Adel masih tertidur nyenyak sampai merasakan ada bayangan besar diatas tubuhnya. Ia merasa ada seseorang yang menyentuh tubuhnya.
Hantu? Adel berpikir demikian.
Adel merinding ketakutan, ia sudah terbangun dari tidurnya namun tak berani membuka mata. Ia merasakan wajahnya dielus lembut dari pipi, dagu dan bibirnya. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri jika benar itu hantu, lalu perlahan membuka mata.
Betapa terkejutnya ternyata bukan bayangkan hantu. “Rain.”
“Hai sayang, apa aku membangunkanmu? I’m sorry.” Bisik Rain ditelingan Adel.
Tubuh Adel yang terlentang di kasur membuat Rain leluasa menggagahi tubuh mungilnya. Tubuh Rain mengapit badan Adel dengan kedua kakinya, menindih tubuh Adel dan menyandarkan kepalanya di d**a Adel.
“Apa-apaan ini Mr. Colline. I’m your client. Be nice with me.” Adel berusaha mendorong tubuh Rain tapi gagal, kekuatannya tak sebanding.
Rain tetap tenang dan semburat senyum muncul dibibir manisnya itu. “Tenanglah dan biarkan seperti ini saja. Aku sangat merindukanmu, Flo.”
“Jangan harap. Enyah dari tubuhku.” Emosi mulai menyerang Adel, nada bicaranya sudah meninggi.
“Sttttt… Please, please. I’ll be nice, baby. Just keep calm, I just wanna hug you.” Rain masih memejamkan mata memeluk dan bersandar di d**a Adel.
“Cuiihhh… Siapa kau berani memerintahku? Jangan mimpi.” Adel benar-benar murka, ia meludahi rambut lelaki itu.
Sontak Rain mengangkat kepalanya dari d**a Adel, ia geram kenapa wanita itu tak bisa menurut sebentar saja. “Jangan kau bangunkan singa tidur. Kau tau kan apa yang terjadi kalau aku marah?” Suaranya serak dan giginya sampai mengertak.
“Kau pikir aku takut? Aku bukan orang yang bisa kau permainkan dulu, aku akan lawan orang yang menyakitiku, termasuk kau bangsat.” Nada bicara Adel sudah mencapai naik satu oktaf.
“Kau salah baby, aku tak mau menyakitimu. Justru aku ingin membahagiakanmu sampai akhir nafas.” Rain berbicara dengan tegas dan terdengar mengerikan. Obsesinya yang membaca benar-benar tepancar dimatanya seolah ingin menelan hidup-hidup manusia didepannya.
Adel tak mau meladeni pria itu, ia berusaha melepaskan tubunnya dari dekapan Rain. Ia meronta-ronta, berteriak sekencang mungkin tapi tak ada hasil. Hanya membuat ia kehabisan tenaga dan tenggorokannya sakit.
Ia baru menyadari kalau ia tak dikamar yang ditidurinya tadi. Ia dikamar yang berbeda.
Saat Adel masih terlelap tidur, Rain sengaja memindahkan Adel ke kamar khusus yang sengaja dibuat jika ia ingin menginap dihotelnya itu. Kamar itu didesain seperti apartemen mewah, dilengkapi dengan sistem kedap suara sehingga tak mungkin suara Adel terdengar. Apalagi kunci kamar mewah itu menggunakan finger print sehingga hanya Rain yang bisa membuka.
Saat Adel kelelahan dan kehabisan tenaga, ia tak sanggup lagi berteriak. Melihat kesempatan ini, Rain langsung menyerang Adel. Ia melumat bibir Adel yang sedikit terbuka karena kehabisan nafas, ia menggigit sedikit hingga lidahnya menerjang masuk bertemu dengan lidah adel.
Adel memukul-mukul d**a Rain karena ia hampir kehabisan nafas, Rain langsung memegang tangan Adel mengaitkan ke atas tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia melepaskan ciuman panasnya itu.
Adel yang kehabisan nafas segera menghidup udara sebanyak mungkin, membuat dadanya bergerak naik turun. Senyum menyeringai mencuat di wajah Rain.
Tak berhenti disitu saja, Rain menarik dasinya dengan satu tangannya dan mengikat kedua tangan adel ke tiang sandaran kasur. Adel berteriak meronta untuk dilepaskan namun lagi-lagi gagal.
Kiri tangan Rain leluasa melakukan apapun.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan.” Adel meneriaki Rain.
“Kalau kau tidak menentangku, aku tak perlu melakukan hal seperti ini Flo. Kau harusnya sudah tau watakku. Kenapa kau masih saja keras kepala. Sekarang terima akibatnya.” Rain berkata dengan mimik muka serius.
Rain masih mengapit tubuh Adel dengan kedua kakinya. Ia mulai beraksi. Kembali bibir ranum Adel dilumat dengan paksa karna si empunya tak mau membuka mulut. Tangan rain mulai menggerayangi tubuh Adel dari tangan yang diikat turun kebawah hingga ke pinggang. Tangannya menjalar keperut adel, mengelus dengan lembut, bibirnya didekatkan ke telinga Adel. “Sebentar lagi disini aka nada darah dagingku.”
Adel mulai mengeluarkan air mata. Ia tak tau lagi harus bagaimana untuk melepaskan diri. “Jangan mimpi. Aku tak sudi.” Suaranya bergetar menahan air mata.
Rain kembali menatap Adel dan mengelus rambutnya perlahan, senyum kemenangan terpancar. “Jangan menantangku. Kau tak akan sanggup. Mau atau tidak pasti akan terjadi.” Suaranya manis namun terdengar kejam.
Ia kembali melumat bibir adel dengan ganas, memaksa untuk membuka mulut dan lidahnya menerjang masuk bergulat dengan lidah adel. Tangannya naik keatas meremas p******a adel yang masih tertutup dress Sabrina.
Adel tak bisa menahan gejolak yang muncul didalam dirinya. Ia sangat benci diperlakukan seperti itu apalagi dengan b******n ini, namun ia juga tak menampik bahwa ia hasrat didalam dirinya yang ingin haus sentuhan lelaki.
Ia merasa akan membenci dirinya sendiri kalau ia menikmati.
Tak puas dengan memasan brutal yang dilakukan kepada Adel, Rain menarik sabrina milik Adel hingga sebatas pinggang. p******a Adel yang menyembul terpampang nyata, bersih putih dan mulus, bentuknya yang padat dengan ukuran yang lumayan besar membuat nafsu birahi Rain naik.
“Wahhhhh…. Aku rindu sekali dengan ini.” Rain meremas brutal p******a Adel dan kembali melumat bibir wanita itu.
“Ssss—sak—iittt.” Adel yang berusaha menolak ciuman itu pun hanya bertahan beberapa dekit saja. Rain berhasil menerjang masuk dan kembali beradu lidah.
Rain benar-benar tak melewatkan sedetikpun tangannya beristirahat. Ia ingin menikmati setiap inci tubuh adel.
Tak berhenti disitu saja, ia menyusupkan kedua tangannya ke balik bra tanpa pengait dengan cup setangah yang membuat p******a Adel semakin mencuat. Ia memilin kedua p****g yang bersembunyi dibalik itu, mempermainkan hingga mengeras.
Tak dapat dipungkiri Adel pun sudah terangsang dengan tindakan Rain, namun akal sehatnya masih sadar dan berusaha menolak meskipun sebenarnya ingin sekali menikmati. Rain sangat handal dalam hal bercinta.
Rain yang tidak puas akhirnya membuka kaitan bra itu, dan terpampanglah p******a ranum wanita itu. Rain tersenyum menikmati pemandangan indah dihadapannya. Rain menyusu di p******a kanan Adel, memainkan lidahnya diputing dengan ganas sambil tangannya tetap meremas. Tangan satunya pun memainkan p****g satunya.
“Ahhhhhh… ja…ngaaann… Please……” tubuh adel beradu antara menikmati dan menolak sentuhan itu.
Rain yang sudah tau bahwa Adel sudah terpancing tak menggubris dan tetap menggencarkan aksinya.
Setelah ia merasa puas dengan itu, kini tangannya bergerilya kebawah. Meletakkan tangannya diantara paha adel dan melepas Sabrina. Kini tubuh Adel hanya tertutup CD yang sudah basah.
“So wet, baby.” Rain menunjukkan senyum kemenangannya lagi, menyisipkan tangannya kedalam CD adel dan memainkan kacangnya dengan lembut.
“Please… don’t… ahhhhmmpphh….” Adel benar-benar ingin mendesah namun ia berusaha menahan.
“Kau tak akan tersiksa jika kau mau menikmatinya. Bukankah ini nikmat?” rain berbicara halus dan kembali menyusu dipayudara yang satunya, tangannya masih bergerak dengan cepat dibawah.
Shit. Benar-benar nikmat. Adel memejamkan matanya. Ia tak mampu berkata apapun lagi, hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.
“I wanna come to you baby.” Bisik Rain dengan bibir yang masih sibuk dengan p******a Adel.
“Please, jangannn… please.” Adel yang sudah tak tahan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Ia mengutuk dirinya sendiri karna menikmati ini semua.
Rain melepaskan tubuhnya dari Adel, menarik nafas panjang. Ia sebenarnya tak tega melihat Adel seperti itu, namun ia kesal karena Adel sebenarnya menikmati namun tak mau mengakui.
Apa ia menyerah? Adel berpikir saat Rain menghentikan semua aksinya.
Beberapa detik kemudian Rain berdiri dari tubuh Adel, menuruni ranjang dan menatap Adel yang tengah terbaring diatas ranjang. Setelah melihat adel menenangkan diri, ia mulai bertindak lagi. Rain melepas CD Adel hingga sekarang seluruh bagian tubuhnya benar-benar terekspos. Terlihat liang surgawi mulut terawat tanpa bulu itu mengembung sedikit basah.
Rain yang melihat itu tersenyum lagi. Sebentar lagi ia akan memiliki wanita ini sepenuhnya.
“Aaaaaaa… Sialan kau. Aaaaaa…..” Adel benar-benar histeris. Ia mengapitkan dan mengunci kedua kakinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia tak mau hal yang paling sensitif itu dinikmati oleh lelaki b***t seperti Rain.
Rain dengan sigap membuka kedua paha Adel, dengan perlawanan yang cukup kuat pula akhirnya berhasil. Ia benar-benar tak memperdulikan perasaan Adel saat ini. Ia mengagumi betapa wanita itu menjaga dirinya, terpampang liang surgawi merah mudah yang merekah meningkatkan birahinya. “Sekarang kau milikku.”
“Please… Please… don’t.” Adel sudah tak tau lagi harus bagaimana. Sudah segala perlawan ia lakukan namun tak berhasil. Suaranya semakin lirih penuh dengan air mata deras membanjiri pelipisnya.
Rain tak peduli lagi dengan Adel. Dia segera melumat kasar inti tubuh wanita itu. Menjilati setiap incinya, memainkan, sesekali menyedot kacangnya. Tangan bermain dengan p******a, satunya lagi memainkan jarinya dan diusap-usap ke pinggiran labia minor seperti bersiap ingin menerobos masuk.
“Ahhhhmmphh… please… don’t.” Suara Adel semakin lirik bercampur dengan desahan. Sensasinya berbeda dengan saat bermain single. Rain memang sangat main dalam hal seperti ini, tak dipungkiri meskipun Adel terus melawan namun merasakan juga dahsyatnya kenikmatan yang diberikan.
Adel memejamkan matanya, ia pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Segalanya sudah ia lakukan namun tak berhasil. Air mata yang sedari tadi mengalir pun tak kunjung henti.
Rain yang sedari tadi menikmati keindahan surga menyadari wahwa Adel tak melawan lagi. Namun ia masih kesal karena Adel benar-benar menahan desahannya yang terkadang sesekali kelepasan.
Setelah puas, Rain menghentikan tindakannya. Ia bangkit lalu melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Adel. Melihat pujaan hatinya memejamkan mata, menangis tanpa suara, akhirnya meluluhkan hatinya. Ia sedikit iba dengan kondisi seperti itu.
Rain menjatuhkan tubuhnya disamping Adel, tangga memeluk pinggang Adel, satu tangan lain meremas lembut d**a itu dan sesekali memainkan putingnya.
“Hei, buka matamu. Aku ingin bicara.” Suara lembut Rain sangat berbeda dengan perlakukannya tadi.
Tak ada pergerakan dari Adel. “Hey, kau ingin aku melakukan lebih dari itu? Kalau tidak, maka turuti aku.” Nada bicaranya mulai membentak karna gemas.
Adel membuka mata, menatap Rain yang sedari tadi tak berpaling darinya. Namun taka da satu kata pun yang terlontar.
Rain mendekatnya wajahnya ke Adel. Mencium kening, kelopak mata, pipi dan terakhir bibirnya. Lalu ia menyatukan kening dan hidungnya ke pujaan hatinya.
“Aku tak mau menyakitimu, Flo. Please, jangan membantahku lagi. Aku minta maaf karena kasar kepadamu. Itu karna aku gemas sekali dengan kau yang selalu melawanku. Be cooperative then I’ll be gentle, okay?” suara Rain kembali melembut dan seutas senyum muncul.
Rain benar-benar merasakan jatuh cinta kembali.
Adel masih terdiam seribu bahasa. Ia tak mampu berpikir jernih dikondisi saat ini. Jika ia kembali melawan, ia takut Rain akan kembali nekat dan menyutubuhinya secara paksa, meskipun sebenarnya ia ingin. Namun ia juga takut menjawab ‘iya’ karena Rain pasti memanfaatkan kondisi dan ia makin masuk dalam perangkap.
Rain mengusap air mata Adel, membelai lembut pipinya lalu beralih ke rambut Adel. Ia kembali mengecup bibir Adel namun kali ini lebih lembut dan penuh perasaan. “Aku tak akan menyutubuhimu kalau kau tak mau, Flo. Biarkan aku tetap memelukmu sepanjang malam. Jangan membantahku. Aku takut kelepasan lagi.”
Rain beranjak dari tempat tidur dan mengambil minum untuk Adel. Ia yakin Flo, panggilan sayang untuk Adel, sangat kehausan. Namun ia membubuhkan obat tidur di dalam minuman itu. Ia ingin Adel istirahat dengan tenang, namun ia yakin jika ikatannya dilepas pasti akan berusaha kabur.
“Ayo minum dulu, kau sangat lelah. Aku tak akan melakukan lebih dari yang tadi. Mari kita istirahat, besok akan kuantar kau pulang.”
Adel yang sedari tadi kehausan tak berpikir apapun lagi. Ia butuh minum, terserah jika ada racunnya. Ia meminum perlahan air dengan bantuan Rain. Setelah sesata ara kantuk yang amat sangat melanda.
“Tuh kan, jika kau menurut aku memperlakukanmu amat sangat baik. Semoga sekarang kau mengerti.” Rain mengusap lembut rambut Adel dan mencium kening, hidung, bibir Adel. “Sleep tight, baby. I love you.”
Adel sudah masuk kea lam bawah sadarnya, saatnya Rain melepaskan semua pakaiannya dan menyisakan boxer ketat menmbentuk kaki indahnya. Ia merebahkan diri disebelah Adel, mengusap lembut seluruh wajahnya, memeluk Adel dan menyusul tidur.