Masuk Pesantren

3821 Words
Perkataan Haris bagaikan titah raja, harus ditepati. Urusan mendidik anak, ia tidak pernah main-main. Contohnya, ia tega memasukkan Aisya ke pondok pesantren, tidak peduli seberapa keras rengekan gadis itu. Seorang gadis dengan gamis hijau dan jilbab lebar hijau muda memasuki kamar. Ia tersenyum ke arah Aisya sembari membawakan segelas teh hangat untuknya. "Mbak Aisya sudah bangun? Diminum dulu, Mbak, teh angetnya." Aisya menaikkan satu alis. "Lo siapa? Dan gue ada di mana?" "Nama saya Lisa, Mbak. Saya ketua pengurus santri putri di sini. Mbak Aisya sekarang ada di ndalem." "Ndalem?" Ia tak mengerti maksud gadis bernama Lisa itu. Lisa menepuk jidat, lupa kalau gadis di depannya baru masuk pesantren. "Ndalem itu sebutan untuk rumah Bapak dan Ibu Kiai, Mbak." "Bapak dan Ibu Kiai?" Terus terang saja, Aisya masih tak mengerti. "Iya. Mbak Aisya sekarang lagi di pesantren." Seorang wanita paruh baya memasuki kamar, mengalihkan pembicaraan mereka. Beliau tersenyum kepada Lisa dan Aisya bergantian. Senyumnya begitu hangat dan meneduhkan. Aisya menatap Lisa, seolah mempertanyakan siapa wanita itu. "Beliau itu Bu Kiai. Kamu bisa memanggilnya Umi," bisiknya kepada Aisya. "Sudah bangun, Aisya?" tanyanya lemah lembut. Aisya hanya mengangguk. Tiba-tiba, sisi kekanak-kanakannya muncul. Ia merindukan Alysa. Mama di mana? Kenapa aku ada di sini? Kenapa Papa jahat sekali, huhu... Aisya benci Papa! "Lisa, tolong ambilkan baju panjang dan jilbabmu untuk Aisya." "Baik, Umi." Hanya dalam waktu satu menit, Lisa sudah kembali membawakan sepasang pakaian berwarna biru disertai jilbab tebal nan lebar. Aisya menolak mati-matian untuk memakai pakaian itu. Memakai jilbab tipis dan tidak terlalu lebar saja, sudah membuat keringatnya sebesar biji jagung. Apalagi dengan pakaian seperti ini? "Kalau sudah ganti baju, kamu bisa keliling pondok bareng Lisa." Aisya tidak menjawab, Lisa-lah yang mewakili. "Baik, Umi." Sejurus kemudian, Lisa berkeliling bersama Aisya. Gadis itu sudah mengenakan gamis yang tadi diberikan Lisa. Ia merasa risih ketika sebagian penghuni pesantren menatapnya aneh. Sebelumnya Aisya terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi tidak serisih ini. Benar-benar aneh di tempat yang aneh! "Kenapa, sih, Papa masukin gue ke tempat terkutuk seperti ini?" keluh Aisya. Ia ingin keluar dari tempat ini sesegera mungkin. "Ini pesantren, Mbak. Orang di luar sana biasanya menamai tempat ini sebagai penjara suci. Tempat menuntut ilmu agama Islam untuk mendapat rida-Nya. Pasti papanya Mbak Aisya sengaja memasukkan Mbak ke sini dengan tujuan mulia. Dulunya saya juga nggak mau, tapi Bapak maksa terus. Eh, ternyata nyaman juga di sini, Mbak." Aisya malas menanggapi ocehan Lisa yang baginya hanya omong kosong. "Oh, iya, Mbak. Habis kita keliling, kita harus membawa kopernya Mbak Aisya ke kamar. Nah, gedung inilah yang nantinya jadi tempat tinggal Mbak Aisya!" Lisa menunjuk sebuah bangunan berlantai satu dengan ukuran yang cukup besar untuk disebut sebagai kamar. Besar juga, batin Aisya. "Di dalamnya masih ada kamar. Satu bangunan ini bisa ditempati seratus orang, Mbak." Aisya tersentak. "What? Seratus? Bukannya bangunan ini terlalu kecil?" Pikiran Aisya berubah, dari terlalu besar menjadi terlalu kecil. "Yah, begitulah. Di sini kita diajarkan qona'ah." "Siapa Qona'ah? Kayak kenal." Aisya berpikir sejenak. "Oh, iya, ingat. Qona'ah itu anaknya Bi Niem, asisten rumah tangga di rumah." Lisa tertawa, tapi tidak sampai terbahak-bahak. "Bukan Qona'ah nama orang, Mbak. Qona'ah itu menerima segala sesuatu dengan ikhlas. Contohnya, ditempatkan di kamar ini. Walau berdesak-desakan, kita harus menerimanya dengan lapang dada." Aisya pikir tidak ada yang lucu dari kata qona'ah. "Nggak lucu. Ketawa apa, sih, lo?" jedanya sebentar. "Eh, Lis, gue pengin ngehubungi Mama gue." "Nggak bisa, Mbak. Mbak Aisya hanya bisa menghubungi melalui Umi atau Abi." "Jadi, di sini nggak ada yang bawa ponsel?" "Iya. Ponsel, laptop, tablet, dan sebagainya. Yang dibolehkan cuma setrika." Aisya baru sadar bahwa semua barang berharga miliknya memang disita sang Papa. Oh tidak, Aisya bisa mati tanpa ponsel! Tidak bisa buat live i********: atau menyebar hoaks berisi pesan agar si penerima mau menyebar ke sepuluh kontak, kalau tidak menyebar dia akan di jumpai hantu yang meninggal ditabrak mobil. Ya, Aisya adalah pembuat hoaks recehan seperti itu. "Gue mau ke toilet dulu. Lo tahu di mana?" tanya Aisya. "Lurus terus ke sana, to, Mbak. Habis itu belok kiri. Nanti ada tulisannya, kok. Gede tulisannya,” jelas Lisa. “Mau saya temenin?” “Nggak perlu. Gue nggak lama, kok.” “Oh, ya, sudah kalau gitu. Saya tunggu di sini, ya, Mbak?" Aisya berjalan menuju toilet yang sudah diberi arahan Lisa. Merasa Lisa tidak terlihat lagi, ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencari pintu keluar. Ia harus pergi dari tempat ini. Setelah berlari cukup jauh, akhirnya ia menemukan gerbang utama. Namun ia harus berhenti begitu melihat delapan satpam mengawasi di sana. Sial! keluhnya. Ia berlari lagi hingga menemukan gerbang lainnya. Sayang, pagar itu dikunci dan juga terlalu tinggi untuk dipanjat. Ia menyesal tidak mengikuti ekstra panjat tebing di sekolahnya dulu. Andai saja ia ikut, pasti ia bisa menaklukkan gerbang ini. Dari kejauhan, Aisya melihat gerbang yang menjulang tinggi bertuliskan ‘Pondok Pesantren Putra Al- Ikhlas’. Berarti pondok ini dipisahkan antara santri putra dan putri. Aisya frustrasi. Mama, gue pengin pulang! Gue nggak mau dimasukin penjara! Air bening itu pun keluar dari sepasang mata Aisya. Ia duduk di tanah sambil mencoba memanjat pagar. Sepasang bola mata dengan bulatan hitam besar menatap aneh gadis yang menangis sambil memanjat gerbang pembatas asrama putri dengan putra. Lelaki itu berlari ke arah gerbang. Semakin mendekat, ia malah semakin curiga. Pikirannya berimajinasi, pasti gadis itu seorang maling. Tapi karena takut ditangkap, dia kemudian memanjat gerbang. Dan karena tidak berhasil, dia menangis ketakutan. Huh, maling payah! "He, maling! Ada maling!" Lelaki itu langsung memvonis Aisya sambil berteriak keras. Aisya hanya memandang lelaki itu sekilas lalu acuh tak acuh. Ia justru makin erat memeluk pagar dan tangannya sibuk menyeka air mata. "Tolong ada maling! Pak Satpam, ada maling!" "Bodo!" Aisya tidak ambil pusing. Tapi lelaki berpeci hitam polos itu naik pitam. Sebagai gantinya, lelaki itu tak henti-hentinya berteriak keras. Malas berurusan dengan orang-orang aneh di pesantren, Aisya memilih menyingkir. Ia mundur ke belakang dengan posisi jalan jongkok. Tiba-tiba sandal jepit melayang menghantam kepala si lelaki. Sontak ia menoleh ke arah pelempar sandal, rupanya si Aisya. Ia menatap lelaki di depannya dengan mata penuh dendam. Tidak terima, lelaki itu malah membalas Aisya dengan melempar sandalnya pula. Aisya membalas lagi dengan menyeruduk punggung lelaki itu dengan kepala hingga lawannya mengaduh kesakitan. "Dasar maling nggak tahu diri!" Kalimat lelaki itu menambah amarah Aisya. Ia menjambak rambut lelaki itu. Terjadilah perkelahian sengit keduanya. Terakhir, Aisya menghadiahi pukulan dahi lelaki itu dengan dahinya. Dahi Aisya baik-baik saja, sedangkan lawannya memar kebiruan. Mendengar suara kegaduhan, Lisa dibuat khawatir. Apalagi Aisya belum juga kembali dari toilet. Sampai di perbatasan asrama putri dengan putra, Lisa dan beberapa santri putri tercengang melihat apa yang terjadi. Ya, Aisya dengan Gus[1] Danu berkelahi. "Mbak Aisya, berhenti!" teriak Lisa tetapi tidak digubris gadis itu. Gus Danu malah semakin semangat menyerang Aisya. "Duh, gimana ini?" Lisa bertanya kepada salah satu santri putri. Tidak lama, datang anak pertama dari pengasuh pesantren. Orangnya tegas, tinggi, besar, dan pastinya idaman. Satu yang membuat para wanita undur diri, dia terlalu dingin pada kaum hawa. "Ehem!" Lelaki itu berdeham. Kedua orang yang berkelahi langsung berhenti. Mereka menatap ke arah si lelaki yang berwajah datar, tapi menyiratkan kewibawaan. Danu mengambil ancang-ancang untuk berlari. Berhadapan dengan abangnya yang satu itu membuatnya langsung melempem. “Mau ke mana kamu?” Pertanyaan singkat itu langsung menghentikan langkah Danu. Seketika, Danu dibuat gemetar olehnya. “Ehehe... Nggak ke mana-mana, Bang. Cuman siap-siap jogging aja.” Danu berusaha “Jangan kabur, kamu juga salah di sini.” Lelaki itu lantas melirik Aisya. Ia sempat kaget melihatnya lagi setelah sekian minggu berlalu. "Kamu dan Danu harus dihukum!" Ia menunjuk Aisya dan Danu secara bergantian. Aisya masih membeku melihat lelaki di depannya. Yang dipandang justru seolah tidak mengenal. "Pak Alif?" panggil Aisya. “Lisa, bawa dia ke ndalem." Itu kata Alif sebelum meninggalkan TKP. Tanpa menatap Alif, Lisa mengangguk mengiyakan. Di pesantren orang yang paling disegani setelah Ibu dan Bapak Kiai adalah Alif. "Pak Alif," panggil Aisya sekali lagi. Alih-alih menjawab sapaan Aisya, Alif justru berlagak tidak kenal. Kesal? Pasti. Aisya ingin memukul kepala mantan gurunya itu dengan gayung. Muncul ide lain dari otak gila Aisya. Gadis itu mengambil sandal yang tadi ia lemparkan kepada adik Alif. Saat Alif berbalik, Aisya berancang-ancang melemparnya. Sebuah tangan menahannya. "Jangan cari masalah sama Gus Alif, Mbak Aisya!" larang Lisa. Aisya memutar bola mata kesal. "Dia itu mantan guru gue di SMA." "Kalau di sini, dia bukan lagi gurunya Mbak. Mbak Aisya harus hormat sama dia." Mendengar nasihat Lisa, Aisya menaikkan kedua bahu seraya mencibir. Sejurus kemudian, badannya berdiri tegap dengan tangan gaya hormat bendera. "Hormat, grak!" Lisa geleng-geleng kepala. Dasar Aisya!   ***   Berhadapan dengan Bapak Kiai atau Ibu Kiai adalah kejadian keramat bagi para santri, apalagi kalau disebabkan sebuah pelanggaran. Naudzubillahimindzalik pokoknya. Menatap matanya saja tidak berani. Apalagi ketika bicara haruslah berhati-hati, menggunakan bahasa halus, dan sikap yang santun. Hiperbolanya, lebih baik tenggelam di samudera luas daripada harus berhadapan dengan orang-orang ndalem. Lisa getir bukan main, takut hal buruk akan terjadi pada Aisya. Walaupun baru mengenalnya, Aisya sudah ia anggap seperti adik sendiri. Terlebih setelah ia diamanahi untuk menjadi penanggung jawab gadis itu selama di pesantren. Di ruang tamu ndalem sudah penuh dengan Alif, dua pengurus bagian keamanan yang bernama Rina dan Zae, Aisya, dan Lisa. Semuanya diam kecuali Aisya. Tanpa rasa bersalah, ia malah menyanyikan lagu-lagu barat yang Lisa sendiri tidak tahu artinya. Di pondok lebih baik menghafal nadhom jurumiah, ta'lim muta'alin, ataupun surat Alquran dibanding hal seperti itu. Alif kemudian memanggil Danu. Begitu ia duduk di samping Alif, Aisya langsung menghadiahinya tatapan tidak damai. Namun, Danu memilih diam. Kalau sudah di samping Alif, Danu tak bisa berkutik. "Kita tunggu Umi. Beliau masih muroja'ah," ujar Alif. Setelah beberapa menit, Aisya mengerlingkan mata. "Lama banget, sih? Sampai lumutan gue di sini. Di mana kamarnya? Biar gue ke sana. Nggak baik bikin orang kelamaan nunggu." Ia berdiri dari duduk. Lisa langsung menarik tangan Aisya dan menyuruhnya duduk lagi. "Nggak sopan, Mbak," bisiknya di telinga gadis itu. Aisya semakin dibuat pusing. Ini masih di bumi, kan? Masak memanggil orang ke kamar saja dianggap tidak sopan? Alif melirik Aisya sesaat, bibirnya tampak melantunkan zikir. "Subhanaallah... Subhanaallah... Astaghfiruallah." "Pak Alif nggak usah komat-kamit baca mantra, deh. Kayak mbah dukun aja," ledek Aisya sembari tergelak. Berhubung suara gadis itu ditakdirkan cempreng, jadilah sukses menggema seantero rumah. Hal itu membuat Aminah—Ibu Nyai—menyudahi muroja'ah-nya. Rina dan Zae langsung memasang wajah seram pada Aisya. Hih, membuat bulu kuduk berdiri! Bagian keamanan memang pengurus terseram sepondok. "Ada apa ini?" Aminah bertanya dengan suara lemah lembut. Semuanya mencium punggung tangan Aminah, kecuali Aisya. "Begini, Umi. Tadi Alif menjumpai Dik Danu berantem sama gadis ini." Hafis menunjuk Aisya. Alih-alih marah, wanita itu justru tertawa ringan. "Jadi jidat adikmu memar gara-gara Aisya, Lif?" "Iya, Umi." "Kamu gimana, sih, Dik? Masak sama cewek aja kalah?" tanya Aminah kepada Danu yang menunduk malu. "Danu sengaja ngalah karena menghormati harkat dan martabat wanita, Umi." Danu mulai berkilah. Aisya angkat bicara. "Ngeles lo! Otot aja nggak ada gitu, kok!" "Ih, enak aja! Nuduh sembarangan kamu!" "Lah, emang bener, kok! Gue, kan, ngomongin faktanya!" "Kamu pengin kuhajar di sini?" Danu menantang gadis di depannya. "Danu!" panggil Alif galak. Ia meminta Danu tenang dan tidak bersifat kekanak-kanakan. Malas menghadapi orang aneh di depannya, Aisya mengalihkan pandangan. Retinanya mengabsen satu per satu pigura yang terpajang di tembok. Dari pintu belakang, ia melihat seorang laki-laki memakai jas lab putih. Rasa penasarannya kambuh, ia menatap Lisa dan menanyakan siapa lelaki tadi. "Itu Gus Iqbal, putra kedua Umi." Aisya mengangguk mengerti. Setelah lama hening, Rina memberanikan diri bertanya pada Aminah. "Maaf, Umi. Sekiranya apa yang bisa kami laksanakan untuk menghukum gadis ini?" "Hukum dia dengan menghafal surat Al-Waqiah dan Ar-Rahman. Setiap surat diberi waktu satu bulan." "Hah? Gue nggak mau." Aisya berbisik kepada Lisa. Ingin rasanya ia protes dengan wanita di depannya, tetapi tidak sampai. Mungkin itu yang namanya segan. Walau Aisya tomboi dan terlihat seperti orang yang tidak bisa mengaji, sebenarnya dia jago membaca Alquran. Sejak kecil, Haris dan Alysa melatihnya membaca Alquran. Dan Surat Ar-Rahman adalah surat paling ia tidak suka karena ayatnya sama dan berulang-ulang. "Baik, tadi sudah dengar hukumannya, kan? Itu artinya kamu harus mempertanggungjawabkan perilakumu dengan menjalani hukuman tersebut," ujar Zae tajam. Bukan Aisya kalau kabur dari masalah. Dulu di SMA saja, apa pun hukuman dia tetap bertanggung jawab. "Oke, gue, eh, saya terima hukumannya." "Tapi, Umi, apakah itu tidak terlalu ringan?" tanya Alif mewakili suara hati kedua pengurus keamanan itu. Ekspresi wajah Aisya seperti ingin menjitak kepala guru killer itu. Kenapa, sih, Pak Alif sama ngeselinnya kayak pas di SMA dulu? "Itu sudah berat sekali menurut Aisya. Dan kamu, Danu, jangan harap kamu tidak mendapat hukuman. Umi akan menghukummu juga." Aminah tersenyum kemudian pamit pergi, diikuti oleh Alif dan Danu. Dalam hati, Danu ingin menjedotkan kepalanya ke tembok. Kenapa dia harus dihukum juga? "Hukumanmu dimulai hari ini," kata Rina disertai anggukan Zae dan mereka kemudian berlalu pergi. Keduanya menenteng buku besar bertuliskan daftar santri bermasalah di Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Berbeda dari biasanya, kali ini Aisya malas membantah. Baiklah, jika ditanya siapa lagi paling disegani di pesantren, ya, tentu saja pengurus bagian keamanan. Bukan disegani, lebih tepatnya ditakuti. Rina dan Zae itu seperti duo serigala yang siap mencakar santri pelanggar tata tertib. "Mbak, kayaknya lebih enak kalau ngomongnya aku-kamu aja, deh," pinta Lisa dadakan. Maksudnya, keluar dari topik. "Ih, nanti kayak orang lagi pacaran. Lesbi kita." "Lho? Kok bisa?" Aisya pusing. "Ah, ya udah. Ayo kita pindah. Gue nggak mau jadi satu rumah sama dua gus, siapa?" "Gus Danu sama Gus Alif." "Iya, itu. Pokoknya, gue nggak mau serumah sama dua gusi bengkak!" "Gus Danu sama Gus Alif. Gus itu bukan gusi, Mbak." "Bodo amat!" Lisa mengajak Aisya memasukkan baju ke dalam koper. Ia harus pindah ke asrama putri pada umumnya. Dengan berat hati, Aisya menerima. Daripada serumah dengan kedua anak Bu Nyai itu, lebih baik dia tidur di asrama. "Lis, gue kangen, tahu, sama nyokap-bokap gue. Apalagi sama dedek gemes gue, si Hafis." "Astaghfiruallah, Mbak kangen bokep? Itu dosa, Mbak Aisya! Astaghfirullah!" Berhubung Lisa asli anak desa di daerah Semarang, dia tidak tahu apa itu ‘bokap’. "Ya Allah, bokap! Bukan bokep! Bokap itu Papa!" Aisya lantas berjalan sembari menjinjing rok yang amat panjang baginya. “Gue sembur juga lo lama-lama!” Dari kaca jendela kamar, Alif memandang gadis setengah cowok itu penuh arti.   ***   Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Hal itu sesuai dengan firman Allah di dalam surat At-Tin ayat empat, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” dan oleh karena itu, semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Allah begitu adil dalam mengatur skenario kehidupan ini, termasuk takdir setiap makhluk-Nya. Seburuk-buruknya sifat Aisya, ia masih memiliki rasa tanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Di luar sana, banyak orang bersikap manis di depan tapi buruk di belakangnya. Istilahnya, bertopeng. Output utama dari mereka–para manusia bertopeng– adalah dipuji orang lain. Berbeda dengan Aisya yang tampil apa adanya. "Lis, ini gimana, sih? Kok melorot terus?" keluh Aisya memberikan sinyal putus asa kepada Lisa. Berkali-kali Lisa membantu Aisya mengenakan sarung, tapi gadis itu masih saja mengeluh. Kurang kencanglah, kurang paslah, terlalu longgarlah. Lisa mempunyai ide. Ia mengambil seutas tali rafia di atas lemari yang sebelumnya ia gunakan menali kardus berisi kitab yang sudah dipelajari. Ia melingkarkan tali itu pada pinggang Aisya dan mengikatnya. "Sudah selesai." Seketika mata Aisya makin menyipit. "Lo gila apa?" "Nggak, kok. Dengan begini, sarungnya nggak bakalan melorot lagi," jawabnya mantap dan membuat Aisya mendengus tidak suka. "Kalau sudah, sekarang pakai jilbabnya." "Gue nggak bisa pake jilbab segi empat, apalagi nggak boleh jipon[2]." Aisya membuang jilbab segi empat katun ima[V1]  ke lantai. Dengan penuh kesabaran, Lisa mengambil jilbab itu. "Mudah, kok. Kita lipat kainnya jadi bentuk segitiga. Jangan terlalu mepet sama ujungnya, kita harus lipat agak jauh biar lebih lebar dan bisa nutupin d**a. Tapi pertama-tama, pakai dulu dalaman jilbabnya." "Ogah, ah. Telinga gue sakit kalau make beginian." Lisa tersenyum. “Nggak, ini dalaman rajut. Nggak bakalan sakit di telinga.” Ia kemudian memakaikan jilbab Aisya. "Nah, kalau gini, kan, Mbak Aisya jadi lebih cantik!" Bibir ranum Aisya mengerucut. Ia meracau tidak jelas. "Ya udah, sekarang gue mau ke luar asrama. Mau cari angin." Mendadak Lisa menarik tangan gadis itu. "Mulai sekarang, kalau mau ke mana-mana harus sama aku. Itu pesan Umi." Alih-alih menurut, Aisya malah menepis genggaman tangan Lisa dan berlari ke luar asrama. Ia berlari entah ke mana. Fokusnya hanya satu, bagaimana cara keluar dari tempat aneh ini. Setelah merasa nyaman, Aisya berhenti di belakang gedung bercat putih. Ia beruntung karena langit sedang bersahabat. Awannya menutup bulan sabit yang malu-malu menampakkan cahayanya. Tempat itu hanya disinari redup lampu bohlam berwarna kuning, mempermudahnya untuk lari dari Lisa. Ia duduk di sisi lantai, napasnya masih terengah-engah. "Mama, gue, tuh, kangen sama Mama. Mama tahu, kan, gimana gelap gulitanya tempat ini? Ini kayak Aisya terlempar jauh dari bumi nan hijau kita, Ma. Di sini orangnya aneh semua kayak alien. Hafis juga, kenapa, sih, nggak nyariin gue? Katanya kamu sayang sama Kakak. Ah, dunia memang kejam sekejam-kejamnya!" Aisya mulai terbawa pikiran melankolisnya, berkata tidak jelas arah. Tiba-tiba, terdengar suara gadis sedang bercakap-cakap. Sempat timbul dalam pikiran Aisya bahwa suara itu adalah milik Lisa dan dua pengurus bagian keamanan yang ia temui tadi di ndalem. Merasa tak begitu yakin, gadis berkulit kuning langsat itu pun memekakan pendengarannya. "Aman, Wi. Ayo lompat!" "Iya, sabar, dong, Ta. Ini tinggi banget temboknya." Muncul seorang gadis berpakaian ala santri dari balik tembok. Suasananya gelap, hingga mempersulit Aisya mengetahui warna baju yang dikenakan gadis itu. Keren! Bisa, ya, ternyata manjat tembok setinggi dua meter! batin Aisya. Gadis bernama Dewi itu menyinyir ngeri ketika melihat tanah di bawahnya. Namun supaya tidak ketahuan keamanan pondok kalau ia baru saja kabur, ia rela melompat dari atas. Kakinya lumayan ngilu. "Ta, buruan lompat! Mumpung si Zae sama Rina belum ngeronda. Kalau ketahuan bisa gawat kita." Gadis yang bernama Sinta lantas mematuhi perintah Dewi. Dan akhirnya, kedua gadis itu menghela napas lega setelah berhasil melompat. "Hei, kalian. Sini duduk. Kayaknya kalian capek. Habis kabur, ya?" kata Aisya santai sambil menyedekapkan tangan. Ia mempersilakan mereka duduk di sampingnya. Mampus, ketahuan! Pikir mereka. Dewi dan Sinta mendramatisir keadaan. Kaki keduanya langsung ditekuk memohon. "Maafkan kami, Mbak. Kami terpaksa kabur. Kami siap menjalani hukuman, kok. Asal jangan panggil orang tua kami." Tawa Aisya meledak, membuat kedua gadis itu saling bertatapan. "Nggak mungkin gue laporin, lah. Orang gue juga mau kabur, kok." Sinta dan Dewi bernapas lega. Allah baik sekali dengan tidak mempertemukan keduanya dengan petugas keamanan. "Kamu mau kabur? Sini kubantu, asal jangan aduin kita ke bagian keamanan, ya?" Aisya tidak akan biarkan kesempatan yang dimilikinya terbuang sia-sia. Ia langsung menyetujuinya. Tidak menunggu lama, Dewi dan Sinta membantu Aisya memanjat tembok. Prok, prok, prok... Suara tepuk tangan itu membuat ketiga gadis tadi menoleh. "Adik-adikku yang cantik,  kenapa kalian latihan naik tebing malam-malam begini?" Itu suara Zae. Wajahnya terlihat ramah, tetapi matanya menyiratkan 'ketangkap basah kau'. Ketiganya lantas menyengir kuda. "Sekarang mari kita mujahadah di tengah lapangan. Mudah, kok, baca aja istigfar 4444 kali," ajak Zae dengan nada lemah lembut. Tidak ingin hukuman bertambah, Dewi dan Sinta pun berlari kecil menuju lapangan sedangkan Aisya mematung di tempat. Pasti ada yang melapor dia di sini. Ah, dia baru ingat. Saat berlari ke arah tempat ini, salah satu anak pengasuh pondok melihatnya. Lelaki yang katanya Lisa merupakan anak kedua Aminah. Ya, pasti dialah dalangnya!  Aisya tidak akan tinggal diam. Lelaki itu sudah berurusan dengannya.   ***   Saat ketiga gadis itu menjalani hukuman, Umi sempat melihat dan menyuruh bagian keamanan membawa Dewi, Sinta, dan Aisya ke ndalem. Aisya mengira kalau Aminah akan menceramahinya. Namun, prasangkanya salah. Beliau justru menyuguhkan ketiga gadis itu makan malam. Lisa dan kedua pengurus itu pun ikut menyantap hidangan yang disuguhkan. Aisya benar-benar bingung dengan sistem pengajaran di sini. Dihukum tetapi setelahnya dimuliakan. "Bu." Lisa sontak menyenggol lengan Aisya dan menbisikkan kata 'Umi'. "Umi, saya pengin telepon Mama. Mana ponsel saya?" Aminah mengukir senyum ramah di wajahnya. "Ponselmu dibawa mamamu pulang, Aisya. Mamamu juga melarangmu untuk meneleponnya," jelasnya. Aisya benar-benar tidak mengerti alur pikiran Mama, Papa, dan Hafis. Kenapa mereka bisa setega ini meninggalkannya di tempat yang sudah seperti penjara tanpa alasan yang jelas? "Yang jelas, mamamu menitipkanmu pada saya dengan alasan yang jelas dan tujuan yang baik," kata Aminah seolah tahu pikiran gadis di hadapannya. Dari pintu depan, masuklah lelaki yang Aisya temui sebelum ia berniat kabur. "Assalamualaikum." Lelaki itu mengucap salam, lalu berjalan menuju kamarnya. Baru saja ia memegang kenop pintu, Aisya memanggilnya. "Heh! Lo!" Aisya berdiri di mulut pintu kamar seraya menyilangkan kedua tangan di depan d**a. Iqbal mundur agar jaraknya tidak terlalu dekat. Yang melihat keadaan itu dibuat bingung atas kenekatan dan keberanian Aisya. "Pasti lo, kan, yang ngaduin gue ke keamanan?" Iqbal mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana, mengikuti gaya Aisya yang menyilangkan tangan. "Gue? Ngarang aja lo! Ngapain juga gue sibuk ngurusin urusan lo?" Alisnya terangkat satu. “Minggir lo! Gue mau masuk kamar!” Tangan Iqbal mendorong tubuh Aisya agar tidak menutupi jalannya. Aisya yang mencibirkan mulut lantas kembali duduk. Keadaan menjadi hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Zae dan Rina ingin memarahi Aisya, tetapi semua perkataan mereka tertelan di kerongkongan. Tidak mungkin mereka mengambil keputusan di depan Umi. Aminah merespons adu mulut anaknya dengan senyum. Ia memaklumi apa yang dilakukan Aisya. Gadis itu pasti belum tahu hukum antara akhwat dan ikhwan. "Udahlah, Umi. Saya mau balik ke asrama aja. Capek! Ini nggak boleh, itu nggak boleh." Aisya yang putus asa kemudian berbalik arah untuk kembali ke asrama tanpa menghiraukan siapa pun, termasuk Lisa yang kebingungan karena tingkahnya. Begitu sampai di depan ndalem, ada seorang lelaki memanggil namanya. "Aisya, sini!" "Lo?" "Iya, ini aku. Sini!" Danu menyuruh Aisya mengikutinya. Mereka bersembunyi di gudang kecil samping ndalem. Setelahnya, Danu menyerahkan sebuah ponsel pada Aisya. "Pinjem aja buat telepon mamamu." Gadis itu senang bukan main. Ia langsung merebut ponsel dari tangan Danu.  Tapi lima menit kemudian, matanya meredup. Mamanya tidak bisa dihubungi, sedangkan saat ia menelepon rumah, Bi Niem bilang kalau Mama dan yang lain sedang pergi. Aisya kemudian menyerahkan ponsel itu pada Danu. "Lho, kenapa?" Gadis berjilbab putih itu enggan menjawab. "Btw, kenapa lo tiba-tiba baik sama gue?" Ia menetralisir keadaan. Danu langsung tergagap. "A-Aku cu-cuma kasihan aja sama kamu yang kelihatannya kangen banget sama mamamu. Makanya kutolongin." Aisya kemudian mengusap dahi Danu yang masih membiru. "Maafin gue, ya, atas yang kemaren?" ujarnya tulus. Lelaki itu tertegun beberapa saat. Ada apa dengan jantungnya? Kenapa tiba-tiba berdegup kencang? "Dik Danu!" Itu suara Alif. Pasti kakaknya itu sedang mencarinya. "Aku masuk duluan, ya? Kamu keluar dari pintu depan." Danu memberi kardus bekas kepada Aisya. "Bilang aja kalau kamu habis ambil kardus bekas." Danu masuk dan Aisya keluar. Di luar ada Alif yang masih mencari adiknya. Aisya pura-pura tidak tahu. Tatapan curiga Alif pun ia tanggapi dengan santai. Kalau Alif bisa tidak kenal dengannya, Aisya juga bisa berperilaku serupa.   *** [1] Gus adalah panggilan untuk anak kiai laki-laki.   [2] Salah satu gaya jilbab yang sengaja menampakkan poni seutuhnya.  [V1]Ini jenis kain katun? (serius nanya)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD