Sella memakan sarapannya dengan perlahan, memikirkan pertemuan yang akan datang. Ia tahu Dante akan melakukan pemeriksaan pertamanya. Hari ini adalah hari ia harus membuktikan pada Dante bahwa ia benar-benar patuh, meskipun kepatuhan itu terasa menjijikkan.
Pukul sembilan tepat, Liam kembali dan membawa Sella melalui koridor yang sama menuju ruangan tempat Dante menunggunya. Ruangan itu kini sudah disiapkan layaknya ruang interogasi. Dante duduk di balik meja kayu besar, sementara Sella ditempatkan di kursi yang berjarak cukup jauh, di bawah lampu yang terlalu terang.
Liam berdiri di belakang Dante, tegang.
Dante mengenakan kemeja gelap yang dilipat hingga siku, memperlihatkan lengannya yang berotot. Ia tampak lelah—malam suntuk dihabiskan untuk mengamati sanderanya. Matanya merah dan tajam.
“Duduk, Sella,” perintah Dante. Sella duduk. Tidak ada suara, tidak ada perlawanan.
Dante mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Sella. “Kau tidur nyenyak?”
“Ya, aku bisa tidur, terima kasih,” jawab Sella dengan suara datar.
Frustrasi mulai merayap di wajah Dante. “Kau tahu, kau membingungkan. Kau adalah putri dari seorang pembunuh, tetapi kau bersikap seperti kau baru saja memenangkan lotre liburan.”
“Aku tahu di mana aku berada, Dante,” kata Sella, menjaga intonasinya agar tetap netral. “Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu apa yang kau inginkan. Aku tidak akan membuang energi dengan melawan.”
“Kau tidak akan melawan? Itu kelemahan, Sella. Itu kepengecutan.”
Sella hanya tersenyum samar, senyum yang dingin. “Itu adalah akal sehat. Kau punya senjata, kau punya kekuasaan, dan kau punya dendam. Aku tidak punya apa-apa. Melawan berarti mati sia-sia.”
Dante terdiam sejenak. Ia menggebrak meja dengan telapak tangannya. Suara keras itu bergema, tetapi Sella tidak bergidik.
“Jangan berani-berani kau mencoba bermain pintar denganku!” bentak Dante. “Kau tahu apa yang ayahmu lakukan pada Marco? Mereka menangkap Marco, mengikatnya. Kemudian Emilio masuk dan tertawa saat mengirisnya, perlahan. Aku mendengar teriakannya di telepon.” Suara Dante bergetar karena sakit.
“Ayahmu adalah monster. Dan kau, Sella Kasteline, adalah benih dari monster itu. Kau pasti mewarisi darahnya. Kebijaksanaan untuk patuh yang kau tunjukkan sekarang hanya kedok. Kau hanya menunggu kesempatan untuk menusukku dari belakang.”
Sella menatap matanya, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan sedikit emosi terlihat kesedihan, tetapi bukan ketakutan.
“Aku tidak membela Ayahku,” bisik Sella. “Dan aku tidak akan pernah membela tindakannya. Tapi aku tidak akan meminta maaf untuk darah yang mengalir di nadiku. Kau punya dendam, Dante. Aku tahu. Tapi itu adalah dendammu, bukan milikku. Aku tidak akan membiarkan kemarahanmu mengendalikan diriku.”
Jawaban itu, yang jujur dan menyakitkan, menyentuh luka lama Dante.
“Cukup dengan filosofi bodohmu,” kata Dante tajam. “Kau patuh? Buktikan. Aku akan mengujimu. Liam, buka penutup matanya.”
Liam membawakan sehelai kain hitam. Sella mengangkat tangannya, membiarkan Liam mengikatnya. Sella tidak menanyakan alasannya.
Dante memulai serangkaian perintah aneh, yang bertujuan untuk merendahkan martabat Sella dan mematahkan kebanggaannya, berharap kepatuhan Sella akan runtuh.
“Perintah pertama. Berdiri.” Sella berdiri. “Tetap di sana. Diam. Hitung lima menit dalam hatimu. Tidak ada gerakan, tidak ada suara.”
Sella berdiri tegak seperti patung, menatap lurus ke depan. Waktu terasa melambat. Dante berjalan mondar-mandir di sekelilingnya, menatapnya, mencari kerutan kecil, getaran gugup, atau napas yang tidak teratur. Tidak ada. Setelah lima menit yang terasa seperti satu jam, Sella tetap diam.
“Duduk,” perintah Dante. Sella duduk.
“Perintah kedua: Katakan padaku, apa warna favoritmu?”
Ini adalah pertanyaan konyol, pertanyaan yang menuntut kemanusiaan dalam situasi yang kejam. Sella bisa saja menolak, atau berbohong.
“Biru langit di musim panas,” jawab Sella tanpa ragu. Dante tertawa sinis. “Bahkan saat kau berbicara tentang warna, kau terdengar datar. Bagus.
Perintah ketiga: Nyanyikan sebuah lagu.”
Momen itu terasa absurd. Bos mafia, dengan dendam di matanya, menyuruh sanderanya menyanyi.
Sella mulai bernyanyi. Suaranya rendah dan merdu, menyanyikan lagu pengantar tidur yang samar-samar ia ingat dari ibunya. Liriknya sederhana, tentang bintang dan janji. Suara itu begitu murni di ruangan yang dipenuhi kematian.
Liam, yang biasanya kaku, tampak sedikit terkejut. Dante, di sisi lain, merasa seperti ada es yang meleleh di dadanya, perasaan yang tidak ia inginkan.
“Hentikan!” perintah Dante tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih keras dari yang seharusnya. Sella langsung berhenti. “Ya, Dante.”
“Kau bahkan tidak bertanya mengapa aku menyuruhmu melakukan hal-hal konyol ini?”
“Kau ingin melihat kelemahanku,” jawab Sella tenang. “Kau ingin melihat batas dari harga diriku. Tapi aku tidak punya harga diri, Dante. Aku sudah lama menyerahkannya kepada Ayahku. Jadi, aku akan mematuhi semua perintahmu, sampai kau lelah.”
Frustrasi Dante mencapai puncaknya. Sella telah menemukan celah terbesarnya. Bagaimana cara menyiksa seseorang yang tidak punya keinginan untuk diselamatkan?
“Liam, bawa dia kembali,” perintah Dante, suaranya mengandung kekalahan.
Saat Liam mulai menariknya, Sella tiba-tiba mengucapkan satu kalimat yang tidak ia tanyakan.
“Dante,” panggil Sella. Untuk pertama kalinya, suaranya membawa sedikit getaran pribadi.
Dante menoleh, terkejut. “Apa?”
“Tugasmu adalah menyiksaku, itu hakmu. Tapi kau menghabiskan waktu yang berharga di sini. Ayahku, Emilio, pasti sedang merencanakan sesuatu sekarang. Jangan biarkan aku menjadi pengalih perhatianmu dari dendammu.”
Liam menarik Sella keluar, dan pintu tertutup.
Dante tetap duduk di kursinya, wajahnya pucat. Sella tidak hanya patuh. Sella memberinya peringatan. Sella tidak hanya menjadi sandera. Sella seolah-olah menjadi suaranya yang logis di tengah lautan kebencian.
Ia bangkit dan berjalan ke dinding monitor, menatap kamar Sella. Sella sudah kembali duduk, kini membaca buku usang yang ada di meja kecil.
Dante memukul meja dengan keras. “Dia tidak normal,” geramnya pada Liam, yang baru saja kembali. “Dia pasti sedang merencanakan sesuatu.”
“Apa yang harus saya lakukan, Boss?” tanya Liam.
Dante menarik napas panjang. Matanya, yang seharusnya dipenuhi kebencian, kini dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab.
“Berikan dia buku lain. Dan… pastikan dia makan dengan benar. Tapi jangan bicara padanya. Aku akan kembali besok.”
Dante mematikan monitor, tidak tahan melihat ketenangan Sella lagi. Ia harus kembali ke pekerjaannya, kembali ke perang. Tetapi ia tahu, di gudang bawah tanahnya, ia telah menciptakan belenggu untuk dirinya sendiri. Bukan Sella yang terbelenggu, tetapi Dante.
Ia telah menculik putri musuhnya, tetapi tanpa disadari, ia telah menculik hati nuraninya sendiri.