Chapter 17 – I miss U
Rain sudah menceritakan seluk beluk keluarga Adeline pada orangtuanya terutama ayahnya. Meskipun ayahnya sangat membebaskan Rain, ia tak ingin latar belakang keluarga Adeline menghambat bisnisnya. Mengetahui bahwa Adeline justru berasal dari keluarga sederhana membuat Robert lega. Tinggal bagaimana Rain menjelaskan dirinya pada calon istrinya atau mau menutup selamanya.
“Bagaimana dengan kepribadiannya Rain? Apa yang membuatmu jatuh cinta pada gadis itu?” Maria yang sedari awal penasaran anaknya tengah jatuh cinta akhirnya melempar pertanyaan itu.
“Dia gadis yang mandiri, lembut, periang, tapi kadang galak sekali. Membuatku gemas memandanginya.” Rain tersenyum sendiri membayangkan tingkah Adel.
Tentu saja Rain tak akan menceritakan adegan panas yang dulu sempat terjadi antara mereka. Ia sedikit menyesal telah melecehkan gadis manis dan pintar itu. Dulu dia sangat bergelora, sedangkan sekarang ia sudah bisa mengerem hasratnya meskipun harus menahan sakit. Tak dipungkiri hanya berdekatan dengan Adel sudah membuat gairah Rain bergelora.
“Sepertinya kau sangat mencintainya nak.” Maria bahagia sekali melihat anaknya.
“Sangat, ma. Bahkan kalau ada kata yang lebih dari itu aku akan mengatakannya.” Rain masih tersenyum. Ia merindukan Adel.
“Apa dia juga mencintaimu?”
Deg.
Senyum Rain perlahan memudar. Ia tak memikirkan sudut pandang Adel. Ia hanya mengerti kalau cintanya harus jadi miliknya, tak peduli mau atau tidak ia akan memaksanya. “Sepertinya tidak ma.”
Maria menarik nafas dalam. “Belum, sayang. Kau tau, kau dan papamu sama saja. Tak tau cara memperlakukan wanita.”
“Maksudnya?”
“Mama dulu tak pernah mencintai papamu. Tapi papamu melakukan segala cara untuk mendapatkan mama. Bahkan papamu mengancam akan membunuh seluruh keluarga mama kalau tidak mau menikah dengannya. Kejam sekali bukan?”
Rain terkekeh sinis. Bak pinang dibelah dua, bahkan kelakuan papanya dan dia sama persis.
“Mungkin kekejaman papa menurun padaku.”
“Rain dengarkan mama. Apapun yang telah kau lakukan padanya, jagalah dia tetap disisimu. Kau tau kan resiko saat menarik masuk dalam hidupmu? Dirinya adalah kelemahanmu. Jangan sampai kau hilang kepercayaan padanya.”
Rain sangat tau resiko yang akan dihadapi Adel. Dan ia berjanji akan menjaga Adel dengan nyawanya sendiri.
“Aku janji ma. Aku akan menjaganya dengan nyawaku.”
Maria senang anaknya sudah bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Lebih dari 30 tahun hidup bersama suaminya bukan hal yang mudah. Ia sering dihadapkan dengan suara tembakan, diculik, dipukuli, bahkan beberapa kali hampir diperkosa. Tak jarang dia difitnah telah berselingkuh untuk menyakiti hati suaminya. Dia adalah kelemahan suaminya. Dan kunci dari semua itu adalah percaya. Bahwa sebenci apapun dia pada suaminya dulu, dia percaya kalau hanya Robert yang akan merelakan nyawa untuk menyelematkan dirinya. Begitu juga dengan suaminya yang sangat percaya bahwa maria tak akan pernah mau disentuh lelaki lain.
***
Adeline sedari tadi hanya menscroll ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan masuk. Biasanya tengah hari seperti ini ada kiriman aneh ke kantornya, membuatnya malu didepan rekan kerjanya. Akhir-akhir ini tidak ada hal itu lagi. Iya. Adel mulai terbiasa dengan keanehan Rain. Harusnya dia bahagia sekarang hidupnya normal sejenak, tapi nyatanya tidak. Did I miss u?
“Apa yang kau pikirkan, Del. Bodoh sekali. Harusnya kau senang hidupmu normal kembali.”
“Sudahlah. Harusnya kau bahagia.” Gumam Adeline. Iya memaksa bibirnya tersenyum dan mengatur nafas.
BOOMMMM!
“Astaga.” Jantung Adel berdetak tak karuan.
“Jangan melamun. Bisa mati muda.”
“Tiara. Kau yang membuatku mati muda.”
Adel terkejut saat Tiara menepuk pundaknya. Tiara gemas melihat sahabatnya yang dari tadi melamun di pojokan memandangi view diluar kantor dari balik jendela cafeteria. Kantor mereka memang didesain cozy sehingga sesekali Adel dan beberapa rekan lainnya memilih kerja di cafeteria agar lebih santai.
“Aku melihatmu melamun dari tadi. Aku jadi iseng.”
Tiara menarik kursi di depan Adel. “Kau bisa cerita apapun. Ayolah. Kau masih tak percaya padaku?”
“Bukan begitu. Ini terlalu rumit untuk diceritakan. Bahkan aku tak tau awal mulanya dari mana.”
“Aku siap mendengarkan, Del. Trust me.”
Adel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar.
“Tir, ini tak semudah itu.”
“Pasti tentang Mr. Colline atau boleh ku panggil Rain?” Tiara melempar senyum nakal ke Adeline.
“Tutup mulutmu. A-aku…. Akuuu…. Tak memikirkan dia. Akuuu….” Tiara tergagap.
Tiara terbahak-bahak mendengar sahabatnya itu. “Bahkan aku belum menanyakan itu. Jelas sudah sekarang.”
“Ti—tidak. Kau ini apa-apaan menuduhku sembarangan.”
Tiara memutar bola matanya. “Sudahlah. Kalau cinta bilang saja. Jangan pelihara gengsimu, tak bisa beranak.”
“Huuuuhhhh…. Kenapa sih jadi semakin rumit.” Adeline menghentak-hentakkan kakinya, mengacak-acak rambutnya.
Tiara yang melihat kelakuan sahabatnya itu jadi geli sendiri. Temannya sangat gengsi mengakui perasaannya.
***
“Sebaiknya kau ubah sikapmu. Jangan childish.”
Jerry menatap tajam anaknya yang masih terbaring di kasur. Kakinya sudah tak lagi digantung, namun gipsnya belum bisa dilepas. Bekas luka diwajahnya pun sudah berangsur pulih. Tinggal tangan kiri dan kakinya yang butuh pemulihan.
“Pa, aku sangat mencintai Adeline. Sudah bertahun-tahun.”
“Kau tega menghancurkan cinta pertama anakmu sendiri, pa?”
Junno merengek seperti anak kecil agar ayahnya mengasihaninya.
“Cinta? Kau anak kemarin sore membahas cinta padaku? Sudahlah masih banyak wanita yang lebih baik diluar sana.”
“Tapi aku hanya mencintainya, Pa. aku hanya mau dia.”
Jerry menarik nafas dan menghembuskan kasar. Tak disangka anaknya akan menjadi penghalang bisnisnya. Ia tak akan tinggal diam. Bisnisnya lebih dari segalanya.
“Tidak. Aku membiarkan memiliki siapa saja kecuali Adeline. Kau tau berurusan dengan siapa? Kau tak hanya menghancurkan papa dan perusahaan yang papa bangun seumur hidup papa. Kau juga menghancurkan hidupmu sendiri.”
“Aku tidak peduli, pa. Aku akan bawa dia pergi dari Amerika. Aku akan hidup berdua dengannya di kota kecil dan membangun hidup disana. Please, pa.”
Junno menahan air matanya. Sedangkan Jerry sudah mengepalkan tangannya, menahan emosi.
“Kau ingin membunuhku? Hanya demi wanita? Anak macam apa kau?”
Jerry sudah tak tahan lagi dengan sikap anaknya yang keras kepala. Dia tak akan tinggal diam.
“Bukan seperti itu, pa. Papa punya anak buah yang siap mati untuk papa. Mereka akan mengalahkan lelaki itu pa. Makanya aku tak mengkhawatirkan papa.”
Plakkk.
“Anak kurang ajar. Tak sadar diri kau siapa yang membesarkanmu dengan peluh berceceran.”
Junno meringis menahan sakit tamparan ayahnya.
“Menyesal aku membesarkan anak tak tau diri sepertimu. Kalau aku tau kan akan kurang ajar seperti ini, ku bunuh saja kau dulu diperut ibumu.”
Jerry melangkah meninggalkan Junno dikamar. Emosinya tersulut dengan kelakuan anak semata wayangnya.
“Perketat penjagaan. Tutup semua akses keluar. Jaga anak itu 24 jam. Kalau sampai dia kabur maka kepala kalian sebagai gantinya.” Jerry meninggalkan para bodyguardnya dipintu kamar Junno.
Junno terpancing emosi setelah mendapat tamparan pertamanya dari sang ayah. Tak disangka ayahnya malah membela pria yang bukan siapa-siapa.
Sialan kau Rain. Akan ku rebut apa yang harusnya menjadi milikku.