Kelakuan Radit dan Alif

2514 Words
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan pesan kepada kaum laki-laki agar menghormati dan memperlakukan kaum wanita dengan baik.   ***   Setelah beberapa hari Aisya belajar di rumah akibat berkelahi dengan Burhan, ada yang aneh dengan sikap Fira. Ya, gadis itu tidak pernah lagi menghubungi Aisya walau di dunia maya seolah menghilang dilalap si buaya buntung. Aisya juga tidak tahu siapa buaya buntungnya Fira. Gadis itu juga biasanya meminjamkan catatan Biologi, Fisika, Kimia, Sejarah, serta Matematika pada Aisya kalau ia tengah tidak masuk sekolah. Namun tiga hari ini, nihil. Bahkan w******p Fira dimode privat, dan jadilah Aisya tak tahu apa pun tentang kabarnya. Dengan langkah cepat Aisya menuju kelas untuk mencari Fira, tapi lagi-lagi gadis itu menghilang. Yang ada di kelas justru Dara yang menyambutnya dengan senyuman mengejek. Jenis senyuman yang membuat Aisya ingin menutupi wajah Dara dengan kolor ijo. Untuk kali ini, Aisya abai dengan nasihat papanya yang berbunyi, “Jika ada yang menzalimi, maafkanlah. Jika ada yang memutus silaturahmi, sambunglah. Jika ada yang menjelekkan maka jawablah dengan perkataan yang lembut.” Huh, Dara tak pantas diperlakukan sebaik itu! pikir Aisya. "Habis putus sama Radit, ya? Makanya jadi cewek itu yang bener. Jangan brutal kayak cowok!" ujar Dara dengan sinis. Entah bagaimana bisa rasa iri itu bercokol di hatinya hingga ia terlalu ikut campur urusan orang lain. Padahal kalau dikelola dengan benar, rasa iri itu akan menjadi motivasi supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aisya ingin meninju Dara, kalau saja ia tidak ingat surat peringatannya di sekolah sudah banyak sekali. Dan karenanya, daripada semakin naik darah, Aisya memilih pergi dari kelas untuk mencari Fira yang mungkin saja ke perpustakaan untuk meminjam buku atau ke Mbak Pipit supaya mendapat diskon soto. Baru sampai koridor, bel masuk berbunyi. Aisya mengaduh akan waktu yang tak mampu memahaminya. Sebenarnya masalah utama bukan ke mana hilangnya Fira, melainkan sahabatnya itu meminjam buku Fisika Aisya yang hingga kini belum dikembalikan. Saat baru selangkah menuju kantin, sosok bayangan mengerikan berjalan menuju kelasnya. Ya, Alif melalui koridor yang sama dengan Aisya. Tidak mungkin nekat, gadis itu berbalik menuju kelas. Pasrah mau dijadikan apa nanti di kelas. Perkedel, tempe bacem, apa pun itu terserah! "Selamat pagi, Pak," sapa murid-murid. "Pagi. Hari ini, saya akan melanjutkan materi yang kemarin," jawabnya sembari menaruh buku di atas meja dan mengambil spidol. Alif memang berbeda dengan guru lainnya. Ia tidak akan mau berbasa-basi atau curhat tentang kehidupan di rumah pada murid-muridnya. Menurutnya, itu membuang waktu yang berharga. Aisya yang baru duduk bisa bernapas lega, setidaknya ia bisa memakai buku lain untuk mencatat. Toh, Alif tidak akan tahu kalau dirinya tidak membawa buku catatan. Aisya kemudian melirik bangku Fira yang masih kosong. Ke mana perginya gadis itu? Padahal Aisya ingin curhat tentang hatinya yang tengah broken karena Radit juga tentang papanya yang ingin memasukkannya ke pesantren. "Kamu!" Alif menegur Aisya yang sedang melamun. "Ssst, Aisya," panggil teman yang duduk di belakangnya, namun Aisya tidak dengar karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aisya!" Teriakan kedua kalinya itu yang membuat Aisya sadar. Dia lantas mengedipkan mata berkali-kali karena terkejut. "Ya, Pak?" Dara cekikian dengan dua komplotannya, Diana dan Diandra. "Lihat, deh! Cewek kayak gitu mana bisa naklukkin hati Pak Alif? Pak Alif aja kesal banget sama dia." Diana dan Diandra mengiyakan bisikan Dara tersebut. Mereka bertiga terkenal sekali di sekolah sebagai ‘Tiga D’ yang menjengkelkan. Tiada satu pun dari mereka yang tidak menyebalkan. Alif menyuruh Aisya menbawa buku catatannya ke depan. Kata kejam memang tidak cukup mendeskripsikan Alif. Bagi Aisya, Alif itu sosok yang  jahat. Ya, ia jahat karena menyuruh Aisya maju ke depan saat dirinya tidak membawa buku. Atau lebih tepatnya, bukunya sedang dibawa Fira yang entah ke mana perginya. "Saya ingin ke toilet, Pak. Permisi." Drama pun dimulai. Aisya pergi dari kelas tanpa menunggu jawaban Alif.   ***   Tempat favorit siswa untuk membolos adalah basemen karena tidak ada CCTV maupun guru yang mengontrol di sana. Karena kedua alasan itu pula yang membuat Aisya pergi ke sana untuk menjernihkan pikiran. Tak akan lama, karena ia akan kembali ke kelas setelah bel pelajaran Fisika kurang lima menit berbunyi. Semua kejadian yang dialaminya akhir-akhir ini sungguh membuatnya lelah akan hidup. Nyatanya, hidup tidak semudah yang dikatakan Merry Riana. Tentu saja pikiran putus asa itu muncul karena Aisya tidak pernah bersandar kepada Allah. Dia lupa kalau Allah selalu bersama hamba-Nya. Demi kesejahteraan diri, Aisya memutuskan untuk membolos lagi. Setiba di basemen, ia duduk selonjoran, menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. "Ah, mana bisa gue di pesantren? Ini nggak adil!" keluhnya pelan. Alur demi alur kehidupan seolah membayanginya. Hidupnya terasa membosankan setelah Radit pergi. Ia sudah hancur, harapannya seolah hilang. Meski begitu, gadis itu harus tetap hidup. Tapi demi apa? Aisya juga tidak tahu. Mimpinya menjadi DJ sudah kandas sejak kecil, tidak mungkin DJ berhijab. Mimpinya menjadi pemain biola juga dibantah oleh papanya. Kalau boleh jujur, Aisya agak membenci papanya yang ia anggap tak pernah mengerti keinginannya. Selalu dengan dalih, itu tidak baik menurut agama. Sementara Aisya sendiri tidak suka fanatik dalam beragama. Satu-satunya orang di dalam keluarga yang menjadi alasannya bertahan adalah Hafis. Walaupun suka memberi siraman rohani, Hafis selalu membela Aisya jika terkena marah. Bukan membela dengan mengatakan Aisya benar, Hafis tetap mengatakan kalau kakaknya salah, tetapi anak yang masih duduk di bangku SD itu selalu memberi pelukan tanda peduli dan perlindungan pada Aisya. Setelah sekian lama, bel yang Aisya tunggu pun berdentang. Ia kemudian menuruni tangga.[V1]  Tetapi baru melangkahkan kaki, Aisya melihat bayangan hitam dari balik lemari bekas. Gadis itu berbalik, perlahan menuju dua sosok manusia yang pasti tengah bolos juga. Ide jail Aisya timbul. Dia harus berakting menjadi Bu Lina. Tubuhnya ia tegapkan, lalu ia berdeham. "Ketangkap kalian, ya!" Dua orang itu menampakkan wujud. Ketiganya bertatapan dengan bola mata membulat sempurna. Aisya terkejut bukan main, demikian halnya dengan kedua orang itu. Drama menjadi Bu Lina pun ia akhiri karena tubuhnya ingin jatuh ke lantai. Kedua manusia itu adalah Fira dan Radit. Tangan keduanya memegang erat seolah tak ingin terlepas. Jelas sudah semuanya, orang terdekatnya telak melakukan pengkhianatan. Teman tapi menikung.   ***   Sampai di taman belakang, Aisya menangis. Rasanya, tiap keping puzzle kejadian indah bersama Radit tersetel kembali di otaknya. Di taman, ia bisa leluasa mengeluarkan tangis. Pertama, dia terlalu sakit akan ketidaksetiaan Radit. Kedua, sahabatnya menusuk dari belakang. Saking lamanya menangis, kepala Aisya sampai berkunang, sementara deru napasnya belum juga stabil, sesak bagai tak ada rongga lagi. Walau gaya Aisya setengah lelaki, hatinya tetap perempuan. Seorang lelaki bertubuh tinggi menginjak tempat Aisya menangis, setelah sejak tadi mengawasi dari jendela lorong kelas yang mengarah pada taman belakang. Dia mencoba mengajak Aisya berbicara dengan volume lirih, berbeda dengan gaya bicara aslinya yang terkesan kejam. "Air matamu jangan kau sia-siakan untuk lelaki buaya sepertinya. Justru dengan begini, kamu tahu siapa Radit sesungguhnya." Aisya menoleh ke asal suara. Lelaki itu ternyata Alif. Apa dia akan menghukum Aisya? Ah, gadis itu tidak peduli. Dia terlalu sibuk akan rasa sedihnya. Tak pernah mengisi ruang imaji kalau Radit akan berselingkuh dengan sahabatnya. Ini benar-benar sakit. Namun, begitulah pengkhianatan, ia datang dari orang yang terlalu kita percaya. Tapi dari mana Alif tahu Radit berselingkuh dengan Fira? Itu pertanyaan yang menyelinap pikiran Aisya. "Itu mereka." Alif menunjuk ke koridor di mana Radit dan Fira tengah berjalan. Tangan keduanya bergandengan begitu erat. Tidak hanya itu, keduanya pun tertawa lepas seolah tidak ada apa-apa. Tangis Aisya makin pecah dan tiba-tiba gadis itu tergeletak tidak sadarkan diri. Alif panik, lalu menghubungi petugas kesehatan agar membawa gadis itu ke Unit Kesehatan Sekolah.   ***   Kesejukan cinta seorang ibu akan ada sepanjang masa. Terbukti dengan Sejak pagi hingga malam, Alysa yang setia menunggu anak gadisnya, duduk di kursi samping ranjang sambil memijat-mijat kaki Aisya sejak pagi hingga malam. Kata Dokter, Aisya stres sehingga butuh istirahat. Menyikapi hal itu, Alysa memohon kepada Haris untuk tidak menegur anaknya sebab ketahuan berpacaran. "Jangan marah, ya, Pa?" "Nanti ngelunjak kalau nggak dimarahi." Deru napas Haris tak beraturan. Tidak ada kata pacaran dalam kamus kehidupan Haris, oleh karenanya ia akan marah besar jika anak-anaknya berpacaran.Alysa mengusap d**a sang suami. "Memasukkan Aisya ke dalam pesantren sudah membuat jiwanya terguncang, Pa. Toh, sekarang dia belum sembuh total. Nanti kalau sudah stabil, Papa boleh menegurnya." Haris pergi tanpa sekali pun menoleh. Alysa lega, setidaknya Haris tidak menambah beban pikiran Aisya untuk saat ini. Alysa kemudian mengusap lembut kepala Aisya. "E... Radit... Ra... Dit?" gumam Aisya lirih. "Kakak, ayo bangun." Alysa tahu anaknya sedang meracau lelaki yang amat ia cintai. Ingin Alysa mengempaskan lelaki itu ke neraka j*****m. Apa ia tidak tahu kalau Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan pesan kepada kaum laki-laki agar menghormati dan memperlakukan kaum wanita dengan baik? Mata Aisya sedikit terbuka. Dari yang ia lihat, bayangan sang Mama-lah yang menyambutnya dengan hangat, bukan bayangan lelaki pengkhianat itu. Aisya sadar bahwa keluarga selalu menerima kekurangan dan kelebihannya, sedangkan kekasih tidak selamanya begitu. "Salat dulu, ya? Berdoa sama Allah. Doa di setiap salatmu adalah sarana menghadirkan kekuasaan Allah dalam hidupmu." Senyum Alysa mengembang. Tulus dan terasa nyaman di hati. Aisya mengangguk sembari menyibak selimut. "Aisya bisa sendiri, kok, Ma," tolak Aisya lembut ketika sang Mama hendak membantunya berjalan menuju kamar mandi. "Yakin?" "Iya.” “Ya udah, hati-hati, ya? Mama ambil air putih sama nasi untuk minum obat." "Makasih, Ma," ucap Aisya sebelum mamanya hilang ditelan pintu. "Iya." Selesai melaksanakan salat Isya, Aisya duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada ransel sekolah. Ya, setelah tubuhnya hilang kendali, Aiysa tidak tahu apa yang terjadi. Ia memutar otak, mengingat kejadian sebelum pingsan. Dia melihat Fira bersama Radit di basemen, kemudian dia berlari ke taman belakang, dan menangis. Lalu guru killer itu memergoki Aisya dan sempat menasihatinya, lalu menunjukkan kehadiran dua penusuk itu. Setelahnya, tangisnya pecah hingga tak sadarkan diri. Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Tangan kanan Aisya meraih ransel. Di dalamnya, tampak buku asing yang tebal bersampul merah hati. Aisya tidak merasa memilikinya atau meminjam dari perpustakaan. Dibacanya tulisan pada sampul, Menjadi Wanita Paling Bahagia, Dr. 'Aidh al-Qarni. Gadis pemilik bola mata cokelat itu kemudian membuka acak halaman buku.   Sebuah nasihat mengatakan: Jangan putus asa jika terpeleset dan jatuh ke dalam lubang yang dalam. Setelah keluar dari lubang itu, engkau akan lebih kuat. Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar. Jangan bersedih jika ada anak panah yang menembus tubuhmu, meski ia dibidikkan oleh orang terdekatmu. Sungguh, akan ada orang lain yang mencabut anak panah itu, mengobati luka, dan mengembalikan kehidupan dan senyumanmu. Jangan terlalu lama berdiri di atas reruntuhan rumah. Apalagi jika kelelawar sudah menjadikan reruntuhan itu sebagai sarangnya. Carilah suara burung yang indah di atas mega bersama sinar pagi yang baru. Jangan melihat lembaran kertas yang sudah kusam dan tulisan buram yang penuh dengan penderitaan dan kegelisahan. Engkau akan menemukan tulisan itu tidak akan abadi dan kertas-kertas itu bukan kertas terakhir untukmu.   Aisya melirik pojok kiri, halaman 244. "Kak Aisya, tolong bukain pintu." Itu suara sang Mama. Gadis itu menutup buku. Rangkaian kalimat yang barusan ia baca hanya menjadi angin lalu, Allah belum menberikan hidayah kepadanya. "Iya, Ma. Sebentar." Mama membawa nampan berisi semangkuk nasi, sayur lodeh, dan segelas air putih. "Saatnya minum obat." Oh, tidak. Bolehkah Aisya kabur saat ini juga? Karena baginya, meminum obat adalah tantangan tersulit. Obat itu pahit, katanya. "Em, Ma. Kalau obatnya nggak usah diminum gimana?" "Nggak bisa! Harus diminum sekarang." "Tapi, Ma—" "Nggak ada tapi-tapian!" "Ada nggak, Ma, obat yang sirup rasa stroberi atau jeruk aja?" Aisya mencoba bernegosiasi. "Eh, nggak mau? Sukanya berantem sama cowok, tapi kalau minum obat maunya sirup rasa buah-buahan. Kayak anak TK aja." Aisya membungkam mulut dengan kedua tangan. "Emm, nggak, Ma." Alysa menggeruskan obat untuk Aisya lalu mencampurnya dengan sedikit air. "Aaakk." Wanita itu memerintahkan anaknya membuka mulut. "Nggak mau, Ma." Air mata Aisya keluar. "Ya Allah. Ayo diminum dulu." Suara tawa Hafis dari mulut pintu mengalihkan keduanya. Adik laki-laki Alysa itu cekikikan sambil merekam kejadian memalukan itu. "Hafiiiss! Apa yang kamu lakuin? Kasihin ke Kakak, nggak, HP-nya?" "Kalau tetap nggak mau minum obat, videonya bakal Hafis sebar ke temen-temen Kakak." Jawaban bagus. Hafis memang cerdas. "Hafis, please, hapus videonya," pinta Aisya dengan nada memohon. Hafis duduk cukup jauh dari posisi Aisya. "Iya, bakalan Hafis hapus kalau Kakak minum obatnya. Mudah, kan?" Aisya mengembuskan napas kesal. Tidak ada jalan lain. "Oke, gue minum obat." Alysa memberikan jempol untuk anak laki-lakinya. "Pintar," pujinya dengan berbisik agar Aisya tidak dengar. "Udah, ya? Mama sama Hafis balik ke kamar." "Iya," jawab Aisya setengah ikhlas. "d**a, Kak Aisya!" Tawa Hafis terdengar menyebalkan saat menggetarkan gendang telinga Aisya. "Ya." Sebelum sang Mama menutup pintu, Aisya menanyakan pertanyaan yang sejak tadi hanya dipendamnya. "Ma, yang nganter Aisya pulang siapa?" "Gurumu." Alysa mengingat-ingat. "Kalau nggak salah, namanya Alif. Masih muda dan ganteng." Ia malah mendeskripsikan lelaki itu. "Mama yakin?" "Iya." Lalu pintu kamar Aisya pun tertutup. Bola mata Aisya melirik buku bersampul merah hati sekilas. Jadi buku itu milik lelaki itu? Dan kenapa lelaki itu begitu perhatian dengannya? Aneh bin ajaib.   ***   "Gue mundur dari tantangan lo," kata Aisya di depan Dara. Wajah gadis itu terlihat murung, tidak ada semangat sedikit pun untuk melawan Dara. Dara memandang kedua sahabatnya lalu turun dari meja. "Jadi, lo kalah?" "Iya. Gue kalah." "Yakin?" Dara tidak percaya. Sepengetahuannya, Aisya bukanlah tipe penyerah. Ah, tidak seru lagi jadinya kalau lawan mainnya mengalah. "Iya. Lagian, gue juga mau konsen ke UN." "Berarti lo bakal ngikutin apa yang gue mau, kan?" Aisya hanya diam sebagai pertanda iya. "Hmm... Enaknya diapain, ya, guys?" tanya Dara kepada dua wanita di sampingnya yang sibuk merapikan rambut. Seorang laki-laki bertubuh tinggi berdiri di samping Aisya. Tangannya menyodorkan kotak makanan. "Aisya, sudah sarapan? Tadi berangkat sama siapa?" Jantung Dara nyaris copot. Pemilik kotak itu adalah Alif. Kalimat dan sikap yang barusan ia lakukan begitu lembut, jauh dari sikap biasanya yang terkesan galak dan dingin. Tidak hanya Dara, seisi kelas pun memandang penuh tanya. Aisya menatap Alif, meminta penjelasan dari semua ini. "A—" "Dimakan dulu." Alif kemudian menuntun Aisya keluar kelas. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana bisa Aisya menyerah tapi ada hubungan di antara keduanya? Dara tidak bisa tinggal diam, Aisya harus kalah. Gadis itu memutar otak. "Ayo kita lapor kepada kepala sekolah. Guru seharusnya mampu menjadi panutan, bukan malah mesra-mesraan di sekolah!" "Sumpah, aku baper!" Seorang gadis yang berdiri di dekat pintu berlari ke bangku. Dara jijik. "Dih, baper! Tuh, makan nasi padang!" "Bilang aja kalo lo iri sama Aisya. Karena lo juga suka sama Pak Alif, kan?" Tidak terima, Dara lantas mendekati perempuan berambut keriting itu, siap menjambaknya. Terjadilah perkelahian yang berakhir di ruang BK. Sedangkan tak jauh dari kelas Aisya, Alif berdiri membelakangi Aisya. "Maksudnya apa, sih, Pak? Pasti teman-teman salah paham." Gadis itu memijat kening yang terasa pening. "Kenapa harus bohong sama mereka? Saya nggak suka. Ah, pasti nanti gosipnya menyebar. Nggak suka sama kemenangan karena belas kasihan Bapak.” Alif menatap Aisya sekilas. "Saya suka sama kamu." Lantas berlalu pergi. Aisya cengo. "Hah? Maksudnya? Woi, Pak Alif!"[V2]    ***    [V1]Bukannya basemen itu lantai bawah, ya? Kok menuruni tangga?  [V2] Adegan ini masih di kelas atau mereka sudah di depan BK? Karena kelihatan aneh kalau Alif tiba-tiba berdiri di belakang Aisya waktu di kelas. Dan kalau di BK, kenapa Alif harus di sana juga? Kan yang berkelahi hanya Dara sama cewek yang lain. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD