Chapter 7 - Masa lalu

2127 Words
Masa Lalu *3 tahun yang lalu* Adeline masih kuliah disalah satu universitas ternama jurusan Public Relations. Sebelum mengambil skripsi, ia diwajibkan mangang terlebih dahulu. Adel termasuk mahasiswa yang berprestasi sehingga dosen pembimbingnya memberikan rekomendasi perusahaan terbaik yang bekerja sama dengan kampus. Sesuai aturan kampus, mereka harus mengikuti seminar magang agar mendapat gambaran, setelah itu mengisi formulir pendaftaran dan menyebutkan 3 perusahaan yang sangat diminati. “Ada rencana magang dimana, Del?” Tanya pria yang duduk disebelah adel saat seminar. Pria itu tinggi dengan perawakan kurus, selalu memakai kacamata memberikan aksen yang smart dan menawan. Junno. “Mr. Joni merekomendasikanku beberapa perusahaan, aku masih mempertimbangkan semuanya karna bagus-bagus sekali. Aku malah takut tak diterima kalau terlalu tinggi.” Adel menjawab santai. “Bagaimana kalau kita magang bersama. Aku malas kalau harus magang sendiri dan jadi bulan-bulanan senior.” Junno adalah sahabat dekat Adel. Mereka selalu mengambil kelas yang sama. “Kau ingin menguntitku? Sampai kapan kau mengikuti semua cara belajarku? Kau tak mau menentukan jalan hidupmu sendiri?” Adel berdecak kesal selalu dibuntuti pria ini dari semester awal. “Menurutku mengikutimu adalah yang terbaik, kau selalu memikirkan semua matang-matang dan terbukti aku tertular kecerdasanmu. Hehehe.” Junno menjawab seolah tak masalah. “Justru itu kau selalu bergantung padaku. Apa kau tak mau mengambil jalan yang berbeda? Atau yang lebih menantang?” Adel heran dengan temannya yang satu ini. “Pilihanmu selalu terbaik. Kalau aku memilih yang lain berarti aku menurunkan standart hidupku.” Junno seolah tak bersalah selalu membuntuti sahabatnya itu. “Terserah kau.” Adel beranjak dari kursi dan menuju ke tempat pendaftaran. Junno memang memendam rasa pada sahabatnya sejak awal bertemu, namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya. Ia takut jika perasaannya bertepuk sebelah tangan dan menjauh satu sama lain. Ia berharap suatu saat bisa mengungkapkan perasaannya namun entah kapan. Adel tak menunjukkan tanda-tanda yang lebih dari sekedar teman. *** Hari pertama magang. Akhirnya Junno dan Adel berhasil magang diperusahaan yang sama, CL’ Company. Perusahaan ini direkomendasikan oleh Mr. Joni sebagai pembimbing Adel dan Junno. Perusahaan ini merupakan donatur terbesar dikampus. Junno berhasil merayu Mr. Joni untuk menjadi pembimbing magangnya dengan dalih ingin mangang diperusahaan yang sama. Padahal ia hanya ingin selalu bersama Adel, konsultasi bersama. Benar-benar seperti penguntit. “Permisi, saya Adel mahasiswa magang dari Collegue University. Ini hari pertama magang, saya harus menemui siapa?” Adel bertanya ke resepsionis di Lobby. “Sebentar saya hubungi pihak HRD dulu.” Resepsionist itu langsung menelpon HRD. “Resepsionis speaking, ada mahasiswa magang yang menunggu disini.” Langsung ke lantai 17. “Baik. Terimakasih.” Resepsionis itu menutup telepon segera. “ Miss Adeline dan Mr. Junno, silahkan langsung ke lantai 17 menemui atasan kami. Disana ada tim HRD menunggu.” Resepsionis mengarahkan Adel dan Junno ke lift khusus tamu karna belum memiliki kartu akses. Adel dan Junno mengikuti resepsionis menuju lift dan menemuni HRD yang sudah ready menunggunya. “Hallo saya Adel dan ini teman saya juno, saya mahasiswa magang.” Adel menyalami staff tersebut. “Oke Adel, Juno. Sekarang kita menghadap dulu ke CEO. Setelah itu baru menentukan tugas kalian masuk ke bagian apa.” Staff tersebut menjelaskan dan berjalan menuju ruangan tersebut. Tok tok tok. “Masuk.” Suara pria yang notabene CEO mempersilahkan mereka masuk. Pintu dibuka dan pria itu masih tak menggubris kedatangan mereka. Ia masih berkutat dengan laptop karena pekerjaannya. Maklum, ia sangat selektif memilih sekretaris jadi kalau ia tiba-tiba memecat sekretarisnya otomatis harus dihandle sendiri. “Permisi, Bos. Hari ini ada mahasiswa magang dari kampus bapak, Adel dan Juno.” Staff HRD itu memperkenalkan. “Sebentar.” Bosnya itu masih berkutat dengan laptop beberapa saat. Setelah itu memandangi mereka satu per satu keatas ke bawah, tak ada yang istimewa. “Ok. Saya Rain. Biasanya karyawan disini memanggil saya Bos atau Mr. Rain. Terserah kalian.” Rain menjelaskan dengan dengan datar. “Baik pak, rencananya mereka akan ditaruh ke personalia.” Staff HRD itu menjelaskan. Rain mengelus dagunya dengan satu tangan seperti sedang memikirkan sesuatu. “Begini, yang wanita takeover sekertarisku. Yang laki-laki silahkan ke HRD.” “T-tapi, pak. Kita kekurangan….” “Dan kalau saya keteteran kamu nggak bisa makan.” Rain memotong omongan karyawannya itu dan kembali berkutat dengan laptopnya. “Baik pak. Saya dan Junno permisi. Adel saya serahkan ke bapak.” Staff HRD itu undur diri membawa Junnor pergi. Adel bingung harus melakukan apa. Ia masih mematung diambang pintu ruangan Rain. Ini hari pertamanya bekerja, ia benar-benar tak tau harus melakukan apa. Apalagi ia tba-tiba dijadikan sekretaris, ia jadi tak punya teman dan tak tau harus bertanya pada siapa. “Aku tak membayarmu jadi manikin.” Rain akhirnya membuka suara. “E…eee… begini pak, jobdesk saya apa saja ya. Saya belum tau pekerjaan sekertaris.” Adel berbicar terbata-bata karna takut dan akward. Rain mengambil nafas dalam-dalam, menghembuskan kasar. “Mejamu ada diluar, namun hari ini kau diruanganku saja. Banyak pekerjaan yang terbengkalai dank au harus membantuku. Jangan terlalu kaku, aku tak suka.” Rain menjelaskan. Hari pertama magang, Adel mendapat tugas yang sangat banyak karena sekertaris sebelumnya sudah dipecat beberapa hari yang lalu. Tugasnya menumpuk dana del harus segera menyelesaikan. Sesekali ia bertanya kepada Rain dan pria itu menjelaskan dengan detail dan sabar. Beruntunglah Adel orang yang cerdas jadi mudah sekali mengajarinya. Ketengkasan dan cara kerja Adel sangat membantu Rain. Terkadang Adel harus pulang overtime karena Rain belum selesai meeting dan beberapa file harus ditandatangani secepatnya. Adel tak mengeluh sama sekali dengan bosnya itu. *** Beberapa minggu mereka bekerja bersama, Rain sangat senang dengan hasil kerja Adel. Ia sangat cekatan dan rapi. Beberapa kali mereka tampil ke meeting bersama atau makan siang bersama. Maklum saja, Adel tak memiliki teman kerja sehingga sering makan sendirian atau makan overtime. Adel sering bekerja diruangan Rain dan kerjasama mereka sangat bagus. Ia juga sangat senang dengan bosnya meskipun terlihat garang didepan karyawan, namun sebenarnya ia sangat baik dan perhatian. “Flo, hari ini kita ada acara dinner ya. Kamu jangan pulang dulu.” Rain yang sedari tadi berkutat dengan laptop begitu juga Adel. Rain memang memanggil Adel dengan sebutan Flo. Menurutnya itu lebih manis dan berbeda dengan orang lain. “Baik bos. Tapi saya ijin sebentar ke bawah bertemu dengan Junno pak. Saya takut dia menunggu saya. Kasian.” Adel sekarang sudah sangat santai dengan bosnya itu. “Kamu dan Junno pacaran?” Rain menghentikan aktifitasnya dan memandang Adel serius. “Tidak, tidak. Saya tidak mungkin dengan dia. Kita bersahabat sejak lama, sudah seperti saudara sendiri.” Adel benar-benar membayangkan jika hal itu terjadi, ia bergidik ngeri. “Baguslah.” Rain tersenyum menyeringai, melanjutkan kembali kerjaannya. “Apa bos?” Adel merasa tak salah dengar namun ragu. “Tidak ada.” *** Mobil Rain berhenti di sebuah hotel mewah. Adel yang duduk disebelahnya langsung membuka pintu mobil diikuti Rain. Mereka berjalan menuju resto mewah di hotel tersebut. Rain menggenggam tangan Adel yang terkejut akan perlakuan bosnya itu. “Tenang saja, jangan tegang.” Adel mendengar itu berusaha menata hatinya agar tetap berlaku professional. Ia tak mau terbawa perasaan hanya karna mereka bergandengan. Lagi pula usia mereka terpaut jauh, Adel yakin bosnya itu tak menganggap lebih hubungan mereka. Meskipun kadang Adel mengagumi Rain. Tiba di sebuah ruang VVIP yang telah tertata rapi. Meja panjang terlihat indah dengan riasan ala fine dining hotel mewah. Nuansa romantis dengan lilin menghiasi meja, hampir seluruh ruangan dihiasi warna merah memberikan kesan erotic. “Apa klien kita belum sampai bos?” adel mengerutkan dahinya heran. “No, ini dinner kita berdua.” Rain menarik kursi untuk Adel juga untuknya bersebahan. “Hah? M-mak-sudnya?” Suara Adel hampir tak terdengar karna shock berat. “Aku tak bisa basa basi, Flo. I want you.” Rain dengan sigap mencium bibir Adel, memegang kedua lengan wanita itu dan menariknya lebih dekat. Adel tak berancang-ancang akan terjadi hal itu. Ia hanya berusaha mendorong badan Rain menjauh namun gagal. “Lepaskan.” Suaranya benar-benar tak terdengar karna lumatan ganas dibibirnya. Rain benar-benar tak memberi celah pada Adel, meskipun ia tau gadis itu hampir kehabisan nafas. Keinginnya untuk memiliki gadis itu benar-benar tak dapat dihalangi oleh siapapun. Adel pingsan karena kehabisan nafas, namun Rain masih meneruskan ciuman itu. *** Adel tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya di sebuah kamar mewah. Ia terkejut karena dirinya sudah tak menggunakan sehelai kain di tubuhnya. Ia melirik kesegala arah menemukan Rain tengah berdiri di dekat jendela. Rain yang mengetahui Adel sudah sadar langsung sigap melompat ke ranjang menindih gadis itu dan menciumi wajah Adel. “Apa yang kau lakukan bos. Tolong lepaskan saya. Anda mabuk bos.” Adel berusaha tetap menghargai bosnya itu, ia berpikir bosnya hanya kalut. “Aku berusaha memiliku, Flo. I want you. I love you.” Rain berbisik dengan muka yang sangat b*******h. Ia seperti ingin memakan Adel hidup-hidup. “Bos, saya mohon lepaskan saya sekarang. Saya akan melupakan semuanya. Tolong lepaskan.” Adel memohon agar tak merusak hubungan antara bos dan dirinya. “Aku tak bisa menunggu lagi. Kamu harus jadi milikku malam ini dan seterusnya.” Rain benar-benar jauh dari apa yang dipikirkan oleh Adel. Ia jadi brutal dan arogan, bebeda dengan Rain dikantor yang sangat perhatian dan sabar mengajari hal baru. Adel yang mulai terpancing emosi akhirnya meluapkan semua. “Dasar sialan. Aku bukan wanita murah yang bisa kau pakai seenaknya. Kalau kau ingin diriku maka dekati aku dengan cara manusiawi bukan seperti ini.” Adel masih berusaha mendorong tubuh itu namun tak ada hasil. Rain mendengarnya malah mengeluarkan senyum menyeriangai. “Kau tak perlu mengajariku. Seperti inilah caraku memilikimu dan membuatmu tetap disisiku.” Rain langsung melumat ganas bibir Adel, terkadang menggigit bibir bawahnya agar terbuka dan mendorong masuk lidah Rain ke mulut gadis itu. Adel hanya bisa menangis karna perlawannya tak bisa menandingi kekuatan pria berotot itu. Rain beralih menciumi leher dan turun ke d**a indah milik gadis itu. Ia bermain di puncak Everest, mengulum dan menyedot ujungnya, terkadang menggigit tipis membuat Adel menggelinjang geli. Adel sangat menjaga dirinya dan tak pernah dijamah lelaki. Hal yang dilakukan benar-benar membuat ia merasakan sensasi yang sangat berbeda. Ia merasakan kenikmatan namun rasa takut yang lebih besar menyadarkan bahwa hal ini salah. Tetesan air mata mulai membanjiri wajah Adel. Rain tersenyum melihat tangisan itu, menghapus lembut air mata yang menetes. “Nikmatilah. Aku orang yang bertanggung jawab atas semua tindakanku.” Senyum kemenangan tersungging disudut bibir Rain, ia melanjutkan bermain dengan gunung kembar Adel. Tangan yang satu sudah menjalar ke bawah menyentuh gundukan indah milik adel. Adel yang kegelian dengan tindakan Rain langsung mengapit pahanya agar tangan Rain tak bisa menyentuhnya. Namun bukan Rain kalau tak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Tenaga Rain lebih besar dan tangannya berhasil menerobos. Tangan Rain bermain dengan kacang indah Adel, membuat tubuh wanita itu bergetar hebat. Ia memasukkan satu jarinya ke dalam lubangnya, menusuk dan bergerak keluar masuk perlahan. Adel berteriak sejadi-jadinya. Rasa sakit yang sangat amat dibagian bawah akibat ulah tangan Rain membuat ia memekik kesakitan. Ini kali pertama bagian bawahnya dimasuki seperti itu. Bahkan ia tak pernah melakukannya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya. Rain mendengar Adel berteriak benar-benar mengganggu gendang telinganya. Ia bangkit dan menamar pipi Adel bergantian. Adel terkejut dan tenaganya melemah. Tak disangka orang yang dihormatinya memperlakukannya sekasar itu. “Jangan kau membuat aku seperti memperkosamu. Atau ku jadikan itu kenyataan.” Rain geram dan nada bicaranya meninggi. Adel tak bisa berkata-kata lagi, tenaganya habis dan ia tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Rain melihat kondisi Adel membuat ia berpeluang lebih. Ia segera melucuti pakaiannya, melepaskan pisangnya tak sedari tadi menegang bergerak bebas. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera mengarahkan pisangnya ke liang surga Adel dan sontak terpekik karena sakit yang amat sangat. Adel merasakan benda besar memaksa masuk inti tubuhnya yang masih tersegel. Rain sedikit kesusahan karna inti gadis itu sangat sempit dan harus beberapa kali coba dan berhasil. Adel kesakitan karna tindakan rain, darah mengalir keluar akibat paksaan itu. Adel terkulai lemas dan hanya bisa pasrah dengan semua tindakan Rain. Rain tetap melancarkan aksinya. Ia memompa dengan cepat pisangnya, menikmati tubuh gadis itu tanpa perlawanan hingga ia merasakan pisangnya berkedut kencang ingin menyemburkan benih cintanya. “Ahhh ahhh…” Lengkungan keras Rain yang semakin menggencarkan pompanya dan menyemburkan benihnya didalam tubuh Adel. Ia tak segera mencabut pisangnya, membiarkan masih berbenam ditubuh Adel. Ia menciumi Adel dengan lembut dari dahi hingga bibir. Adel tak bergerak sedikitpun dengan tindakan Rain. “Ah sial. Dia pingsan.” Rain menjatuhkan diri di samping butuh Adel dan memeluknya. “Padahal aku ingin bilang ‘will you marry me’? tapi kau sudah KO duluan.” Rain berbisik ditelinga Adel. Rain memejamkan matanya menyusul Adel ke mimpi indah. *** Rain terbangun karena sinar matahari yang menerjang masuk ke kamarnya. Ia mengulat ke arah Adel ingin memeluk gadisnya dan memberikan morning kiss, berharap mendapatkan jatah lebih dari itu. Namun ia tak mendapati gadis itu disebelahnya. Ia melihat sekeliling dan memeriksa kamar mandi. Adel telah pergi meninggalkan Rain sendirian di kamar hotel. Tak hanya itu, Adel juga mengundurkan diri dari program magang dikantornya tanpa ada sebab yang jelas. Ia mengajukan cuti semester dan menghilang entah kemana. Jejaknya tak dapat ditemukan saat itu bahkan rumah Adel telah dipantau oleh orang suruhan Rain namun tak ada tanda-tanda keberadaan Adel disana. Sejak saat itu Rain tak bisa membuka hati untuk wanita lain karena hanya Adel yang bisa mengerti dirinya dan tak memandang hartanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD