Chapter 4 - Takdir yang disengaja (part 2)

1356 Words
Adel masih tak tak sadarkan diri di kamar mewah seperti hotel dengan kasur yang sangat empuk, ruangan berwarna serba putih itu menghipnotis pikirannya. Apa aku sudah disurga? Aku sudah mati? Adel perpikir demikian. Tentu saja tidak. Ia mendapati tangan kirinya terpasang infus, itu berarti dia tidak mati. Ia lega sekali masih bia merasakan aliran cairan bening itu mengalir menyusuri nadinya. Tapi tak tampak seperti kamar rumah sakit pada umumnya. Di sebelah kasur empuknya itu terdapat meja kecil, terdapat sebuah rangkaian bunga tulip cantik berwarna kuning dan putih. Adel sangat menyukai bunga tulip. Diraihnya bunga itu, ia menghirup dalam aroma yang masih segar. Didalam bunga itu terdapat sepucuk surat bertanda pemberinya. Dear, Ms. Adeline Pejamkan matamu, nikmatilah hujan membasuh tubuhmu. Maka kebahagian menyembuhkanmu. Lot of Love, Mr.Colline “Rupanya dari Mr. Colline. Perhatian sekali beliau, bertemu pun belum” Adeline tersenyum tanpa memikirkan arti pesan itu. Baginya itu hanya surat ucapan cepat sembuh yang biasa dikirmkan pada orang sakit. Pintu kamar tebuka dari arah luar. Suster dan beberapa alat untuk memeriksa masuk. “Permisi nona, saya akan cek tekanan darah anda. Silahkan berbaring.” Suster itu menuntun Adel lembut kembali merebahkan tubuhnya. “Suster, dimana saya sekarang? Apa yang terjadi pada saya?” Adel melempar pertanyaan bertubi-tubi karena penasaran. “Anda dirumah sakit nona. Anda tadi pingsan saat dibawa ke UGD, anda mengalami gejala tyfus namun tidak parah.” Suster itu menjelaskan. “Ini tidak seperti rumah sakit sus. Apa saya harus rawat inap disini? Saya merasa sudah enakan dan tidak mual lagi.” Adeline tak ingin lama-lama dirawat meskipun ruangan ini lebih bagus berkali-kali lipat dari kamarnya. “ini ruang khusus VIP, nona. Hanya tersedia 2 kamar dirumah sakit ini dan hanya digunakan oleh orang-orang khusus. Ruangan ini didesain seperti hotel romawi dan memiliki pengamanan khusus. Jika anda memerlukan apapun silahkan tekan tombol call di remote yang terletak dimeja, nanti akan ada suster yang khusus untuk membantu kebutuhan anda.” Suster itu menjelaskan lebih detail dan semakin membuat bingung Adel. “tapi saya bukan orang khusus. Saya tidak punya andil apapun dipemerintahan atau staff perdamaian dunia. Akupun tak sanggup membayar ruangan sebagus ini” Adel semakin bingung dan mengacak-acak rambutnya. Meskipun adel hidup berkecukupan, namun keluarganya tak sekaya itu. Orang tuanya hanya memiliki butik dibeberapa tempat namun hidup mereka cukup sederhana. Ia tak biasa dengan kehidupan mewan didepannya ini. Sontak suster itu menahan tawa karena tingkah Adel yang tak seperti wanita seusianya. “Tenang nona. Semuanya sudah dilunasi. Anda hanya tinggal menjalankan perawatan saja. Saya permisi” Ucap suster itu ramah, membungkukkan badan dan pergi meninggalkan ruangan. “Suuussss, tunggg……” Adel menampar pipinya berkali-kali dan masih beranggapa ini mimpi. Tak mungkin orang tuanya mau mengeluarkan uang cuma-cuma hanya untuk membayar ruangan. “Siapa yang mengerjaiku dengan uangnya. Pasti dia ingin membelitku dengan hutang agar aku membayar bunga tinggi. Ahh sialll. Lintah darat.” Adel geram karena pikirannya kacau. Dibalik itu semua ada lelaki yang sedari tadi tertawa mendengarkan Adel yang meracau tak jelas. Rain tertawa geli dengan tingkah laku wanita pujaannya itu. Unik sekali tak seperti wanita lain yang berusaha menggodanya dengan tubuh molek. Rain memasang alat sadap diruang rawat Adel agar dia tau perkembangan kondisinya, tak lupa juga ia memasang beberapa alat sadar di barang-barang Adel untuk membuat wanita itu selalu terkoneksi dengannya. Obsesi Rain untuk memiliki Adel membuatnya melakukan hal-hal yang tak nyaman dan jika wanita itu tau pasti akan mengutukinya sepanjang hidup. Adel yang ingin hidup bebas tak bisa dikekang, namun Rain jauh lebih kuat untuk membuatnya tetap dalam dekapannya. ** Sedari tadi Adel gelisah karena mala mini ia harus menghadiri acara pertunangan sahabatnya, Tiara dan Tommy. Namun ia bingung bagaimana harus keluar dari ruangan itu karena penjagaan didepan pintunya sangat ketat oleh pria berpakaian serba hitam, berkaca mata hitam dengan pena di saku baju kiri atas. Rekan kerjanya pun tak diijinkan masuk ke ruangan. Hiks. Hiks. Huuuuuuu……… Suara tangisan yang kencang dan tersedu-sedu itu muncul dari sudut ruangan Adel sekarang. Ia menangis sekencang-kencangya, sedikit histeris dan menatap ke bagian luar rumah sakit. Langsung saja para penjaga masuk dan mendapati Adel menangis sejadi-jadinya, terkulai dilantai dengan memegangi tiang infusnya. “Apa yang terjadi nona? Anda sakit? Mari saya bantu kembali ke ranjang anda.” Salah satu pria berbaju hitam itu mengulurkan tangannya untuk membantu Adel bangkit. “Aku akan panggil suster.” Ucap pria lainnya. Adel tak bereaksi apapun, tak merespon bantuan dari pria itu. Hiks. Hiks…. Tangisnya mulai mereda. “Nona, apa yang bisa saya bantu?” Penjaga itu bingung harus bagaimana. Adel merakin nafas dalam-dalam. Menghembuskan perlahan. “Huuuuhhhh……” “Aku ingin berjalan-jalan ke taman. Aku bosan disini. Ditaman itu indah sekali, aku akan senang melihat banyak kupu-kupu disana.” “Baiklah aku akan membawamu kesana.” Penjaga itu kembali mengulurkan tangan untuk membantu Adel. “Tidak. Aku tak mau. Kalian menyeramkan sekali. Aku takut anak-akan akan ketakutan dan kalian membuat mereka tidak nyaman.” Adel bicara dengan dingin tanpa memandang sedetikpun kearah penjaga itu. Lagi pula siapa sih kalian. Aku tak mengenal kalian. Tak usah sok baik didepanku. Hati Adel benar-benar tak suka dengan keberadaan mereka. “Tapi nona. Saya diperintahakan untuk……” “Saya tidak peduli. Lagipula siapa majikanmu berani sekali mengaturku. Dan kau tak bisa bekerja denganku. Aku tak sanggup membayarmu.” Adel semakin geram. Suster yang dipanggil oleh penjaga yang lain muncul dan membantu Adel untuk berdiri. “Suster, tolong bawa aku ke taman itu. Aku stress sekali disini.” “Tapi nona, ada sedang dalam….” Suster itu bingung harus bagaimana. Adel sangat keras kepala. “Baiklah. Aku akan kesana sendiri.” Adel langsung berdiri merapikan baju dan tampilannya bersiap turun ke taman. Suster itu langsung memegang tangan Adel. “Akan saya temani nona. Saya ambilkan kursi roda dulu, anda sedang dalam pemulihan jangan banyak berjalan dulu.” Kenapa harus berdebat dulu kalau ujungnya kalian mengikuti permintaanku. Adel kesal sekali, namun ia senang karna mereka akhirnya kalah. *** “Indah sekali, nak. Apa kau yang memetiknya?” Adel menghampiri anak kecil yang sedang bermain ditaman. Anak perempuan yang cantik dan imut tersenyum padanya. “Iya kak. Aku suka bunga. Aku akan membawanya ke kamarku.” Ucap anak kecil itu dengan polos. Bibir pucatnya seolah menunjukkan kesakitan yang amat lama. “Kau sakit apa sayang?” Adel mengelus rambut panjang lurus anak tersebut. Rasa iba muncul melihat anak sekecil itu sudah harus mendekam di rumah sakit. “Dadaku akan dioperasi agar aku bisa bernafas.” Anak itu mengatakan dengan polos tanpa ada rasa sedih. “Kakak yakin kamu anak hebat, mungkin sebaiknya kamu istirahat agar besok berjalan lancar.” Adel menatap sendu anak itu. Ia tersenyum pada anak itu tapi hatinya sakit mendengar kondisi bocah tak berdosa itu. “Kakak akan minta tolong suster untuk mengantarmu dan memastikan kamu sampai ke kamar.” “Thank you kakak cantik.” “You’re welcome manis.” Adel melambaikan tangan ke suster dan meminta tolong untuk mengantar anak itu. “Tapi nona, saya disini untuk menjaga anda.” Suster itu terlihat panic dan takut karena ia ditugaskan khusus untuk Adel. “Kau itu petugas medis, kau menjaga seluruh pasien. Bukan hanya aku. Kau melanggar sumpah jabatanmu?” Adel meyakinkan suster itu. Urusan berdebat dan negosiasi dia memang sangat ahli, pantas saja ia selalu menjadi anak kesayangan Mr. Park untuk menjalin hubungan dengan kolega khusus. “Baik nona, mohon jangan kemana-mana sampai aku kembali” Suster itu pamit undur diri dan menggandeng anak kecil itu. Akhirnya rencana Adel untuk kabur dan mengelabuhi suster itu berhasil meskipun harus mengorbankan anak yang tak tau apa-apa. Sengaja ia meminta suster yang mengantar agar ia lebih mudah menjalankan rencananya. Sebenarnya Adel masih penasaran dengan siapa orang yang memfasilitasi rumah sakit untuknya. Dia sangat ingin berterimakasih untuk itu namun ia juga risih karena ini terlalu berlebihan sedangkan ia tak mengenal orang itu. *** “Kau ingin bermain-main denganku, ha?” Suara keras itu menggema keseluruh ruangan. Semua orang di ruangan itu tertunduk. Rain marah besar mendengar kabar Adel hilang saat ditaman dan ia sekarang sedang mengintrogasi suster yang membawa Adel. “JAWAB!!!!! Kau bersekongkol dengan dengan Adel ha?” Rain geram sekali dan meluapkan emosinya ke suster itu. Ia mencengkeram rahang suster yang telah tergeletak dilantai kamar Adel, menangis tersedu-sedu. “T-ti… dak tuan. Saya sumpah tidak melakukan itu.” Suster itu ketakutan, suaranya bergetar. “LALU KENAPA BISA KABURRR?” Plakkkkkk. Rain menampar pipi kanan suster itu hingga tersungkur ke lantai. “Bangun dan katakana yang sebenarnya.” Rain mulai mengontrol emosinya yang sudah memuncak diubun-ubun. “Jangan merengek, Bit*h.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD