Seminggu setelah adegan panas antara Rain dan Adeline di pesta pertunangan sahabat mereka, tak ada tanda-tanda kemunculan Rain. Kerjasama mereka juga di handle karyawannya. Adel sangat bersyukur pria itu hanya muncul sesaat saja. Ia tak mau hidupnya diganggu pria arogan itu.
Disisi lain, Rain masih memantau kondisi Adel dari anak buahnya. Ia sengaja tak mau mendekat karena takut Adel akan menjauh dan mengilang lagi, meskipun tak akan sulit melacak keberadaannya. Ia menurunkan egonya agar gadis itu nyaman.
“Kabar apa hari ini?” Rain menelpon sesorang.
“Nona Adeline ke event perusahaan dan mungkin akan pulang larut bos. Sepertinya mereka akan makan malam bersama tim.” Lapor anak buah Rain.
“Bagus, update dua jam sekali.” Rain menutup telpon.
Rain kembali menekan telpon dan tersambung ke B-one, kaki tangannya. “Siapkan mobil, kita berangkat sekarang.”
***
Adel dan tim sedang menikmati makan malam mereka. Launching kosmetik terbaru mereka sukses besar, banyak sekali peminat dari berbagai kalangan yang datang berkunjung. Mereka memutuskan untuk mengadakan pesta makan malam atas kesuksesan itu.
“Akhirnya launching kita sukses besar, guys. Sayang sekali tim CL tak bisa bergabung bersama.” Tommy sebagai ketua tim menyayangkan hal itu.
“Kenapa kau cemberut? Kau mau menggoda gadis CL ya?” Tiara kesal dengan tindakan tunangannya itu. Ia mengacungkan pisau steak yang ditodongkan pada kekasihnya.
“Wowww, cemburu ya?” Tommy dan teman-teman yang lain tertawa dengan tindakan pasangan baru itu. Mereka sering menunjukkan kemesraan didepan rekan lain. Namun tak ada yang keberatan.
“Posesif sekali dia.” Adel nyeletuk dan kembali mereka tertawa bersama.
Tiara yang menjadi bahan ‘bully’ tim malah makin menjadi. “Kau iri ya tak bisa cemburu. Kau tak punya pasangan. Hahaha.” Ia membalas sahabatnya itu.
Belum sempat membalas, Tommy menyela percakapan kedua wanita itu. “Hei, bagaimana temanku?”
“Siapa?” Adel pura-pura tak tau maksud Tommy.
“Rain. Pria yang dikenalkan Tommy saat acara tunangan kami. Bukannya kau sudah tau kalau dia CEO CL’ Company?” Dengan gamblang Tiara berbicara didepan semua rekan tim.
Adel yang tadi tadi melotot ke Tiara dengan harapan sahabatnya itu paham kode yang diberi untuk diam, tapi tak berhasil. Adel benar-benar kikuk dan enggan membahas pria itu.
“Ahh itu, anu…. Dia mmm dia.” Adel bingung harus menjawab apa didepan semua rekannya.
“Ahh… Mr. Colline? Oh my god, he’s marvelous. Dia datang di meeting kita, ia benar-benar terjun langsung bersama timnya. Tapi sayang, kalian tak melihat pesonanya saat meeting.” Celetuk salah satu rekan timnya.
“Wahhh dia tampan sekali. Sayang sekali Adel tak melihatnya dan black teamnya yang super keren. Kau pingsan sih. Hahah.” Teman yang lain menimbali.
“Tapi aku sudah mempertemukan mereka. Kalau Adel tak tertarik, sepertinya dia jeruk makan jeruk.” Tommy memicingkan mata ke Adel dengan tatapan serius.
“Hyaaa!!!! Sialan!”
Obrolan mereka kesana kemari membully secara bergiliran.
***
Rain dan beberapa orangnya menuju ke sebuah tempat. Mereka berpakaian rapi, sebuah bunga dan beberapa bingkisan sudah tertata rapi dibagasi mobil. Mobil mereka berhenti disebuah rumah minimalis, itu rumah Adeline.
B-one membunyikan bel rumah Adel, suara dari dalam sudah terdengar. Carroline membuka pintu dan terkejut dengan tamu tak dikenal yang datang ke rumahnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Carolline menatap mereka bingung.
“Saya Rainold Colline. Saya teman dekat Adeline.” Rain menyapa wanita paruh baya itu dengan senyuman hangat.
“Ah begitu. Tapi Adeline belum pulang. Mau tunggu didalam?”
“Saya kesini ingin bertemu Ibu dan Ayahnya Adeline.” Rain menambahkan.
“Saya? Ada apa? Silahkan masuk. Saya panggil ayahnya dulu.”
Mereka masuk dan langsung duduk diruang tamu. Sebelumnya Rain menyerahkan bunga yang dibawanya. Ayah dan ibu Adel sudah terlihat.
Ayahnya duduk disebelah ibu Adel. “Ada apa, nak? Apa terjadi sesuatu dengan Adel?” Crusse tampak panik dengan kedatangan mereka.
“Bukan begitu. Saya kesini karna ingin melamar Adeline.” Rain tanpa ragu mengatakan urusannya.
“APA?” ayah dan ibu bersamaan terkejut dengan pria yang baru ditemuinya. Pasalnya Adel tak pernah bercerita tentang teman prianya.
“Saya sudah kenal lama dengan Adel. Dulu saat kuliah dia sempat magang di perusahaan saya. Sejak itu kami kenal dekat. Namun sepertinya Adel tak mau menjalin hubungan dengan pria. Jadi saya menunggu sampai sekarang. Tapi usia saya sudah tak mudah lagi, om tante. Saya berniat melamar Adel menjadi istri dan belahan jiwa saya sehidup semati.” Rain percaya diri sekali dengan ucapannya.
“How sweet. Jadi kalian sebenarnya sudah kenal lama? Memangnya anak ini di perusahaan apa? Adel tak pernah cerita masalah pria ke kami.” Carolline yang menginginkan menantu sangat senang dengan keberanian pria ini.
“CL’ Company, saya meneruskan usaha ayah saya. Saya tidak ingin memaksa Adel jadi saya hanya menunggu sampai dia siap. Namun sepertinya orang tua saya sudah ingin menimang cucu. Jadi saya memberanikan diri malam ini untuk bertemu ayah dan ibu.” Rain harus rela sedikit berbohong agar terdengar dramatis. Tentu orang tuanya tak peduli dengan kehidupan pribadinya.
Orang tua Adel tercekat mendengar itu. Semua orang tau perusahaan tersohor itu, ditambah pria yang melamar anaknya ini sangat bertanggung jawab dan berani. Bahkan jika ia bukan dari konglomerat sekalipun dengan keberaniannya itu sudah meluluhkan hati Carolline. Pria seperti inilah yang ingin ia tugaskan menjaga puteri semata wayangnya.
“Saya tersentuh sekali dengan tindakanmu anak muda. Beginilah pria sejati kalau ingin meminang wanita. Tapi, semua harus dengan persetujuan Adel.” Crusse ingin bijak dalam urusan putrinya. Ia tak mau memaksakan sesuatu.
Berbeda dengan Carolline yang sudah memelototi suaminya. Mereka bagai ketiban durian runtuh, sudah mendapat pria tampan, mapan, bertanggung jawab. Suaminya malah seakan menolak lamaran itu. Ia tau anaknya tak akan menerima kalau tidak dipaksa.
“Baiklah kalau seperti itu. Bolehkan saya menunggu Adeline pulang? Saya butuh jawaban secepatnya.” Rain percaya lamarannya akan diterima oleh calon ibu mertuanya itu.
Crusse beranjak dari tempat duduknya. “Ok. Saya akan minta Adel pulang sekarang. Silahkan tunggu.”
Carolline tak tinggal diam. Ia sangat senang dengan pria ini padahal baru berkenalan beberapa saat yang lalu. “Tenanglah, nak. Ibu akan membantumu. Kau pasti kenal sifat anakku yang keras kepala. Kau hanya tak boleh menyerah dan terus berjuang. Ibu dipihakmu.”
Ibu? Batin Rain. Ia seperti mendapat sinyal hijau. Tentu saja ia sudah memprediksi hal ini. “Terimakasih bu. Mohon bantuanmu. Kadang aku juga bingung dengan keinginan Adel. Sebenarnya tak masalah jika harus menunggunya, tapi orang tua saya..” Rain tak meneruskan seolah sedih dengan kondisinya. Actingnya patut diacungi jempol.
“Tenang. Ibu sangat menyukaimu. Kalau Adel tak mau, akan ibu seret ke Altar.” Carolline berbisik tak mau suaminya mengetahui niatnya.
***
Adel yang mendapat telpon dari ayahnya bergegas pulang. Ia pikir pria itu hanya datang sesaat dan pergi. Dugaannya salah, ia malah menjerumuskan Adel ke lubang yang lebih besar.
“Brengsk!! Harusnya aku curiga saat dia tak muncul lama setelah kejadian itu.” Adel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak berapa lama mobilnya terparkir didepan rumah. Ia melihat beberapa Mercedes benz juga terparkir disana.
“s**t! Kenapa dia membawa orang tuaku.” Adel segera keluar dan berlari kedalam rumah.
Benar saya Rain dan beberapa orang ‘black team’ sudah duduk rapi di ruang tamu.
“Mom, Dad. Ada apa ini?” Adel berlari dengan nafas tersengal dan bingung harus bagaimana.
“Duduk, dear. Rain datang kesini melamarmu. Dia sudah menjelaskan perjalanan cinta kalian. Sungguh cinta yang luar biasa.” Carolline menyambut putrinya ceria.
“Tunggu dulu, sepertinya ini kesalah pahaman. Aku jelasin mom, dad. Aku sama dia nggak ada hubungan. Aku tak mau menerima lamaran dia.” Adel tegas mengatakan itu.
Kedua orang tua Adel terkejut dengan omongan anaknya yang menolak mentah-mentah lamaran konglomerat itu.
“Jadi setelah tiga tahun aku menunggu, kau menolakku.” Rain terlihat sedih dan kecewa, bahkan ia menahan air matanya agar tah jatuh. Tentu saja ia hanya pura-pura. Ia tau Adel akan bersikap begitu.
“Iya. Kau lancang sekali datang melamarku.” Adel yang kesal membentak Rain. Ia memutar bola matanya membuang muka. Kedua tangannya disilakan kedepan.
“Adel, Mommy tak menyangka kau tak punya sopan santun didepan tamu. Mama gagal mendidikmu.” Carolline berdiri dari duduknya, menaruh kedua tangannya dipinggang. Ia marah dengan tindakan anaknya itu.
“Rain, maafkan anakku. Aku permisi dulu.” Carolline pergi meninggalkan ruang tamu.
“Mom, aku bisa jelaskan. Mom.” Adel berteriak kesal namun tak dapat menghentikan ibunya.
Suasana di ruang tamu menjadi hening.
“Maaf Rain, sepertinya kondisinya sedang tidak baik. Silahkan besok datang kesini untuk makan malam. Kami akan memberikan jawaban untukmu. Diterima atau tidak akan kami sampaikan besok.” Crusse berusaha menengahi kondisi canggung.
“Baiklah. Kami pamit.” Rain undur diri bersama black team.
Adel masih tak mengerti kondisinya akan sekacau ini. Ia bingung harus bagaimana. “Dad, aku tak bermaksud…” ia bahkan tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Adel, sebaiknya kita temui Mommy. Sepertinya beliau kecewa dengan sikapmu tadi.”
“Dad, aku tak bermaksud begitu.”