Episode 4: Tirani Psikologis

1089 Words
Pagi itu terasa lebih sunyi di markas bawah tanah Alister. Mungkin itu ilusi, atau mungkin Sella sudah terbiasa dengan kebisingan baja dan kelembaban. Setelah membersihkan diri, Sella duduk di tepi ranjang. Ia tahu, tirai tipis ketenangan yang ia pertontonkan pada Dante tidak akan bertahan lama. Pria itu akan datang kembali, dan kali ini, ia akan membawa senjata yang lebih mematikan daripada pistol. Tepat pukul delapan, pintu baja terbuka. Kali ini bukan Liam, melainkan seorang pria kurus dengan tatapan waspada, membawa sebuah kotak. “Bos ingin kau mengganti pakaianmu,” kata pria itu dingin, meletakkan kotak itu di meja dan langsung keluar. Sella membuka kotak itu. Di dalamnya ada pakaian kasual yang baru. Celana jins gelap, kaus turtleneck hitam, dan kardigan abu-abu yang tebal. Semuanya berkualitas tinggi, seolah-olah Dante tidak ingin sanderanya terlihat murahan. Itu adalah keanehan yang lain. Para penculik biasanya memberikan pakaian usang atau kemeja penjara, bukan pakaian yang nyaman. Sella mengganti pakaiannya. Kehangatan kardigan memberinya sedikit rasa aman yang sudah lama hilang. Pakaian yang layak adalah belenggu lain, pengingat bahwa ia masih dianggap "berharga" di mata Dante, bukan sebagai manusia, tetapi sebagai alat tukar. Tepat pukul sembilan, Liam kembali. Tatapannya sedikit berbeda pagi ini, campuran rasa hormat yang tidak pantas dan kebingungan. Sella sadar bahwa Liam sudah pasti melihat rekaman interogasinya kemarin. “Nona Kasteline,” sapa Liam. Nada suaranya sedikit melunak. “Liam,” balas Sella. “Aku harus membawamu ke kantor Boss.” Saat mereka berjalan, Sella sengaja berjalan sedikit di belakang Liam, mengamati. Koridor itu sama, gelap, dan berbau logam. Tetapi Sella memperhatikan pola. Di mana kamera tersembunyi, di mana ada titik buta. Ia tidak berniat melarikan diri, tetapi mengetahui letak sangkarnya adalah bagian dari permainannya. Mereka tiba di sebuah pintu kayu berat, berbeda dengan pintu baja lainnya. Ini adalah kantor Dante Alister. Liam mengetuk, dan suara serak Dante menyahut, “Masuk.” Kantor itu besar, didominasi oleh perabot kayu gelap dan jendela antipeluru yang menghadap ke dinding batu. Dante duduk di kursi kulitnya, dengan sebatang cerutu yang belum dinyalakan di antara jari-jarinya. Ruangan itu terasa berat, dipenuhi aura kekuasaan yang dingin. “Kau terlihat lebih baik hari ini,” kata Dante, tanpa emosi, menunjuk ke pakaian baru Sella. “Terima kasih. Pakaian ini nyaman,” jawab Sella, duduk di kursi di depan meja Dante. Dante mendengus. “Jangan berani-berani berpikir aku bersikap baik padamu. Ini murni bisnis. Aku tidak ingin sanderaku terlihat seperti pengemis, itu merendahkan standarku.” “Aku mengerti,” kata Sella, nadanya benar-benar tulus. Kepatuhan total itu kembali memicu amarah Dante. Ia ingin Sella berdebat, menanyakan mengapa ia harus bersusah payah memberinya pakaian, tetapi Sella hanya menerima. Dante menyalakan cerutunya. Asap tebal mengepul di antara mereka, menciptakan penghalang visual dan emosional. “Mari kita hentikan sandiwara ini, Sella,” ujar Dante, suaranya pelan, berbahaya. “Kemarin kau berhasil membuatku frustrasi. Kau berpikir dengan bersikap pasif, kau akan melucutiku. Itu adalah taktik yang menarik, tetapi aku bukan ayahmu. Aku tidak akan memukulmu hanya karena kau menentangku. Aku akan memberimu sesuatu yang jauh lebih buruk.” Dante membuang cerutunya ke asbak, matanya terpaku pada Sella. “Aku akan memberimu kebenaran. Kebenaran yang akan menghancurkan ketenangan palsumu.” Sella hanya menatapnya, tidak bergerak. “Kau tahu ayahmu membunuh Marco, kakakku. Tapi kau tidak tahu bagaimana.” Dante bersandar ke depan, kini berbicara dengan intensitas yang mengerikan. “Marco adalah negosiator terbaik kami. Dia bertemu dengan Emilio untuk menyelesaikan kesepakatan wilayah di dermaga lama. Emilio berjanji damai. Dan Marco bodoh, dia percaya.” Dante berhenti sejenak, menarik napas. Sella bisa melihat pembuluh darah di leher Dante berdenyut. “Kami melacak telepon Marco. Kami mendengar seluruhnya. Aku mendengarnya.” Sella merasakan hawa dingin merayapi punggungnya, bukan karena takut pada Dante, tetapi karena kengerian yang akan datang. “Mereka mengikat Marco ke kursi. Emilio masuk, ditemani tawanya yang menjijikkan. Bukan tembakan bersih, Sella. Bukan ledakan cepat yang manusiawi. Emilio ingin Marco menderita. Dia ingin Marco memohon.” “Emilio memotong jari Marco satu per satu, sambil menceritakan bagaimana ia dulu berteman dengan Ayah kami, sebelum ia mengkhianatinya. Setiap potongannya diikuti oleh tawa. Marco mencoba bertahan, dia kuat. Tapi kemudian Emilio mengambil pisau yang lebih besar.” Dante menggeser tangannya melintasi meja, seolah memegang sesuatu yang tajam. Sella menahan napas. “Dia mengiris d**a Marco. Bukan untuk membunuh, tetapi untuk melukainya. Untuk membuatnya melihat isi dirinya sendiri. Dia meninggalkannya begitu saja, berdarah, selama satu jam, hanya untuk mendengar ratapannya. Aku... aku mendengarnya memanggil namaku, Sella. Memohon aku untuk datang. Tapi aku terlambat.” Dante mendongak, matanya kini berkaca-kaca, tetapi bukan karena air mata, melainkan karena kemarahan yang membakar. “Aku mendengar bunyi napas terakhirnya di telepon, Sella. Dan aku mendengar tawa ayahmu setelah itu. Tawa yang sama yang kau dengar setiap kali ia mendapatkan kekuasaan.” Dante memukul meja dengan dua tinju, membuat dokumen di atas meja melompat. “Sekarang, katakan padaku kau tidak merasa bersalah! Kau adalah putrinya! Kau adalah satu-satunya yang tersisa dari dia! Kau pantas dihukum!” Sella terdiam. Udara di sekitarnya terasa sangat berat, dipenuhi kebencian, kesedihan, dan bau tembakau. Dante telah memberikan luka terbesarnya, telanjang, di hadapan Sella. Air mata. Itulah yang Dante tunggu. Jika aku menangis sekarang, itu akan menjadi pengakuan bersalah, dan dia akan menang. Dia akan tahu bahwa aku merasa bersalah atas perbuatan Ayah, dan emosi itu akan menjadi mata pisaunya. Tapi aku tidak bisa menangis. Aku tidak boleh. Aku sedih. Aku sedih untuk Marco Alister. Aku sedih untuk anak laki-laki yang harus mendengar kakaknya meninggal dengan cara yang mengerikan. Aku sedih karena aku tahu betapa mengerikannya Ayah. Aku tahu kekejaman itu mengalir dalam darahnya. Ayahku... ia pernah membuat pelayanku menangis hanya karena menumpahkan kopi. Ia memecat pelayan itu, dan aku melihat mata pria itu. Sama seperti mata Dante sekarang, kosong, hancur. Aku bukanlah Ayahku. Aku tidak memilih darah ini. Aku tidak akan memohon ampun, karena memohon ampun berarti aku bertanggung jawab atas tindakannya. Aku bertanggung jawab atas diriku sendiri. Sella menghela napas, sangat pelan, memastikan tubuhnya tetap tegak. Ia mengangkat matanya, menatap Dante. “Dante,” Sella berbicara, suaranya lembut, tidak menghakimi, tetapi penuh penegasan. “Aku tidak akan berpura-pura terkejut. Ayahku adalah monster. Aku tahu itu sejak aku berumur sepuluh tahun, ketika aku melihatnya menghukum salah satu anak buahnya di halaman belakang. Aku tidak membencimu karena menculikku. Aku tidak membencimu karena menginginkan dendam.” “Aku membencinya!” teriak Dante, frustrasi karena Sella tidak juga menunjukkan rasa jijik atau ketakutan pada ayahnya. “Ya, kau membencinya,” ujar Sella tenang. “Dan aku berempati padamu. Marco tidak pantas mati seperti itu. Tidak ada manusia yang pantas.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD