Suara alunan musik klasik mengisi penuh ruangan, orang-orang mulai berdatangan dari berbagai kalangan. Pesta pertunangan Tiara dan Tommy sudah dimulai di sebuah ballroom di salah satu hotel ternama di pusat kota New York.
“Sorry, Tir. Aku telat, tadi harus balik kantor buat ambil dress sama dompet.” Adel akhirnya sampai ke pesta pertunangan sahabatnya.
Ia rela kabur demi sahabatnya tercinta. Ia tak mau temannya merajuk karena tak menepati janji. Sebenarnya Tiara akan sangat mengerti jika sahabatnya tidak hadir apalagi menyangkut kesehatan.
“Ya ampun, Del. Harusnya kau di rumah sakit. Kenapa bisa sampai kesini? Are you kidding me?” Pekik Tiara yang shock dengan kehadiran sahabatnya itu.
“Aku kan sudah janji apapun yang terjadi pasti hadir. Lagipula aku sudah diinfus dan lihat aku sekarang. Sudah kembali menawan.”
“Cuiiihhh… PD sekali kau. Ingin ku remas mulut besarmu.” Tiara geram sekali dengan tingkah Adel yang tak tau malu itu. Untung sayang.
“Hahaha…. Bercanda sayang. Aku memang tak mau kelamaan disana. Lagipula ada hal yang ganjil jadi lebih baik aku tak terjerumus terlalu dalam.” Kata Adel dengan cuek dan tak mau menambah beban hidupnya.
“Maksudnya? Coba jelaskan lebih detail.” Tiara jadi penasaran namun tak mengerti maksud sahabatnya. Adel tak terlalu terbuka tentang masalah hidupnya bahkan dengan sahabat karibnya.
“Lupakan. Aku sudah tak peduli. Anggap saja tak pernah terjadi.” Begitulah cara Adel mengurangi beban hidupnya. Kalau terlalu ribet sudah pasti akan menghindar dan melupakan, kecuali masalah jodoh yang selalu dibahas ibunya tentu.
“Baiklah. Kalau kau butuh bantuan bilang saja, aku akan minta Tommy menyelidiki kasusmu. Ia punya banyak teman yang berbakat dibidang itu.” Sebenarnya Tiara penasaran namun ia menghargai Adel untuk tak mengusik hal pribadi apalagi dirasa tak penting.
Mereka berdua asyik mengobrol sampai lupa kalau Tiara menjadi tuan rumah dan harus menyapa banyak tamu.
“Sayang, kenapa kau asyik disini ha. Apa tak puas bertemu tiap hari dikantor? Masih bergosip di pesta juga?” Tommy menghampiri tunangannya itu pura-pura kesal dan gemas.
“Astaga, sorry sayang. Adel mengajakku bergosip.” Tiara sedikit menahan tawa melirik karna menumbalkan sahabat karinya.
Sontak Adel melotot dan meletakkan kepalan tangan ke pinggang rampingnya itu. “Wahhhh… bisa-bisanya kau menumbalkan aku. Teman macam apa kau?” Adel kesal sekali dengan Tiara yang menyalahkan dirinya. Begitulah cara bercanda ala mereka. “Sini ku pukul kau!”
“Sayang, dia galak sekali seperti nenek sihir.” Canda tiara pura-pura takut dengan tingkah Adel dan bersembunyi di balik Tommy.
“Aku seperti sedang bermain dengan balita. Sudahi bercanda kalian oke, ku perkenalkan kau dengan temanku.” Tommy menyudahi tingkah kedua wanita kocak itu.
“Bro, kemarilah. Kuperkenalkan calon istriku.” Tommy berbalik melambaikan tangan ke seorang pria.
Pria itu tinggi berbadan atletis, berjalan tegap menghampiri mereka bertiga. Mukanya yang tegas dan tatapan mata tajam membuat hati wanita luluh seketika. Setelan jas berwarna hitam menambah kesan maskulin pria itu hingga kedua wanita itu kaku tak berkutik.
“Astaga, tampan sekali.” Tiara sampai menutup mulut dengan kedua tangannya takut tunangannya ini tersinggung.
“Hallo ladies, nice to meet you.” Pria itu tersenyum menyapa kedua wanita cantik dihadapannya.
Degg.
Adel benar-benar terpaku dengan pria ini. Ia tak mampu berkata-kata, darahnya seperti berhenti mengalir.
Rain.
Itu Rain. Pria yang sudah ia kubur dalam-dalam kenangannya. Bahkan kalau bisa dimusnahkan, Adel akan memusnahkan kenangan itu, bahkan manusianya. Adel tak berkutik, kenangan masa lalunya muncul seketika. Tampak jelas diingatannya bagaimana lelaki ini hampir merusak hidup Adel dengan arogansi dan jabatannya. Kalau ada kasta dalam rasa benci, ia memilih kasta tertinggi.
“Hai, nona. Aku Rain. Senang bertemu denganmu, semoga kita berteman.” Rain menjabat tangan Adel dan Tiara. Namun matanya tak lepas dari bunga idamannya itu. Senyumnya menyiratkan banyak makna yang tak dimengerti.
Aku kembali sayang. Setelah ini tak ada yang menghalangiku. Semburat senyum nakalnya membuat Adel merinding.
Rintangan apalagi Tuhan. Aku lelah. Adel menahan air mata yang hampir jatuh dan mulutnya bergetar. Ia tak mau temannya tau tentang masa lalunya yang dikubur dalam sendiri. Bahkan orang tuanya pun tak tau masalah ini. Ia menelan semuanya sendiri.
“Kau tak ingin membalas sapaanku nona? Kejam sekali kesan pertamamu.” Rain menunjukkan muka seolah kecewa dengan wanita yang baru dilihatnya itu. Padahal sudah memperkirakan reaksi Adel dan tepat sekali. Sangat mudah bagi Rain menyusun strategi untuk Adel, dia sangat tau karakter wanita ini.
Apa? Aku kejam? Dasar b******n. Tak tau diri. Adel benci sekali pria itu membalikkan fakta.
Tiara langsung menyenggol lengan sahabatnya itu. “Del, jawab. Aku tau dia sangat tampan tapi jangan mempermalukanku dan Tommy.” Bisik Tiara.
“Hai. Adel.” Ia enggan membuka mulut apalagi berbincang dengan Rain.
“Ini teman kuliahku. Sekarang sudah jadi konglomerat tersohor di negeri ini. Sangat membanggakan. Kerjasama kita harus terlaksana, bro.” Tommy menepuk pundak Rain dengan bangga.
“Pasti terlaksana. Kita sudah deal tentang itu, bro.” Rain menjawab tanpa melepas tatapan kearah Adel.
“Kerjasama?” Tiara tak tau menahu persoalan ini.
“Rain dan aku sepakat untuk melakukan kersama pada produk terbaru kita. Bukankah project ini tim kalian yang pegang?” Kata-kata Tommy benar-benar mengejutkan kedua wanita itu.
“Maksudnya?” Adel benar-benar tak mengerti dengan perkataan mereka.
“Cosmetics of the years, project kerja sama kita.” Rain benar-benar merasa kemenangan memihak padanya.
“A.aa apa? Cos… meticss.” Seperti tamparan keras dihati Adel. Pikirannya benar-benar tak kacau. Ia teringat sesuatu. “Mr. Colline?”
“Mr Colline? Yeah, it’s me. Rainold Colline.” Wajah bahagia Rain tak dapat disembunyikan lagi. Ia tersenyum lebar penuh kemenangan.
Bagai tertimpa langit runtuh, Adel tak mampu lagi berkata. Ia benar-benar tak mengerti dengan semua hal yang terjadi. Lebih tepatnya ia tak mau kembali terjebak dengan permainan manusia gila sejenis Rain.
“Baiklah, aku dan tiara akan berkeliling menemui tamu kita. Kalian silahkan berkenalan.” Tommy menggandeng tangan pasangannya mendekat.
“Mangsa emas jangan sampai lolos, Del.” Tiara menggoda Adel yang dibalas dengan pelototan dan meninggalkan dua orang itu.
Adel dan Rain masih terdiam dan enggan memulai bicara. Rain telah berhasil menampar hati adel yang sudah ditata kembali.
“Sebegitunya mengagumiku, Flo.” Kalimat penuh kebahagian dengan senyum menyungging Rain.
“Namaku Adeline. Anggap ini tak pernah terjadi dan kita tak pernah saling kenal.” Adel menata setiap kalimat agar tak terpancing emosi. Ia sudah ditahap ini, ia tak mau kembali emosional.
“Kau menjadi lebih baik sekarang. Aku suka kedewasaanmu.” Tubuh Rain mendekati Adel, tangannya menyisipkan rambut Adel ke belakang telinga.
Adel yang sudah kokoh tak mau jatuh lagi. Ia menepis tangan Rain. “Jangan berani menyentuhku, dan jangan muncul dihadapanku lagi. Jijik.”
Rain tersenyum sinis. Tidak ada orang yang berani memerintahnya apalagi wanita. Kata kasar pun tak akan mempan untuk membuatnya marah. Malah ia akan semakin tertantang.
Ia menarik paksa tubuh Adel mendekat ke tubuhnya. Tangannya dilingkarkan ke pinggang Adel dan membuat mereka berdansa. Adel yang masih shock dengan tindakan Rain tak bisa mengambil ancang-ancang dan terbawa ke lantai dansa.
Adel berusaha melepaskan tangan kekar Rain namun gagal. Kekuatannya tak sebanding dengan pria itu dan ia takut pergerakannya yang atraktif akan mendapat perhatian dari tamu lain. Ia tak mau merusak acara penting sahabatnya. Kali ini ia harus mengalah.
“Kau semakin cantik. Aku suka.”
Adel bahkan tak mau menatap wajah tampan Rain. Ia menunduk.
Rain yang semakin gemas mendekatkan wajahnya ke wajah Adel. Sangat dekat bahkan Adel tak dapat menghindar lagi seakan bersiap akan diserang. Rain menarik dagu Adel, menatap matanya intens membuatnya terpaku dengan kecantikannya.
“Aku merindukanmu.”
Deggg.
Adel benar-benar terkejut, ia tak tahan lagi. Pria ini ingi meusak hidupnya lagi. Ia mengerti semuanya bukan kebetulan. Ini adalah hal yang terencana. Rain menyusun semuanya mulai dari kontrak kerjasama, rumah sakit, dan sekarang ia sudah masuk perangkap.
Setelah kalimat yang membuat muak itu keluar dari mulut Rain, Adel langsung mendorong pria itu menjauh dan berlari. Ia benar-benar takut jika hal yang dulu terulang lagi.
***
Adel beristirahat disalah satu kamar yang telah dipesan Tiara dan keluarga untuk istirahat karena acaranya sampai malam. Ia bilang ke tiara bahwa dia ingin istirahat namun sahabatnya itu tak mengijinkan pulang.
Anggap saja ia bersembunyi dari Rain.
Ia ingin memejamkan matanya sebentar melupakan hal yang baru saja terjadi. Meskipun tak mudah namun ia berusaha membuat dirinya rileks dan tertidur.
Tuhan, musnahkan b******n itu dari muka bumi ini. Doanya sebelum tertidur.
***
Rain tak mau lengah lagi kali ini. Ia mencari Adel ke seluruh sudut ruangan namun tak ketemu. Kau ingin bermain kucing dan tikus? Baiklah, baby.
Rain meminta B-one untuk mengecek CCTV mencari keberadaan Adeline. Ya, hotel mewah ini adalah miliknya. Ia leluasa melakukan apa saja dihotelnya. Tak mudah bukan lepas dari pandangannya?
Tak berapa lagi, B-one mengabari Rain jika Adel masuk ke salah satu ruangan yang telah dipesan oleh keluarga Tommy. Senyum kemenangan mencuat dibibir seksinya.
Siapkan kuncinya. Pesan terkirim ke B-one.