Musibah Jadi Berkah

1593 Words
Tumpukan pakaian sudah meninggi hingga menutupi seorang gadis yang muncul dari ruang menyetrika santri putri Al-Ikhlas. Pakaian yang habis disetrika itu ia bawa dengan terburu-buru menuju kamar. Dari ruang menyetrika, ia harus melalui ndalem untuk sampai ke kamar. Saking tingginya pakaian itu, ia tidak bisa melihat dengan baik. Selain karena tumpukannya tinggi, fokusnya terbagi, bagaimana tangannya menjaga supaya tumpukannya tidak terjatuh. Kalau sampai terjatuh, pengorbanannya menyetrika sampai satu jam akan sia-sia. "Oh, tidaaak!" teriak gadis itu tiba-tiba. Kekhawatiran terjadi. Pakaiannya jatuh di depan pelataran rumah pengasuh pesantren. Lantas, ia pun memunggut satu-satu secepat yang ia bisa. Dia memandang miris pakaiannya yang kotor karena hujan baru saja reda. Tidak hanya mengulang menyetrika, dia juga harus menyucinya lagi. Sangat-sangat menyebalkan! "Aduh, baju gue!" keluhnya dengan amat sedih. Perlu banyak pengorbanan untuk di titik ini. Mengantre di kamar mandi, mengantre setrika, belum juga tenaga yang harus ia kerahkan hingga tidak tidur siang. Gadis itu menatap sang penabrak. Kalau ini dunia animasi, pasti kepalanya muncul dua tanduk yang siap melumpuhkan lawannya. "Aisya, maaf, ya? Gue lagi buru-buru." Lelaki itu Iqbal Danugraha, anak kedua Aminah yang sedang menempuh pendidikan kedokteran di salah satu universitas negeri favorit. "Iqbal!" Bukan Aisya namanya kalau mudah memaafkan begitu saja. Dia tidak terima pakaianya dibuat jatuh ternoda. "Ih, gue, kan, udah minta maaf. Ada praktik dadakan tentang anatomi, mana dosennya nggak bisa diajak bercanda lagi." Ya, dosen anatominya memang serius. Terlambat semenit sama saja dengan tidak bisa mengikuti pembelajaran. "Gue nggak mau tahu! Lo harus tanggung jawab. Titik!" Aisya kesal bukan main. Sungguh Iqbal menyebalkan pagi ini. Aisya ingin menangis saking kesalnya. "Iya, gue bakal tanggung jawab sama lo." Danu yang melewati keduanya membelalakkan mata tak percaya. "Bang, Abang apain si Aisya sampai mau tanggung jawab?" Mata lelaki itu menatap perut Aisya yang tidak buncit. Aisya mendelik pada Danu. Apa sebenarnya yang lelaki itu pikirkan? Sementara Iqbal hanya garuk-garuk kepala. Ia tak mengerti kenapa Danu bisa bertanya seperti itu. "Bang, jujur sama Danu! Abang apain si Aisya?" ulang Danu lagi. "Kamu mikir apaan, sih, Dan? Abang cuman jatuhin pakaiannya Aisya. Nggak usah mikir macem-macem, deh!" jelas Iqbal agar kejadian tidak semakin rumit. Danu melihat pakaian kotor yang dibawa Aisya. "Oalah, bilang, dong, dari tadi." Iqbal hanya menggelengkan kepala sembari menatap jam tangan. Waktunya tidak lama lagi. "Duh, waktu gue nggak lama lagi jad—" "Bang, Abang nggak sakit keras, kan?" Danu khawatir kakaknya mengidap penyakit mematikan yang sebentar lagi membawa lelaki itu menghadap Sang Pencipta. Bagaimanapun Danu sayang Iqbal, setidaknya Iqbal tidak segalak Alif. "Danuuu!" Aisya dan Iqbal kompak menyebut nama lelaki yang baru saja menerima E-KTP itu. "Kompak banget?" sindir Alif yang datang entah dari mana. "Kenapa pada di sini? Dilihatin santri lain, tuh! Nggak baik cowok sama cewek ngobrol lama-lama!" Kenapa lelaki itu selalu muncul tiba-tiba dengan kalimat menyebalkan? Dia itu manusia, jin, genderuwo, wewe gombel, pak suster ngesot, kolor ijo, genderuwo, valak, annabel, jelangkung, siluman serigala, vampir, tuyul, siluman harimau, pak suster keramas, si tampan Jembatan Ancol, atau iblis? Iqbal dan Aisya memilih tidak menganggapi Alif. Mereka malas menghadapi lelaki gaduh dan galak itu. "Udah, gini aja. Pakaian lo itu lo taruh di mobil gue. Nanti gue yang laundriin. Gimana?" tawar Iqbal. "Oke." Merasa tidak ditanggapi, Alif terpancing emosi. "Iqbal, nggak baik bersikap kayak gitu ke cewek!" Iqbal menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Sementara Aisya diam mematung. Sejak kejadian di kamar Danu, gadis itu seperti tidak ada daya melawan anak sulung pengasuh pondok itu. Iqbal mengusap wajahnya dengan kasar. "Abang, tadi Iqbal nggak sengaja nabrak Aisya sampai bajunya jatuh dan sekarang kotor. Jadi sekarang Iqbal mau tanggung jawab. Nggak ada tujuan yang lain." Sekarang ia itu tahu kalau kakaknya memiliki rasa terhadap Aisya. Begitu pula dengan Aisya, sikapnya kini berubah di depan Alif. Tidak sebandel dulu. Alif, Aisya, dan Allah. Sungguh perpaduan yang indah. Alif melirik Aisya, gadis itu menggigiti bibir bawahnya. "Salah dia jalan nggak lihat-lihat. Udah sana, kamu berangkat kuliah!" "Tapi, Bang." Iqbal tidak mau dikira pengecut. "Nggak ada tapi-tapian. Nanti kalau kamu dimarahin dosen dan nggak dapat nilai A, siapa yang rugi? Sana, buruan!" Iqbal pun menurut walau berat hati. "Kamu kenapa masih di sini?" tanya Alif kepada Danu. "Hah?" "Sana, masuk rumah! Nggak baik dilihat orang ngobrol sama cewek." Danu manyun sambil masuk rumah. Terus Abang kenapa masih di sini? Situ, kan, juga cowok bukan waria, keluhnya dalam hati karena tidak berani mengutarakan. Alif menatap Aisya yang sekarang menundukkan kepala. "Ikut saya," perintah Alif. Aisya pun mengekor. Lelaki itu berjalan menuju mobil. "Masukin pakaianmu ke dalam, biar saya yang laundriin." "Tad-tadi kat-katanya nggak baik laudriin pakaian cewek?" Aisya mendadak gugup. "Soalnya kamu sama Iqbal bukan mahram." "Saya, kan, juga bukan mahramnya Pak Alif!" protesnya. "Iya, nanti saya halalkan biar bisa jadi mahram." Ya Allah, bolehkah Aisya baper sekarang juga? Alif membukakan pintu. "Masukin sini saja," katanya yang langsung dituruti Aisya. Tangan gadis itu sudah dingin seperti habis masuk kulkas. Begitu Aisya selesai memasukkan pakaian, Aminah muncul lengkap dengan pakaian kondangan. Wanita itu tampak terburu-buru. "Alif, antar Umi ke gedung balai kota, ya? Anaknya Lik Siska mau nikahan." Sebagai anak yang memegang teguh birrul walidain[1], Alif pun tidak membantah ajakan sang Umi. Kebetulan, ia tidak ada kuliah pagi ini. "Alif ganti baju dulu, ya, Umi?" "Nggak usah. Gitu aja." Padahal, Alif masih mengenakan sarung dan baju koko. Bisa salah kostum jika ia masih memakai itu di acara walimah. "Udah, yuk? Umi udah ditelepon terus sama Bulik." "Abi nggak ikut, Mi?" "Abi ada urusan sama temannya." Alih-alih masuk mobil, Aminah malah melangkah ke arah Aisya. Tangan wanita itu menarik gadis berparas cantik itu. "Kamu ikut juga, ya?" "Tapi, Umi.... " Aisya belum mandi, lanjut Aisya dalam hati. "Sudah, ayo!" Setelah kejadian dadakan itu, kini Aisya sudah duduk di samping Aminah. Mobil Alif meluncur menuju gedung pernikahan anak Bulik Siska. Aisya meggerakkan jarinya dengan abstrak, dia salah kostum. Harusnya dia memakai baju batik atau kebaya. Sekarang? Dia memakai baju ala kadarnya. Jilbab segi empat, sarung batik, dan sandal jepit. Sepertinya, Aisya lebih pantas menjadi tukang masak kalau sampai sana. Ketika mobil Alif memasuki Jalan Soekarno Hatta, Aminah menggenggam tangan Aisya. Aisya tersenyum sungkan. "Sering hati kita tidak mengingat Allah, padahal hanya dengan mengingat Allah saja hati kita menjadi tenang. Apabila kita mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingat kita. Allah itu kalau sudah cinta dengan makhluk-Nya, nggak tanggung-tanggung, Dia akan mengumumkan kepada seluruh malaikat agar mencintai makhluk-Nya itu kemudian seluruh malaikat pun mencintainya. "Kita harus mahabah sama Allah. Salah satunya dengan senantiasa dzikruallah. Daripada hati serta pikiran kita ke mana-mana, lebih baik kita beristigfar, bersalawat, mengucapkan kalimat-kalimat tayibah. Zikir itu mudah tapi besar manfaatnya." Aminah menunjukkan jemarinya. "Begini cara berzikir. Setiap ruas jari terdapat tiga ruas, kamu bisa menggunakan sepuluh jari lalu diulang satu jari. Tiga dikali sebelas menjadi tiga puluh tiga." "Iya, Umi." Lima menit kemudian, mobil Alif sudah terparkir rapi di depan gedung besar yang dominan berwarna putih. Di depannya tampak hiasan bunga beraneka warna yang masih segar. Seorang wanita yang usianya tidak jauh dari Aisya menyambut kedatangan Aminah. Gadis itu menyalami Aminah dan Aisya. "Assalamualaikum, Bude[2]." "Waalaikumsalam. Ini Vivi, adiknya Nurul? Ya Allah, sudah besar, ya, kamu?" Gadis itu tersenyum hingga tampak behel giginya yang berwarna merah muda. "Bude, Bang Alif disuruh dandan sama Ibu jadi pendamping pengantin pria." Alif yang baru keluar dari mobil memandang penuh tanya. "Bujuk saja abangmu kalau mau, Vi," ujar Aminah kemudian. "Apa, Vi?" tanya Alif. "Jadi pendamping pria, Bang. Mau nggak?" Alif terkejut. "Halah, mau, ya, Bang? Biar cepat ketularan menikah," bujuk Vivi. "Umi!" rajuk Alif sembari menatap Aminah. Sejak kecil, Alif tidak suka dijadikan teman pengantin apalagi harus mengenakan pakaian adat yang menurutnya sangat rumit. "Sudah sana, sekali-kali bantuin orang nikahan, Bang," titah Aminah yang tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya, Alif mengangguk lemas. "Nah, gitu, dong! Ayo, ikut Vivi!" seru Vivi riang. Namun ia kemudian berhenti. "Eh, pagar ayunya juga kurang satu." Mata gadis itu lantas menjurus pada Aisya. "Ha! Yuk, kamu saja, ya, Mbak?" "Hah? Saya?" Aisya menunjuk dirinya sendiri. "Sudah, ayo!" Vivi menarik Aisya hingga ia bingung bagaimana caranya menolak. Aisya dan Alif akhirnya pasrah didandani. Tepat pukul sembilan pagi, Aisya keluar dari tempat make up. Gadis itu begitu menawan dipoles make up dengan gamis berwarna baby pink. Pernikahan saudara Alif begitu menjunjung unsur Islam. Ruangan itu dibagi menjadi dua, untuk tamu akhwat sebelah kanan dan untuk tamu ikhwat di sebelah kiri. Awalnya Aisya bingung, tetapi akhirnya mengerti saat pembawa acara menjelaskan kepada tamu undangan bahwa begitulan acara pernikahan sesuai agama Islam. Aisya berkumpul bersama para pagar ayu guna menyalami tamu perempuan. Tempat pagar ayu dan pendamping pengangin pria hanya berjarak lima meter. Alif yang tengah menyalami tamu ikhwat tertegun melihat kecantikan Aisya. Merasa dipandang tidak biasa oleh mantan gurunya, Aisya sedikit salah tingkah. Walau wajahnya berusaha menatap arah lain, hatinya bergetar hebat. "Ini pengantinnya, ya?" Seorang bapak yang mengenakan baju batik khas Bali menyadarkan Alif. "Bukan, Pak. Pengantinnya masih di dalam." "Oh, maaf, ya, Mas? Saya kira Mas itu pengantinnya sama Mbak yang itu." Bapak itu menunjuk Aisya. Kebetulan saat si bapak menunjuk, Aisya tengah menatap ke arah Alif. "Oh, belum, Pak. Didoakan saja, ya?" jawab Alif penuh percaya diri. "Amin, Mas. Segera cepat menyusul." Sambil mengaminkan, Alif melirik ke arah Aisya. Sadar dilirik Alif, Aisya mengalihkan pandangan. Senyum Alif mengembang menyaksikan gadis itu yang diam-diam mencuri pandang. Agar menghindari zina mata, Alif memutuskan menjauhi pagar ayu. Ia harus membentengi dirinya dari setan yang siap menjerumuskan. Tidak tahu kenapa ada rasa sedih dalam benak Aisya ketika Alif menjauh darinya. [1] Etika dalam Islam yang merujuk pada tindakan berbakti kepada orang tua. [2] Ibu gede; kata sapaan untuk kakak perempuan pihak Ibu atau Ayah (B. Jawa)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD