Sella menutup matanya, menahan gelombang mual. Inilah warisannya. Ini adalah darah yang ia bawa.
“Aku tidak akan membiarkan kemarahanmu mengendalikan diriku.”
Ia mengingat kata-katanya pada Dante. Jika ia menangis sekarang, ia akan membiarkan Ayahnya dan dendam Dante menang. Ia harus memproses kengerian itu, tetapi tidak boleh membiarkannya menghancurkan dirinya.
Sella mengambil flash drive itu, memutarnya di tangannya, kemudian meletakkannya kembali. Ia tidak akan mendengarkan rekaman itu. Bukan karena dia pengecut, tetapi karena dia harus menyimpan satu sisa kewarasan terakhirnya. Ia sudah tahu cukup.
Ia menghabiskan dua jam berikutnya dengan membaca semua dokumen yang tersisa. Sella memastikan bahwa setiap kata, setiap detail masuk ke ingatannya, menimbangnya, dan kemudian, ia menutup amplop itu. Ia tidak merobeknya, tidak membakarnya, tetapi hanya meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur.
Sella berhasil. Ia menembus badai informasi yang brutal itu dengan perisai ketenangan. Namun, ia merasa lebih lelah daripada pertarungan fisik mana pun.
Keesokan paginya, Liam kembali dengan nampan sarapan. Ia meletakkan makanan di meja, tanpa menyapa, tanpa menatap Sella. Ia hanya bertindak sebagai robot, persis seperti yang diperintahkan Dante.
Sella mengucapkan terima kasih, tetapi Liam tidak merespons, hanya keluar dan mengunci pintu.
Situasi ini terasa lebih buruk daripada saat Dante berteriak padanya. Saat Dante berteriak, Sella tahu cara merespons. Dengan kepatuhan dingin. Tetapi keheningan ini ketiadaan interaksi menggerogoti sifat sosialnya.
Pukul sebelas, Liam kembali. Kali ini, ia hanya mengangguk ke arah Sella, mengisyaratkan untuk mengikutinya. Mereka berjalan dalam keheningan menuju kantor Dante.
Dante sudah menunggunya. Ia berdiri di dekat jendela, terlihat seperti patung yang diukir dari amarah dan kekuasaan.
“Duduk,” perintah Dante, suaranya terdengar jenuh.
Sella duduk. Ia meletakkan amplop itu di pangkuannya.
Dante menatap amplop itu, matanya tajam. “Kau membacanya?”
“Ya,” jawab Sella.
“Semuanya? Rekaman suara itu?” tanya Dante, mencoba memancing reaksi. “Aku membaca setiap kata dalam transkrip dan laporan otopsi. Aku membaca tentang penderitaan Marco. Aku tidak mendengarkan rekaman itu.”
Dante terdiam. Ia mengira Sella akan menangis atau berbohong, mengatakan ia tidak bisa membukanya.
“Mengapa tidak?” desis Dante. “Karena itu tidak perlu. Aku sudah mengerti intinya. Aku mengerti penderitaanmu. Aku mengerti betapa monster Ayahku. Mendengarkan suaranya tidak akan mengubah kebenaran itu, hanya akan menghancurkan kewarasanku.”
Dante membanting tangannya ke sandaran kursi, frustrasi. “Kewarasan? Kau pikir kau pantas mempertahankan kewarasanmu setelah apa yang dilakukan ayahmu? Kau harus menderita untuk dia!”
“Aku sudah menderita, Dante,” kata Sella, suaranya kini datar. “Menderita karena hidup di bawah Ayahku. Itu adalah penderitaan yang berbeda, penderitaan yang lambat dan sunyi. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi Ayahku yang kedua.”
Kata-kata itu adalah pemicu. Dante tidak tahan disamakan dengan Emilio.
“Aku bukan dia!” teriak Dante. “Aku tidak memaksamu untuk patuh dengan senyum palsu. Aku memaksamu dengan rantai!”
“Dan aku patuh, Dante. Aku patuh padamu, sama seperti aku patuh padanya,” balas Sella. “Kau ingin bukti? Kau ingin melihat batas kepatuhanku? Aku akan menunjukkannya.”
Dante menyipitkan mata. Ia tahu, sekarang adalah saatnya untuk menguji batas Sella.
“Bagus, Sella Kasteline. Mari kita lihat seberapa jauh harga dirimu telah mati.” Dante berjalan ke sudut ruangan, mengambil sapu dan sikat tua.
“Lantai kantor ini tidak cukup bersih untukku,” ujar Dante. “Perintah pertamaku hari ini. Kau akan berlutut dan membersihkan lantai kantor ini dengan sikat gigi lama ini. Sampai kau merasa puas. Jika kau menolak, aku akan memberikan salinan rekaman audio itu kepada seluruh Sindikat Alister, dan mereka akan tahu betapa sombongnya putri Kasteline.”
Sella menatap sikat itu. Tindakan itu adalah penghinaan total. Tidak ada yang lebih merendahkan daripada membersihkan lantai dengan sikat kecil. Ini jauh lebih buruk daripada ancaman fisik. Ini menyerang intinya.
Sella tidak melawan. Ia tidak menunjukkan jijik.
Ia bangkit, berjalan pelan, mengambil sikat itu dari tangan Dante. Ia berlutut di lantai kayu gelap yang mengkilap itu.
Dante memperhatikan, menunggu air mata, menunggu gemetar.
Sella mulai menyikat. Ia melakukannya dengan gerakan yang terukur, pelan, dan hati-hati. Ia tidak terburu-buru, seolah-olah membersihkan lantai itu adalah tugas sehari-hari yang ia lakukan dengan dedikasi.
Dante berbalik, tidak tahan melihatnya. Rasanya seperti memukuli boneka.
“Sella,” panggil Dante.
Sella berhenti. Ia tidak bangkit, hanya memegang sikat itu erat-erat.
“Kau tidak keberatan?” tanya Dante, suaranya kini mengandung kebingungan, bukan lagi amarah.
Sella mendongak, matanya yang dalam menatap Dante. Ia tersenyum, senyum tipis, sedih, dan hampir tidak terlihat. Senyum yang Dante anggap sebagai penghinaan.
“Aku pernah berlutut di depan Ayahku selama enam jam tanpa bicara, hanya karena aku lupa memberi selamat padanya atas ulang tahunnya. Kau hanya memintaku membersihkan lantai, Dante,” bisik Sella.
Sikat gigi. Membersihkan lantai. Itu harusnya menghancurkannya. Tapi senyum itu…
Senyumnya. Itu bukan senyum menantang. Itu adalah senyum yang terlalu akrab dengan rasa sakit. Itu adalah senyum seseorang yang sudah menyerah pada hidup sebelum aku menculiknya.
“Aku sudah menderita, Dante.”
Seketika, Dante merasa tinjunya mengepal. Ia tidak pernah berpikir Sella, putri kesayangan Emilio bisa menderita. Semua orang tahu Emilio memanjakan putrinya, memberinya segalanya. Tapi Sella tidak terlihat seperti orang yang dimanjakan. Sella terlihat seperti prajurit yang dilatih oleh kekejaman.
Dante memikirkan kembali cerita Marco, penderitaannya, ratapannya. Ia ingin Sella merasakan ratapan itu. Namun, Sella malah memberinya ketenangan yang hanya bisa dimiliki oleh jiwa yang sudah lama hancur.
Mungkinkah Sella juga korban Ayahnya? Mungkinkah kepatuhan sempurna ini adalah mekanisme pertahanan yang telah ia asah selama bertahun-tahun?
Jika ia adalah korban, maka menyiksanya hanya akan membuat Dante sama seperti Emilio. Dendamnya akan menjadi kotor, tidak murni. Dante ingin balas dendamnya bersih, setidaknya dalam konsep keadilan pribadinya. Ia ingin menghukum putri pembunuh kakaknya, bukan seorang tawanan yang sudah rusak.
“Berhenti,” perintah Dante, suaranya rendah dan tertekan.
Sella meletakkan sikat itu, tetapi tetap di posisinya, berlutut.
“Bangun,” kata Dante.
Sella bangkit dengan anggun, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tarian, bukan membersihkan lantai.
“Perintah keduaku,” ujar Dante, suaranya kini diwarnai rasa putus asa. Ia harus menemukan kelemahan itu. “Aku ingin kau mengatakan "Aku bersyukur Ayahku, Emilio Kasteline, membunuh Marco Alister. Dan aku berjanji untuk mengikuti jejak kekejamannya."
Ini adalah perintah yang melanggar batas moral Sella. Ini adalah penghinaan terhadap Marco dan penghinaan terhadap ibunya, yang mengajarkannya ketenangan.
Sella terdiam. Wajahnya pucat, tetapi matanya masih jernih. Ini adalah titik yang sulit. Sella tidak bisa mengkhianati dirinya sendiri.
“Aku tidak bisa melakukan itu, Dante,” jawab Sella, suaranya sangat pelan.
“Maka kau melawan!” teriak Dante, kini sedikit lega karena akhirnya menemukan batasnya. “Kau akan menyesal!”
“Aku tidak melawan,” balas Sella, kini air matanya sedikit terlihat, tetapi tidak tumpah. Ini adalah pertarungan untuk jiwanya. “Aku patuh pada perintahmu yang merendahkan diriku, tetapi aku tidak akan patuh pada perintahmu yang merendahkan kebenaran. Aku tidak bersyukur atas kematian Marco. Aku tidak ingin mengikuti jejak Ayahku.”
Sella berjalan selangkah maju. “Aku sudah memberitahumu, aku tidak akan membiarkan kemarahanmu mengendalikan diriku, dan aku tidak akan membiarkan kebohongan Ayahku mengendalikan diriku. Aku adalah aku, Dante. Sandera, ya. Tapi bukan orang yang bisa kau suruh berbohong untuk memuaskan dendammu.”