Anggita's Pov
Anda sebagai wanita, apakah tidak bisa menggunakan hati nurani!" suara cempreng itu meneriaki aku. Sudah cukup aku berdebat dengannya. Sekarang pun dia masih belum puas.
"Maaf Mbak, saya hanya melakukan tugas saya, permisi," kataku, menyisipkan diantara yang lenggang. Dia menghalangi jalanku dan aku terpaksa menabrak kerumunan orang yang selesai menonton sidang ini.
"Tugas yang tidak memikirkan hak-hak asasi seorang wanita. Anda wanita bukan?!" teriaknya dari belakang.
Aku jengah jika harus berhadapan dengan lawan klien seperti ini. Pekerjaanku harus profesional, tanpa berpikir tentang siapa aku, wanita atau waria? Sialan banget! Astaghfirullah, sabar Gie!
Aku berhenti dan berbalik badan, "Mbak, harusnya Anda menerima ini dengan lapang d**a. Kenapa Mbak harus mempertahankan sesuatu yang mana itu mungkin merepotkan. Hidup ini gak perlu dibuat susah Mbak, kalau saya jadi Mbak, ya sudah, jalani saja. Anak akan datang kepada kita jika tahu siapa yang menurut dia benar," kataku dan wanita cantik ini meludah di depanku. Aku menghindar menjaga jarak. Kelakuan bar-bar yang gak berkelas. Jangan sampai aku lupa profesi dan membalasnya juga.
"Apakah Anda belum pernah menjadi seorang ibu, jadi Anda tidak tahu rasanya menjadi ibu seperti apa?!"
Dia menyerang secara personal. Memang sih aku belum pernah hamil dan tidak tahu bagaimana rasanya menjadi ibu. Tetapi, sekali lagi. Pekerjaanku tidak bisa memilah dengan hati. Dan aku akan tetap memperjuangkan hak klien yang mana menurutku itu benar.
"Rasa dan pikiran setiap orang itu berbeda. Saya dan Mbak juga berbeda, saya pakai logika dan hati tetapi Anda hanya menggunakan hati tanpa logika!" tegasku.
Aku berjalan cepat tanpa harus mendengarkan caci makinya lagi. Mulutku sudah lelah berdebat di persidangan tadi.
Menarik dan mengulur napas, aku berhenti melangkah, saat sosok ini berdiri menghampiri aku. "Makan siang yuk, laper. Suamimu lagi gak ada 'kan?"
Tahu dari mana? Dia selalu saja cari kesempatan dalam kesempitan dan selalu tahu kalau suamiku sedang keluar kota. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil dan dia menahan pintu,
"Huh! Gak ada sih tetapi aku gak mau ajak kamu makan di rumah, bukan mahram!" kataku dan melepaskan cengkraman tangannya di pintu mobil. Seenaknya mau numpang makan, dia pikir aku masih jomblo. Sejak dia kembali ke kota ini. Dia gak pernah menganggap aku sudah menikah. Aku milik pria lain bukan single lagi.
"Ya udah makan di apartemen aku aja, istriku lagi gak ada, rumah kosong," katanya membuatku melongo.
"Lu mau kita dianggap selingkuh. Jangan buat nama baik gue rusak! Udah ah gue cabut!"
"Eh Gie, tungguin Gie!"
Aku pijak gas hingga ban mobil berdecit melaju kencang meninggalkan parkiran. Si hakim itu gak boleh dianggap enteng. Ngerayunya makin jadi-jadi. Udah punya anak dan istri masih mau dekat-dekat aku, apa kata orang.
Karena suamiku lagi keluar kota, aku beli makanan di luar dan kembali lagi ke kantor. Makan di kantor saat jam istirahat seperti ini sepi banget. Pulang ke rumah juga gak ada siap-siapa. Lebih baik kalau aku di sini.
"Hei, gak pulang Gie?"
"Nggak, yang dilayanin makan juga nggak ada, jadi hemat bensin," kataku dan wanita berwajah manis yang memiliki bulatan hitam besar di atas bibirnya ini, tersenyum sembari mengangguk.
"Hidup cuma berdua ya, satu gak ada sepi dong. Oh ya, kamu gak mau coba obat tradisional ala-ala pengobatan dalam."
Aku menggeleng, "Belum kepikiran sampai sana Neng, maunya sih normal aja. Allah kasih ya syukur, kalau belum ya mungkin emang belum dipercaya. Easy going aja dan ikhtiar," jawabku.
Semua orang ingin nikah dan cepat punya anak. Supaya mereka tetap awet muda saat anak mereka beranjak dewasa. Itu 'kan masing-masing punya pemikiran. Kalau aku tidak memaksakan. Apalagi suamiku, tidak pernah ngotot. Hanya sekali berobat ke dokter dan dia bilang, gak masalah kita jalani saja karena dokter bilang dibawa enjoy.
"Iya sih, Gie, tapi kamu gak takut kalau suamimu cari wanita lain."
"Aku sudah nawarin dia kok, silakan menikah lagi tapi ceraikan aku dulu," kataku dan dia tertawa.
"Anti poligami ya Gie," katanya dan aku mengangguk. Sembari menghisap aroma bumbu nasi padang yang kuat dan membuat perut bergejolak.
"Oh jelas, mana ada pria yang bisa adil kasih sayangnya coba. Dahlah, aku laper nih makan dulu ya,"
"Oke, aku juga mau pulang, yuk duluan."
Akhirnya, kantor ini sepi dan tinggal aku sendiri. Menyalakan musik dan menikmati sebungkus makanan favorit. Ini menjadi keseharianku. Terlintas dibenakku tentang wanita tadi yang kalah menerima hak asuh anaknya. Dan sang suami yang aku menangkan dalam kasus mereka.
Dia seorang ibu muda yang belum bekerja. Suaminya tidak yakin jika anak diurus dengannya karena wanita itu akan memanfaatkan uang nafkah tersebut. Kalau aku jadi dia, ya silakan urus tapi jangan batasi bertemunya aku dengan anakku.
Prinsip setiap wanita itu berbeda, tipe cuek kayak aku, nikmati aja prosesnya gak usah ngotot. Apalagi si anak dekat banget sama papanya, udah jelas dong kalau dia gak becus ngurus anak.
"Ya, halo Ma,"
Asyik-asyik makan mamaku menelepon dan minta aku dan suamiku makan siang di rumah karena ada yang mau dibicarakan. Pasti tentang persiapan pernikahan adikku.
"Aku udah makan di kantor, nanti aku ke sana habis makan, oke mah ... bye."
Selesai makan aku langsung menuju ke rumah mama. Ada beberapa mobil parkir penuh di halaman rumah. Pasti sepupuku juga hadir sekalian numpang makan.
"Assalamu'alaikum,"
Aku berteriak dari pintu dan semua menjawab dengan kompak. Saat melihat aku sendiri mereka bertanya,
"Mana suamimu gak ikut?"
"Nggak lagi ke Jambi, ada urusan kantor cabang," jawabku sesuai dengan fakta dan tiba-tiba saja sepupuku bertanya,
"Urusan apa dengan kantor cabang, 'kan udah clear."
"Ya mana aku tahu, kamu 'kan owner-nya, masa' gak tahu ada masalah Mas," balasku dan langsung duduk diantara para sepupu ipar yang juga hadir untuk rapat keluarga.
"Ada apa di kantor cabang Jambi?"
Mataku melirik abang sepupuku itu, sedang menelpon seseorang. Gak percaya banget sama omongan aku.
" Gak ada 'kan, udah clear semua. Terus mana Heru saya mau bicara. Apa! Gak ada, kata istrinya dia ke Jambi."
Hmm, mulai deh dia mau buat aku kesel lagi. Aku lihat tiketnya sendiri kok, masa' suamiku bohong. Dasar sepupu tukang kibul, pasti dia ngerjain aku.
"Wah lu diboongin Heru Gie, mana ada dia di kantor. Coba deh di telepon."
"Udahlah Rul, jangan ganggu Gieta terus. Kamu nih, bisa pecah belah urusan rumah tangga adikmu."
Kok aku jadi sedih ya, dia bohongin aku atau gimana. Di telepon juga gak diangkat. Apa aku juga harus ke Jambi?
***
Hati tidak bisa dibohongi, candaan Mas Ruli sepupuku tadi membekas di otakku. Kerja juga gak tenang, suamiku pun gak ada kabarnya. Dia kemana, dengan siapa dan tujuannya ke kantor apa, tapi kok gak ada kabar sampai sekarang. Aku pun gak punya kenalan di kantor cabang untuk memata-matai dia.
Kami sudah sepakat kalau pernikahan kami dilandasi atas dasar kepercayaan. Karena itu poin utama yang paling penting dalam hidup. Pengen aku lempar hp yang hanya berdering dan gak dijawab.
Beralih dari dering HP yang di seberang sana terdengar, sekarang bunyi bel dari luar yang dipencet terus menerus. Kaki yang malas ini akhirnya bergerak cepat membukakan pintu.
"Akhirnya setelah 5 menit dibukakan," ucap salah satu wanita di balik pintu ini.
"Pasti di buka kok, yang wajar kalau bertamu," cetusku.
"Kita.gak sedang bertamu, elu yang nyuruh datang, pasti pawang lu lagi gak ada. Kita makan gratiskan di sini."
Emangnya aku buaya atau ular pakai pawang segala, dasar lambe! Mereka masuk langsung menuju meja makan. Aku udah siapkan banyak kue di sana dan mereka bisa semaunya makan demi menemani aku yang sedang galau.
"Jadi, ada masalah apa nih, lu nyuruh kita datang dan nyogok pakai kue seabrek."
"Sini lu berdua kalau udah ambil kue, gue mau curhat," kataku. Dari pada otak aku buntu mau marah sama suami tetapi gak ada bukti. Baru pertama kalinya dia begini. Gak tahu kenapa, hati aku jadi gak tenang.
Kedua temanku ini langsung duduk mengapit aku dengan masing-masing bawa sepiring brownies, "Just tell, lu mau apa?" kata si Euis yang bermata sipit. Dia keturunan negeri panda tanpa maskara.
"Seumur hidup gue nikah sama laki gue. Baru kali ini dia aneh. Udah 2 hari dia pergi ke Jambi, katanya urusan kantor. Gak taunya sepupuku bilang gak ada apa-apa di kantor cabang. Kalau lu berdua jadi gue, apa yang dipikirkan."
"Selingkuh!" jawab mereka kompak.
Nah 'kan! Bukan aku aja yang mikir begitu, berarti aku normal. Selama ini suamiku gak pernah misterius kayak gini. Dan baru ini, eh enggak ... Aku baru sadar kalau dia sering ke Jambi dalam berapa bulan ke belakang. Astaga! Kenapa aku kecolongan.
"Tapi ya, kalau laki loe selingkuh, gak yakin gue."
"Kenapa emang?" tanyaku tak sabaran, menatap bibir tipis si Pipit yang belepotan cokelat.
"Dia 'kan bawahannya sepupu lu meskipun dia kepala. Emang ada orang mau masuk kandang macan sendirian. Kalau dia macam-macam pasti lengser singgasana direktur, ya nggak," kata Pipit. Betul juga sih, tapi kok aku jadi gak tenang ya. Kasus perselingkuhan menjamur di mana-mana. Aku sih nggak takut diselingkuhin, aku hanya takut dibodohin.
"Eh, Rheina melahirkan loh, kita jenguk nggak?"
Aku mengernyit, "Rheina 'kan di Jambi, dan eh iya laki gue di sana, yuk ah cuz kita ke Jambi," kataku dengan semangat setelah ada titik temu diotak dalam sekejap.
"By the way, itu anak kapan nikahnya, tahu-tahu langsung brojol—" cerocos Pipit, aku mah gak ngurusin hal itu. Yang penting bukan aku yang tiba-tiba melahirkan tanpa kejelasan.
"Nahhhh, lu gak tahu 'kan, gue juga sama! Pengen gue pites tu anak kalau ketemu. Yuk ah Gie kita ke Jambi, lu bayarin 'kan tiketnya."
Aku gak masalah keluar uang traktir mereka, agar semuanya jelas. Belum jelas aja hati aku gak tenang. Sumpah, sakit banget. Semoga aja—
"Oiii, tu ayang nelepon, masih mau gak lu ke Jambi," teriak Pipit saat melihat hpku bergetar di atas meja.
Akhirnya, debaran jantungku yang dari tadi tak menentu mendadak tenang saat dia menelepon. Menjauh dari mereka berdua, aku ingin privasi. Langsung aku jawab dengan permulaan salam dan dibalasnya syahdu.
"Kamu ke mana aja seharian Pi, kamu benar gak sih di Jambi."
"Benar mami sayang, kamu kok gak percaya sih."
Susahnya percaya saat otak telah disusupi fitnah khayalan yang mungkin bisa jadi kenyataan.
"Terus, urusan apa?"
"Kan papi udah bilang, urusan di kantor. Ada aplikasi yang gak bisa di-setting. Jadinya banyak transaksi yang error, takut merugikan nasabah. Tadi kamu nelepon :kan, lagi sibuk-sibuknya itu."
Aku hanya bisa ber-Oh ria. Tahu apa aku soal jaringan perbankan yang ribet. Yang aku tahu berdebat di depan hakim dan pengacara lain. Apa aku harus mendebat dia tentang Mas Ruli tadi. Tapi, tunggu—
"Jadi, berapa lama kamu di sana. Ini udah 2 hari loh dan masih belum kelar lagi?"
"Besok lah sayang, InsyaAllah aku pulang. Aku kangen kamu, aku ingin peluk kamu sampai remuk, ciumi kamu sampai kamu tertidur. Kamu udah makan?"
Gimana aku bisa curiga sama dia kalau dia sayang banget sama aku, kayaknya dan aku ngerasa sih. Dia gak pernah kasar, gak pernah marah sama aku meski aku kadang teledor. Dia gak mungkin 'kan.
***
Semalaman aku gak bisa tidur. Penasaran ini menerorku, aku ingin benar-benar sidak ke Kantor cabang di Jambi. Habis shalat subuh, aku pesan tiket pesawat untuk 3 orang dan untung saja ada. Alasan utama jika dia bertanya adalah menjenguk teman, dia gak akan curiga kalau aku gak percaya sama dia.
Sebagai seorang pengacara bertahun-tahun, aku selalu memberikan masukan pada setiap klien yang aku tangani. Kebanyakan tentang permasalahan kasus rumah tangga. Perceraian, selingkuh dan lainnya. Aneh rasanya, jika aku menganggap enteng masalah yang sedang aku hadapi sedangkan aku selalu kritis menangani permasalahan orang lain.
"Muka lu kok tegang Gie kayak ngadepin penggugat. Anggap aja ini liburan, kasus lu udah selesai kan. Lagian ini weekend, suami lu masih ngantor?"
"Perbaikan server 'kan gak harus jam kerja, justru sebaliknya. Mereka butuh free tanpa nasabah," kataku.
Dokter bisa mengobati orang lain yang sakit tetapi kadang dirinya sendiri tak mampu mengobati penyakitnya. Sama dengan aku, ketika klien datang mengadukan tentang masalahnya. Dengan mudah aku memberikan masukan untuk membuatnya tenang. Tetapi ketika aku berhadapan dengan masalahku sendiri yang masih bayang-bayang semu, terasa banget jiwa ini ketar-ketir tak menentu.
"Kita sama-sama perginya atau gimana?" tanya Pipit. Maunya langsung ke bank, tetapi harusnya memang jenguk dulu baru bisa jadi alasan.
"Iya, jenguk dulu, baru kita ke bank. Aku aja sih, kalian langsung ke hotel aja nanti," kataku memutuskan.
Tiba di Jambi, kami yang hanya menggunakan tas jinjing langsung menuju ke rumah sakit tempat temanku dirawat. Euis sibuk menelepon untuk bertanya dimana kamar inapnya. Dan saat tiba di rumah sakit,
"Ih Rheina gak bisa dihubungi."
Euis mulai kalut, dia telepon sana-sini gak bisa. Daripada lama aku langsung menuju ruang administrasi dan bertanya nama pasien.
Seorang suster langsung berkata, "Nyonya Heru minta pulang hari ini juga."
Aku melirik, seakan aku yang dipanggil sama suster ini. Padahal nama Heru bukan hanya nama suamiku saja.
"Oh bisa sih, suaminya isi surat keterangan dulu baru boleh pulang. Anaknya sudah dibersihkan?"
"Sudah dok,"
Aku diam mendengarkan sambil menunggu antrean untuk bertanya. Masih pagi tetapi sudah ramai. Dan saat antreanku, hp-ku berdering. Duh ... angkat gak yah, suamiku pasti bertanya aku di mana, padahal aku mau kasih surprise.
"Maaf, Ada yang bisa dibantu Bu?"
"Sebentar mbak saya angkat telepon dulu."