Lisa tersedak air putih ketika mendengar curahan hati Aisya.
"Hati-hati, dong, minumnya," nasihat Aisya sembari memajukan bibirnya beberapa sentimeter.
"Beneran tadi malem Gus Alif ngelamar kamu, Mbak?" tanya Lisa tidak percaya. Berdasarkan pengamatannya, Alif tidak pernah peduli dengan Aisya. Ya, kecuali saat Alif menyelamatkan gadis itu di pasar. Tapi, bukankah itu kebetulan saja Alif mendengar teriakan Aisya sehingga lelaki itu menyelamatkannya?
Aisya manggut-manggut seraya memeluk boneka sapi.
"Demi hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, aku nggak pernah melihat tatapan cinta dari Gus Alif untukmu. Tapi, kenapa tiba-tiba dia melamarmu?"
"Duh, gue belum ada setahun di sini!"
"Iya, pokoknya itu. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, aku nggak pernah melihat tatapan cinta dari Gus Alif untuk Mbak Aisya," ulang Lisa. “Kenapa begitu mendadak, ya?”
"Gue juga nggak tahu."
"Terus lo, eh, Mbak jawabnya apa?" Setiap waktu bersama Aisya membuat Lisa terbiasa dengan bahasa gadis itu. Benar kata orang, seseorang dapat dilihat dari siapa temannya.
"Gue cuma diem."
"Aduh, Mbak! Diem itu tandanya ‘iya’."
Aisya tidak terima. "Ya, nggaklah! Diem itu artinya nggak jawab. Belum ngasih kepastian antara iya atau nggak."
"Tapi kalau Gus Alif nganggepnya ‘iya’, gimana?"
Aisya menenggelamkan wajahnya ke bantal. "Uhuhuhu... Mama, gimana ini!"
"Sebelumnya kalian pernah bertemu, kan?" Lisa ingat saat pertama kali Aisya bilang, ‘Dia itu mantan guru gue di SMA’ saat ia melarangnya untuk melempar sandal jepit ke Alif. Saat itu, Aisya memang bandel sekali.
"Iya, Pak Alif pernah jadi guru pengganti Fisika di SMA gue. Dia galak banget. Pertama kali ketemu pas gue telat terus gue numpang mobilnya."
"Kok bisa numpang?"
Aisya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, gitu, deh. Panjang ceritanya."
"Mau seratus kilometer pun tetep kudengerin. Kalau aku tahu cerita awalnya, aku bisa kasih saran. Kalau tahunya cuma setengah, ya, nggak bisa."
Karenanya, terpaksa Aisya bercerita dari awal hingga kejadian tadi malam. Lisa pun terpana pada keberuntungan Aisya itu.
"Berarti nanti Gus Alif sama Gus Danu bakal rebutan!"
"Hah?"
"Kamu nggak paham?” tanya Lisa dengan gemas. Sahabatnya benar-benar tidak peka. “Duhai Mbak Aisya yang cantiknya kayak bidadari turun dari kahyangan, siapa pun juga tahu kalau tatapan Gus Danu ke Mbak itu tatapan cinta." Tangan Lisa kemudian membentuk hati.
"Au’ ah, gelap." Aisya lantas berbaring sambil memeluk boneka sapi. "Mending bobok sama sapi."
"Ya Allah, terangkanlah sahabat hamba ini!" seru Lisa sambil beranjak berdiri. “Eh, Aisya, ayo bantuin aku masak di dapur daripada bobok sama sapi."
"Ayo!"
"Mbak bisa masak, kan?"
"Tenang, gue ahlinya." Faktanya, meski Aisya berlagak seperti laki-laki, tetapi salah satu hobinya yaitu memasak. Masakannya tidak perlu diragukan lagi, pernah menyabet juara pertama lomba memasak antar kelas saat class meeting.
***
Iyan Danugraha, biasa dipanggil Danu. Selain tampan, lelaki itu juga menggemaskan. Tidak salah jika banyak adik kelas menyukainya. Malam ini, Danu menghadiri acara pentas seni SMA-nya. Lelaki itu duduk di kursi yang disediakan panitia untuk alumni.
Sambil menikmati musik, jemarinya asyik googling obat alami untuk meredakan demam. "Kenapa bahannya susah, sih?"
"Kenapa?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelahnya.
"Ini, aku lagi nyari obat demam buat Ais—" Kalimat Danu menggantung karena tiba-tiba ia membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
Mendengar Danu yang hampir keceplosan menyebut nama cewek, gadis itu sedikit mengernyit. Apakah Danu sudah memiliki wanita lain di hatinya?
"Maksudku, Aiswa Nahla."
"Yang artis cilik itu?" tanya gadis itu tidak yakin. Masak benar Danu mengenal Aiswa?
Tangan Danu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri seperti anak TK yang menyanyikan sayonara. "Itu kucing tetangga. Habis lahiran langsung demam dia."
"Hahaha... Ya Allah, kenapa nama kucingnya bagus banget?"
"Mungkin biar kucingnya bisa selawatan kayak Aiswa," celoteh Danu asal.
"Ah, kamu ini bisa aja."
Tidak ingin mengobrol panjang lebar, Danu pamit meninggalkan lokasi. Ia memutuskan mampir ke apotek untuk membeli jamu demam. Setelah menerima sebungkus plastik berisi jamu berupa kapsul, Danu melipat plastik lebih kecil lalu memasukkannya ke saku.
Sepuluh menit kemudian, lelaki berkulit sawo matang itu sampai di depan rumah. Ia berjalan menuju kamar, siapa tahu Aisya masih di sana. Mata Danu sempat mengintai sekitar sebelum mengetuk pintu.
Tok, tok, tok! Tidak ada jawaban.
Tok, tok, tok! Masih tidak ada jawaban. Ia coba sekali lagi.
Tok, tok, tok! Benar-benar tidak ada jawaban.
Danu menyimpulkan Aisya sedang tidak di dalam, lantas ia menuju dapur tak jauh dari kamar. Di sana tampak empat orang santri putri tengah sibuk memasak. Mata Danu berhenti pada wajah ayu Aisya.
"Heh, kamu!" Berhubung Danu tidak menyebutkan nama, semua santri menoleh padanya. Danu jadi bingung.
"Em, kamu. Bukan kalian." Jarinya menunjuk pada Aisya yang merasa tidak dipanggil.
Aisya menunjuk dirinya sendiri. "Gue?"
"Iya, lah. Masak kodok?"
Aisya lantas mengikuti Danu yang berjalan menjauhi ketiga gadis yang sibuk memasak. Danu memberikan kantong plastik kepada Aisya. "Nih, diminum tiga kali sehari sebelum makan. Kecuali yang hijau, diminum sebelum makan."
Aisya menaikkan satu alis. "Ini lo yang beli?"
"Ya, nggaklah!" Refleks Danu tidak ingin mengakui.
"Lah, terus dari siapa?"
"Nggak usah banyak tanya. Terima aja," ujar Danu sembari melihat kiri dan kanannya, takut ada yang melihat.
Aisya menerima kantong plastik sambil mengecek isinya. "Tapi gue udah sembuh. Coba aja sentuh dahi gue, gue udah nggak demam. Udah sehat walafiat."
"Ehem!" Seorang lelaki berdeham pada keduanya seraya memasukkan tangannya ke saku. Jantung Aisya berdetak absurd. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri, kenapa organnya tersebut bersikap tidak karuan saat anak sulung pengasuh pondok itu melewatinya. Jauh di lubuk hatinya ada rasa bersalah, seolah menerima obat dari Danu itu menyalahi aturan.
Aisya, what’s going on with you?
Aisya membuyarkan pikirannya tentang Danu dan Alif yang mendadak aneh. Kedua lelaki itu tiba-tiba mengusik kedamaiannya. Beruntung, Aisya mulai kerasan berada di pondok pesantren, jadi perilaku kedua orang itu tidak membuatnya ingin hengkang dari pesantren.
Jika dipikir-pikir, di sini dia jadi punya banyak teman. Makan, belajar, hingga tidur pun bersama teman. Teman-teman di pesantren juga berbeda dengan teman di sekolah. Mereka lebih menghormati satu sama lain, berbagi, dan perhatian. Contohnya saat Aisya sakit, Lisa selalu setia menemaninya.
Baik tidaknya seseorang dapat dilihat dari pergaulannya. Memang tidak selamanya begitu, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan menjadi faktor besar terbentuknya karakter seseorang. Alhamdulillah, dengan berjalannya dua bulan ini, sikap Aisya mulai mengalami perubahan. Ia mulai bisa berbicara dengan santun, mulai mengikuti kajian walau akhirnya tidur di kelas, mulai mengikuti salat jemaah meski tersisa tahiyat akhir. Prestasi yang baru ia raih lagi adalah dia berhasil menghafal surat Waqiah, Yasin, dan Ar-Rahman. Dengan begitu, Aisya telah menyelesaikan hukuman kaburnya tempo hari.
"Mau ke mana, Aisya?" tanya seorang wanita yang usianya kira-kira masih 20 tahun.
Aisya tersenyum kikuk membalas si wanita yang merupakan salah satu guru di pesantren yang mengajar ilmu tauhid untuk Kelas Ulya. Ya, pesantren ini membagi tiga tingkatan madrasah diniyah (sekolah agama); Kelas Awaliyah, Kelas Wustho, dan Kelas Ulya atau bisa juga disederhanakan menjadi kelas awal, tengah, dan akhir. Aisya sendiri duduk di Kelas Awaliyah yang mempelajari kitab Ta’limul Muta’allim—kitab tentang adab mencari ilmu, tauhid, tafsir Juz Amma, akhlak, tajwid, fikih, dan lain sebagainya.
"Mau ke ndalem, Ustazah. Mau bantuin masak."
"Oalah, kamu piket, ya?"
"Nggak. Hanya mau membantu saja."
"Barakallahu fiiki," doa Ustazah, sementara Aisya garuk-garuk kepala karena tidak mengerti kalimat bahasa arab yang diucapkan gurunya itu.
"Mari, Aisya. Saya ke kantor dulu. Assalamualaikum," salam wanita itu sekaligus pamit.
"Waalaikumsalam warahmatullah. Silakan, Ustazah."
Mulut Aisya tampak komat-kamit mengulang ucapan ustazah barusan. Nanti ia akan menanyakan kalimat yang terdengar indah itu pada Ustazah Lila pengampu pelajaran bahasa Arab di kelas Awaliyah.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Aisya. Berubung tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tubuh gadis Aisya sedikit tersentak.
"Ehehe... Kaget, ya, Mbak?"
"Panggil Aisya aja, Lis."
"Mbak Aisya?"
"Ih, Aisya aja. Nggak usah pake ‘Mbak’ segala. Lagian, kamu ini datang-datang bukannya salam malah ngagetin orang."
Lisa terkekeh, dia lega melihat perubahan Aisya. Ya, walau hanya mengingatkan salam. "Ya sudah, kuulangin lagi, ya? Assalamualaikum, calon Bu Nyai," candanya yang langsung dihadiahi Aisya cubitan kecil. "Astagfirullah, sakit!"
"Makanya, lo jangan macem-macem."
"Lho, aku ini, kan, bener. Kamu itu calon istrinya Gus Alif."
Aisya menampilkan wajah datar. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri kalau pipinya memerah.
"Duh, pipinya langsung merah! Ciyee!"
"Diolesin cabe soalnya."
"Asal nggak cabe-cabean aja."
"Hus!" Refleks Aisya.
“Lho, kenapa emangnya?” Lisa bingung sendiri karena merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. Lisa yang tidak tahu menahu bingung sendiri. Memang ada yang salah dengan peekataannya? "Kenapa emang?"
"Cabe-cabean itu artinya... " Aisya menggantungkan kalimatnya karena seorang ustazah sedang berlalu. "Hush, udahlah. Lo terlalu naif. Ntar jadi ternodai kalau gue kasih tahu."
Lisa hanya mengangguk meskipun ia tetap tak mengerti.
Aisya kemudian teringat sesuatu. "Eh, Lis, barakillah fii, barak, eh, mubarak, apa, sih?" dumelnya.
"Barakallahu fiik, maksudnya?”
Aisya tampak mengingat-ingat. "Bukan, tadi akhirnya fiiki gitu. Fikum sama Fiki adik kakak atau gimana? Apa mereka kembar?"
Pertanyaan Aisya membuat Lisa terkikik geli. Gadis itu tertawa sambil memegangi perut saking lucunya pertanyaan Aisya. Sedangkan yang ditertawakan menatap sang sahabat bingung. Dia merasa tidak ada yang lucu dari pertanyaannya barusan, sebab Aisya memang tidak tahu siapa Fiiki dan Fikum. Dia tahunya Fina salah satu adik kelas sewaktu duduk di bangku SMP.
"Aduh, gini, deh. Barakallahu fiiki berarti ‘semoga Allah memberkahimu’ untuk perempuan. Lalu sebagai muslim, kita bisa menjawabnya dengan wa barakallah fiiki, jika orang itu perempuan juga. Perbedaan Fiikum dan Fiiki bukan mereka saudara kembar, tapi keduanya memiliki penggunaan yang berbeda. Fiikum digunakan jika mengucapkan kepada orang banyak, sedangkan Fiikii untuk perempuan. Ada lagi Fiika untuk laki-laki serta Fihum digunakan untuk mereka."
Aisya mengerutkan dahi. "Gue nggak ngerti. Bye!" Lantas gadis itu pergi. Lisa agak kecewa, ternyata Aisya belum berubah. Perlu tagar SaveAisya.
"Mau ke mana, Aisya?"
"Masak," ujar Aisya sembari melenggang masuk rumah Aminah tanpa salam karena tidak ada seorang pun di sana. Saat Aisya menginjak ruang depan, seorang lelaki mengagetkannya.
"Waalaikumsalam," ucapnya menyindir Aisya.
"Assalamualaikum." jawab Aisya malas-malasan.
"Nah, gitu, dong. Ngasih salam,” ujar Iqbal dengan santai. “Lho, kok, manyun banget muka lo?"
"Habis gue disindir."
Sambil membawa secangkir kopi, Iqbal tertawa ringan. "Mau?"
Aisya menggeleng. "Gue masak dulu. Bye!"
Sesampainya di dapur, Aisya disambut dua orang santri yang tengah piket masak. Menu kali ini adalah rendang, sambal hijau, dan bakwan. Dengan cekatan, Aisya mengambil pisau untuk memotong aneka rempah-rempah.
Pukul lima, semua masakan selesai. Aisya membawa rendang ke ruang makan. Ruangan itu tidak hanya digunakan keluarga pengasuh pondok, tetapi juga tamu yang berkunjung. Oleh karena itu, ruangannya luas. Cukup untuk sepuluh orang.
Setelah semua selesai, Aisya mengembuskan napas lega. "Akhirnya."
"Udah sembuh?"
Aisya berbalik ke sumber suara. Rupanya itu Danu. "Udah."
"Jaga kesehatan, ya?" Danu tersenyum tulus. Aisya hanya membalas dengan senyum seadanya.
Alif muncul dari pintu kamar. "Ada yang berduaan mulu! Awas, ketiganya setan!" cetusnya terasa pedas seperti sambal rawit setan.
Aisya tidak mengerti ke mana arah pikiran Alif. Lelaki itu seperti memiliki kepribadian ganda. Malam bilang cinta, paginya sedingin Antartika.
***