bc

Jerat Skandal Istri Kedua

book_age18+
613
FOLLOW
8.7K
READ
HE
boss
heir/heiress
drama
bxg
bold
city
affair
like
intro-logo
Blurb

Cerita Rumah Tangga Penuh Intrik dan Menarik yuk mampir.

~~~

"The thousand ways you tried to f**k me, kasarnya begitu, ya. Kamu tahu itu gak akan pernah berhasil memberikan kamu seorang anak, kan, benar kan?" (Anggita)

"Everytime I f**k you, that isn't just want to make a baby, intinya begitu, sayang. Aku gak menginginkan seorang anak dari wanita manapun!" (Heru)

Anggita Dewinta Khair Basri dipersunting oleh Heru Anggara yang adalah seorang Bankir ternama di bank Swasta sudah kurang lebih 12 tahun. Mahligai rumah tangga yang sudah berjalan cukup panjang itu belum juga dikaruniai buah hati, tapi keduanya sepakat untuk tetap menunggu keajaiban datang dari Tuhan tanpa harus melakukan pengobatan dokter. Sebagai seorang wanita, Anggita senang memiliki suami yang sangat mencintainya dan menerima keadaan rumah tangganya yang hanya ada mereka berdua. Namun, di balik itu semua ternyata ada kebusukan sang suami yang tersimpan sangat rapat dan tak terendus. Di saat dia mencari bukti kesetiaan sang suami, sosok seorang balita yang memiliki nama belakang sang suami kepergok ada di rumah ibu mertuanya. Motif kecurigaannya semakin besar. Semakin dia mengejar bukti, semua kebenaran-kebenaran yang tertutupi darinya akhirnya terungkap.

Akankah Anggita yang telah divonis tidak bisa mempunyai anak karena memiliki rahim bertanduk tunggal dapat menerima kesalahan sang suami atau malah merelakan suaminya untuk dimiliki wanita lain yang ternyata adalah orang yang sangat dekat dengannya?

chap-preview
Free preview
1. Lahiran Istri Keduaku
1 tahun yang lalu Panas sekujur tubuh membuatnya tidak tahan berlama-lama, di dalam ruangan yang sempit ini. Merasa sesak, dia menarik dasi dan berjalan menuju ruangan kamar yang dipersiapkan untuknya. Gerak netranya berpendar, berkabut dan tidak jelas. "Kamu di sini?" Seorang wanita menyambutnya, membantunya melepaskan dasi. Penglihatannya si wanita adalah sang istri, orang yang sangat dia cintai. Simpul dasinya terlepas, dirinya tak kuasa menahan desak, yang meronta ingin lepas. Seketika jalinan bibir menjadi awal pelepas dahaga yang mendesak. Sekujur tubuh mulai merasa tegang, menyiksa, hingga tak kuasa menahan rasa panas yang mendera. Efek kulit yang saling bergesekan itu membuat keduanya melaju dalam hasrat yang menggebu. Melebur hingga hancur dalam dosa yang tak terukur. *** Heru's Pov "Mas, aku mau lahiran tinggal nunggu waktunya, kamu gak mau nemanin aku?! Kalau aku mati gimana, gimana anak kita, ahh sakit!" Aku mengusap kasar wajahku, bingung. Apa alasanku ke luar kota karena tidak ada permasalahan di kantor cabang. "Mas, kamu dengar gak sih! Akhh!" "Iya, sabar aku nanti ke sana," kataku, menimbang-nimbang, apa yang harus aku lakukan. "Nanti kapan? Tunggu anak ini keluar terus aku udah gak ada, iya! Aduhhh!" "Kamu ngomong apa sih Rhei! Aku cari tiket dulu!" Susah banget minta pengertian dengan wanita yang lagi sensitif. Sudah aku bilang kemarin, kalau bisa aku datang kalau gak bisa sudah ada orang yang akan mengurus keperluan dia semuanya. Beruntung, saat cek aplikasi masih ada tiket menuju ke Jambi hari ini pukul 2 siang, yang artinya 1 jam lagi aku berangkat. "Beno, kamu pulang ke rumah dan siapkan baju saya. Ambil di dalam lemari minta bantu si Mbok, pakaian biasa 4 lembar, celana dan kemeja 1" kataku pada supir kepercayaanku. "Baik Pak, adalagi?" "Gak ada, setengah jam lagi saya berangkat ke Jambi kalau Ibu tanya bilang urusan kantor mendadak." "Baik Pak." Dia bergegas keluar dari ruanganku dan langsung pulang ke rumah mengambil perlengkapanku. Tak lama kemudian dia datang lalu aku di antar ke bandara. Semua urusan kantor langsung aku serahkan pada orang kepercayaanku. Pergi di saat kondisi aman, masih tidak begitu sibuk. Mumpung orang tertinggi juga sedang tidak ada di tempat sehingga dia tidak banyak bertanya apa urusanku. Untungnya tidak ada masalah delay dan perjalananku aman tanpa kendala. Meskipun di otakku terlalu banyak kendala berpikir tentang alasan apa yang akan aku sampaikan pada Gieta nanti, istriku, istri pertamaku. Cuaca baik dan pesawat mulus mendarat tepat waktu. Aku menelepon seseorang yang sudah aku percaya untuk memfasilitasi aku jika datang ke kota ini. Biasanya aku memberitahu dia satu minggu sebelum kedatanganku. Kali ini mendadak karena tidak terencana. "Bagaimana istri saya, sudah di bawa ke rumah sakit?" "Sudah Pak, tadi pagi beliau menangis terus karena merasakan sakit. Dokter bilang darahnya tinggi jadi harus diturunkan lebih dulu tetapi belum waktunya untuk melahirkan." Ya Allah, selamatkanlah istriku dan anakku. Semoga persalinan ini lancar dan gak macam-macam. Aku berjanji akan memberikan apa yang dia mau, setelah semua proses ini lancar. Sampai di rumah sakit, aku langsung bertanya pada bagian administrasi, di mana kamar rawat inapnya. "Nyonya Heru berada di kamar VVIP, di lorong sebelah kiri, jalan lurus saja Pak." "Terima kasih Sus." 'Nyonya Heru', mau tidak mau dia harus memakai namaku. Kalau di sini aman, kalau di sana bisa repot urusannya. Aku memang bukan artis tetapi Gieta bisa saja menerima klien para artis. Membangun jalinan relasi di mana-mana, dan informasi yang dia dapatkan pun akurat langsung pada sumbernya. Jangan sampai dia tahu, matilah aku! Istri kedua ku ini terbaring lemah di atas ranjang sembari mengelus perut besarnya. "Masss—" rengeknya saat melihat aku masuk ke dalam kamar. Buru-buru aku mendekatinya dan mencium keningnya. "Belum bisa lahiran?" "Belum, cuma ini sakit banget Mas, rasanya mau mati saja," ucapnya sambil menangis. Aku takut ini imbas dari kesalahan kami. Mencurangi seseorang yang tidak tahu menahu sehingga Allah memberikan cobaan terberat saat dia akan melahirkan. "Mas, kamu ingat janji kamu nggak, kalau anak kita lahir, kamu mau belikan aku apa aja." "Iya, kamu mau apa, bilang saja aku belikan," kataku. Bukan sombong, tetapi aku merasa uangku cukup untuk memenuhi dua dapur yang bisa adil dengan seimbang. Aku yakin, niat baik yang aku lakukan pasti akan membahagiakan kami. "Aku mau yacht, kemarin ada orang yang memberikan brosur yacht dijual." "Apa?! yacht, kapal pesiar?" Subhanallah, dia mengangguk sembari tersenyum. Apa dia gak mikir, keinginan dia di luar batas seperti ini. Ya Allah aku udah janji pula. "Rhei, coba kamu minta sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan nanti." "Justru itu Mas, aku sadar diri. Anak ini pasti akan jadi perdebatan dengan Gieta dan keluarga besarnya. Sedangkan kamu gak akan bisa membela kami ya 'kan? Pasti kamu gak bisa perjuangkan hak anak ini karena anak kita pasti dikatakan anak haram dan ini dan itu! Kamu gak bisa menjamin anak ini hidup mapan." Aku heran, di saat dia akan berjuang untuk mempertaruhkan nyawa tetapi dia malah sibuk mencari harta. Bukannya merendahkan diri karena sudah merebut hak milik orang lain, malah ingin sesuatu yang lebih dari yang direbut. "Kamu pikir yacht itu puluhan atau ratusan juta, itu milyaran Rhei, bahkan ratusan milyar sampai triliun. Aku uangnya dari mana?" "Mas, aku gak suruh kamu beli cash. Karena itu juga kredit. Kita bisa sewakan itu dan uangnya bisa dipakai untuk bayar kreditnya. Itu bisa jadi investasi Mas, demi anak kamu." "Selalu bawa nama anak! Kamu memanfaatkan saya agar bisa mendapatkan sesuatu untuk kamu pamerin. Kamu ngerti dong!" Eh dia malah nangis, diberi pengertian seperti itu tetapi gak masuk dalam otaknya. Aku duduk di pinggir ranjang, memperhatikan dia yang terus terisak. "Cowok tu emang gitu, janjinya hanya di awal, saat ditagih langsung banyak alasan. Padahal rejeki anak itu sudah diatur sama Allah." "Ya kamu mintanya mikir-mikir dong. Aku punya uang tetapi kalau dibayarkan untuk kredit ya lama-lama habis. Belum lagi ngasih nafkah untuk dua orang. Kamu inget dong, kalau aku punya Gieta bukan hanya kamu!" Aku ingetin dia lagi, akhirnya dia luluh dan memelas. "Ya udah kalau gak bisa gak apa. Toh aku pasti dicampakkan setelah ini," ucapnya dan tak lama kemudian hp-nya berdering. Entah telepon dari siapa yang jelas dia meminta maaf berulang kali, "Maaf Pak, gak jadi, saya gak punya suami, adanya suami orang yang gak mungkin bayarin hutang saya, jadi—" Panas telinga aku dengarnya dan aku rebut saja hp-nya, "Halo, siapa ini?" "Maaf ini siapa ya? Ibu Rheina sudah DP uang untuk tanda jadi kredit Yacht sebesar 1 Milyar. Bulan depan sudah mulai bayar angsurannya Pak, kalau tidak uang DP hangus." Kebangetan! Uang yang sering aku kasih ke dia ternyata digunakan untuk DP seperti ini. Dia gak mikir uang segitu bisa membuat masalah aku dan Gieta ke depannya. Berusaha ngirim dia uang bulanan yang cukup untuk kebutuhan dia tapi malah ... ya Allah. "Ya sudah berapa angsurannya selama berapa bulan?" kataku, terus memperhatikan Rheina yang terus menundukkan kepalanya tidak berani menatapku. Aku bertahun-tahun menikah sama Gieta, gak pernah marah dan dongkol seperti ini. Kenapa dengan dia yang baru hitungan bulan sudah buat aku darah tinggi. Aku mengembalikan hp-nya setelah bicara dan menyelesaikan administrasi itu, "Puas kamu, dan setelah ini jangan ada permintaan kamu yang di luar ekspektasi aku dan di luar kemauan wanita hamil di luar sana. Aku menawarkan apa saja yang kamu mau bukan berarti seperti ini! Habis ini kamu pasti berpikir mau beli pulau pribadi untuk disewakan sama orang-orang kaya." Dia masih diam, menarik tanganku dan menciuminya lama, "Maaf Mas, aku hanya ingin bukti keseriusan kamu. Karena kamu hanya datang berapa kali setelah menikahi aku. Selama hamil aku juga butuh kasih sayang. Kamu bahkan gak mau angkat telepon dari aku di saat aku pengen ngobrol sama kamu, pengen lihat wajah kamu. Kamu gak bisa merasakan apa yang aku rasa. Aku khilaf Mas, maaf ya." Aku peluk dia yang menangis lagi. Memang benar aku mengabaikan dia demi orang yang aku cintai. Aku gak boleh ceroboh hanya karena dia telah mewujudkan keinginanku yang sudah aku tunggu selama bertahun-tahun. Memang susah, punya istri dua ... ini berat banget. Bukan hanya adil memberi nafkah tetapi perasaan sayang, tidak bisa dibagi adil. Untuk sementara aku menemani dia sampai melahirkan. Nomor Gieta sengaja aku blok sementara karena aku takut dia banyak bertanya. Cukup Beno yang memberitahu dia kalau aku ke Jambi urusan kantor cabang. Gieta gak pernah menaruh curiga sedikitpun karena selama ini aku pergi gak pernah lama untuk urusan kantor kalau di luar kota. Dia juga sering ikut kalau dia gak sibuk. *** Sudah berapa hari aku di sini dan Rheina belum juga melahirkan. Sering dia mengeluh rasa sakit tiap malam sampai menangis. Aku bingung dan akhirnya menelepon mama untuk datang kemari. Sebenarnya aku gak mau mamaku tahu kelakuanku. Takut Rheina dibenci karena dia sayang sama Gieta. Tetapi saat dia tahu, layaknya bunglon yang menempel di pohon dan langsung berubah warna. Dia sangat menyanyangi Rheina tanpa mempedulikan apa yang telah terjadi. Malah dia ingin mempublikasikan cucunya pada semua keluarga besar kami. "Jangan Mah, tolong hargai Gieta." "Mama yakin Gieta pasti akan terima. Dia gak akan mau kehilangan kamu." "Iya, tapi aku yang akan kehilangan Gieta! Dia segalanya buat aku dan mama jangan ngatur rumah tangga aku!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook