“Selamat datang di rumah Dean, Dree.”
Kalimat itu membuat Audrey bergidik. Dia menoleh dan melihat senyum sinis Dean. Audrey menyesal telah menuruti permintaan lelaki itu. “Jangan macem-macem, De!!”
Dean menggeleng pelan. Dia berusaha menahan tawa karena melihat wajah ketakutan Audrey. Lelaki itu lalu duduk di sofa dan menepuk sisi sebelahnya.
“Duduk sini. Katanya mau jenguk gue?”
“Lo nggak ngapa-ngapain, kan?”
“Pengen banget gue apa-apain.”
Audrey menatap tajam, memastikan kalau Dean tak akan berbuat macam-macam kepadanya. Setelah beberapa detik menatap, gadis itu akhirnya mendekat. Tetap dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
“Nih, gue udah duduk. Gimana kabar mata lo?” tanya Audrey sambil menatap mata Dean yang masih memerah itu. Mata Dean terlihat lebih mendingan, setidaknya itu menurut Audrey.
“Pasti sering lo sentuh, ya? Sampai ujungnya bengkak.”
Refleks tangan Dean menyentuh sudut matanya. Saat matanya terkena stiletto, dia memang sering mengucek karena terasa gatal dan sakit.
“Sekarang udah mendingan. Udah ditangani sama dokter cantik.”
Seketika Audrey mendengus. Emang dasar playboy, mata masih sakit aja masih sempetnya natap dokter cantik.
“Oh ya gimana hari Senin lo? Pasti kena marah Pak Jaya,” kata Dean membuka percakapan lain.
Dean tersenyum miring mendengar helaan napas Audrey. Tangannya menyentuh pundak Audrey, agar gadis itu menghadap ke arahnya.
“Kayaknya lo seneng banget deh kalau gue kena marah Pak Jaya,” jawab Audrey dengan tatapan menyelidik.
“Tentu. Sebagai balasan dari mata gue.”
“Jadi lo dendam ke gue?”
Dean tersenyum miring lalu menggeleng pelan. “Gue nggak dendam. Mungkin saja Tuhan ngebales perbuatan lo.”
Audrey membuang muka, kembali kesal jika diingatkan dengan Pak Jaya. Sejak datang hingga pulang, dia kena omel. Belum lagi dia sempat salah memasukkan map, membuat Pak Jaya naik darah.
“Asal lo tahu Senin gue buruk. Kalau tiap hari gue kena marah, gue pengen keluar aja.”
Dean mengubah posisinya menjadi miring. Dia tampak tertarik dengan cerita gadis di sampingnya itu. “Ya udah kalau gitu keluar aja. Terus kerja di tempat gue.”
Audrey tersenyum kecut sambil menggeleng tegas. “Maleslah kerja sama lo.”
“Kenapa males? Bosnya kan ganteng.”
“Ish!!”
Dean terkekeh karena godaannya itu. Dia bergeser mendekat lalu menyentuh pundak Audrey dan mengusapnya pelan.
“Kenapa kayak gini sih? Namanya juga kerja.”
“Tapi kalau dimarah-marahin gue juga ogah,” jawab Audrey dengan satu tangan terkepal.
“Udah. Lo kerja di tempat gue aja. Nggak bakal gue marahin.”
Audrey menatap Dean seolah ada sedikit angin cerah. Melihat Audrey yang tersenyum, Dean melanjutkan kalimatnya. “Paling gue modusi doang.”
“Apaan sih lo!!”
Refleks tangan Audrey mendorong wajah Dean. Tak sengaja jari kelingkingnya menyentuh mata Dean yang sakit.
“Dree. Mata gue belum sembuh udah lo lukai lagi!” Dean mengucek matanya karena matanya terasa sakit.
“Gue nggak sengaja,” kata Audrey. “Jangan disentuh terus. Nanti makin parah,” lanjutnya sambil menggenggam tangan Dean.
Berkali-kali Dean mengedipkan matanya mengurangi rasa perih dan nyeri di mata itu. Dia lalu merasakan ada angin kecil yang mengenai matanya. Dia menatap ke depan memperhatikan wajah Audrey yang hanya beberapa centi dari wajahnya.
“Diem ya,” kata Audrey lalu semakin mendekat. Satu tangannya menyentuh rahang Dean dan meniup mata lelaki itu yang kembali memerah.
Senyum Dean terukir. Satu tangannya menyentuh pinggang Audrey dan menariknya mendekat.
“Ya ampun ini masih di ruang tamu!!” suara Noel terdengar.
Dean dan Audrey menoleh ke sumber suara. Di sana ada Noel, Remy dan Moren geleng-geleng melihat posisi Dean dan Audrey. Dean duduk bersandar si sofa dengan tangan melingkar di pinggang Audrey. Sedangkan Audrey, maju ke tubuh Dean dengan tangan menyentuh pipi Dean.
“Ganggu aja,” gerutu Dean.
Audrey yang sadar dengan posisinya, buru-buru menjauh tapi belum sempat dia bergerak tangan Dean menahan pinggangnya. Lalu tangan satu lelaki itu menarik tangan Audrey.
Senyum Dean tersungging melihat gadis di depannya itu tampak kebingungan. Dia lalu mengecup punggung tangan gadis itu. “Makasih bantuannya.”
Audrey membeku, tak tahu dengan reaksi tubuhnya yang seperti ini. Dia membuang muka lalu menarik tangannya dari genggaman Dean. Buru-buru Audrey berdiri, lalu keluar rumah tanpa sepatah katapun.
Berbeda dengan Audrey yang memilih bungkam, Noel, Remy dan Moren malah tersenyum penuh arti. Mereka merasa kedatangan mereka tak tepat waktu karena mengganggu waktu berduaan Dean dengan Audrey.
Sedangkan di sofa, Dean menatap kepergian Audrey dengan terkekeh geli. Dia ingat bagaimana bola mata Audrey membesar dengan pipi yang memerah.
Baru tahu gue kalau Audrey bisa malu-malu kayak gitu.
***
Esok harinya Dean kembali bekerja. Kondisi matanya sudah lebih baik. Sakit mata tak membuatnya berlama-lama menikmati masa istirahatnya. Kini, dia kembali menjadi Dean lelaki muda yang mulai merintis bisnis.
“Ingat ya, kalau Pak Jaya bilang macem-macem jangan didengerin. Sebagai programer, kamu lebih ngerti daripada dia yang ngurusin tanah sama bangunan.”
Dean berjalan sambil memperingati Arya—anak buahnya yang kali ini ikut meeting. Dean lalu berjalan lebih dulu saat melihat seorang gadis yang tampak sibuk di meja dekat ruangan Pak Jaya itu.
“Kamu masuk dulu. Saya ada urusan sebentar,” kata Dean yang diangguki Arya.
Merasa ada yang datang, Audrey mengangkat wajah. Dia tersentak mendapati Dean berdiri di depan meja kerjanya. Audrey melengos saat lelaki itu memberikan senyuman. Gadis itu masih ingat dengan kejadian kemarin saat Dean membuatnya malu.
“Dree. Ada gue kok nggak disambut?”
Dean tersenyum penuh arti. Dia menebak kalau Audrey malu atau bahkan kesal dengan kejadian kemarin sore. “Seriusan nih gue nggak disambut?” tanyanya sambil melihat Audrey yang mencoret beberapa lembar kertas.
Jemari Audrey yang memegang bulpoint semakin mencengkeram. Dari sudut matanya, dia melihat Dean yang menatapnya dengan senyum khas lelaki itu. Senyum paling nyebelin.
“Dree. Lo marah? Atau malu gara-gara kejadian kemarin?”
“Apaan sih lo!!”
Audrey menyerah, tak tahan mendiamkan Dean dan mendengar ucapan lelaki itu. Sedangkan Dean diam-diam menahan senyuman. Usahanya berhasil untuk membuat Audrey kembali berbicara dengannya.
“Beneran malu gara-gara kemarin?” ulang Dean dengan senyum miring.
“Kejadian yang mana, ya? Kalau nggak penting gue udah lupa.”
Mendengar jawaban itu Dean tergelak. Namun, bukan Dean namanya kalau menyerah begitu saja. Dia memajukan tubuhnya. Refleks, Audrey mundur.
“Masa lupa sih? Kemarin kita berantem kecil. Terus nggak sengaja tangan lo senggol mata gue. Inget nggak?”
Audrey tampak berpikir. Dia menggeleng pelan dengan senyum miring. “Sayangnya gue nggak inget.”
Dean mundur selangkah. Audrey mengira kalau lelaki di depannya itu menyerah dan memilih pergi tapi perkiraannya salah, justru Dean kembali mendekatinya. Lelaki itu sekarang mengurung Audrey dengan kedua lengannya.
“Mau ngapain lo!! Gue teriak nih!!” ancam Audrey dengan kedua tangan mulai memasang kuda-kuda.
Senyum Dean terukir. Dia membungkuk mendekatkan wajahnya ke telinga Audrey. Dia memejamkan mata sejenak saat aroma Audrey yang khas buah-buahan tercium. Dean lalu membuka mata, seraya berbisik.
“Gue bisa ngulang kalau lo beneran lupa.”
Mata Audrey terbelalak. Jika seperti ini senjata makan tuan namanya.
“Tapi gue lagi nggak mau reka adegan. Gue lagi males!”
Kedua tangan Audrey mendorong d**a di depannya. Dean memanfaatkan kesempatan itu dengan menggenggam tangan itu. Dengan gerakan cepat, Dean mencium punggung tangan itu bergantian.
Tubuh Audrey menegang tak menyangka Dean mengulang kejadian kemarin. Bahkan sekarang mencium kedua punggung tangannya.
“Gimana udah inget?” tanya Dean dengan senyum penuh kemenangan. Salah sendiri lo main-main sama gue, Dree. Rugi kan lo!
“Ish!! Mau lo apa sih, De,” kata Audrey sambil menarik tangannya dari genggaman Dean.
Kali ini Dean membiarkan gadis di depannya sedikit lengah. Dia mundur selangkah, membuat Audrey sedikit lega.
“Mau gue? Nanti makan siang sama gue.”
“Lo panas deh, De.”
“Oh, ya? Coba lo cek kening gue. Gue panas atau enggak,” kata Dean sambil mendekatkan wajahnya kembali ke Audrey.
Tangan Audrey terangkat, hendak mendorong wajah Dean. Namun, Audrey ingat kemarin hampir melukai mata lelaki itu lagi. Akhirnya dia menurunkan tangannya.
“Udahlah, De. Lo ke sini mau rapat, kan? Udah sana temuin Pak Jaya.”
“Iyain dulu baru gue pergi.”
“Lo kok ngancem sih?”
Jari telunjuk Dean bergerak ke kiri dan ke kanan. “Bukan ngancem tapi usaha.”
“Gue nggak mau makan siang sama lo!” jawab Audrey ketus.
Audrey menarik bulpoint lalu mulai mengoreksi berkas di depannya. Dari ekor matanya, dia merasa kalau lelaki itu masih berdiri di tempat.
“Lo ngapain masih di sini? Jadi patung?” Audrey mendongak sambil menghela napas lelah.
Dean mengangkat bahu pelan. “Kan tadi gue bilang, iyain dulu baru pergi.”
“Lo mah nyari perkara.”
“Enggak. Gue nyari waktu buat makan siang sama lo. Bukan nyari perkara.”
“Dean!!!” tanpa sadar Audrey berteriak seolah lupa jika di dalam ruangan sedang ada rapat, dan tentu saja dengan kondisi bos yang tak bersahabat.
“Kok lo berani teriak? Emang nggak takut bos lo marah?”
Senyum Dean tersungging kala gadis di depannya itu panik lalu membekap mulut. Dean menoleh ke pintu ruangan Pak Jaya. Tiba-tiba dia punya ide brilian. “De. Kalau lo nggak mau ikut makan siang, gue teriak juga biar bos lo marah!”
Audrey berdiri dan membekap mulut Dean sambil berkali-kali menoleh ke ruangan Pak Jaya. “Asal lo tahu bos gue taring sama tanduknya lagi keluar. Lo jangan bikin masalah.”
“Emang harus ya gue makan siang sama lo?” tanya Audrey dengan nada lelah.
“Harus. Kalau enggak gue teriak. Atau bahkan gue bilang kalau lo ngatain bos lo bertaring sama bertanduk.”
Audrey dibuat mati kutu. Dia kembali menelan pil pahit karena lidahnya sendiri. Audrey lalu balik badan, menghempaskan tubuhnya dengan lelah. “Iya deh iya.”
“Nah, gitu dong dari tadi. Jadi nggak usah tarik urat dulu,” jawab Dean. “Hati-hati sama ucapan, Dree. Bisa jadi ucapanmu malah memakanmu balik.”
Dean mengusap puncak kepala Audrey setelah itu balik badan dan menuju ke ruangan Pak Jaya. Meninggalkan Audrey yang memukuli bibirnya sendiri.
***
“Lo mau pesen apa, Dree?”
“Samain aja kayak lo.”
“Ya udah saya pesan racun tikus.”
“Apaan sih, De!!”
Dean menatap Audrey, merasa dirinya tak salah bicara apapun. “Kata lo samain kayak gue? Ya udah gue pesen racun tikus.”
“Kalian pasangan yang lucu.”
Audrey dan Dean mendongak menatap pelayan yang berdiri dengan notes di tangan. Audrey menggeleng tegas lalu merebut buku menu dari hadapan Dean daripada lelaki itu terus mengajak bercanda.
“Saya pesan samyang saja. Minumnya orange,” jawabnya lalu menyerahkan buku menu ke Dean.
Dean menerima buku menu itu, lalu menyerahkan ke pelayan. “Samain aja ya, Mbak. Jangan dikasih racun tikus ya.”
Pelayan itu mengulum senyum merasa lucu dengan pasangan di depannya. Sedangkan Audrey malah kesal karena candaan itu.
“Cemberut mulu. Nggak capek bibir dimajuin gitu? Atau kode biar gue cium?” tanya Dean sambil menatap bibir Audrey yang terpoles lipstick merah.
Mendengar ucapan itu seketika Audrey menarik bibirnya menjadi satu garis lurus. Dia memilih tak membalas ucapan Dean dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
“Dree. Ada lelaki tampan di depan lo, lo malah natap tembok,” kata Dean heran.
Sejak tadi Dean menyadari jika gadis di depannya itu tak ingin terlibat banyak perbincangan. Tadi mereka berangkat bersama karena rapat dengan Pak Jaya cukup lama, hingga mepet jam makan siang. Dean lalu memutuskan menunggu Audrey agar sekalian berangkat makan siang bersama.
“Dree. Ya ampun. Gue salah apa sama lo sampai lo kacangin?” tanya Dean kembali membuka suara.
Mendengar hal itu, Audrey mengalihkan tatapannya. Dia menahan tawa melihat Dean yang kesal sendiri itu. “Kalau ngomong sama lo ujung-ujungnya berantem, De. Buang-buang tenaga.”
“Tapi mending gitu, Dree. Daripada saling diem.”
Dean melipat kedua tangannya di atas meja. Dia tersenyum melihat Audrey yang menggeleng itu.
“Gimana kerjaan lo? Udah kelar? Gue tadi ngeliat banyak tumpukan map di meja lo,” ucap Dean membuka percakapan.
Membahas masalah pekerjaan, pikiran Audrey kembali suntuk. Dia menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan terlipat di atas perut. “Jangan ngomongin kerjaan dong. Gue pusing jadinya.”
“Terus ngomongin apa? Ngomongin ranjang mau?” tanya Dean menggoda. Dia tersenyum miring melihat gadis di depannya itu seketika duduk tegak.
“Otak lo ya, De. Nggak jauh-jauh dari ranjang. Jangan-jangan otak lo udah nempel sama ranjang,” jawab Audrey tak suka.
“Kayaknya otak lo deh yang harus dibersihin. Nggak salah kan ngomongin ranjang? Kebetulan gue kemarin beli ranjang baru. Enak, Dree empuk. Kalau lo mau beli ranjang, gue kasih tahu mereknya apa.”
Sialan! Audrey merasa dijebak oleh pertanyaan Dean. Audrey menatap lelaki itu dengan tatapan lelah. “Please ya, lo ngomong kayak gitu kayak promoin ranjang.”
“Serah gue dong! Kan yang ngomong gue!”
Bibir Audrey terbuka hendak menjawab tapi saat melihat pelayan yang datang, membuatnya memilih bungkam.
“Samyang dan orange tanpa racun tikus,” ucap pelayan yang kira-kira sebaya dengan Audrey.
“Udah deh, Mbak. Jangan ladenin candaannya,” kata Audrey sambil menarik mangkuk berisi samyang itu.
Dean menatap Audrey dengan senyum tipis. “Diemin aja, Mbak. Gadis di depan saya nggak ngerti selera humor.”
Audrey menatap Dean tajam, sedangkan yang ditatap hanya cengar-cengir tak jelas. Dia lalu mulai menyantap makanannya. Semakin cepat dia menyelesaikan makan, semakin cepat dia terbebas dari Dean.
Dean mulai memakan samyang di depannya sambil sesekali menatap Audrey yang makan dengan lahap tanpa dibuat-buat agar terlihat anggun itu. Tak seperti yang dilakukan teman kencan Dean agar menarik perhatiannya.
Drrtt!!
Salah satu ponsel di atas meja bergetar. Baik Audrey dan Dean menghentikan kegiatan mereka dan melongok ke benda persegi panjang yang bergetar itu. Melihat ponselnya yang bergetar, tangan kanan Dean terulur mengambil ponsel itu.
Audrey hendak melanjutkan makan, tapi dari ekor matanya dia melihat Dean mengernyit. Audrey mengangkat wajah, melihat lelaki yang mulai berbicara itu.
“Halo. Apa? Oke gue ke sana sekarang. Tunggu jangan ke mana-mana.”
Dean mematikan sambungan terlebih dahulu. Dia memasukkan ponsel ke saku jas setelah itu meminum orange beberapa tegukan. Melihat Dean yang terlihat buru-buru, Audrey menatap lelaki itu penuh tanya.
“De---”
“Dree. Gue harus pergi. Lo nggak apa-apa kan pulang naik taxi?” tanya Dean seraya berdiri.
Audrey melihat bagaimana wajah Dean yang mendadak cemas itu. Audrey lantas mengangguk, baginya tak terlalu penting dia kembali ke kantor menggunakan apa.
“Iya gue bisa sendiri.”
“Gue balik dulu ya, Dree.” Dean mendekat, menunduk mencium puncak kepala Audrey lalu berlari keluar.
Audrey duduk dengan tatapan tertuju ke arah Dean pergi. Audrey mengernyit bingung kenapa Dean mencium puncak kepalanya. Dia juga bingung kenapa hanya diam dan tak memarahi lelaki itu.
“Kok gue aneh sih?”