Chapter 19 – I’m Back

1166 Words
Setelah pertemuannya dengan Junno tadi malam jujur saja membuat Adeline bimbang. Ingin sekali percaya dengan Junno, sahabat yang selalu ada untuknya. Tapi Rain adalah calon suaminya, meskipun terpaksa. Tak mungkin sahabatnya membohonginya, selama ini mereka selalu bersama. Lebih dari 6 tahun bahkan. Ditambah kondisi tubuh yang hampir hancur meyakinkan sekali kalau Junno dianiaya. Dan hanya Rain yang punya kuasa macam itu. Jika benar Rain membohonginya, Adel tak akan memaafkan Rain. “Bagaimana mungkin aku harus mencintai pria yang mau membunuh sahabatku? Ini gila.” Adeline menghentakkan kaki meluapkan kekesalannya. Kenapa dia bisa termakan omongan Rain malam itu? Padahal jelas-jelas saat itu Rain yang ada dikamar bersama Adel. “Bodoh! Bodoh sekali Adel. Kau bahkan masuk dalam perangkap pria b******k itu. Mana mungkin orang dulu mau melecehkanmu dengan mudah menjadi orang baik. Mimpi kau Adel.” Sejak tadi Adel bergumam dengan dirinyas endiri. Memaki dirinya yang bodoh percaya pada Rain. Kini dia sudah masuk perangkap Rain dan menghitung hari dia akan dinikahi pria sinting itu. “Aku harus membatalkan pernikahan ini. Aku harus bilang pada Mommy kalau Rain hampir membunuh Junno.” Adeline bersiap menyusul orang tuanya di butik. Sebelum semuanya terlambat dan dirinya menjadi boneka Rain, ia harus segera membatalkan semuanya dan pergi jauh. Dengan baju kasual dan celana jeans, ia menyambar sling bang dan kunci mobil. Ia bergegas keluar rumah. Dan… “Holla, my fiancé.” Rain kini tengah duduk santai di sofa ruang tamu Adel. “Atau sebaiknya ku panggil kau calon istriku tersayang.” Rain membentangkan tangannya seakan ingin Adel harus segera memeluknya. Tentu saja kehadiran Rain mengejutkan Adel. Bagaimana bisa rumahnya masih terkunci rapat saat orang tuanya pergi tadi pagi. Bahkan kunci rumahnya ada ditangannya sendiri saat ini. “Ba-bagaimana…” “Bagaimana aku masuk ke rumah calon istriku?” Smirknya mencuat, tatapan matanya seperti predator yang ingin menelan mangsanya. “Bahkan rumah satu kawasan ini bisa aku masuki kalau aku mau.” Adel kesal degan sikap Rain yang tiba-tiba muncul dengan cara konyol seperti ini. Ditambah lagi pria ini hampir membunuh sahabatnya. “Kau tak punya sopan santun? Bahkan kau gunakan kekuasaanmu untuk hal seperti ini. Amat disayangkan Mr. Colline.” Kalimat Adel semakin membuat Rain tertawa dan ingin segera memulai permainannya. “Kau semakin cantik saat marah sayang. Kau membuatku semakin merindukanmu.” Rain kini berjalan mendekati Adel yang masih mematung. Jaraknya hanya beberapa senti dari Adel. Ia tersenyum pada calon istrinya itu, namun bukan senyum bahagia tapi senyum penuh kelicikan. “Kau tak ingin menyambut kepulangan calon suamimu?” “Cih. Untuk apa aku menyambut orang jahat sepertimu?” Adel membuang muka. Benci sekali menatap pria itu dari jarak dekat. “Padahal aku sudah memimpikan kau menyambutku, memelukku dengan erat dan….” “Apa?” Adel semakin melotot Rain tak melanjutkan kalimatnya. “Bercinta sehari penuh.” Bisik Rain ditelinga Adel. Adel makin terbelalak dan amarahnya makin tersulut. “In your dream, Mr. Colline. Bahkan aku tak sudi kalaupun itu hanya mimpi.” Ucapan Adel mengundang gelak tawa Rain. Adel yang kemarin luluh benar-benar kembali liar. Saatnya kembali menjinakkan mangsa bukan. “Kau benar-benar menguji kesabaranku, sayang. bukankan kau tau aku bukan orang yang sabaran?” “Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Aku harus pergi.” Adel berjalan keluar meninggalkan Rain. Beberapa saat tangannya dicegat dengan tubuh kekar. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan Rain.” Rain menyeret Adel keluar rumah menuju ke mobilnya. Tentu saja Adel memberontak namun usahanya tak menghasilkan. Tenaganya kalah. “Ikut saja dan berhenti memberontak. Itu hanya menyakitimu.” “Kau… kau yang menyakitiku.” Rain membanting tubuh Adel di kursi mobil dan segera menyuruh supir menjalankan mobilnya. Sangat jarang Rain membawa supir pribadi kalau bukan urusan penting. Itu artinya saat ini dia akan melakukan hal penting. “Kau gila. Turunkan aku.” Adel mencoba membuka pintu mobil yang saat ini sudah berjalan. Sia-sia saja semuanya gagal. “Tenanglah dan turuti semua ucapanku. Maka kau akan aman.” Ucap Rain santai tanpa melihat Adel. “Siapa kau ingin mengaturku. Aku bukan budakmu yang akan menuuruti semua omong kosongmu.” Seyuman sinis muncul disudut bibir Rain. Tangannya menggenggam erat dagu Adel seperti ingin menelannya hidup-hidup. Matanya sudah berapi-api. “Haruskah kau ku jadikan budakku agar kau menuruti perintahku.” Rain membanting tubuh Adel ke arah yang berlawan dengan tubuhnya, membuat Adel terbentur pintu mobil. “Ahhhh… Dasar pria gila. Aku bahkan tak sudi berada didekatmu. Aku akan batalkan pernikahan kita.” “Batalkan kalau kau bisa.” Rain terkekeh. Mobil Rain menyusuri hutan yang sangat sepi. Bahkan jalanan yang dilalui banyak melalui persimpangan. Jika Adel diturunkan dijalan jelas tak akan bisa pulang. Suara lolongan hewan buas bersautan padahal hari baru menjelang siang. Mobil berhenti disebuah bangunan kuno berwarna serba putih. Bangunan ala eropa itu seperti lama tak dihuni, sepi dan menyeramkan. Anehnya penjagaan di bangunan itu justru lebih ketat dari mansion milik Rain. Tanpa aba-aba Rain menarik Adel keluar dari mobil ke dalam bangunan itu. “Sakit Rain, lepaskan.” Seperti tak mendengar ucapan Adel, Rain tetap menyeret paksa tubuh Adel hingga tiba di anak tangga yang seolah tak ada ujung. Rain membopong tubuh ramping Adel layaknya karung beras. “Ahhhh lepaskan. Kau benar-benar gila Rain. Kau mau apakah aku?” Pekikan Adel menggema diseluruh ruangan. Pandangan Adel sedikit membuat pusing dan tak jelas karena digendong terbalik. Bahkan akan dibawa kemana ia tak tau, hingga ia mendengar bunyi ting dan ia masuk ke sebuah ruangan mewah bergaya yunani. Ruangan itu seperti kamar eksklusif dengan berbagai teknologi yang dirancang khusus. Terlihat dari pintu yang harus menggunakan akses, bahkan dinding putih polos yang bisa disentuh dan berubah menjadi jendela transparan meperlihatkan betapa indahnya taman dibelakang gedung tua itu. Sangat berbeda dengan tampak luarnya. “Sudah puas teriaknya? Percuma tak ada nada yang mendengarmu.” Rain membanting tubuh Adel ke kasur kingsize. “Apa yang kau rencanakan sialan? Kurang ajar sekali kau.” Adel menunjukkan emosi yang berapi-api. “Kau perlu ku amankan dari aura jahat yang akan mempengaruhi pikiran cantikmu, sayang.” Rain menyeringai dan menggelakkan tawa mengerikan. Adel benci dengan tatapan itu. “ Satu-satunya aura jahat disekitarku hanya kau. Tak berkaca?” Gelak tawa Rain kembali menggema di ruangan itu, begitu juga dengan Adel yang semakin benci. “Aku mau pulang.” Adel bangkit dari kasur dan berjalan santai menuju pintu keluar. Ia melewati Rain yang hanya berdiri santai, langkah Adel terhuyung hampir saja tubuhnya mencium lantai murmer jika tak ditangkap sepasang tangan kekar. Jelas saja jatuhnya Adel karna ulah Rain yang menjegalnya. “Ups. Kau tak berhati-hati sayang.” Rain kembali membanting tubuh Adel ke kasur. “Sebaiknya kau tetap diam hingga pernikahan kita. Jangan coba-coba memberontak apalagi kabur. Itu hal yang mustahil.” Rain mengambil langkah keluar ruangan itu, dengan cepat pintu tertutup. Adel yang masih bingung mengapa tiba-tiba ia dikurung di gedung tua itu berlari ke arah pintu, namun itu tak bisa membuat pintu terbuka. Adel menggedor pintu berkali-kali dan tak ada yang menyauti. “Buka pintunya, jerk. Kau harus jelaskan semuanya.” “Sialan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD