Adik Alif

1368 Words
Setelah tidak menemukan Danu, Alif kembali masuk ke dalam rumah. Mungkin saja adiknya masuk melalui pintu belakang. Benar dugaannya, Danu malah asyik mengaduk teh di atas meja makan. "Dari mana, Bang?" tanya Danu santai sambil bersiul-siul. "Kok kamu di sini? Tadi Abang nyari di dapur nggak ada." "Ah, masak?" Danu malah balik bertanya. Alif hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Oh, ya, mana ponselnya Abang?" Sebenarnya, ponsel yang dibawa Danu untuk dipinjamkan Aisya itu bukan miliknya, tapi milik abangnya. "Mana, Dik?" pinta Alif lagi. Danu menyengir kuda seraya mengeluarkan benda kotak pandai itu kepada Alif. "Makasih, ya, Bang?" Alif enggan menjawab. Ia sontak kaget ketika melihat laporan operator mengenai pulsanya. Tadi masih lima puluh ribu, lho. Sekarang kenapa tinggal segini? batin Alif sambil melihat si pelaku yang kini malah santai-santai meminum teh hangatnya. Ia tak mengacuhkan ekspresi Alif dengan berpura-pura tidak tahu. Alif kemudian membuka laporan panggilan, kosong. Pasti adiknya sudah menghapus jejak panggilan. Iqbal yang sedari tadi mendengar percakapan Danu dan Alif hanya geleng-geleng kepala menuju dapur. Kamar ketiga putra pengasuh pondok memang bersebelahan dengan dapur, jadi maklum saja kalau suaranya sampai terdengar dari kamar. "Ganti pulsa Abang!" tegas Alif. "Yee, enak aja! Danu nggak gunain, kok. Abang kali yang keasyikan nelpon sampai nggak sadar kalau udah habis," cerocos si bungsu tidak terima. Iya, memang bukan Danu yang menggunakannya, tapi Aisya. Begitu maksud Danu sebenarnya. "Danu, mah, udah biasa nyuri pulsa." Kok tuduhan Iqbal terasa perih, ya? Tapi karena memang benar, jadi Danu hanya pasrah saja. Danu kembali mengelak. "Aku cuma program ngirit, nih, Bang. Buat beli hape baru." Ya, Danu memang begitu. Sukanya gaya-gayaan beli ponsel baru. Padahal ujung-ujungnya juga merengek minta Abi dan Umi. Paling sering minta ke Umi karena beliau memang tak pernah tega melihat orang lain kesusahan. Danu mengelus d**a, sok-sokan jadi orang sabar karena habis dituduh. Iqbal duduk di kursi makan sambil meminum jus jambu yang tadi ia simpan di kulkas, sedangkan Alif masih berdiri di dekat Danu seraya mengotak-atik ponselnya. Siapa tahu pulsanya bisa kembali. "Bang, itu anak baru tadi disidang Umi lagi, ya?" Danu mulai membahas Aisya. Memang tidak baik membicarakan orang lain, tapi berhubung topik ini menarik untuk dibahas, Alif pun ikut dalam obrolan adiknya. Ternyata, cowok juga suka bergosip. Kalau mereka bergosip, serunya bisa sampai mengalahkan cewek. Tak percaya? Mereka buktinya. "Iya, tapi kamu tahu Umi, kan? Welas asih banget. Masak jelas-jelas ketahuan kabur dihukumnya cuma baca istighfar 4444 kali? Habis itu masih dikasih makan malam lagi sama Umi." "Iya, ya? Kenapa nggak dikeluarin aja, sih?" Danu mulai ngawur. "Iya. Abang juga males lihat santri nggak sopan gitu," jawab Alif. Iqbal ikut serta, tapi tidak sejalan dengan kedua saudaranya. "Bukannya pesantren itu sekolah berbasis Islam yang tujuannya untuk mendidik perilaku anak? Yang intinya, anak baik gimana biar jadi tambah baik dan anak nakal diajarkan biar jadi baik?" jelasnya bijak. "Tapi, Bang, Aisya itu nyebelin banget! Nggak punya sopan santun. Untung aja tadi aku baik dan minjemin ponsel ke—" "Oh, jadi kamu ambil ponsel Abang buat minjemin ke Aisya?" potong Alif. Danu melengos, ia beranjak dari duduk dengan alasan ingin mencuci gelas kotor. Di dekat wastafel Danu ingin menjedotkan kepala ke keran. Kenapa bisa keceplosan coba? Ah, t***l kamu, Dan! Gerutunya pada diri sendiri. Aminah keluar dari kamar mandi. Ketiga lelaki itu menganga seketika. Jadi, semua percakapan tadi disimak oleh beliau? Ketiganya langsung tepuk jidat, tidak bisa berkata-kata. Ketahuan gibah, ketahuan membicarakan Umi sendiri, ketahuan juga meminjamkan ponsel. Terutama Danu yang langsung pucat tatkata Aminah langsung menatapnya. "Dik, jangan lupa ganti pulsanya Bang Alif, ya?" pesan Aminah sebelum menutup pintu kamar kembali. Semua mengangguk mengiyakan seraya menyengir kuda. "Kira-kira Umi denger semua percakapan kita, nggak?" Cukup. Itu pertanyaan bodoh menurut Iqbal dan Alif yang terlontar dari bibir Danu. Tidak perlu dijawab pun pasti semua bisa menyimpulkan.   ***   Jam dinding kamar Iqbal menunjukkan pukul 21:02. Ia lantas mengambil gitar kesayangannya. Rembulan menghiasi langit. Tak kalah, bintang-bintang pun ingin memperlihatkan keindahannya. Berkelip indah juga bersinar terang agar siapa saja yang menatap angkasa tertuju hanya padanya. Suasana malam adalah suasana favorit Iqbal. Ia seperti mulai bernapas jika malam datang. Sepi, sunyi, tenang, dan damai itulah yang ia rasakan. Beberapa jurus kemudian, Iqbal sudah duduk manis di gazebo taman belakang masjid. Tangannya mulai memetik senar-senar gitar. Tidak jauh dari tempat anak kedua pengasuh pesantren, terdapat Aisya yang belingsatan karena tidak bisa tidur. Kamarnya sesak sekali, hanya berukuran dua kali tiga meter untuk sepuluh orang. Tidurnya berderet dengan arah yang sama seperti ikan pindang. Ia pun mengenakan jilbab kemudian pergi ke luar guna mencari udara segar. Suasana pesantren sudah sepi hingga bunyi sandalnya ketika berjalan terdengar begitu jelas. Mata Aisya lantas menangkap beberapa santri putra tengah beriktikaf di lantai satu masjid—di pondok pesantren, lantai satu untuk santri dan lantai dua untuk santriwati. Indra pendengaran Aisya lalu menangkap suara gitar dari belakang masjid. Ia tertarik untuk ke sana. Di gazebo, tampak lelaki tengah memetik gitar. Gadis itu semakin mendekat seraya memfokuskan pandangan. Yang dipandang peka, ia menghentikan permainan lagunya dan juga memandang Aisya. Aisya duduk di tepi gazebo tanpa berkata-kata. Selang tiga detik, Iqbal memilih kembali memainkan lagu yang sempat berhenti. "Maaf buat yang tadi." Aisya membuka pembicaraan. Dia memang paling tidak bisa menahan rasa bersalah ketika menuduh orang yang tidak bersalah. Kata Lisa, Iqbal bukanlah pelapor kasusnya. Lebih jelasnya, Iqbal tidak pernah melaporkan kenakalan santri. "Maaf buat yang tadi?" Iqbal membeo. Tangan kirinya masih asyik beralih dari satu kunci gitar ke kunci yang lain. "Iya, tadi gue nuduh lo. Gue minta maaf." Mata sipit Aisya semakin menyipit. Tangannya ia ulurkan, ingin bersalaman. Iqbal hanya memandang uluran tangan Aisya itu dengan senyuman. "Sudah dimaafkan." Gadis berkulit kuning langsat itu menarik lagi tangannya, malu ditolak. Matanya kemudian mengikuti pandangan Iqbal, menatap angkasa. Aisya kagum, ternyata setiap malam ada pemandangan indah tapi jarang ia nikmati. Di malam hari,  ia memilih party bersama teman-temannya di klub, pergi ke mal, atau hanya di kamar mendengarkan musik sambil chattingan dengan Radit. Tentu saja saat itu, Aisya beralasan belajar kelompok pada Haris dan Alysa. Tangan Iqbal masih sibuk menari dengan indahnya pada senar-senar gitar. "Lo jago main gitar, ya? Sejak kapan?" Iqbal tidak menanggapinya. "Gue boleh nggak diajarin? Dari dulu gue pengin banget bisa main gitar." Iqbal masih membisu dan menatap langit. "Bal, gue ajarin main gi—" "Berisik banget!" potong Iqbal yang gemas mendengar celotehan Aisya. Gadis itu lantas menunjukkan rentetan gigi putih sambil mengacungkan kedua jarinya pada Iqbal sebagai tanda damai. "Sorry, gue tahu, kok, kalau suara gue emang bisa mengalihkan dunia." Iqbal terkekeh. Gadis di sebelahnya asyik juga. "Eh, Bal. Abang lo itu namanya siapa?" Aisya berpura-pura tidak mengenal sosok yang menyebalkan itu. "Bang Alif namanya. Kenapa emang?" “Nggak apa-apa. Cuman nanya doang, sih.” "Jangan-jangan, lo suka sama Bang Alif? Dengerin baik-baik, ya? Bang Alif itu meskipun baru 23 tahun tapi dia udah jadi asisten dosen di salah satu universitas negeri kota ini. Dia itu pinter, cool, tampangnya juga nggak kalah sama Zayn Malik.” Aisya terkekeh. "Gantengan Zayn Malik, lah." "Kalau lo emang suka sama dia, siap-siap punya rival banyak." "Dih, siapa juga yang suka sama dia?" jawab Aisya ketus. Iqbal hanya membalas kalimat Aisya dengan decakan tak percaya. Suasana menjadi diam. Bahkan, suara gitar pun ikut terdiam. "Tahu bintang sirius?" Kali ini Iqbal membuka pembicaraan dengan pembahasan lain. "Bintang yang paling terang, kan? Gue pernah dengar waktu guru gue jelasin. Selebihnya, gue nggak tahu. Gue nggak pernah dengerin guru kalau lagi pelajaran. Mending dengerin lagu." Iqbal geleng-geleng kepala. "Parah lo." "Lo masih SMA?" "Udah kuliah." "Beneran? Semester berapa?" "Dua." "Kita selisihnya setahun berarti." "Emang lo kelas berapa?" "Baru lulus SMA." "Sama kayak si Danu berarti." "Si Danu yang berantem sama gue itu?" Iqbal terkekeh sambil mengangguk. Iqbal ingat waktu Aisya keceplosan, lucu juga. Kalau nggak salah, sesuai dugaannya, Danu suka pada Aisya. Bisa saja, bukan? Lelaki yang hobi bermain gitar itu kemudian menatap arloji yang melingkari tangan kirinya, pukul 00:12. "Udah jam dua belas lebih. Sana balik ke asrama. Biasanya jam segini pengurus keamanan lagi keliling." Aisya bersikap masa bodoh. "Terserah kalau lo mau dihukum baca Al-Fatihah 4444 kali." Mulut Aisya menganga. "Ya udah, gue balik dulu, ya?" katanya lalu lari terbirit-b***t menuju asrama. Iqbal memandang punggung gadis itu dan menggelengkan kepala seraya tersenyum penuh arti. Gadis itu asyik juga, pikirnya.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD