Tepat sebulan Aisya tinggal di pesantren dan melewati waktu sebulan itu tidaklah mudah. Aisya benar-benar seperti dipenjara, hampa dan terkekang. Apa-apa harus patuh pada peraturan. "Selamat, Mbak! Kamu berhasil!" pekik Lisa dengan heboh begitu mendengar Aisya menyelesaikan hafalan surat. "Nanti malam, Mbak Aisya bisa setor sama pengurus keamanan dan Umi."
"Gue?” tanya Aisya.
"Iya, aku percaya kalau Mbak Aisya pasti bisa." Lantas Lisa pamit ke kamar mandi. "Nanti kalau Umi ngajak belanja, bilang aku masih di kamar mandi, ya?"
Aisya tidak menjawab. Ia menutup mushaf lalu berbaring di atas lantai sembari mengingat-ingat bagaimana ia bisa berada di sini. Ya, ini semua karena Haris, papanya. Bagi Aisya, Haris itu kejam! Bagaimana seorang ayah rela melepas putri satu-satunya selama ini?
Sebenarnya, Aisya tidak membenci Haris. Ada satu pertanyaan yang membuat Aisya ragu, apakah Haris menyayanginya? Karena sejak kecil, Aisya selalu diperlakukan berbeda dengan Hafis. Jika Hafis meminta barang, pasti selalu diberi. Beda sekali dengannya yang permintaannya sulit dikabulkan. Haris juga lebih galak padanya ketimbang Hafis. Hafis selalu disanjungnya, sementara ia selalu dijatuhkan.
Pernah suatu hari, Aisya izin menghadiri acara ulang tahun temannya. Dengan dalih tidak baik keluar rumah, Haris melarang Aisya. Menurut Aisya, papanya sudah kelewatan. Pertama, pesta itu tidak dilaksanakan pada malam hari, jadi tidak akan terlalu berbahaya baginya keluar rumah. Kedua, semua teman-temannya diundang. Ketiga, Aisya sudah rapi dengan pakaian pesta sesuai tema, tapi gagal karena alasan tidak masuk akal papanya itu. Bahkan papanya juga mengatainya dengan kasar. "Kalau kamu tidak ikut aturan Papa, mau jadi wanita apa kamu? Gelandangan?"
Aisya sakit hati. Sejak kejadian itu, ia tidak begitu dekat dengan Haris. Ia kini lebih nyaman tertutup pada ayahnya.
"Assalamualaikum." Suara salam itu membuat Aisya bangkit.
"Waalaikumussalam, Umi."
"Umi mau ke pasar. Kamu lihat Lisa tidak?"
Aisya senang. Inilah kesempatan yang sudah lama ia nantikan. Saatnya berakting. “Lisa sakit dari tadi malam, Umi. Badannya panas sampai susah untuk berjalan. Jadi dia mengamanahi saya untuk menggantikannya menemani Umi ke pasar.”
Gila betul! Aisya mengacungi jempol untuk dirinya dalam berakting dadakan. Tentang suku kata ‘mengamanahi’ yang ia ucapkan barusan itu didapatnya dari Alif saat bicara dengan salah satu pengurus bagian kesehatan.
"Oh, kalau begitu biar Umi cek di kamar kesehatan dulu, ya?"
Aisya langsung memblokir jalan Aminah. Tidak sopan sebenarnya, tapi bagi Aisya itu sopan-sopan saja selama tidak memakai ‘lo-gue’. "Anu, Umi. Tadi malam juga sudah diperiksa sama pengurus bagian kesehatan, kok. Jadi sebaiknya, kita biarkan Lisa istirahat saja, ya, Umi?"
"Iya, tapi Umi mau lihat keadaannya."
Aisya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jilbabnya ia perosotkan ke bawah hingga menutupi mata dan hidung. Sadar Umi sudah di pintu asrama, ia pun menarik jilbab segi empatnya ke belakang, merapikan bagian atas dengan mengembuskan napas ke atas, dan berlari menghampiri Aminah.
"Umi!" Itu bukan suara Aisya, melainkan suara laki-laki yang Aisya amat benci, Alif. Aminah berhenti dan menolehkan pandangan ke asal suara. Aisya juga melakukan gerakan yang sama.
Lelaki itu menatap jam tangan yang melingkar apik di tangan kanannya. "Ayo berangkat, Umi. Alif harus segera ke kampus," ujarnya lalu membenarkan peci karena beberapa anak rambut tampak di dahi lebarnya.
Aminah berjalan ke arah mobil Alif, sementara Aisya malah mematung di tempat. Ketika melihat Aminah sudah masuk ke mobil, gadis itu pun lari terbirit-b***t menuju mobil SUV BMW putih itu.
"Umi, saya gantiin Lisa, ya?"
"Iya."
Dari kaca spion, Alif melirik sekilas gadis yang sudah duduk di samping sang Umi. "Yakin ngajak dia, Umi?"
Umi hanya tersenyum mengiyakan. Sejurus kemudian, Alif sudah mengiring mobilnya keluar dari area pesantren.
Selama perjalanan, tidak ada komunikasi. Hanya ada beberapa pertanyaan dari Aminah yang kemudian dijawab Alif singkat. Lelaki itu sibuk mengendarai mobil seraya mendengarkan murotal seorang pemuda melalu earphone yang ia sumpalkan pada telinga kiri. Mulut Aminah sendiri berkomat-kamit mengucapkan zikir, tangannya begitu lincah menggeser butir demi butir tasbih dari kayu kokka. Sedangkan Aisya memilih mengamati suasana di luar melalui kaca jendela. Ia bahagia sekali meski sekadar melihat dunia luar.
Sesampainya di pasar, Aisya membuntuti Aminah yang berbelanja di toko beras langganannya. Saat Aminah sibuk memilih beras, Aisya celingukan mengamati sekitar. Toko itu berbentuk segi panjang, di sisi kanan terdapat tumpukan beras yang cukup tinggi. Aminah berjalan di sela beras itu untuk melihat stok barang sementara Aisya mundur perlahan. Ketika berbalik, ia akan lari semampu yang ia bisa. Sayangnya waktu ia berbalik, seorang laki-laki bertumbuh jangkung yang berdiri di depannya. Saking cerobohnya, gadis itu menabrak d**a bidang lelaki itu. Ia mengaduh sambil mengusap hidungnya yang terasa sakit.
"Mau ke mana?" tanya lelaki itu datar.
"Minggir, Pak. Gue mau per—" Kalimat Aisya menggantung setelah sadar siapa lelaki yang ia tabrak. Dia Alif. Mampus gue, pikir gadis itu. Keberuntungan memang tidak memihaknya kali ini.
"Alif, tolong bantuin Umi pilih beras," pinta Aminah.
Lelaki itu menarik lengan baju Aisya, menyuruhnya duduk di kursi tunggu. "Duduk di sini dan jangan ke mana-mana," pesan Alif sebelum menghampiri sang Umi.
Lagi-lagi Aisya mematung. Matanya menatap baju yang tadi ditarik oleh Alif. Anehnya, ia tak segera beranjak pergi. Ia tetap duduk, menuruti pesan Alif.
Aisya mencoba menghapus perasaan-perasaan anehnya, kemudian berlari meninggalkan mereka. Pasar tempat mereka berbelanja cukup luas, membuat Aisya kebingungan mencari jalan keluar. Ia merasa beruntung saat melihat papan bertuliskan 'Keluar'. Ia kemudian berjalan cepat sesuai arah yang ditunjuk papan tersebut.
Di luar tidak seperti pasar biasanya. Suasananya sepi, tidak ada kendaraan lalu lalang atau pun transaksi jual beli. Toko-toko tutup. Aisya pun berjalan was-was.
"Hai, Neng. Cantik banget. Mau ke mana?" Seorang laki-laki mabuk tiba-tiba memblokir jalannya. Ia mengisap rokok sembari menyeringai.
Aisya mendelik. Hatinya ketar-ketir, takut lelaki itu macam-macam padanya.
"Wah, siapa itu, Bos? Bening banget!" Tak jauh darinya muncul tiga pemuda jalan sempoyongan. Sekujur tubuh mereka dipenuhi tato.
"Ini rezeki namanya!" kata lelaki yang berdiri tepat di depan Aisya. Sepertinya, dialah pemimpin mereka karena hanya dia yang dipanggil 'Bos'.
Mereka mengelilingi Aisya. Gadis itu langsung menggigil ketakutan. Salah satu dari mereka mengait tangan Aisya dan hendak menciumnya, tetapi buru-buru diempas oleh gadis berkulit kuning langsat itu.
"Pergi kalian! Pergi!" teriak Aisya. Suaranya bergetar terdengar ketakutan. Jiwa pemberaninya menciut.
"Nggak usah takut, Neng. Kita main halus saja."
"Pergi! Kalau nggak, gue bakal teriak!" ancam Aisya yang justru dibalas tawa jahat oleh keempat lelaki itu. “Tolong! Tolong!”
“Percuma aja, Neng. Nggak ada siapa-siapa di sini selain kita,” ucap si pemimpin preman disertai gelak tawa anak buahnya. "Coba aja teriak terus sampai suaranya habis."
Benar kata mereka. Tak ada satu orang pun yang datang untuk membantu Aisya. Ia semakin ketakutan, tubuhnya menggigil hebat. “Tolong! Tolongin gue!”
"Bawa dia." Tubuh Aisya ditarik oleh ketiga pemuda. Yang satu berjalan memimpin. Aisya menangis sambil meronta minta tolong. Siapa pun, tolongin gue!
Tiba-tiba, seorang laki-laki berdiri mengadang keempat preman yang membawa pergi Aisya. "Cemen banget, sih, kalian? Beraninya cuma sama cewek!" celotehnya santai. Tangannya ia masukan pada saku celana. “Lepaskan dia atau kubuat badan kalian remuk!”
Aisya tersentak setelah tahu siapa lelaki itu. "Pak Alif?" lirihnya.
"Serang dia!" Ketiga pemuda preman itu menyerang Alif bersamaan. Dengan lihai, lelaki itu menghindari pukulan demi pukulan yang dihadiahkan untuknya. Dengan kaki panjang dan tangan kekarnya, Alif begitu mudah mengalahkan ketiga pemuda itu hingga terkulai lemah.
"Apa? Mau lagi?" tanya Alif yang membuat mereka lari terbirit-b***t.
Kaki Alif melangkah mendekati Aisya yang ketakutan. Gadis itu tersungkur sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ssst... Tak apa. Everything’s gonna be okay." Dengan agak ragu, tangan Alif menepuk punggung Aisya yang lemah.
Aisya pun sadar. Sejak saat, itu kalimat yang paling ia suka dari bibir Alif adalah 'Everything’s gonna be okay'. Kalimat itu seperti mantra yang berhasil membuat hatinya tenang begitu saja. Rasa itu muncul lagi, setelah kejadian Alif menyatakan menyukai Aisya seenak jidat.
***