Aisya mengerjapkan kedua matanya ketika cahaya lampu menyilaukan pandangannya. Gadis itu berusaha bangkit walau penglihatannya berkunang-kunang. Dia tersadar saat sebuah tangan menempel pada dahi, lantas kedua bola matanya menatap sosok pemilik tangan.
"Masih panas, ya?" katanya sambil duduk di samping ranjang.
Aisya menatap sekitar. Ruangan bernuansa biru laut itu terasa asing baginya. Dari sisi pintu, terdapat poster salah satu grup gambus yang tengah naik daun. Mungkin pemilik kamar ini mengidolakan mereka.
"Kok ngelamun, sih?" Lelaki itu protes karena Aisya malah diam saja. Tidak menganggap kehadirannya.
Aisya teringat. Setelah kejadian di pasar, ia tidak tahu apa yang terjadi. Matanya mencari benda penunjuk waktu.
"Sekarang jam sembilan." Lelaki itu memberitahu persis pertanyaan yang muncul pada pikirannya.
Mata indah Aisya menoleh ke jendela yang gordennya sudah tertutup rapat. Dari celah ventilasi tampak suasana gelap, pasti ini pukul sembilan malam.
"Tadi kamu pingsan, demam juga. Terus, kamu dibawa ke kamarku."
Jadi ini kamar Danu? Batin Aisya.
Pikiran Aisya mulai berimajinasi liar. Jangan-jangan saat ia pingsan, Danu berlaku tidak sopan kepadanya. Gadis itu was-was dengan menaikkan selimut.
Danu kaget dengan reaksi gadis di depannya. "Kamu kenapa?"
"Lo nggak ngapa-ngapain gue, kan?"
Bukan Danu namanya jika tidak usil. "Ya, mumpung kamu ada di kamarku, kenapa nggak, kan?"
"Ha! Tolong! Siapa pun tolongin gue! Gue mau diperko—"
Dengan cepat dan tepat, Danu membungkam mulut Aisya. "Diam, Aisya!"
"Emm... mmm... eemmm!" Aisya berusaha melepaskan tangan Danu dengan mengigitnya.
"Aduh! Sakit, tahu!" keluhnya seraya mengibar-ngibas telapak tangan yang berwarna merah serta terdapat bekas gigitan gadis itu. "Cantik-cantik, kok, serigala!"
"Ada apa?" Lisa masuk ke kamar.
"Dia mau perko—"
"Aku bercanda!" potong Danu hingga Aisya tidak meneruskan kalimatnya.
Lisa menuju Aisya. "Gimana rasanya, Mbak? Udah enakan?" Tangan gadis itu memijat lembut kaki Aisya.
"Udah nggak apa-apa. Cuma pusing aja."
Tidak lama kemudian, sosok wanita yang Aisya rindukan datang. Dia adalah Alysa yang datang bersama si kecil nan tampan, Hafis.
"Kakak!" panggil Hafis sambil berlari lalu memeluk Aisya.
"Hafis, Kakak kangen banget sama kamu!"
"Hafis juga kangen sama Kak Ais."
"Mama juga mau pelukan, dong? Emangnya Hafis aja yang kangen sama Kakak? Mama juga kangen, tahu!" goda Alysa pada kedua anaknya.
Tangan Aisya terbuka lebar agar mamanya mendekap. "Mama!"
"Kak Aisya, gimana keadaannya? Mama khawatir banget waktu dikabari Bu Aminah kalau Kakak pingsan." Alysa melepaskan pelukannya. "Gimana ceritanya bisa dicegat preman?"
Aisya melirik kepada Lisa supaya tidak menceritakan kejadian sebenarnya. "Di sini itu bahaya, Ma. Makannya, bawa Aisya pulang aja, ya?"
"Bukannya yang tidak aman itu pasar?"
"Sama aja, Ma. Aisya nggak betah di sini."
Lisa pamit undur diri. Ia hendak membuatkan teh hangat untuk Haris yang berada di ruang tamu mengobrol dengan Pak Kyai dan Bu Kyai. Tidak enak apabila tetap di sana, Danu ikut pamit.
Alysa mengusap lemput kepala sang anak, mulai membicarakan hal yang lain. "Kakak bisa jalan ke depan? Papa pengin lihat Kakak, katanya."
Ego Aisya melunjak. Dia tidak akan menemui Haris. Titik. "Aisya nggak bisa jalan ke depan, Ma. Pusing, mau tidur aja." Gadis itu memosisikan tidurnya.
Alysa tahu kalau anak gadisnya itu hanya beralasan karena masih dendam dengan sang suami setelah dimasukkan ke pondok pesantren. Bahasa tubuh Aisya sudah cukup membuat semesta mengetahui bahwa dia menghindari sang Papa.
"Ayolah, Kak. Papa kangen banget sama Kakak."
Aisya diam tidak berkutik. Tubuhnya membelakangi Alysa dan Hafis, berpura-pura tidur.
"Tadi, Papa bela-belain nggak ke rumah sakit demi bisa ke sini, lho, Kak."
Aisya tidak peduli.
Alysa akhirnya putus asa. "Ya sudah, kalau Kakak memang mau istirahat. Mama harus pulang karena Hafis besok sekolah. Kita nggak bisa lama-lama di sini. Semoga Kakak cepat sembuh, ya?" tutur Alysa diakhiri dengan kecupan lembut pada ubun-ubun Aisya.
"Hafis pulang dulu, ya, Kak? Jaga kesehatannya terus. Assalamualaikum."
Kemudian keduanya meninggalkan Aisya seorang diri. Aisya hanya membalas salam Hafis dalam hati.
Tidak lama setelah Mama dan adiknya pamit, seseorang memasuki kamar yang Aisya tempati. Lelaki itu tidak berucap, dia hanya duduk diam sambil mengetukkan kaki ke lantai. Takut lelaki itu Danu yang siap menerkamnya, Aisya berbalik. Saat sepasang Aisya menatap, lelaki itu tersenyum sekilas. Iqbal?
"Get well soon, ya?" ucapnya lantas pergi. Ia memang tidak seperti Danu dan Alif yang banyak bicara.
Oh, iya. Berbicara tentang Alif, bagaimana kabar lelaki itu? Sejak Aisya bangun, gadis itu tidak melihat penampakan misterius Alif. Muncul perasaan khawatir dalam lubuk hati Aisya. Semestinya Aisya tidak mengkhawatirkan guru killer itu, tetapi bagaimanapun Alif telah menyelamatkan dirinya.
Danu dan Iqbal sudah menemuinya, sementara Alif tidak menampakkan batang hidung. Pikiran Aisya mulai ke mana-mana. Saat ia pingsan, bisa saja ketiga perampok itu menusuk Alif dari belakang. Dan akhirnya, lelaki itu terkapar serta di bawa lari ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong. Tidak, Aisya tidak ingin itu terjadi. Dia sendiri tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas saat ini Aisya ingin memastikan bahwa Alif baik-baik saja.
Belum juga Aisya meraih kenop pintu, Aminah muncul. "Mau ke mana, Aisya?"
Tidak mungkin Aisya menjawab hendak mencari Alif. Terpaksa dia harus berbohong. "Mau ke kamar mandi, Umi."
"Bisa jalan sendiri?"
"Bisa, kok, Umi."
Pelan tapi pasti, gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Aminah tidak meninggalkan Aisya begitu saja, wanita itu tetap mengawasi santrinya dari belakang. Tiba-tiba Aisya berdiri agak goyah saat keluar kamar mandi.
"Ayo duduk dulu, Umi bantu," bujuk Aminah karena sejak tadi Aisya enggan dibantu. "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya[1].”
Aisya yang mendadak lemas hanya mendengar nasihat Aminah. "Kalau kita diuji dengan sakit, tandanya Allah percaya bahwa kita mampu melewatinya. Apabila ditimpa penyakit, jangan sekali-kali marah apalagi berprasangka buruk kepada Allah. Milikilah jiwa ikhlas layaknya jantung. Walaupun dia tidak tampak di depan mata, tetapi ia terus berdetak memberi kehidupan."
"Masyaallah, Mbak Aisya!" Lisa setengah berlari dari dapur, mengetahui sahabatnya sedang dipapah Aminah.
"Ajak Aisya ke kamar, ya, Lis? Umi ada urusan sama Abi."
"Baik, Umi."
"Assalamualaikum warahmatullah."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Lisa selalu membiasakan dirinya untuk membalas salam lebih dari pengucap salam, sebab dalam Surat An-Nisa ayat 86 Allah berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).”
Dengan penuh berhati-hati, Lisa menuntun Aisya menuju kamar milik Iqbal.[V1]
"Lis, lo tahu Pak Alif di mana?"
"Pak Alif?" Lisa diam sejenak. "Oh, Gus Alif? Sepertinya lagi di kamarnya. Kakinya cedera karena berkelahi, jadi dia berjalan dengan kruk."
Rasa khawatir Aisya semakin membeludak. "Anterin gue ke kamarnya, ya?" Suara Aisya lirih.
Lisa terkejut bukan main. "Aduh, aku nggak berani. Kalau ketahuan Umi atau Abi gimana? Lagian, Mbak harus istirahat."
Tanpa mendengar permohonan Aisya, Lisa mengantarkan gadis itu ke kamar. Dia tidak bisa senekat Aisya. "Sudah, Mbak jangan macam-macam! Di sini saja. Aku mau ke asrama dulu."
Sepeninggal Lisa, Aisya termenung dalam kamar. Seorang lelaki memasuki kamar, dia adalah Alif.
"Pak Alif?" Aisya terkejut.
Alif masuk kemudian mengunci kamar.[V2] Sementara Aisya berusaha bangkit dari ranjang, Alif sebisa mungkin berjalan menuju gadis itu. Ada yang aneh dari salah satu organ tubuh Aisya, yaitu jantung. Ia berdetak abnormal.
"Kamu baik-baik saja?"
Aisya hanya mengangguk pelan. Mulutnya seperti digembok hingga diam seribu bahasa.
"Aisya." Alif mulai membuka pembicaraan serius. "Maukah kamu menjadi Khadijah saya?"
Ya Allah, Aisya ingin tidur cantik saja kalau begini. Dia tidak kuat, tidak memiliki kiat, ingin lari, ingin mandi, ingin buang air kecil, ingin buang air besar, ingin lepas jantungnya.
"Maksud saya, kamu seperti Khadijah yang menemani Baginda Rasul hingga akhir hayatnya. Saya ingin kamu menemani saya dalam berdakwah."
Demi Allah, kejadian malam ini tidak pernah ada di benak Aisya.
"Saya ingin cinta kita seperti air laut. Walaupun akan ada pasang dan surut, tapi tak pernah berubah rasa."
Jadi, Alif benar-benar menyukai Aisya? Semua ini sulit untuk ditarik benang merahnya. Alif termasuk lelaki yang sulit ditebak mood maupun rencananya.
"Perkenalkan, saya Alif Danugraha. Anak pertama Aminah Ayyana dan Lukman Nugraha. Kakak dari Iqbal Danugraha dan Iyan Danugraha. Setelah S2, saya akan melamarmu. Semoga kamu bersedia, Aisya."
Ketiga ‘Danu’ anak kiai pesantren ini membuat kepala Aisya pusing mendadak.
***
[1]HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571
[V1]Kenapa Aisya dianter di kamar Iqbal bukan kamarnya Danu?
[V2]Eng, napa harus sampai dikunci segala? Nggak ditutup aja?