Tujuh-Gara-Gara Map

1813 Words
Dean: Lihat gara-gara ulah lo. Dean: picture received. Audrey melihat foto yang dikirimkan Dean. Matanya membulat melihat mata kiri Dean bengkak dan memerah. Audrey mengigit bibirnya tak menyangka ulahnya kemarin lusa bisa membuat mata Dean seperti itu. Jemari lentiknya lalu bergerak cepat membalas pesan dari Dean itu. Setelah pesan itu terkirim, Audrey menutup wajahnya dengan bantal. Dia ingat kejadian kemarin lusa saat ingin memberi pelajaran ke Dean. Niatnya ingin memukul pipi lelaki itu dengan sepatu tapi ujung stiletto itu malah mengenai mata Dean. “Kalau kayak gini gimana mau ngehindarin Dean! Pasti tuh anak bakal minta pertanggungjawaban.” Audrey mengubah posisinya menjadi berbaring miring. Dia menatap pintu balkon yang belum terbuka itu. Hari ini hari Minggu, dia bisa sedikit santai meski dia ingin esok harinya masih santai lagi. “Gue butuh piknik!!” teriaknya. Audrey terduduk, menarik selimut lalu melipatnya rapi. Setelah itu dia turun dari ranjang dan keluar kamar. Dia lantas menuju dapur dan mendapati sang mama tampak sibuk mengaduk minuman, mamanya memang pengertian. Dia mendekat lalu menarik segelas itu. “Eh!! Bukan buat kamu!!” Gerakan Audrey terhenti lalu senyum kecut. “Buat siapa, Ma?” “Buat mamanya Dean.” Audrey tersentak sambil menatap Mamanya yang perlahan berjalan keluar dapur. Dia tiba-tiba diserang rasa takut. Takut kalau Dean mengadu dan kedatangan mama lelaki itu untuk memarahinya. Setelah memikirkan hal itu Audrey menggeleng. Dia dan Dean bukan lagi bocah yang selalu mengadu ke orangtua. “Nggak mungkin Dean ngadu ke mamanya,” gumamnya menenangkan diri. “Audrey!! Dicari Tante Jema ini!!” Teriakan Mamanya membuat tubuh Audrey menegang. Dia menghela napas lalu berjalan pelan keluar dapur. Bibirnya komat-kamit, semoga ketakutannya tak terjadi. “Hai, Audrey.” Audrey tersenyum tipis lalu menyalami wanita cantik itu. Setelah itu Audrey memilih duduk dekat dengan sang mama. “Tante dengar, Dean sering ke tempat kamu kerja, ya?” Jema melihat Audrey yang tampak canggung itu. Dia lalu melempar senyum ke Ayumi. “Iya, Tante.” “Kerja sama apa, Dree?” sekarang Mama Audrey yang membuka suara. Tatapan Audrey tertuju ke mamanya, lalu tertuju ke mama Dean. “Pak Jaya mau ganti web baru, Ma.” “Oh, ya? Loh bukannya Dean kuliah manajemen sama kayak kamu, ya?” tanya Ayumi kebingungan. Audrey mengangkat bahu. Dia juga sempat bingung kenapa Dean bekerja di bidang IT, padahal lelaki itu dulu satu jurusan dengannya. “Iya. Dean memang lulusan manajemen. Tapi dari SMA dia belajar IT gitu ke papanya. Waktu kuliah, Dean sengaja ambil manajemen biar bisa ngelola perusahaan papanya. Kalau soal IT, dia belajar dari papanya dan baca buku sendiri,” jelas Jema panjang. “Wah keren ya, Dean,” tanggap Ayumi. Kalau kayak gitu, Dean cowok idaman banget. Tak lama Audrey menggeleng mengenyahkan pikirannya.   ***   “Jadi ujung stiletto lo kena mata Dean?” “Hm!!” Audrey menyendok ice sunday rasa strawberry ke mulutnya. Dia melirik Kina yang berjalan di sisinya sambil menjilat ice cone. “Kan sendal lo kotor, Dree. Terus matanya Dean nggak iritasi itu?” Langkah Audrey terhenti. Dia ingat bagaimana mata Dean yang bengkak dan merah. Audrey bergidik, membayangkan rasa sakit yang dirasakan lelaki itu. “Gue nggak tahu.” “Emang nggak lo anter ke dokter?” Kina kaget mendengar kejadian apa yang menimpa Dean karena ulah Audrey. Kina lalu menghentikan langkah, ingin fokus mendengar kelanjutan cerita itu. “Gue udah nawarin tapi dia nolak. Katanya dia takut apes gara-gara gue.” “Bener itu.” Mata Audrey melebar. Dia tak percaya jika Kina membela Dean. “Nggak gitu maksud gue. Kalau lo yang nganter Dean, terus lo dibikin kesel terus nggak sengaja mukul dan bikin Dean terluka, kan sama-sama apes.” Kina meringis setelah mengucapkan alasannya. Dia lalu menarik Audrey ke arah foodcourt. “Terus, kondisi Dean sekarang gimana?” tanya Kina setelah duduk di area foodcourt. Audrey meletakkan cup ice sunday-nya, lalu merogoh tas kecilnya. Dia mengeluarkan ponsel, membuka DM-nya dengan Dean, lalu menyerahkan ponselnya ke Kina. “Wah, parah ini, Dree. Lo udah jenguk dia?” tanya Kina sambil menatap foto itu. Dia bergidik melihat bagian putih di mata Dean memerah. “Lo ini gimana? Lo kan tahu, kalau gue lagi dalam misi jauhin Dean.” Audrey mengingatkan misinya dengan Kina. “Kayaknya ini pengecualian deh, Dree. Dean kayak gini gara-gara lo. Lo harus tetep tanggungjawab.” Audrey terdiam menimbang-nimbang harus menjenguk Dean atau tidak. Saat sedang berpikir, Kina menyerahkan ponsel membuat Audrey tersentak dan mengambil benda itu. Drrtt!! Ponsel di genggamannya bergetar. Dia melihat ada pesan masuk dari Pak Jaya. Pak Jaya: Audrey. Revisi untuk Oktavinus sudah kamu serahkan ke Pak Dean? Audrey membelas pesan itu dengan bibir mengerucut. Pak Jaya seolah tak percaya begitu saja kepada bawahan. Setelah membalas pesan itu, Audrey meletakkan ponsel di atas meja dan memakan ice sunday yang hampir meleleh itu. “Permisi. Boleh saya duduk sini? Nggak ada tempat kosong.” Kina dan Audrey mendongak melihat gadis berkulit putih itu dengan nampan di tangan. Melihat itu sontak Kina dan Audrey mengangguk seraya menjawab. “Silakan.” Gadis berkulit putih itu tersenyum lalu duduk di sebelah Audrey. “Dree!!” Panggilan Kina membuat Audrey tersentak. Dia buru-buru mengalihkan tatapannya. “Cantik ya,” puji Kina dengan suara pelan. Audrey manggut-manggut. Dia kembali memakan ice-nya yang tinggal sedikit itu. Saat sedang menyendok, ponsel di meja kembali bergetar. Satu tangannya terulur mengambil ponsel dan melihat dua notif pesan masuk. Dean: Dree. Map yang kemarin lo bawa lagi? Gue cari di rumah nggak ada. Pak Jaya: Barusan Pak Dean menelepon meminta catatan revisian. Revisian kemarin belum sampai ke tangan Pak Dean? Tubuh Audrey menegang. Dia mencoba mengingat kejadian kemarin. Dia keluar bersama Dean lalu insiden itu terjadi. Audrey tersentak seingatnya Dean keluar tak membawa apapun. “Kin! Lo harus anter gue ke suatu tempat!! Demi karier gue besok, Kin!!” Kina yang melihat Audrey berdiri, seketika ikutan berdiri lalu berjalan mengikuti. Sedangkan Audrey, pikirannya mendadak kacau setelah mendapat pesan dari Dean dan Pak Jaya. Ada-ada aja sih masalah!! Audrey berjalan keluar mal dengan Kina yang berada di belakangnya. Saat berjalan ke arah basemant, ponsel yang digenggamnya bergetar. Audrey menghentikan langkah dan melihat nama Dean muncul. Audrey menggeser layar hijau lalu kembali melangkah. “Dree. Mapnya masih di lo, kan?” “Kemarin gue udah kasih ke lo!!” “Sekarang lo cari! Bantuin gue! Mata gue nggak boleh kena debu sama asap dulu. Gue nggak bisa keluar.” “Iya bawel!!” Setelah mengucapkan itu Audrey memutuskan sambungan secara sepihak. Dia harus mencari map yang berisi tulisan latin ala Pak Jaya itu. Tulisan yang sebenarnya tak begitu bisa dibaca, tapi berimbas ke karier Audrey jika tulisan itu hilang. Nasib bawahan saat liburanpun masih disibukkan dengan kerjaan.   ***   Dalam ilmu psikologi, apa yang terlalu dikhawatirkan dan apa yang terlalu pikirkan, kemungkinan besar itu akan terjadi. Sama halnya seperti yang terjadi kepada Audrey. Minggu pagi dia terlalu memikirkan Seninnya kacau dan mendapat amukan Pak Jaya. Hari ini, tepatnya hari Senin pukul delapan pagi, Audrey menerima amukan dari bos besarnya itu. “Bagaimana bisa map itu tertinggal di kafe?” Audrey duduk dengan kedua tangan memilin ujung rok selututnya. “Saya sudah menyerahkan map itu ke Dean, Pak.” “Dean?” “Pak Dean maksud saya,” ralat Audrey. “Yang sopan.” Audrey mengangguk meski sebenarnya enggan sopan ke Dean. Dia merasa kejadian ini yang salah adalah Dean. Lelaki itu yang tak membawa map, tapi Audrey yang kena marah. “Jadi bagaimana? Mapnya sudah ketemu?” Mendengar pertanyaan lanjutan itu Audrey tersentak. Dia menatap map di depannya, lalu menyodorkan ke Pak Jaya. “Sudah, Pak. Pihak kafe menyimpannya.” “Untung map ini nggak hilang!” Audrey hanya mengangguk. Kalau hilang orang lain juga nggak bakal bisa baca tuh tulisan, batinnya geram.  “Kalau begitu sekarang antar revisian itu ke Pak Dean. Pastikan kalau map itu sampai di tangannya langsung.” “Baik, Pak. Saya permisi.” Audrey mengambil map di hadapannya lalu berjalan meninggalkan ruangan. Setelah keluar dari ruangan, dia menghela napas panjang. Satu tangannya terkepal dan memukul ke arah pintu seolah sedang memukul Pak Jaya.   ***   “Nih cewek ngapain tanya alamat rumah gue?” Dean membaca pesan Audrey sekali lagi. Setelah beberapa kali membaca, dia yakin kalau Audrey memang meminta alamat rumahnya. Dean lalu mengirimkan alamat rumahnya ke gadis itu. Hari ini Dean memutuskan tak berangkat ke kantor. Dia malu datang ke kantor dengan mata bengkak dan merah. Bisa jatuh pamornya sebagai Dean yang tampan. Arah pandangnya lalu tertuju ke langit-langit kamar. Dia terkekeh geli membayangkan Audrey pasti kena marah Pak Jaya. Kemarin dia memang ingin menyerahkan map revisi ke anak buahnya. Untuk sementara waktu, biar anak buahnya yang mengerjakan tapi saat sedang mencari dia tak menemukan map itu. Setelahnya Pak Jaya menelepon. Dean tak berpikir panjang, hingga menjawab kalau mapnya belum sampai. Setelah itu dia mencoba menghubungi Audrey, ingat jika sebelum kejadian stiletto mengenai matanya, gadis itu menyerahkan map. Lalu yang terjadi adalah map itu tak ada di Audrey. Dean menebak kalau Audrey pasti kena marah Pak Jaya. Drttt!! Ponsel di sebelah kepala Dean bergetar. Dia melihat nama Audrey muncul. Seulas senyum terbit dari bibir lelaki itu. “Halo.” “De. Gue di depan rumah lo nih! Lo keluar dong!” Seketika Dean terduduk, kaget mendapati Audrey sedang di depan rumahnya. Tanpa menunggu waktu lama, dia turun dari ranjang dan bergegas keluar rumah. Sedangkan di halaman depan, Audrey berdiri tak sabaran. Sambil menunggu, arah pandangnya tertuju ke halaman rumah Dean yang tampak terawat itu. Tatapan Audrey lalu tertuju ke depan, menatap rumah minimalis yang didominasi warna hitam dan putih. Dia iri melihat rumah Dean. Sejak dulu dia ingin punya minimalis dengan nuansa hitam putih, berbeda dengan rumah yang dia tinggali yang beruansa kayu-kayuan dan pahatan buatan papanya. “Dree!!” Mendengar panggilan itu, Audrey tersentak. Dia menatap lelaki yang mengenakan kaos hitam tanpa lengan dan celana hitam selutut. Penampilan Dean tampak berbeda dari biasanya, lelaki itu terlihat santai dan lebih tampan. Audrey menggeleng, mengenyahkan penampilan Dean dari pikirannya. “Ini, revisian dari Pak Jaya.” Dean menerima map itu lalu membuka pintunya lebih lebar. “Masuk dulu yuk.” Mendengar tawaran itu, Audrey menimbang-nimbang. Dia menatap ke seluruhan ruang tamu dan merasa di rumah hanya Dean seorang. “Kayaknya gue langsung balik deh,” tolaknya. “Balik? Lo nggak mau jenguk gue dulu?” Dean yang sudah duduk di sofa panjang menatap Audrey yang berdiri di depan pintu. Terlihat keengganan yang kentara dari wajah gadis itu. Dean tersenyum miring tahu apa yang menjadi ketakutan Audrey.  “Come on, Dree. Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Lagian apa lo nggak ngerasa bersalah udah ngelukain mata gue? Udah ngelukain, nggak jenguk lagi.” Audrey mendengus mendengar sindiran itu. Perlahan dia berjalan masuk dan duduk di sebelah Dean dengan tatapan waspada. “Selamat datang di rumah Dean, Dree.” Kalimat itu membuat Audrey bergidik. Dia menoleh dan melihat senyum sinis Dean. Audrey menyesal telah menuruti permintaan lelaki itu. “Jangan macem-macem, De!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD