Carolline tak menyangka putrinya akan bersikap kasar. Ia merasa malu seperti gagal mendidik anak. Apalagi setelah sekian lama ia menginginkan menantu dan pria yang melamar anaknya buka orang sembarangan. Tentu jika ada gantinya pasti tak sebanding.
“Mom,” Adel menghampiri ibunya di kamar. Sedangkan Carolline masih menangis sambil memegangi dadanya yang sesak.
“Mom, I’m sorry. Aku cuma… Mom.” Adel masih bingung bagaimana cara menjelaskan kondisinya saat ini.
Carolline menarik nafas dalam, menghembuskan kasar dan menghentikan tangisnya. “Adeline, lakukanlah sesuka hatimu. Aku tak tau bagaimana caramu melangkah, aku lelah. Aku melepaskanmu.” Nada bicaranya berat dan dalam, seperti menahan marah.
“Mom, aku hanya kelepasan tadi. Sorry mom. Aku tak bermaksud seperti itu.” Adel berusaha meyakinkan ibunya namun mereka sama keras kepalanya. “Mom, please. Jangan seperti ini.”
“Adeline, saat aku melahirkanmu, saat itulah nyawaku ku pertaruhkan. Saat aku harus menerima bahwa setelah itu aku tak dapat melahirkan lagi. Kau adalah hidup dan harapanku. Aku melakukan apapun agar kau hidup bahagia dan layak, termasuk saat aku menyerahkanmu kepada pasanganmu kelak.” Suara Carolline terdengar sangat serius dan kecewa.
“Mom.” Bahkan Adel tak kuasa menahan tangis.
“Sekarang, aku seperti tak mengenal anakku yang itu. Semua harapanku sepertinya sudah harus ku kubur dalam-dalam. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, kau bebas. Kau boleh tak menikah seperti teman-temanmu, itu sudah bukan tanggunganku lagi.”
Mendengar ibunya berkata seperti itu, Adel langsung berlari dan bersimpuh dihadapan ibunya yang duduk disamping jendela. Ia menangis sejadi-jadinya di kaki ibunya. “Mom, maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu.”
Ibunya masih membatu di kursi begitu juga Adel. Hening beberapa saat menikmati suasana itu.
“Adel, lakukanlah sesukamu. Aku tak akan mencampuri hidupmu. Itu yang kau mau kan? Aku mengabulkannya.”
“No, mom. Aku tak mau kehilanganmu. I’ll do anything for you mom. Please, don’t leave me alone.” Tangisan anak gadis itu makin menjadi.
“Then, get married if you’ll anything for me.”
***
Matahari menyusup ke kamar mewah membangunkan si empunya. Rain sayup-sayup terbangun dari tidurnya. Ia masih lelah dengan kejadian semalam dirumah Adel, bahkan lebih melelahkan dari pembantaian yang sering ia lakukan ke pemberontak.
Setelah pulang dari rumah Adel tadi malam, Rain sedikit takut jika Adel berhasil menyakinkan kedua orang tuanya. Meskipun sebenarnya ia jauh didepan lelaki lain namun tetap saja ada kemungkinan dirinya ditolak.
Rain segera mengirimkan pesan ke seseorang yang sudah ditugaskan untuk menjaga rumah Adel.
Bagaimana kondisi disana?
Masih sepi bos. Sepertinya mereka tidak akan keluar rumah hari ini.
“s**t! Semuanya masih ambigu. Apa nanti malah aku harus mendatangi mereka lagi? Bagaimana kalau aku ditolak?” ia bergumam dengan dirinya sendiri.
Pintu kamar Rain diketuk oleh seseorang.
“Masuk.”
B-one masuk ke kamar Rain dengan muka sedikit panik. “Ada apa?” Rain membaca jelas mimic muka kaki tangannya itu.
“Tuan Dominic menolak pembagian saham yang kita tawarkan ke perusahaanya. Pengamanannya cukup kuat sedangkan Tuan Nick dan tim kita jumlahnya terbatas.”
Hftttt….. Rain membuang nafas kasar.
“Beritahu Nick untuk sementara kita mundur dulu. Aku akan menyusun rencana baru untuk membuat mereka tunduk.”
“Baik bos. Saya permisi.” B-one segera meninggalkan kamar Rain.
Nick adalah sepupu satu-satunya yang dimiliki Rain. Orang tuanya telah tiada karena sebuah kecelakaan besar yang menyisakan dirinya seorang. Ia dibiayai orang tua Rain karna masih tinggal di Amsterdam saat itu untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia kembali ke New York untuk membalas budi dan membantu segala urusan gelap Rain dan ayahnya. Nick seperti kakak bagi Rain, lebih bijak dan halus namun jika ada yang menyentuh adik kesayangannya ia tak segan menghabisinya dalam hitungan detik.
Pikiran Rain kembali terarah ke Adel dan keluarganya, ia tak sabar untuk mendapat jawaban dari Adel. Ia berpikir untuk menyusun strategi jika nanti ia ditolak.
“Ahhhhhhhh harusnya ku hamili saja kemarin. Dia tak akan menolak malah akan mengejarku.” Rain meremas rambutnya kesal.
Tapi dia akan lebih membenciku. Namun hatinya masih menginginkan cinta yang tulus.
***
Suasana rumah Adeline masih tegang karen kajadian kemarin. Ia dan ibunya masih enggan bertegur sapa dan canggung. Ayahnya sudah menyampaikan kalau Rain akan datang lagi nanti malam untuk mendapat jawaban.
Carolline kini tengah menyiapkan makanan untuk dinner mereka. Meskipun ia sangat kecewa, namun ini akan menjadi malam terakhirnya berurusan dengan kehidupan putrinya jika menolak lamaran konglomerat itu.
“Sayang, apa kau harus bertindak seperti itu pada Adel. Kita membesarkan dia dengan cinta dan kasih sayang. Masa kau mudah sekali melepas anakmu seperti itu?” Crusse yang sedang menemani istri tercintanya itu berusaha mencairkan suasana.
“Justru karna aku yang melahirkannya dan merawatnya hingga sekarang, aku tak mau dia hidup seenaknya. Aku berusaha bertaruh nyawa sampai sekarang namun untuk memikirkan hidupnya saja ia tak mau. Setidaknya kalau kita sudah tak ada, ada yang menjaga dia dengan tulus.” Carolline memasang muka datar tanpa melirik suaminya dan tetap sibuk dengan sayuran serta bumbu dapur yang di potong-potng sejak tadi.
“Dia hanya belum ketemu. Mungkin dia punya alasan khusus kenapa menolah pria kaya itu.” Crusse tak kalah argumen dengan tangan yang memagang pisau memotong bawang.
“Iya. Aku sudah mengijinkan ia sesukanya, tapi aku juga akan melepas tanggung jawabku sebagai ibunya. Aku mau kembali ke London saja. Kau terserah mau ikut denganku atau tidak.”
“Tentu aku akan selalu bersamamu. Tapi apa kau tega meninggalkan anakmu?” Crusse memegang tangan istrinya yang berakhir dengan tepisan halus.
Carolline yang risih dengan tindakan atraktif suaminya itu kesal. Ia mengacungkan pisau yang dipegang ke arah suaminya. “Kau tak ingat, dulu kau juga memaksaku menikah denganmu. Hanya saja kau tak sekaya Rain.” Matanya melotot.
“Wow… Jauhkan benda tajam itu.” Crusse terkejut dan mundur beberapa langkah. “Jangan samakan aku dengan anak itu, aku sudah pasti bertanggung jawab. Tapi dia belum tentu.”
Carolline makin mendekatkan pisau itu ke wajah suaminya. “Darimana kau tau anak itu tak bertanggung jawab? Memangnya dulu aku tau kau bertanggung jawab? Aku pun tebak-tebak berhadiah.”
“Apa?” Crusse menaikkan alisnya. “Jadi kau dulu tak percaya padaku?”
“IYA.” Carolline tak ingin berdebat lagi dan meneruskan masakannya. “Pergilah atau kau makan garam untuk makan malam.” Suara Carolline lirih namun tegas.
Dibalik itu semua, Adeline mencuri dengar percakapan orang tuanya. Ia masih bingung dengan hatinya. Ia tak ingin kehilangan ibunya. Andai bukan Rain yang ingin meminangnya, mungkin ia akan rela saja dinikahkan paksa ibunya.
Kenapa Rain? Kenapa kau harus bersikap seperti ingin menyakitiku? Andai tidak, mungkin aku berusaha membuka hatiku? Batin Adel. Air matanya kembali membanjiri pipi chubby itu.
***
Rain bersiap-siap untuk menuju ke rumah wanita impiannya. Kali ini ia mengemudikan Ferrarri seorang diri. Ia ingin menciptakan kehangatan tanpa ada embel-embel konglomerat di dirinya.
Rain mengenakan kemeja abu-abu panjang polos yang ditekuk sampai siku, celana jeans dan sepatu sneakers membuat kesan santai namun sangat menawan.
Mobil melaju dengan cepat hingga sampai didepan halaman Adel. Senyumnya tak bisa lepas sejak tadi tak sabar ingin bertemu dengan bunganya. Diketuk pintu rumah itu pelan namun terdengar hingga Adel membuka pintu.
“Hello, Flo. Long time no see, I really miss you. And This is for you.” Rain menyerahkan rangkaian bunga tulip yang sangat indah.
Adel memutar bola matanya melemparkan semunyan sinis. “Kau baru datang kemaren dan bilang rindu. Munafik.”
Adel ninggalkan Rain dengan pintu terbuka. Tak perlu aba-aba Rain mengikuti Adel. Orang tua Adel sudah ada dimeja makan disusul kedatangan Adel dan Rain.
“Rain, silahkan duduk. Kita makan dulu ya, nak. Sudah waktunya.” Carolline menyapa calon mantunya dengan senyuman.
Rain memiliki insting yang tinggi. Itu yang membuat usaha gelapnya selalu berhasil dan melumpuhkan kelompok mafia kelas teri. Rain merasa suasana canggung menyelimuti calon keluarga barunya.
“Apa kedatangan saya mengganggu? Sepertinya suasanya sedang tidak baik.” Rain to the point dengan apa yang dirasakan.
“Tidak, Rain. Kami kan yang mengundangmu. Nikmatilah makanan ini. Sitriku pandai memasak.” Crusse mencoba membuat Rain nyaman. Bagaimanapun ia tamu.
Makan malam mereka berjalan hening. Hidangan dihadapan mereka sungguh lezat, namun Adel tak berselera karena masih takut dengan keputusan. Pandangan Rain tak lepas dari Adel yang hanya mengaduk makanannya, namun ia tak mau memecahkan keheningan itu dan membiarkannya berlalu.
Makan malam selesai, mereka sudah ada diruang tamu. Obrolan dengan berbagai topik dari cerita tentang keluarga Rain, keluarga Adel, pekerjaan, dan kisah-kisah lucu masa remaja Crusse dan Carolline membuat Rain nyaman dengan kehangatan yang ada dikeluarga. Ia bisa tertawa lepas berbagi cerita, berbeda dengan keluarganya yang sibuk dengan pekerjaan. Meskipun ibu Rain hanya dirumah, namun ia cenderung pasif dan semua keputusan diambil sepihak oleh ayahnya.
“Lucu sekali kan istriku jaman muda, jual mahal sekali.” Crusse yang tertawa meledek istrinya.
“Bukannya kau yang tergila-gila setengah mati padaku. Kau memutar balikkan fakta Crusse.” Carolline tak mau kalah.
Tawa mereka pecah lagi dan lagi dengan tingkah laku pasangan yang masih romantis diusia yang tak muda itu.
“Ehem ehem” Deheman Rain membuat hening seketika.
“Jadi bagaimana, Adel? Bagaimana keputusanmu tentang lamaranku. Aku serius ingin menikahimu.”
“E,e, anu.” Adel jadi kikuk sendiri.
“Terlepas dari sifatku yang kau tau mungkin dingin atau tak punya hati. Itu karna tanggung jawabku sebagai pemilik perusahaan. Banyak nyawa bergantung padaku.” Rain memberatkan suaranya, wajahnya serius dan tegas.
Degg.
Entah apa yang merasuki Rain saat itu. Kata-katanya menghipnotis semua orang diruangan itu, termasuk Adel. Ia tak menyangka dibalik sikap Rain yang sekasar itu, ia memikul tanggung jawab yang sangat besar. Apa itu yang membuat dia bertingkah semaunya?
Jangan tertipu, Adel. Dia penipu ulung. Kau sudah pernah terjebak. Batin Adel.
Carolline menyenggol kaki Adel agar anaknya segera menjawab. “Keputusan tetap ada di kamu, Del. Atau mommy perlu packing sekarang?” bisik Carolline.
“B-b-ba baik. Aku- aku- aku akan menjawab. Aku menerima lamaranmu.” Adel berkata sambil menunduk. Tangannya tak berhenti memaikan jari-jarinya karna gugup.
Rain mendengar jawaban itu sangat senang. Ia bahkan hampir meneteskan air mata. Entah benar-benar terharu atau pura-pura. “Benarkanh? Thanks.”
“Tapi aku tak mau menikah dalam waktu dekat. Aku mau kita saling mengenal dulu, dan jika kau menyakitiku aku berhak membatalkan acara pertunangan ini.” Adel menahan rasa kesal yang amat didepan kedua orang tuanya, tatapannya begitu tajam pada Rain.
“Baiklah. Tapi kita tak bisa berlama-lama mengingat orang tuaku ingin aku segera menikah. Semoga kau tak keberatan.” Rain memasang wajah sendu menatap Adeline.
Adel makin menunjukkan wajak tak suka. “Ku beri kau waktu satu bulan. Buktikan kau serius dengan anakku.” Tiba-tiba Crusse mengatakan hal itu pada Rain.
“Dad?” Suara Adel terpekik dengan kalimat ayahnya itu.
“Baik akan saya buktikan bagaimana saya sangat mencintai dan menyayangi putrimu.” Rain seperti mendapat tantangan baru yang menyenangkan.