Anggita's Pov
"Ayo kita pergi." Dia mengulurkan tangannya dan kami bergandengan keluar kamar. Seperti tidak ada masalah diantara kami berdua, padahal berapa menit yang lalu dia sedikit membentakku. Sampai di lift dia memelukku dan menciumi pipiku.
"Kamu tahu anak mama bukan cuma aku dan semuanya udah pada punya anak, jadi ... salah sambung itu udah biasa. Jangan masukin ke hati ya, mami sayang," katanya.
Sedih, kalau bayangin itu benar adanya. Gak ada yang mau suaminya berbagi dengan wanita lain. Apalagi punya anak dari wanita lain, amit-amit jangan sampai, aku bisa gila!
Kami pergi ke pantai, yang letaknya lumayan jauh. Tapi bisa lihat sunset yang indah. Bermain air hanya berdua, melihat beberapa pasangan yang punya anak rasanya iri.
Kapan tiba saatnya, kami berdua mengawal dua kurcaci yang bermain, membuat istana dari pasir dan bermain diantara gelombang. Pasti seru dan Tuhan pasti tahu apa yang terbaik buat aku. Sekarang juga seru, karena aku sedang mencari bukti kesetiaan suamiku. Aku gak akan maksa punya anak, sampai benar-benar diridhoi sama Allah secara normal.
"Pi, kamu selingkuh ya?"
Gak tahu kenapa mulut aku langsung berujar seperti ini. Dia berhenti berjalan, berdiri di depanku, menatapku lama dan tangannya menangkup wajahku.
"Apa cinta yang aku beri ke kamu kurang? Sampai kamu menuduh aku seperti itu."
"Anak, mungkin jadi salah satunya. Kamu pasti—"
Tubuhku direngkuh dan dipeluk erat. "Aku gak akan pergi kemana-mana lagi tanpa kamu. Kalau kamu mau ikut aku ke kantor cabang ayo, kita sama-sama. Biar kamu percaya, bahwa aku gak ada apa-apa. Jangan ungkit masalah itu Gie, itu kekurangan kita yang sangat sensitif."
Memikirkan sesuatu yang gak jelas jadi kayak buang-buang energi percuma dan aku orang yang selalu ingin kejujuran meskipun itu pahit.
"Kamu gak lupa 'kan, syarat sebelum kita menikah dulu. Sekali aja kamu selingkuh, sekali aja kamu sentuh tubuh wanita lain selain aku, kita selesai Mas dan gak ada maaf untuk itu."
"Ya, aku ingat dan selalu ingat karena aku hanya cinta sama kamu!"
Berusaha untuk percaya lagi dan lagi tanpa keraguan demi keutuhan rumah tangga kami.
***
Kami makan malam di tepi jalan dekat area pantai. Lagi asyik bercanda, mamanya nelepon lagi dan jawabannya "Sama Gie, iya, gak bisa, ya udah, gak apa, aku pulang besok sama Gie."
Aku nggak bertanya apa yang mamahnya tanyakan karena bagiku itu wajar, positif thinking aja. Seorang ibu menelepon anaknya yang sedang berada jauh di luar kota. Mungkin ada sesuatu yang dia mau tetapi nunggu si anak pulang. Suamiku adalah satu-satunya anak yang berhasil di keluarganya. Kebutuhan orang tuanya pasti dia menanggung.
Hari ini kami habiskan waktu bersama, dari pagi sampai malam. Entah apa yang harus dia lakukan sebenarnya. Sampai akhirnya dia malah ajak aku jalan-jalan dan besok kami pulang.
Aku masih pengen menguji dia banyak hal. Tapi kayaknya dia telihat tenang meski wajahnya gak selow. Apa sih yang ada dalam otak aku ini. Saat kecurigaan menjadi dasar utama sebuah hubungan, maka tidak akan pernah berhenti hingga kejelasan itu nyata. Di saat harusnya aku libur tapi malah otak aku yang gak libur.
"Halo, ngapa?"
Euis menelepon dan berkata bahwa si hakim temanku itu ada di sini juga dan menginap di hotel yang sama. Mereka sekarang sedang makan malam bersama.
"Dia sama siapa?"
"Bini dan anaknya, lu kemana sini dong. Suami lu ada 'kan."
Aku melirik suamiku yang mengedikkan dagu, bertanya. "Ilham ada di sini juga dan teman-temanku ngajak kita bareng."
Dia menggelengkan kepala dan aku tahu banget dak gak suka sama Ilham. "Kami di pantai pulangnya masih lama. Kalian aja, have fun."
Selesai bicara dengan Euis suamiku pun buka suara, "Setiap kamu pergi ke suatu tempat, selalu ada dia. Pantas gak kalau aku curiga, kalian berdua terlalu match making. Kok kesannya dia nguntit, sok pengen jadi sesuatu gitu?"
"Sesuatu apa, udahlah, malas dibahas, entar jadi ribut."
"Nah cewek selalu begitu 'kan, kalau kena cowok pastinya gencar nuduh, dituduh balik, eh langsung marah."
Duh, gini kalau ada si hakim itu, bikin kesel. Ngapain sih dia kemari!
"Aku gak marah, cuma malas aja."
Malas untuk membahas sesuatu yang gak mendasar. Karena aku dengan si hakim itu, hanya sebatas teman dan kami tanpa drama. Ketemu cuma kalau ada klien sidang, suamiku udah kayak gini cemburunya. Apalagi kalau dia satu kantor sama aku.
***
"Duh baru nongol! Ke pantai gak ngajak-ngajak, serasa bulan madu dikekepin melulu—" protes Pipit, meski sudah aku sogok udang bakar dan kerang-kerangan sebagai oleh-oleh. Gak enak juga mereka aku abaikan karena ada suamiku.
"Ya 'kan, gue gak boleh nolak permintaan suami. Entar kalau gak disanggupi, suami cari yang laen, salah gue dong. By the way Pak Hakim ngapain kemari?" tanyaku, melemparkan tubuh ke atas ranjang, memperhatikan mereka yang sedang asyik makan.
"Oh, tahu gak, dunia ini sempit. Si Rheina kakak iparnya dia," jawab Euis.
Aku menganga tak percaya. "Terus dia jenguk gitu, kalian ikutan nggak?"
"Dia gak jenguk katanya cuma jemput istrinya." jawab Pipit.
"Oh jadi istrinya gak ada karena datangi si kakak. Pantasan dia ngajak gue makan siang berdua di apartemen," kataku dan mereka melotot menatapku.
"Haa, dia ngajakin elu, wah gawat, lu berdua 'kan udah lepas segel entar malah—"
"Eh, otak lu ... udah ah capek. Gue balik ke kamar ya." Lama-lama mereka ngelunjak malah mau ingatkan aku masa lalu dengan si hakim itu.
"Eh tunggu Gie. Tadi lu di jemput pakai pajero hitam 'kan, itu suami lu?" kata Pipit, otakku langsung curiga.
"Iya kenapa?"
"Mobilnya udah di parkiran depan dan langsung jemput lu. Ngapain dia di rumah sakit? Jenguk si Rheina juga?"
Astaghfirullah, ini kok jadi teka-teki yang gak berujung sih. Emosi aku up and down dalam sekejap. Disaat mulutnya mengumbar kata manis, aku meleleh. Ketika sentuhannya menenangkan aku, aku lupa semuanya. Dan saat fakta buruk menyerangnya, aku bergegar.
"Mobil Pajero 'kan banyak, Is. Lagian dia kenal Rheina, kenapa gak bilang kalau jenguk."
"Nih ya, gue hapal nomornya 4545 nah lu turun dan cari mobil yang suami lu pakek. Karena gue lihat mobil itu pas di lampu merah di belakang kami dan lu kirim pesan 'kan, gue langsung lihat ke belakang. Dan nomor platnya oke banget sama kayak plat mobil yang muter saat kami masuk ke dalam taksi. Dan si Rheina itu katanya kerja di bank bagian kredit, mungkin aja anak buah laki lu, ya 'kan," analisa Euis, bikin aku merinding sampai ke otak.
"Kayaknya nggak di bank suami gue, dia pasti cerita kalau anak buahnya Rheina teman gue," kataku dan langsung keluar kamar. Mulut bisa tegar membantah tapi otak yang curigaan nggak bisa hanya diam doang. Aku berlarian menuju parkir. Mencari kemana mobil itu. Semua mobil aku telusuri dan seingatku mobil itu di sini, kok sekarang di tempati mobil lain. Atau dia gak ada, dia pasti pergi. Duh, HP di kamar pula.
Tubuhku berputar cepat dan segera balik ke kamar. Dia pasti diam-diam pergi sebelum aku kembali ke kamar. Mungkin dia pikir aku lama ngobrol sama mereka. Kamu gak bisa tipu aku, kamu gak bisa!
Aku tekan bel berkali-kali karena aku gak bawa kunci lalu pintu dibuka, dia menganga, "Kenapa, kok kamu segitunya sih nekan bel, kayak orang nagih hutang tahu gak."
Ya Allah, aku su'udzon. Euis pasti matanya jereng! Kurang asem banget, gegara dia aku benar-benar kayak orang bodoh!
"Kamu kenal Rheina 'kan teman aku, dia katanya kerja di bank bagian kredit, di bank kita bukan?"