3. Anak Kamu Yang Mana

1128 Words
Anggita's Pov "Kamu di mana?" Sebuah kalimat tanya yang lugas dan cepat tanpa salam dan tergesa. Menandakan bahwa dia tahu aku gak ada di rumah. "Eum ... kenapa?" "Kamu sekarang di mana?" ulangnya lagi. Dari nada suara yang naik satu oktaf. Dia terlalu penasaran, apakah ada yang dia sembunyikan. "Ada deh, coba tebak aku ada di mana," kataku, supaya dia menebak, Kira-kira aku ada di mana? "Jangan tebak-tebakan Gie. Aku gak suka khawatir sama kamu. Soalnya teman aku lihat kamu di bandara. Kamu ke mana?!" suaranya sedikit tegas dan mulai emosian "Aku—" "Gieee, kita langsung ke bank aja sidak tempat laki loe kerja karena Rheina gak ada. Capek gue nelepon dia gak diangkat." Kesel dengan Euis, teriak-teriak. Akhirnya aku ketahuan deh kalau kemari dan mau sidak. Helaan napasnya terdengar kasar dan ucapan ketus. "Oh gitu, mau sidak tempat aku kerja. Sekarang udah gak percaya lagi sama aku?" Aku memberikan isyarat diam pada Euis agar aku bisa bicara dengan tenang. "Gini loh, pas kebetulan ada teman yang melahirkan, jadi mereka berdua ngajak untuk jenguk. Terus bisa jadi surprise sidak 'kan, ke kamu." "Aku jemput kamu sekarang, di rumah sakit mana. Tunggu di depan." Mau gak mau aku menyuruh mereka berdua ke hotel lebih dulu karena aku akan dijemput suamiku. Tak berapa lama, setelah mereka berdua pergi, mobil Pajero hitam berhenti di depanku. Kacanya terbuka, melihatkan tampannya wajah suamiku. Aku masuk dan kami meninggalkan rumah sakit. "Kamu pesan hotel di mana?" "Hotel biasa yang di setiap provinsi ada," kataku dan segera dia melaju kencang. "Kita mau kemana, santai aja Mas." "Hotel, aku kangen," katanya sembari memegangi tanganku dan diletakkan di atas pahanya. Aku mengelus pelan dan dia mengerling. "Sabar, bentar lagi sampai. Jangan buat aku berhenti di pinggir jalan ya," katanya dan aku terkekeh geli. Dulu kami punya pengalaman seperti itu, karena aku menggodanya. Saat lagi asyik bergoyang, eh jendela digedor kencang sama orang yang melintas. "Pengen ngulang yang kayak kemarin, digedor orang," kataku dan dia terkekeh. "Kita udah lama gak melakukan sesuatu yang menantang ya, kamu mau?" tawarnya. Perubahan hormon yang terjadi secara tiba-tiba. Kenapa aku jadi genit, merabanya dan napasnya naik turun, begitu juga celananya yang semakin menonjol. "Aku gak tahan Gie, sumpah, gila ya ini." Kata seorang pakar, suami yang selingkuh akan hilang seleranya untuk menyentuh istrinya. Karena dia sudah kenyang dan kecanduan tubuh wanita lain yang dianggapnya lebih baik dari sang istri. Apakah itu berlaku untuknya? Tangan aku dicekramnya dan menahan tetap di tempat sementara mobil ini terus melaju. Lalu masuk ke jalan yang sepi, sedikit menjorok ke area semak-semak. Ya ampun, kami seperti pasangan selingkuh yang bermain di belakang pasangan masing-masing. Mesin mobil berhenti dan posisi kami pun berpindah ke belakang. Aku tertawa, saat melihat suamiku telah siap mengeluarkan 'batang' perkasanya yang membengkak. "Kemarilah sayangku, aku gak tahan Gie kamu keterlaluan—" bujuknya. Perubahan kedua pada suami yang selingkuh adalah, tidak lagi merasakan tegang tanpa rangsangan karena dirinya terpaksa melakukannya dengan istri hanya karena pemberian nafkah. Tetapi dia tegang sendiri sebelum aku raba. "Euhh, kamu suka yang begini sayang?" Gak bisa menyangkal, kalau aku selalu suka setiap sentuhan darinya. Karena dia adalah suamiku. Intinya, apa pun yang dia lakukan pada tubuhku aku suka dan rela untuknya. Pakaianku yang semula masih rapi, kini telah lepas tak tersisa dari tubuhku. Suamiku tidak merasakan keterbatasan tempat, meski kami hanya berada di kursi belakang yang sempit. Rasa curiga padanya pun mendadak pudar tak tersisa. Suamiku gak berubah sedikit pun, dia tetap setia dan menikmati setiap jengkal bagian dari tubuhku. Belum puas di mobil, sampai di hotel kami mandi bersama dan mengulang lagi pelepasan hormon. Sampai dia kelelahan dan berguling ke samping, lalu tidur mendengkur. Gak tega bangunin dia. Kalau aku bergerak pasti dia bangun sedangkan posisi tangannya sedang memelukku. Dari raut wajah, kayaknya dia benar-benar capek. Apa dia lembur terus di kantor? Terlelap sebentar, aku mendengar hp-nya berdering dan dia sudah berbaring terlentang. Aku bergerak pelan mengambil ponselnya yang ternyata telepon dari mamahnya. Ada perlu apa mamanya menelepon? Baru saja aku mau jawab, tetiba mertuaku langsung ngomel, "Kamu kemana sih, gak kasihan sama anak kamu!" "Halo mah, anak siapa?" Jangan-jangan salah sambung mau nelepon abang iparku malah nelepon anaknya yang lain. "Loh, Gieta, Kamu—" "Mama salah nelepon ya, kami 'kan belum punya anak," kataku. "Oh iya, Gie maaf sayang. Mama mau nelepon Mas Rony, ya ampun malah ke telepon Heru. Ya udah, Heru sama kamu ya, eh bukannya Heru lagi di Jambi." Tu 'kan benar. Namanya juga orang tua, selalu saja salah sambung. "Iya aku juga di sini Mah, mau jenguk teman melahirkan, sekalian mau kasih surprise sama Mas Heru, tapi duluan ketemu dan dia ngantarin ke hotel terus tidur nih." "Oh, ya udah kalau gitu." Aku kembalikan lagi benda ini ke atas meja. Ada keinginan untuk periksa HP-nya tapi kami sudah sepakat gak boleh periksa HP kalau saling percaya. Dia juga gak periksa HP aku, jadi kenapa aku harus periksa HP dia. Yang harus aku periksa itu isi tabungannya dan tagihan kartu kreditnya. Ya ampun, rasa ketakutan ini kok malah semakin menjadi. Padahal dia gak pernah berubah sedikit pun. Rasa cintanya gak berkurang dan selalu manis. 2 jam berlalu, aku sudah mandi dan dia terbangun langsung buru-buru turun dari ranjang menuju kamar mandi. Tanpa menggunakan apapun menutupi belalainya yang bergantung itu. "Loh, mau kemana?" kataku. "Mandi, kamu kok gak bangunin aku?" "Memangnya mau kemana kamu ada janji sama siapa?"cercaku dan gak dijawab. Kalau dia pergi, aku juga mau ikut. Aku turun dari ranjang dan langsung ganti baju, dandan dan siap. Aku duduk sambil menunggu dia selesai. Dia keluar dari kamar mandi, hanya dengan berbalut handuk menutupi bagian bawahnya. "Kamu mau ke mana?" tanyanya ke aku. "Ikut, kalau kamu mau ke bank aku ikut." "Kamu kenapa sih Gie, kok kayaknya kamu curigai aku. Kamu gak pernah mau ngikutin kemana aku pergi sebelumnya," katanya sembari memakai pakaian. Dia mau marah tapi dengan nada pasrah. "Karena aku baru sadar ternyata dalam berapa bulan kemarin, kamu sering ke kota ini. Urusan apa Mas? Mas Ruli aja gak pernah berulang kali datang kalau bukan urgent." "Ya aku dengan Mas Ruli beda dong. Aku bawahannya dan harus tahu kendala apa yang terjadi sebelum dia turun tangan. Selagi aku bisa atasi, dia gak perlu datang," jelasnya. Oke masuk di akal tapi tetap aja otak ini gak mau diam. Berbagai asumsi dan reaksi dari wajahnya yang gak suka aku ikutin dia, membuat mulutku gak bisa diam mencercanya. "Oh gitu, tadi mama kamu nelepon dan bilang masalah anak. 'Kasihan anak kamu,' anak kamu yang mana Mas," kataku, memperhatikan wajahnya yang kebingungan dan geram. "Anak apa?! Mana aku tahu!" "Loh kok marah, 'kan yang bilang gitu mama kamu!" kataku tegas dan terpancing emosi. Dia mendadak tegang dan marah lalu menghempas kasar handuk ke atas ranjang. Coba aja kamu pergi Mas, aku buntuti!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD