Episode 7: Bisikan Stella

1000 Words
Dante terdiam lama, menatap Sella. Ia melihat keteguhan yang luar biasa dalam diri gadis itu. Sella telah melanggar perintahnya, tetapi bukan dengan perlawanan. Ia melanggar dengan integritas, yang terasa lebih kuat daripada perlawanan apa pun. “Liam,” kata Dante, menghela napas panjang, kekalahan pahit terlihat jelas di matanya. “Bawa dia kembali. Berikan dia makanan yang terbaik. Dan ambilkan dia buku yang ia minta kemarin. Aku... aku akan memikirkan hal lain.” Dante berbalik, membelakangi Sella. Saat Liam mendekat, Sella mengucapkan kalimat terakhirnya, membiarkan suaranya lembut, tetapi menusuk. “Dante,” panggil Sella. “Jika kau ingin membalaskan dendam Marco, kau harus lebih baik dari Ayahku. Jangan menjadi monster yang sama.” Sella membiarkan Liam membawanya keluar. Di balik pintu yang tertutup, Dante Alister ambruk ke kursinya. Ia telah menculik Sella untuk membalas dendam, tetapi yang ia dapatkan adalah refleksi moral. Sella, sang sandera, telah menjadi satu-satunya orang yang berani mengkritik jalannya, satu-satunya orang yang memaksanya untuk melihat dirinya di cermin. Ia telah memaksanya hingga batas kepatuhannya, tetapi di batas itu, Sella hanya menunjukkan kekuatan. Malam itu, Dante menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak ingin menyiksa Sella lagi. Ia ingin melindunginya. Sementara itu, di kamar ‘tamu’, Sella menemukan Liam kembali dengan nampan yang berisi sup hangat dan roti yang lebih baik. Liam meletakkan nampan itu di meja. “Aku harus bertanya,” bisik Liam, melanggar perintah Boss-nya. Sella adalah sandera pertama yang membuatnya merasa perlu melanggar aturan. “Mengapa kau melakukan itu? Mengapa kau patuh?” Sella mengambil sendok dan mengaduk supnya. Ia menatap mata lelah Liam. “Di rumah Ayahku, kami belajar bahwa patuh dengan senyum akan membelikanmu waktu, Liam,” jawab Sella. “Waktu untuk menunggu kesempatan, waktu untuk bertahan hidup. Perlawanan hanya akan mempercepat akhir. Dan Dante, ia hanya ingin bermain-main. Selama ia bermain, aku masih hidup.” Liam mengangguk, ia mengerti. Ini bukan kepasrahan, melainkan taktik bertahan hidup yang dingin. “Aku akan kembali besok pagi,” ujar Liam. “Makanlah.” Liam pergi, meninggalkan Sella sendirian di kamar. Ia menyadari ia telah membuat kemajuan. Ia telah menembus keheningan Liam. Ia telah menanam benih keraguan di hati Dante. Sella mengambil sesendok sup. Ia harus tetap kuat. Permainan Dante mungkin sudah berubah, tetapi belenggu ini masih belum terlepas. Sejak pertengkaran terakhir itu, suasana di Kasteline menjadi aneh. Dante jarang terlihat, dan jika ia muncul, ia hanya melemparkan perintah yang singkat dan formal, menghindari tatapan Sella. Liam, si tangan kanan yang dingin, kini bertingkah lebih seperti pengasuh yang canggung daripada penjaga. Sella menghabiskan hari-harinya membaca buku-buku yang dibawa Liam dari perpustakaan pribadi Dante. Novel klasik, puisi, dan laporan ekonomi usang. Apapun yang bisa mengisi kekosongan. Pagi itu, setelah sarapan, Liam datang membawa sebuah keranjang laundry, yang membuat Sella teringat pada permintaannya yang tertunda. "Liam," panggil Sella, membuat pria itu terdiam di ambang pintu. "Tadi malam aku menyelesaikan buku tentang Revolusi Industri Inggris. Ada satu hal yang sangat membuatku penasaran, dan ini bukan sesuatu yang bisa aku baca di sini." Liam menatapnya, alisnya sedikit terangkat. "Apa itu?" "Aku sudah patuh selama berhari-hari. Aku memproses semua dokumen yang Dante berikan. Aku bahkan membersihkan lantai kantornya dengan sikat gigi. Aku ingin meminta hadiah." Liam tersenyum tipis, senyum yang nyaris tidak terlihat dan langsung hilang. "Kau tidak bisa meminta hadiah dari penculikmu, Sella. Itu bukan bagaimana sandera bekerja." "Aku tidak meminta kebebasan. Aku tidak meminta telepon," balas Sella. Ia melipat tangannya di d**a. "Aku hanya ingin Es Krim Pistachio." Liam tertegun. Permintaan itu sangat konyol, absurd, dan tidak terduga. ."Es krim?" Liam mengulang, memastikan ia tidak salah dengar. "Ya. Es krim Pistachio yang dibuat di Toko Roti 'The Crescent'. Itu adalah toko kesukaanku di kota, dan aku yakin Dante tahu itu. Aku ingin yang asli, Liam. Bukan yang beku dari supermarket. Itu satu-satunya hal yang aku rindukan sejak Ayahku meninggal, selain kebebasanku. Aku janji, aku akan memakannya sendirian, di sini, dan tidak akan mencoba kabur." Liam menatapnya lama. Permintaan itu tidak melanggar keamanan. Itu hanya... Mahal dalam konteks kerahasiaan. Toko Roti Crescent terletak di jantung kota, dikenal memiliki kamera pengawas yang canggih, dan itu berarti Liam atau anak buahnya harus mengambil risiko besar hanya untuk membelikannya es krim. "Kau tahu betapa rumitnya itu, Sella? Itu di pusat kota," kata Liam, mencoba menolaknya secara logis. "Aku tahu. Tapi bukankah Dante ingin aku merasa nyaman dalam penderitaanku? Bukankah ia ingin aku melihat betapa murah hatinya ia sebagai penculik?" Sella memiringkan kepalanya. "Lagi pula, jika aku kabur saat kau pergi, itu akan menjadi masalahmu, bukan masalah Dante. Apakah kau akan membiarkan es krim ini menjadi kejatuhanmu?" Liam menghela napas, ia menyadari bahwa Sella telah mempelajari cara berpikir mereka. Sella memanfaatkan kepatuhannya yang dingin untuk membeli sedikit kenyamanan. "Aku akan memberitahu Dante," ujar Liam. "Jangan memberitahu Dante," pinta Sella. "Mintalah izin untuk keluar sebentar untuk urusan pribadi. Anggap ini sebagai perintah rahasia. Jika kau harus membunuh dua agen keamanan dan mengendarai speedboat, lakukanlah. Tetapi aku ingin Es Krim Pistachio itu. Dan ingat, ini adalah rahasia antara kau dan aku. Hadiah untuk kepatuhanku." Liam menyipitkan mata, tetapi akhirnya mengangguk. Dia tidak bisa menjelaskan mengapa, tetapi ada sesuatu dalam permintaan konyol itu yang membuatnya merasa seperti melakukan hal yang benar. Tiga jam kemudian, Liam kembali ke Kasteline. Ia tampak lebih tegang daripada saat ia membawa Sella masuk. Sella sedang membaca di sofa ketika Liam masuk. Ia tidak membawa nampan, melainkan sebuah tas kertas kecil yang dingin. "Kau berhasil?" tanya Sella, matanya berbinar. Itu adalah kegembiraan pertama yang dilihat Liam sejak menculiknya. "Tentu saja aku berhasil," jawab Liam dengan nada agak masam. "Aku menghabiskan empat puluh menit di dalam van gelap menunggu momen yang tepat dan harus menyogok dua petugas patroli agar mereka tidak melihatku. Aku hampir baku tembak dengan geng pengedar narkoba hanya karena salah jalan. Ini adalah es krim termahal yang pernah aku beli." Ia meletakkan tas itu di meja. Sella mengambil sendok kecil yang dibungkus plastik dan membuka kotak kardus kecil itu. Warna hijau muda cerah, dihiasi kacang pistachio yang dihaluskan. Aroma manisnya langsung tercium. "Terima kasih, Liam," kata Sella, matanya terlihat tulus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD