahnya gadis berblazer crem itu memasukkan lipstick dan kaca ke tas slempangnya.
“Makasih ya. Lo udah nganter gue,” ucapnya dengan senyum merekah.
“Sama-sama. Nanti perlu gue jemput nggak?”
Audrey terdiam, tak lama dia menggeleng pelan. Dia ingat dengan mobil yang akan keluar dari bengkel nanti sore. “Mobil gue udah selesai service kok.”
“Heran deh mobil lo sering banget bannya kempes. Makanya ganti ban teratur.”
Nasihat itu sering Kina lontarkan ke sahabatnya. Namun, selalu saja Audrey lupa service mobil. Sahabatnya itu terlalu menggampangkan dan cenderung ceroboh.
“Kayak makan aja teratur!” jawab Audrey bercanda.
Sontak Kina terkekeh mendengar jawaban itu. Dia lalu kembali memperhatikan Audrey yang sibuk merapikan dalaman blazer bergambar print bunga-bunga. “Dree. Inget, kalau ada Dean menghindar. Gue yakin dia bakal ngeledek lo karena kejadian semalem.”
Gerakan membenarkan baju seketika terhenti. Audrey menatap Kina sambil menghela napas. Semalam bahkan dia sudah membayangkan ejekan apa yang akan dilontarkan Dean.
“Iya, Kin. Gue bakal menghindar. Apalagi dia ada kerja sama sama pak bos. Gue makin sering ketemu sama dia.”
“Pokok lo harus jaga emosi dan sebisa mungkin menghindar.”
Audrey mengangguk paham. Dia mendekat lalu memeluk Kina. “Makasih ya. Minggu depan nginep lagi di rumah gue. Biar gue ada temennya.”
Kedua tangan Kina membalas pelukan Audrey dan menepuknya pelan. “Gampanglah itu. Udah sana masuk. Nanti telat.”
Setelah berpelukan, Audrey keluar dari mobil. Gadis berambut panjang itu melambai ke sahabatnya. Setelah itu dia balik badan dan masuk ke tempat kerjanya. Kinapun bergegas ke apartemennya, ingin melanjutkan naskahnya yang tertunda.
Tak lama kemudian Audrey sampai di lantai tempat dia bekerja. Seperti biasa, dia menghempaskan tubuhnya di kursi lalu meletakkan tasnya di bawah meja. Samar-samar dia mendengar suara orang berbincang.
“Nah, untuk warnanya saya memilih hijau tosca. Sesuai dengan warna perusahaan Jaya Raya Properti.”
Tubuh Audrey seketika menegak. Dia menatap ke pintu Pak Jaya yang tertutup rapat itu. Dia lalu melihat jam kecil di ujung mejanya. Jarum jam masih menunjukkan pukul delapan, tak lebih dan tak kurang.
“Masa jam segini Dean udah meeting sama Pak Jaya?” gumamnya bingung.
Audrey menggeleng, tak percaya pagi ini harus bertemu Dean lagi. Niat ingin menghindar malah dipertemukan. Buru-buru dia menggapai tasnya mengeluarkan masker lalu memakainya. Dia hanya mengantisipasi, agar tak diajak Dean berbicara.
Tak lama kemudian, terdengar engsel pintu yang bergerak. Audrey mulai menyalakan komputer di depannya dan seolah sibuk. Dari ekor matanya, dia melihat Dean menatapnya intens.
“Ehm!”
Dean mendekat dan berdiri di depan Audrey. Dia mengamati gadis yang pagi ini mengenakan masker itu. Dean yang mengira kalau Audrey sakit, seketika tangannya terulur tapi dengan cepat ditepis oleh sang empunya.
“Lo kenapa? Sakit?”
Audrey menggeleng. Di balik masker bibirnya mencibir.
“Dree. Semalem DM gue kok nggak lo bales?” tanya Dean mengungkit kejadian semalam.
Tanggapan Audrey hanya lirikan setelah itu kembali menatap ke monitor. Sedangkan Dean menghela napas panjang. “Dree. Lo marah sama gue?”
Audrey menggeleng pelan, membuat Dean tak serta merta percaya. Dean mengamati lawan bicaranya itu dengan saksama. Terlihat sekali gadis di depannya sengaja memilih tak kontak mata dengannya. Bahkan tak mengeluarkan sepatahpun, membuat Dean tak biasa dengan tindakan Audrey itu.
“Dree!!”
Audrey tetap tak merespons. Merasa percuma berbicara dengan Audrey, Dean memilih berjalan menjauh. Tujuannya keluar untuk mengambil charger laptopnya di mobil. Bukan urusannya kalau Audrey tak mau berbicara dengannya.
“Tapi kok aneh ngeliat tuh cewek nggak ngomong,” gumam Dean sambil berjalan menuju lift.
Sedangkan Audrey menghela napas selepas kepergian Dean. Dia melepas maskernya lalu mengusap pipinya yang memerah karena panas. Setelahnya dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Gue harus hindarin lo, De. Biar gue nggak emosi!! Biar tekanan darah gue normal!! Arghh!!”
Audrey berusaha menjaga emosi, agar tak merusak mood-nya. Benar kata orang, pagi hari adalah kunci dari mood sepanjang hari.
***
“Audrey, kamu mau pulang?”
Audrey yang baru dua langkah dari meja kerjanya seketika menghentikan langkah. Dia menoleh dan mendapati Pak Jaya berdiri di depan pintu. Audrey tersenyum tipis lalu mengangguk.
“Bisa kamu mampir untuk menyerahkan ini dulu?”
Gadis itu terpaksa kembali mendekat. Dia menerima sebuah map berwarna biru dan melihat tulisan Oktavinus web development. Audrey mengernyit, tampak tak asing dengan nama perusahaan itu.
“Tolong kamu kasih ke Pak Dean atau sekretarisnya. Itu revisian web dari saya.”
Sekarang Audrey ingat kenapa nama Oktavinus tampak tak asing, ternyata nama belakang Dean.
“Kenapa revisinya tidak di email saja, Pak?” Audrey menatap Pak Jaya sambil mengernyit.
“Kamu menyuruh saya kirim email?”
Seketika Audrey menggeleng, merasa salah bertanya. “Tidak, Pak. Baik saya akan mengantarkan berkas ini.”
Pak Jaya mengangguk mendengar ucapan itu. “Ingat. Beri ke Pak Dean atau sekretarisnya,” ulangnya.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit.”
Setelah mengucapkan itu Audrey balik badan. Dia buru-buru meninggalkan Pak Jaya sebelum mendapat amukan plus perintah untuk lembur. Dia tadi sempat mendengar jika Pak Jaya sedang sibuk memeriksa berkas. Biasanya jika seperti itu, dia akan diminta untuk lembur.
Sejam kemudian Audrey sampai di tempat yang dia tuju. Dia berjalan dengan map di tangan kanan lalu mendekat ke meja resepsionis.
“Bisa saya bertemu Dean dan sekretarisnya?”
“Apa sudah membuat janji?”
Audrey menggeleng sambil menatap name tag yang tertera di resepsionis berambut pendek itu. “Wah Bu Indah, saya belum membuat janji. Saya sekretaris dari Pak Jaya.”
Tatapan Audrey mengikuti Indah yang kembali duduk lalu sibuk dengan telepon. Sambil menunggu, Audrey menoleh ke belakang menatap interior kantor yang didominasi warna biru itu. Dia tak tahu pasti ini perusahaan milik siapa tapi jika melihat nama Oktavinus, dia merasa jika perusahaan ini adalah milik keluarga Dean.
“Maaf, Bu. Pak Dean dan sekretarisnya telah meninggalkan tempat. Mungkin besok pagi Ibu bisa kembali lagi ke sini.”
Mendengar penjelasan itu, Audrey menghela napas panjang. “Ya sudah. Terima kasih.”
Audrey balik badan berjalan keluar sambil memikirkan bagaimana nasib berkas di tangannya. Dia sangat mengenal Pak Jaya, ketika sudah memberi tugas, harus terlaksana. Jika diberi amanat, harus sampai hari itu juga.
Sesampainya di mobil Audrey memegang kemudi dengan kedua tangan. Dia menimbang-nimbang, harus mengantar berkas esok hari atau hari ini juga. Dia lalu menggambil ponsel di tasnya dan mencari kontak Dean. Tanpa menunggu waktu lama, Audrey memencet tombol hijau dan melakukan sambungan. Demi menghindari amukan Pak Jaya, dia harus mencari Dean sampai dapat.
“Halo! Tumben banget telepon gue, Dree.”
Panggilan Audrey diangkat setelah nada sambung ketiga. “Nggak usah ge-er. Gue mau nganter revisian dari Pak Jaya. Lo di mana?”
“Gue lagi nge-gym, Dree. Gimana kalau kita janjian di Palm kafe, deket gue nge-gym.”
Audrey manggut-manggut cukup tahu di mana Palm kafe berada. “Oke! Gue tunggu lo di sana.”
Tanpa menunggu jawaban dari Dean, Audrey langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Menurutnya semakin cepat mengantar berkas, semakin cepat dia bisa beristirahat dan menghilangkan penat.
***
Tak sampai satu jam, Audrey sampai di Palm cafe. Dari kejauhan dia melihat lelaki yang hendak dia temui itu. Audrey mempercepat langkahnya, semakin cepat menyerahkan berkas semakin cepat pula dia bisa pergi dari Dean.
“Ini revisian dari Pak Jaya.”
Dean yang sedang melamun tersentak kaget. Dia menoleh dan mendapati Audrey berdiri di sisinya. Dean menarik tangan Audrey lalu bergeser. “Duduk dulu sini. Kita bisa omongin ini baik-baik.”
“Gue buru-buru.”
“Buru-buru ke mana? Ini belum jam dua belas,” kata Dean sambil melihat jam Rolex di pergelangan tangannya.
Audrey menyentak tangannya yang masih digenggam Dean lalu memilih duduk di hadapan lelaki itu. “Revisian dari Pak Jaya. Silahkan dibaca sendiri.”
Tatapan Dean tertuju ke map di depannya. Dia mengambil map lalu membuka isinya. Matanya memicing melihat tulisan dengan huruf latin ala Pak Jaya.
“Bos lo, Dree. Kemarin udah setuju sama web yang gue buat sekarang revisi lagi. Heran deh gue!”
Mendengar gerutuan itu, Audrey tersenyum. Baginya tak kaget mendapati fakta jika Pak Jaya seperti itu. “Bos gue kan pengen yang terbaik. Makanya revisi mulu.”
“Terbaik sih terbaik. Tapi nggak gini juga.”
Dean mendorong map di depannya menjauh. Dia menyandarkan tubuhnya dan menatap gadis dengan rambut bagian depan yang sedikit acak-acakan itu.
“Btw, kenapa lo tadi pakai masker?”
Refleks tangan Audrey menyentuh pipinya. Dia lupa membawa maskernya. Dia juga lupa kalau sedang dalam misi menghindari Dean. Audrey lalu buru-buru berdiri.
Melihat Audrey yang tampak buru-buru, Dean bangkit dari duduknya. Dia menghalangi langkah Audrey, lalu menarik paksa agar gadis itu duduk di sisinya.
“Apaan sih lo!!” maki Audrey di depan wajah Dean.
Bukannya marah, Dean malah tersenyum. Dia senang karena Audrey kembali seperti sebelumnya. Tak diam seperti patung, seperti kejadian tadi pagi.
“Ini Audrey yang gue kenal,” kata Dean dengan senyum miring.
Audrey menyandarkan punggungnya sambil menatap kosong ke bangku di depannya. Saat sedang melamun, dia merasakan lengan Dean melingkar di pundaknya. Refleks Audrey menjauh. “Eh!! Jangan cari kesempatan lo!!” katanya waspada.
Dean menggeleng pelan. Dia menarik pundak Audrey agar gadis itu kembali bersandar di kursi.
“Gue mau tanya. Kenapa tadi pagi lo diem? Sakit gigi?”
Respons Audrey hanya lirikan. Sedangkan Dean, tampak bingung dengan reaksi itu. Dia menarik dagu Audrey dengan ibu jarinya. “Beneran sakit gigi? Atau sariawan?”
Audrey menepis tangan Dean dari dagunya. Dia lalu bergeser, tapi lengan Dean yang di pundaknya menghalangi gerakannya.
“Gue tahu cara nyembuhin sariawan.”
Setelah mengucapkan itu Dean mengecup bibir Audrey. Membuat gadis itu tersentak lalu menatap Dean tajam. “Apa-apaan sih lo!!”
“Jadi harus dipancing sama ciuman baru mau ngomong?” tebak Dean.
Audrey membuang muka, harusnya dia tadi tetap diam. “De. Gue balik,” ucapnya sambil menjauh.
“Dree. Nggak mau makan dulu?”
Melihat Audrey yang tak merespons, Dean bangkit dari posisinya. Dia berjalan mengikuti langkah Audrey lalu menarik tangan gadis itu.
“De!! Lepas ahh!!” gerutu Audrey sambil menarik tangannya.
“Dree!!”
“Berisik!”
Audrey balik badan untuk memberi pelototan. Bukannya takut, Dean justru tersenyum lebar. Tak ingin terus merespons tindakan aneh itu, Audrey langsung balik badan. Tindakannya yang tak menoleh ke kanan dan ke kiri dulu membuatnya menabrak tubuh pelayan yang badannya cukup besar. Tubuh Audrey tersentak ke belakang, lalu terdengar patahan yang berasal dari stiletto-nya.
Krek!
Dean yang berada tak jauh dari Audrey, refleks menahan tubuh itu agar tak jatuh. Dia tersenyum melihat Audrey yang menatapnya dengan bibir terbuka.
“Mulutnya ditutup, Dree. Kalau ada yang nemplok gimana?”
“Yang jelas pasti itu bibir lo!”
Audrey berpegangan di lengan Dean lalu berdiri. Gadis itu melepas stiletto-nya lalu berjalan santai dengan menenteng sepatu itu. Melihat Audrey yang berjalan tanpa alas kaki dan tampak santai, Dean geleng-geleng. Dia berjalan cepat mendekat lalu menarik lengan gadis keras kepala itu.
“Lo nggak malu ya nggak pakai sepatu kayak gitu?” tanya Dean sambil menatap kaki telanjang Audrey.
“Kenapa harus malu? Gue masih pakai baju. Selain itu kaki gue juga bagus.”
Tatapan Dean tanpa diminta tertuju ke kaki Audrey dan menatap kaki jenjang itu. Meski Audrey terlihat pendek, tapi kaki gadis itu cukup bagus.
Merasa sedang diperhatikan, Audrey segera melangkah cepat. Dia tak sudi, kakinya menjadi objek tatapan Dean.
“Dree. Minggu depan jalan yuk!” Dean mengangkat topik pembicaraan.
Audrey menggeleng tegas. Jalan menurutnya dan jalan menurut Dean pasti berbeda.
“Kalau habis jalan biasanya gue pulang. Kalau sama lo pasti mapir-mampir dulu.”
“Kok lo tahu banget sih tentang gue?” Dean tersenyum penuh arti. “Ah gue lupa. Lo kan diam-diam stalking gue,” lanjutnya.
Satu tangan Audrey yang bebas menutup wajahnya lalu berjalan sambil menunduk. Jika diingatkan tentang kejadian semalam rasanya dia ingin bumi menelannya saat ini juga.
“Dree. Kenapa malu-malu sih?” goda Dean. “Atau lo mau minta foto gue? Sini foto bareng gue.”
“Dean!!”
Audrey berteriak tak tahan digoda seperti itu. “Lo bisa diem? Gue nggak like foto lo.”
“Lebih tepatnya nggak sengaja,” kata Dean sambil mengedip genit. Dia puas melihat wajah putih itu memerah. Seorang gadis memang lucu saat sedang malu-malu, kucing anggora saja kalah lucu. Setidaknya itu menurut Dean.
Kesal karena terus digoda, tangan Audrey yang memegang stiletto terangkat. Dia mengarahkan sepatunya ke wajah Dean, bermaksud untuk menampar pipi lelaki itu dengan sepatu. Namun, karena Dean yang bergerak sasaran Audrey meleset jauh.
“Audrey. Sakit Dree!!!”
Audrey diam dengan bibir terbuka. Dia tak sengaja.