Chapter 14 – Teka-Teki

1106 Words
Rain meminta pernikahannya dipercepat. Jelas saja ini mengejutkan Adeline dan keluarga. Pernikahan macam apa yang diputuskan oleh satu pihak. “Ya. Pernikahan kita minggu depan. Aku sudah siapkan semuanya.” Adeline menggebrak meja didepannya. Kesal dengan Rain yang makin seenaknya sendiri mengatur hidupnya. Adel suka kebebasan, ia tak suka dikekang apalagi diatur. “Apa-apaan kau ini. Memutuskan semuanya semaumu.” Rain hanya menatap calon istrinya itu dengan tenang. “Ini demi kebaikanmu, Flo.” “Aku? Mungkin lebih tepatnya kebaikanmu. Ini hanya menyiksaku Mr. Arrogant.” Matanya berapi-api dengan kemarahan yang memuncak. Carolline yang tak kalah terkejut juga bingung harus berbuat apa. Ia senang anaknya akan segera dipinang, apalagi pria itu bukan orang sembarangan dan mencintai anaknya. Terlihat jelas Rain sangat ingin memiliki Adel lebih dari apapun. Namun keputusan ini apa tidak terburu-buru? “A a- a-apa yang membuatmu ingin mempercepat pernikahan kalian, Rain?” Rain berusaha tenang dan menatap Carolline dalam. Haruskah Rain jujur jika ia takut kalau Adel akan mengalami kejadian seperti kemarin? Tidak mungkin. Adeline akan mencekiknya detik itu juga. “Ini untuk kebaikan My Flo, Mom. Aku tak mau kejadian kemarin terjadi lagi.” “M-mak sudmu? Mommy masih tak mengerti.” Adeline yang sejak tadi berapi kini mulai memadamkan kobaran dimatanya dan memperhatikan alasan Rain. Ia juga penasaran. Rain masih diam memikirkan kalimat yang tepat. “Heh. Jawab itu ditanya orang tua.” Bentak Adel yang sebenarnya tak sabar. “Begini, kejadian di pesta Tiara membuat saya takut kehilangan Adeline. Mungkin kemarin adalah awal, dan saya yakin selanjutnya akan terjadi lagi. Karna orang itu bukan orang biasa. Saya sudah mengusut semuanya.” Deg. Jadi itu alasan Rain ingin segera menikahi Adel. Karna Junno. Rain takut pria itu kembali menyerang Adel. Ada kemungkina yang lebih berbahaya terjadi jika Adel tak berada dibawah pengawasan Rain 24 jam. Bahkan insiden kemarin masih belum dimengerti Adel. Apa sebab Junno tega melakukan itu padanya. Sekarang bertambah masalah baru, Rain ingin menikah dengan alasan keselamatannya. Apa yang membahayakan? Apa sahabatnya pria berbahaya? Lebih dari 6 tahun mengenal Junno dan pria itu sangat baik. Bahkan Rain lebih berbahaya. Kenapa mengkambing hitamkan sahabatnya. Picik sekali. Gelak tawa renyah keluar dari Carolline. “Haduuuuhhh kau ini so sweet sekali Rain. Mommy jadi iri padamu, Del. Jadi pengen muda lagi. Ups.” Suara centil carolline membuat sepasang kekasih itu mengernyit heran. Setan apa yang baru saja masuk ke tubuh ibunya sampai kecentilan disaat yang tidak tepat. Adel dan Rain saling menatap bingung. “Mommy, sehat?” Adel menempelkan punggung tangannya ke dahi ibunya. “Rain itu loh romantis sekali. Masa hanya karna cemburu dia langsung ingin menikahimu. Sungguh agresif. Uh, mommy suka sekali.” “Hah, Mommy mulai tidak waras. Aku makin tak mengerti.” Adeline menggelengkan kepalanya, kelakuan ibunya makin tak membuatnya angkat tangan. “Husss, kamu ini kok kurang aja sekali sama ibumu.” “Lalu kenapa mommy bicara tak jelas seperti itu?” “Rain itu sayang sekali sama kamu, nak. Karna ada wanita yang menggilainya di pesta Tiara dan takut kamu cemburu, dia ingin segera menikahimu. Biar tak ada yang berani mendekati Rain. Dia akan sepenuhnya jadi milikmu. Wanita itu pasti sangat berbahaya dan agresif sekali sampai Rain takut terjadi lagi kesalahpahaman seperti kemarin. Iya kan, Rain.” “I-iya, Mom. Seperti itu.” Rain menggaruk kepalanya. Penjelasan calon mertuanya masuk akal juga. “Astaga.” Adeline menghela nafas kasar dan menundukkan kepalanya. Ia memegangi kepalanya pusing memikirkan penjelasan ibunya itu. Tak disangka ibunya masuk dalam tipuan Rain yang konyol. Tapi ia lega sekali ibunya tak tau kejadian aslinya. “Mommy harus menelpon ayah dan bilang tentang tadi. Oh iya, mommy akan minta daddy membawa gaun terbaik di butik Washington dan segera kembali kerumah. Mommy masuk dulu.” Carolline segera berlari ke dalam rumah dengan hati berbunga-bunga. Sementara Rain harus menerima tatapan intimidasi dari Adeline. “Jelaskan maksud yang sebenarnya. Jangan jadikan hal sepele menjadi alasanmu untuk menikahiku paksa.” “Hal sepele?” Rain tertawa sinis mendengar perkataan Adel. Hal itu hampir membuat Rain gila jika benar Adel berhasil dijamah pria b******k itu. “Jangan membawa nama sahabatku untuk keuntungamu sendiri. Kau terlalu menghalalkan segala cara.” Mendengar itu membuat sisi buas Rain kembali setelah beberap hari ia berhasil meredam demi pujaan hatinya. Rain menyandarkan tubuhnya di sandaran, membentangkan kedua tangannya agar rileks. “I didn’t need the fuc*ing reason to marry you, darling. Aku bisa nikahin kamu tanpa alasan apapun. Remember that.” “in your dream.” Rain terkekeh. “Sudahlah kalau kau tak bisa menjelaskan apapun. Kubur mimpimu untuk menikahiku.” Adeline beranjak dari kursinya. Ia muak dengan kekonyolan ini. “Sahabat mana yang memberikan obat perangsang ke alkohol dan berusaha menuduri sahabatnya sendiri?” Suara ejekan Rain berhasil membuat Adel berbalik arah. Adel berlari ke arah Rain. Membekap mulut pria itu dan menariknya keluar. “Kita bicara diluar.” Adel menyeret Rain ke teras rumah, tak seharusnya dia bicara segablang itu dirumah. Bagaimana jika ibunya mendengar omongannya? Adel geram sekali ingin meremas mulut Rain. Rain yang sebenarnya bisa melawan tarikan Adel mengingat tenanga gadis itu tak seberapa. Tapi menggemaskan sekali melihat Adel menariknya. Adel menghempas tangan Rain sekencang mungkin. “Kau itu bisa jaga mulut atau tidak?” “Kau sendiri yang minta aku menjelaskan sejelas mungkin. Kenapa sekarang marah.” “Kau kan bisa pakai kata yang lebih halus. Kau malah mengarang cerita aneh. Menambah masalah saja.” Rain berdecih mendengar Adel. “Tadi aku menjelaskan dengan bahasa halus, kau malah tak mengerti makna dibalik itu. Sekarang ku jelaskan yang sebenarnya marah. Ah aku tak mengerti jalan pikiran wanita.” “Jangan mengalihkan. Apa maksudmu tentang obat di minumanku? Kau menuduh Junno menjebakku? Kau jahat sekali.” Adel melipat kedua tangannya tak percaya dengan bualan Rain. Rain tertawa sinis Adel masih saja membela pria b***t itu. “Kau terlalu naif My Flo. Yang kau lihat baik belum tentu dibelakangmu tetap baik.” “Stop berbelit-belit. Langsung saja ke poinnya.” “Jadi begini….” Pundak Rain ditepuk carolline. “Kalian sedang apa?” Carolline menatap curiga dengan tingkah anak dan calon mantunya. Begitupun Adel dan Rain sama terkejutnya. “Eh Mommy. Ngapain kesini?” “Mommy yang harusnya tanya. Ngapain kalian ngobrol disini?” “E anu e, gini.” Adel tak sanggup berpikir. “Adel memaksa Rain mengajaknya jalan-jalan, Mom. Mau milih cincin katanya.” Carolline berbinar. Akhirnya Adel setuju juga.”Wuaaaaahhhh.. Mommy senang sekali. Kau ini sok menolak tapi memaksa beli cincin. Duh, jual mahal kamu nak. Malu kan kau ketahuan sama mommy.” “Bu-bukan seperti itu mom. Kenapa malah jadi tak karuan begini sih.” Adeline meremas kepalanya. Rain menyunggingkan senyum kemenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD