Tragedi

1137 Words
Setelah hari itu, Alif tidak lagi menampakkan diri di SMA Bakti. Dari bisik-bisik siswi yang  merupakan fans Alif, lelaki itu harus melanjutkan study. Info itu juga berdasarkan penjelasan Wakil Kepala Sekolah. Selain melanjutkan study, alasan si guru killer itu enyah adalah kembalinya Bu Wiwin dari cuti. Sebenarnya, Aisya tidak ambil pusing. Toh, ia anggap kejadian waktu itu hanyalah lelucon. Malam ini adalah malam perayaan kelulusan siswa-siswi kelas dua belas. Perayaan itu dilaksanakan di aula sekolah yang sudah disulap sedemikian mewahnya berkat kerja keras panitia. Bahkan, mewahnya tak kalah dari gedung pertemuan di hotel berbintang. Ketika malam perayaan, pihak sekolah akan mengundang guru yang pernah mengajar atau sekadar menjadi guru pengganti di SMA Bakti Itu tandanya, Alif akan datang. Berbeda dengan teman-temannya yang menghabiskan waktu sejam untuk berias, Aisya hanya memoles wajahnya dengan make up tipis. Itu saja hasil dipaksa oleh sang Mama. Gadis itu juga mengenakan gaun panjang merah muda dengan kepala yang dibalut hijab pasmina bunga-bunga. Meski begitu, Aisya tampak tidak nyaman saat berjalan. Selain gaun yang terlalu sempit, dia juga dipaksa memakai high heels. Namun usaha sang Mama tidak sia-sia, kini teman-teman Aisya pangling dan terkagum-kagum. "Yakin ini Aisya?" tanya Eva, teman satu kelasnya. "Lo kira siapa? Nenek lampir?" jawab Aisya sekenanya. Dia tidak suka puja sana puja sini. "Galak banget kayak harimau mau ngelahirin!" Itu Edo. Aisya memelototi Edo. "Emangnya udah pernah lihat harimau lahiran?" "Besok kalo lo ngelahirin, gue bisa lihat." "Bomat!" Maksud Aisya, bodo amat. Usai menyalami beberapa teman, Aisya duduk di kursi dekat meja prasmanan.hidangan disajikan. Matanya sejak tadi melirik makanan apa yang akan ia lahap malam ini. Baginya, hal terpenting dari malam perayaan adalah makanan gratis yang beraneka macam. Dia juga sudah tidak perlu kesulitan membawa pasangan, bukan tidak mau tapi memang belum laku. Ah, tidak juga. Aisya saja yang terlalu tomboi, jadi para pria takut diboikot olehnya. Pernah setelah ujian sekolah, anak 12-IPS-1 mengajaknya kencan. Konyolnya, Aisya bersedia apabila anak itu mampu mengalahkan Aisya engkol[V1] . Hasilnya 3-0, gadis itu memenangkan pertandingan dan kencan pun gagal. Setelah itu belum ada lagi yang berani mendekatinya. Ketika Aisya hendak beranjak mengambil piring sate, sepasang kekasih mengantre di belakangnya. "Aisya," sapa Fira. Gadis itu bergelantungan di lengan Radit. Kalau kata Aisya, Fira mirip monyet yang tidak ingin pisah dari induknya. Benar-benar tidak tahu diri. "Hai," balas Aisya sekilas. Gadis itu jadi enggan mengambil piring. "Nggak jadi makan?" tanya Radit. Aisya malas berbasa-basi, nanti malah jadi basi. Melihat muka Radit dan Fira, saja sudah basi. Dia menampilkan wajah tidak suka di depan Radit dan Fira. "Kalian aja deh, gue nggak doyan makan ayam yang juga makan ayam," sindirnya untuk Fira yang ‘teman makan teman’—dengan memakai perumpamaan ‘ayam makan ayam’. Cukup, Aisya tidak ingin mengungkit luka lama. Toh kalau Radit jodoh Aisya, lelaki itu akan kembali. Tetapi jauh di lubuk hati, Aisya sudah tidak minat. Semoga Allah memiliki stok yang lebih baik dari Radit. Saat Aisya berbalik, tepat di depan wajahnya berdiri seorang lelaki berdada lebar. Refleks gadis itu menaikkan wajah untuk melihat pemilik parfum maskulin itu. Dug, dug, dug. Jantung Aisya berdegup tak menentu. Matanya pun gagal fokus saat melihat tatapan intens si lelaki. Ya, dia adalah Alif. Aisya langsung menghindar dan pergi. Karena tidak biasa mengenakan high heel, Aisya keseleo dan jatuh. Mendadak Aisya menjadi pusat perhatian. Mata gadis itu terpejam, tidak berhenti mengutuk diri sendiri. "Bodoh Aisya, bodoh! Kenapa bisa jatuh sih!" Alif terkekeh sekilas, hanya beberapa detik. Kaki panjangnya berjalan menuju Aisya yang masih duduk di lantai. Posisinya tidak etis untuk jatuh seorang wanita, seperti posisi sujud tapi miring ke kanan. Sadar, Aisya pun beralih posisi duduk suster ngesot. Alif mengulurkan tangan. "Bukan muhrim!" Aisya menolaknya sambil berusaha berdiri sendiri. Aisya menyinyir, merasa ada yang tergelincir di bagian kaki kanan. Salah satu panitia prom night mendatangi gadis itu. "Bisa saya bantu, Kak?" "Tolong anter gue duduk di sana." "Baik. Ayo, Kak." Gadis berjilbab hitam itu menuntun Aisya hingga sampai di kursi. Alif tidak ambil pusing, dia memilih mengobrol dengan siswi yang sejak tadi menunggu kehadirannya. Melihat pemandangan itu, hati Aisya ingin meledak. Sepuluh menit kemudian, acara di mulai dengan pembacaan doa. Prom night SMA Bakti kali ini mengambil tema 'Dengan Doa Meraih Cita', jadi tidak heran jika serentetan acaranya mirip dengan pengajian. Lulus adalah salah satu nikmat Allah yang perlu disyukuri, bukan justru berfoya-foya.[V2]  Mungkin kebanyakan remaja berpikir bahwa lulus dari SMA berarti bebas dan bisa berbuat semaunya, padahal mereka mulai memasuki gerbang kehidupan sebenarnya. Tak sedikit pula remaja yang merayakan kelulusan dengan corat-coret seragam lalu berkonvoi motor mengelilingi kota, dengan dalih tidak ingin melewatkan masa SMA. Bukannya ingin menyalahkan, tentu setiap remaja mempunyai pemikirannya sendiri-sendiri. Namun, alangkah lebih baik jika hal tersebut digantikan dengan hal lebih positif. Menyumbangkan seragam yang layak pakai pada anak-anak lainnya atau memberi nasi kotak pada kaum papa di jalanan, misalnya. Budaya lama memang tidak salah dilestarikan, tapi kalau itu kurang baik untuk apa masih dilakukan? Ya, kebanyakan orang suka terbalik. Budaya baik dihilangkan, yang kurang baik justru terus dilanggengkan. Padahal, kelak akan ditanyakan untuk apa masa mudamu. Begitu Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutannya. Para wali murid mendengarkan dengan saksama, sedangkan para siswi sibuk berselfie-ria sambil mengobrol. Aisya sejak tadi kalut, pertama kakinya nyeri, kedua perutnya lapar. Untuk alasan kedua, sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aisya beranjak dari duduk, tertatih menuju menu sate ayam. Sesekali dahinya mengerut, merasa nyeri di bagian pergelangan kaki. Baru Aisya mengambil piring, Alif lewat di depannya. Alih-alih menyapa atau menbantu, lelaki itu justru berlalu begitu saja membuat Aisya berdecak kesal. Haris mendekati sang anak. "Kakinya kenapa?" "Keseleo. Mama, sih! Maksa Aisya makai high heels!" "Jangan menyalahkan orang tua. Mama, kan, juga melakukan yang terbaik, biar kamu nggak malu salah kostum." "Papa cerewetnya ngelebihin Mama." "Cerewetnya Papa-Mama itu karena sayang sama kamu." "Iya, deh," jawab Aisya agar adu mulut antara dirinya dan sang Papa selesai. Tangannya lalu mengambil sate ayam lantas menyiramkan sambal kacang di atasnya. Tidak lupa, dia menaburkan potongan bawang merah dan cabai rawit. Haris membantu sang anak duduk. "Nanti kalau udah di rumah suruh mijat Bi Niem." "Nggak kemalaman, Pa?" "Iya, karena besok pagi sebelum Subuh, kamu harus tiba di pondok pesantren." Papanya serius, bahkan tujuhrius. Aisya akan menjadi santri. "Yah, Papa! Kenapa secepat itu?" Aisya ingin kabur malam ini, tapi urung. Takut tidak diakui sebagai anak lagi jika sampai tidak menuruti perintah sang Papa. Walau menurut, Aisya tidak kehabisan ide. Waktu luang setelah UN ini akan Aisya gunakan untuk mengatur strategi-strategi apa saja yang akan ia lakukan selama di pondok pesantren. Tujuannya satu, yaitu dikeluarkan dari pondok pesantren. Aksi itu ia beri nama Aksi XXI.   ***  [V1]Engkol?  [V2]Aku nggak melihat adanya hubungan antara kalinat kedua dengan kalimat ketiga. Kalau diberi lagi konjungsi antarkalimat yang pas (atau keterangan lainnya yg membuat dua kalimat ini jd satu kesatuan), pasti lebih bagus lagi. Kalau begini, kayak dua kalimat ini betul-betul terpisah dan berdiri sendiri-sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD