Call from Real Erik

1769 Words
Malam hari itu, Sebastian kesulitan untuk tidur dan membuat dirinya memutuskan untuk menyeduh camomile tea agar setidaknya dirinya bisa nyaman untuk tertidur di hari itu, ia tidak akan mengambil obat tidur, karena dirinya mengetahui jika obat tidur memiliki efek samping yang buruk yang pada akhirnya herbal lah jalan alternative yang bagus. Malam itu tepat pukul 12.55 dini hari, dan Sebastian terduduk di sofa ruang tengah di rumahnya. Tak ada satu pun yang di lakukan oleh Sebastian selain terdiam dan melamun, namun tidak lama dari sana pandangannya kini tertuju ke arah handphone miliknya yang kini bergetar dan memperlihatkan notifikasi ‘Kapten Erik Calling you’ yang tentu saja membuat Sebastian dengan segera meriah handphone miliknya dan kembali mengangkat sambungan telepon yang di lakukan oleh Erik kepada dirinya saat itu. “Halo?!” ucap Sebastian dengan tergesa dan hal itu membuat seseornag di sana kini terkekeh namun dari kekehan itu terdengar dan terasa oleh Sebastian jika Erik tidak baik-baik saja pada saat itu. “Kau baik-baik saja Erik??” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Erik pun berkata, “Yeah … aku merasa takut saat ini … tapi aku merasa lega ketika mendengar suara dari temanku saat ini!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini menghembuskan napasnya dan kemudian berkata, ”Katakan di mana dirimu saat ini Erik?! aku akan mendatangimu dan menyelamatkanmu!” ucap Sebastian kepada Erik yang kini terdengar tertawa namun menangis, seolah dirinya tahu jika Sebastian tidak akan bisa melakukan hal itu. “Tidak Sebastian … Cukup menemaniku di panggilan ini saja … aku merasa sudah aman!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini membuat Sebastian menghembuskan napasnya menanggapi hal itu, “Apakah kau tahu, siapa orang yang berpura-pura menjadi dirimu di kamp pagi tadi, Erik?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Erik segera berkata, “Yeah! Jangan berkata lagi Sebastian! Aku mohonh … jangan membahasnya! Kau hanya perlu menghindari dirinya dan jangan pernah sendirian bersama dengannya! Jangan berikan apa yang telah aku titipkan! Kumohon … kau akan dalam bahaya jika berdekat-dekat dengannya!” ucapan Erik pada saat itu terdengar sangat-sangat ketakutan, yang membuat Sebastian tentu saja merasa jika Erik benar-benar takut kepada orang itu, yang membuat Sebastian pun menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Siapa dia??” tanya Sebastian lagi, namun kali ini Erik tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian, yang membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya dan kemudian kembali bertanya kepada Erik, “Erik??! kau di sana?? Erik?!” tanya Sebastian dengan panik kepadanya, yang setelahnya suara mengerikan pun terdengar di sana, ”EAAAAAAAAAAAAAAA~” Itu terdengar sangat menyeramkan, seolah seseorang ingin berbicara namun tidak bisa karena terjerat sesuatu atau di cekik, yang menghasilkan suara itu terdengar sangat serak dan menyakitkan, yang tentu saja membuat Sebastian terkejut sekaligus ketakutan mendengarnya, namun di saat yang bersamaan ia pun merasa panik dan khawatir dengan kondisi dari Erik pada saat itu. “Erik!: panggil Sebastian lagi, Pip! “!!” Sebastian terkejut ketika sambungan itu pada akhirnya di putuskan oleh Erik, yang membuatnya tergesa untuk segera menekan tombol recalling di handphone miliknya, namun jemari tangannya seketika berhenti ketika mengingat jika ia tidak bisa melakukan hal itu, karena ia tahu bahwa Erik yang lain pasti lah yang mengangkat sambungan di sana. “Hh …. hhh …” napas Sebastian menjadi tidak menentu karenanya, pandangannya pun kini menoleh menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul Satu dini hari. Untuk persekian detik Sebastian termenung, namun di detik lainnya ia tersadar jika Erik sahabatnya menelfon di saat yang sama, di sekitaran pukul satu dini hari. Tentu saja itu membuat dirinya kini penasaran, dan bertanya-tanya. “Apakah dia di culik dan di kurung di suatu tempat?” itu lah yang ada di dalam pikiran dari Sebastian pada saat itu. Namun karena dirinya belum menemukan jawaban yang pasti, membuat Sebastian pun memutuskan untuk mencari tahu dair jarak jauh saja, karena ia mengikuti semua yang di sarankan oleh Erik untuk tidak mendekati Erik yang ada di kamp pemadam kebakaran saat itu. … Selama ia mencari tahu mengenai apa yang terjadi kepada Erik, Sebastian tidak pernah berhenti untuk membuat sebuah catatan yang sengaja ia buat untuk dirinya sendiri perihal kasus Ingrid yang kemudian pada akhirnya menyebar kepada keanehan yang di tunjukkan oleh Erik sahabat lamanya pada saat itu. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Erik?” gumam Sebastian di dalam ruqang kerjanya pada saat itu, ia menatap dengan seksama catatan yang baru saja di buat olehnya, sehingga ia tidak sadar jika sedari tadi dirinya tengah di perhatikan oleh seseorang di sana. ”Kenapa dengan Erik?!” sebuah pertanyaan yang terdengar saat itu, membuat Sebastian dengan seketika menutup buku catatan miliknya dan menoleh menatap Dokter Mo, sang Dokter psikologi yang kala itu tengah berdiri di ambang pintu ruang Sebastian, yang tentu saja mengejutkan Sebastian saat itu. “Ah! Dokter Mo!” panggil Sebastian dan hal itu membuat Dokter Mo atau yang memiliki nama lengkap Dokter Darla Mo itu tersenyum dan berkata, “Maafkan aku karena masuk tanpa idzin! Tapi aku melakukannya karena kau sama sekali tidak menanggapi ketukan yang aku lakukan, Dokter Rusk!” ucap Dokter Mo kepada Sebastian, dirinya di panggil Dokter Rusk karena Rusk merupakan nama marga milik Sebastian, yang tentu akan dipakai oleh para dokter ketika berbicara secara formal di waktu yang formal pada saat tertentu. “khkh … please call me Sebastian! Kita berteman bukan?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian di sana membuat Dokter Mo kini tersenyum dan berkata, “Jika begitu kau juga bisa memanggilku dengan namaku, Sebastian!” ucap Dokter Mo kepada Sebastian yang kini tersenyum dan mengangguk untuk kemudian berucap, “Baiklah Darla … aku akan memanggil namamu!” ucap Sebastian dan membuat Darla tersenyum dan mengangguk seraya berucap, “Nice!” ucapnya dan membuat Sebastian kini tersenyum lagi. “Jadi … ada apa denganmu? Aku lihat kau terlihat khawatir dan ketakutan beberapa waktu ini, adakah yang salah Sebastian?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Darla pada saat itu, membuat Sebastian pun pada akhirnya menghembuskan napasnya dan mulai bercerita kepada dokter Darla, karena pasalnya Darla merupakan dokter psikologi, dan Sebastian merasa jika tidak ada salahnya bila dirinya bercerita kepada dokter yang tepat pada saat itu. … “.… Jadi, temanmu ini seperti seseorang yang berbeda?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Darla pada saat itu, membuat Sebastian menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan itu, “Bukan hanya itu saja, Erik yang aku kenal akan menelepon diriku di jam satu malam, namun setelah itu … Erik yang berbeda akan kembali dan membuatku tidak bisa mendekati dirinya, apakah itu dinamakan kepribadian ganda, Darla?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu membuat Darla kini mengerutkan dahinya dan kemudian berkata, “Kita tidak bisa menarik kesimpulan seperti itu dengan mudah, Sebastian … apakah Erik ini pernah mengalami kekerasan di masa kecilnya?” sebuah pertanyaan yang di tanyakan oleh Darla pada saat itu, membuat Sebastian kini menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian berkata, ”Tidak … dia adalah anak yang periang dan keluarganya sangat baik!” ucap Sebastian kepada Darla yang kini mengerutkan dahinya seraya bertanya, “Kau yakin akan hal itu?” tanya Darla dan membuat Sebastian kini menganggukkan kepala seraya berucap, ”Yeah … aku berteman dengannya dan juga keluargaku berteman baik dengan keluarganya!” ucap Sebastian kepada Darla yang kini membuat Darla menganggukkan kepalanya lagi, “Apakah ada hal yang dia lakukan sebelum sifat darinya berubah seperti itu, Sebastian?” sebuah pertanyaan lainnya, membuat Sebastian kini dengan segera menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata, “Ya! Sebelumnya dia pergi ke sebuah desa untuk mencari sesuatu hal, dan malam harinya ia menelepon diriku dan menangis untuk memintaku menolong dirinya dan menjemputnya ke sana!” jelas Sebastian kepada Darla yang kini kembali menganggukkan kepalanya di sana. “Ke mana dia pergi? Dan untuk apa?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Darla saat itu, membuat Sebastian Ragu mengenai apakah dirinya harus bercerita kepada Darla atau tidak. Melihat keraguan yang di perlihatkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Darla akhirnya menganggukkan kepala dan kemudian berkata, “Jika kau tidak siap untuk menceritakannya juga tidak apa-apa, Sebastian!” ucap Darla kepada Sebastian yang kini dengan segera menolehkan pandangannya ke arah Darla dan kemudian menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Tidak-Tidak … aku bisa menceritakannya Darla!” ucap Sebastian, dan hal itu membuat Darla kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, dan kemudian tersenyum untuk menunggu apa yang akan di jelaskan oleh Sebastian pada saat itu kepada dirinya “Dia, … dia pergi ke desa Fareham untuk mencari tahu sebuah kasus yang terjadi di sana, Darla … aku pun tidak mengerti kenapa dia harus pergi ke sana, banyak sekali kejanggalan yang aku rasakan ketika mendapatkan kasus ini, Darla!” ucap Sebastian kepada Darla yang kini mengerutkan dahinya mendengar hal itu, ”Kasus??” sebuah pertanyaan lagi di lontarkan oleh Darla, yang kemudian membuat Sebastian pun pada akhirnya memnceritakan semuanya dari awal, di mana ketika dirinya dan juga erik pergi karena sebuah panggilan darurat yang mengatakan jika empat orang anak melompat dari ketinggian tiga belas lantai hingga saat di mana Erik menjadi berubah. “Jadi seperti itu lah cerita, Darla!” sebuah penjelasan yang di lontarkan oleh Sebastian kepada Darla pada saat itu pun seketika saja membuat Darla tertegun dan menghembuskan napasnya dengan berat, yang tentu saja membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya dan kemudian bertanya kepada Darla, “Darla … are you okay?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Darla kini dengan cepat menolehkan pandangannya ke arah Sebastian untuk kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala seraya berkata, ”Yeah … aku baik-baik saja!” ucap Darla kepada Sebastian yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, “Eum … Sebastian, menurutku … temanmu ini tidak memiliki dua kepribadian, namun dia juga tidak sedang di kurung seperti yang jelaskan kepadaku saat ini!” ucap Darla kepada Sebastian yang kini membuat Sebastian mengerutkan dahinya mendengar hal itu, “Huh?? apa maksudmu, Darla?” tanya Sebastian kepada Darla yang kini berucap, “Aku merasa jika ini tidak ada kaitannya dengan psikologi atau dengan ilmu medis, jadi aku rasa … kau memang perlu berhati-hati kepada temanmu yang satu ini, Sebastian! Atau setidaknya pergi dan bawalah dirinya ke gereja, agar setidaknya dia bisa terlepas darinya!” ucapan Darla kala itu, benar-benar membuat Sebastian merasa bingung, kenapa dia membahas mengenai agama di sana, seharusnya dirinya tahu bahwa Sebastian tidak memiliki agama pada saat itu. Namun, ketika melihat wajah Darla yang kini mulai memucat, membuat Sebastian tahu jika sesuatu yang tengah di hadapi olehnya dan juga Erik bukanlah manusia. Yang pada akhirnya membuat Sebastian pun terdiam dan tertegun karena hal itu. … To be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD