Hide Seek

1689 Words
Tiga hari semenjak Sebastian berbincang dengan Darla, dirinya memang tidak dan jarang sekali mampir ke kamp fire departemen, dan hanya akan bertemu dengan Erik ketika keduanya kebetulan bertugas di tempat dan waktu yang bersamaan, dan itu pun hanya siang tadi. Meski pun ia memang sudah menjauhi Erik, namun dirinya masih berhubungan melalui sambungan telepon dengan Erik di setiap pukul satu malam, karena pasalnya Erik sama sekali tidak pernah melewatkan panggilan itu, dan membuat Sebastian tahu jika dirinya harus berada di sana dan menemani Erik. Namun, kali ini … suara Erik nampak berbeda, dirinya terdengar sangat ketakutan dan bahkan lebih ketakutan dari pertama kali mereka berbicara lewat telepon, dan hal itu membuat Sebastian merasa sangat penasaran, yang kemudian membuat dirinya kini bertanya kepada teman kecilnya itu. “Erik, what’s the problem?? are you alright?!” tanya Sebastian dengan nada khawatirnya kepada Erik yang kala itu terdengar seperti seseorang yang menggigil sekaligus ketakutan pada saat itu. “Sebastian …, Sebastin !! tolong akuhhh … mereka tidak berhenti menyanyikann ya! Aku ketakutan Sebastian … aku mohon …. aku takut, Mama … aku takut!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini seketika mengerutkan dahinya mendengarkan ucapan dari Erik pada saat itu, “Apa maksudmu?? siapa yang menyanyi?? apa yang mereka nyanyikan?!” tanya Sebastian kepada Erik, yang kemudian membuat Erik pun berbisik dengan cepat, ”Mereka!! anak-anak kecil yang tersesat di tengah hutan ini …. mereka…. Sarah …. anak itu …. dia yang memimpin mereka bernyanyi …. aku takut …. heu … heuuu …. ampuni akuu….” Ucap Erik kepada Sebastian yang kini mengerutkan dahinya mendengar hal itu, yang kemudian membuat Sebastian kembali menggelengkan kepala dan bertanya, ”Apa yang mereka nyanyikan Erik, katakan padaku!” ucap Sebastian lagi, dan kini Erik pun tidak berkata apa pun, selain suara nyanyian dari anak-anak kecil yang terdengar riang di sambungan itu. ‘ hide seek … hide seek … Let’s we play … You just need to hide from him … Stay away from soldiers and merchants … Don’t let your body turning black! Hide seek … hide seek … Let’s we play … We just have to hide from him!’ “Hahahaha” “Hihihihi” “Hehehehe” “EAAAAAAAAGHHH!!!” Suara nyanyian itu pun akhirnya diikuti oleh suara tawa dari anak-anak yang terdengar, sebelum pada akhirnya teriakan dari Erik lah yang memekakkan telinga dari Sebastian yang kini terkejut mendengarnya. “Erik?! Erik!!” panggil Sebastian dengan panik, Tuuutt … tuuut … tuuut… Sambungan itu pun mati, dan membuat Sebastian tertegun beberapa detik karena terkejut. Namun detik kemudian dirinya teringat dengan lirik dari lagu tersebut. Lagu itu adalah lagu yang di senandungkan oleh Erik ketika dirinya dan juga Erik tengah berada di sebuah lokasi tempat di mana sebuah pabrik terbakar, dan Erik yang terluka pada saat itu pun di tangani oleh Sebastian. … Flash Back Blaaarrr!! Pandangan Sebastian yang pada saat itu baru saja turun dari mobil ambulance terkejut ketika melihat kobaran api yang ada di atas gedung saat itu baru saja memecahkan kaca dari gedungnya, karena hawa panas yang ekstreem di sana. Pandangan Sebastian kini menoleh menatap para korban yang baru saja di selamatkan oleh Bafehood Fire Departemen 180 yang baru saja keluar dari lokasi tempat gedung tersebut terbakar, yang membuat Sebastian kini menoleh menatap personil medisnya dan membuatnya berucap, “Lakukan tugas kalian, Medis! Tangani mereka dan beri mereka pita tanda!” ucap Sebastian kepada kelima personilnya yang pada akhirnya membuat mereka pun menyebar untuk menyelamatkan dan mengobati pada korban di sana. “Sebastian! Sebastian!!” sebuah panggilan yang di dengar oleh Sebastian pada saat itu, membuat dirinya kini menoleh menatap Tony yang berlari dengan membopong sang kapten yang kala itu berjalan terseok-seok dan dengan jelas Sebastian dapat dengan melihat pecahan kaca yang kini menancap di bahu kanan dari Erik teman lamanya sekaligus Kapten dari pemadam kebakaran di kota Bafehood, yang tentu saja membuat Sebastian dengan degera menunjuk ke arah dinding di sana dan berkata, “Dudukkan dia! Biarkan aku yang tangani!” ucap Sebastian yang kemudian membuat Tony menganggukkan kepalanya menanggapi perintah itu, dan membuat Erik kini dengan segera menahan langkah Tony seraya berkata, “Ku serahkan semua kepadamu, pimpin mereka, sampai aku selesai di tangani!” ucap Erik kepada Tony, yang kini menganggukkan kepalanya dan segera berlari dari lokasi itu, dan membuat Sebastian kini mulai untuk mengobati Erik yang terluka pada saat itu. “Bagaimana bisa kau terluka? Seharusnya pemadam kebakaran tidak mudah terluka bodoh!” ucap Sebastian kepada Erik yang kini hanya terkekeh mendengarkan hal itu, Sebastian tidak bisa menghindari temannya saat ini, yang pada akhirnya ia hanya bisa bersikap seperti biasanya dan berusaha untuk mengobati Erik dengan sangat baik pada saat itu. “Luka yang kau alami sangat dalam, biarkan aku mencabut beling kaca ini!” ucap Sebastian kepada Erik yang kini menganggukkan kepalanya dengan pelan, yang membuat Sebastian pun pada akhirnya mengobati ERik yang terluka saat itu. “Hhh …. hmmmm…. hmmm … hmmm … “ Dahi Sebastian sedikit berkerut ketika menyadari bahwa Sahabat lamanya Erik tengah bersenandung di saat seperti ini, yang kemudian membuat Sebastian pun menjadi penasaran dengan apa yang di senandungkan olehnya, yang pada akhirnya Sebastian pun bertanya kepada Erik, ”Apa yang sedang kau lakukan Erik? Bernyanyi??” tanya Sebastian yang kala itu masih menangani Erik, yang kini tersenyum dan berkata, “Yeah … aku sedang bernyanyi Dokter!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini menggelengkan kepalanya dengan pelan untuk kembali bertanya, “Apa yang kau nyanyikan itu? Twinkle little star?” tanya Sebastian dan membuat Erik kembali berkata, “No ... bukan itu, aku bernyanyi Hide seek, Dok!” ucap Erik, dan hal itu membuat Sebastian terkejut dan membuat dirinya kini terkekeh dan kembali berkata, “Kau menyanyikan lagu anak-anak meski dirimu sudah sedewasa ini, Erik?!” tanya Sebastian dan hal itu membuat Erik hanya terkekeh mendengarnya dan membuat Sebastian tertawa seraya menggelengkan kepalanya tidak mengerti kenapa dirinya bersenandung lagu anak-anak pada saat itu. Flash Back off Mengingat hal itu, membuat Sebastian pun kini bergumam, “Hide seek??” gumam Sebastian, namun ketika dirinya merasa penasaran, membuat Sebastian pun segera berjalan menuju ruang kantornya dan kemudian segera membuka laptop miliknya untuk mencari artian dari lagu hide seek yang ia dengar dari Erik pada saat itu. Pandangan dari Sebastian saat ini tertuju ke arah sebuah artiken dengan judul yang cukup menarik perhatian dirinya pada saat itu. Hide seek merupakan sebuah lagu yang menggambarkan dengan jelas wabah yang menyeramkan yang pernah menyerang Eropa pada abad ke empat belas.’ Judul itu pun pada akhirnya di pilih oleh Sebastian yang kini mulai membaca isi dari Artikel tersebut. Teks yang di buat oleh Clayrize pada abad ke-14 itu berbunyi: ‘ hide seek … hide seek … Let’s we play … You just need to hide from him … Stay away from soldiers and merchants … Don’t let your body turning black! Hide seek … hide seek … Let’s we play … We just have to hide from him!’ Seorang peneliti bernama Peter yang meneliti lagu itu, dengan tegas menyatakan jika ‘sajak ini muncul dari sebuah wabah besar yang melanda pada waktu itu, wabah itu adalah wabah dari pes dan juga radang paru-paru, London 1952’ Hide seek ini adalah tentang wabah yang besar, imajinasi yang nyata menjadi foil untuk salah satu rambut gimbal paling atavistik di london (Berkat Black Death). fatalisme saja itu sangat brutal. Hide seek / petak umpet adalah eufemisme atau gambaran dari orang-orang yang tidak boleh berkeliaran dengan bebas di mana saja, karena pada saat itu wabah tengah menyerang wilayah tersebut. You just need to hide from him menggambarkan jika him atau dia yang di maksudkan pada lagu ini merupakan wabah yang mereka takuti, mereka tidak boleh terkena dari wabah tersebut, dan itu pun bisa di perjelas dari kata stay away from soldiers and merchants kedua pekerja yang tersebut merupakan orang-orang yang datang dan membawa wabah tersebut pada abad ke-14 sehingga tentara dan pedagang sangat di takuti karena wabahnya yang mereka bawa. Don’t let your body turning black merupakan ciri-ciri dari penyakit itu sendiri, di mana tubuh orang yang terkena wabah akan menjadi ruam dengan warna hitam legam. Dan bahkan wabah yang terjadi pada saat itu pun diberi nama sebagai Black death. “Black Death!” gumam Sebastian ketika ia mengetahui dengan pasti wabah apa itu. Dan itu adalah hal yang mengerikan menurut Sebastian, namun apa sangkutannya wabah itu dengan kami?? dan kenapa Erik ketakutan karenanya? Itu lah yang kini menjadi tanda tanya bagi Sebastian pada saat itu. Pada akhirnya Sebastian pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang berkaitan dengan Black death, atau lebih tepatnya apa yang menjadi penyebab wabah tersebut terjadi. Dan ia pun segera mensearch nya melalui internet. Yang pada akhirnya Sebastian pun menemukan artikel yang menjelaskan mengenai black death atau maut hitam. Di mana pada abad ke-13 sampai 14 silam, seorang paus dari Eropa bernama Gergorius IX pernah memberikan pernyataan yang bisa disebut sebagai pernyataan yang sangat konyol dan tidak masuk di akal. Pernyataan itu adalah menganggap kucing sebagai jelmaan dari Iblis, dan terutama kucing hitam, ia juga mengatakan jika kucing akan membawa nasib buruk bila tidak segera di musnahkan. Yang pada akhirnya seluruh masyarakat yang percaya akan hal itu pun melakukan sebuah hal keji yang mereka sebut sebagai genosida kucing (membunuh kucing secara besar-besaran), dan pada akhirnya mereka juga tidak menyadari jika itu lah yang membuat mereka terserang sebuah pandemic mengerikan yang merenggut jutaan nyawa orang. Pada awal masa setelah melakukan genosida kucing, keadaan masyarakat baik-baik saja, namun beberapa waktu kemudian mulai bermunculan penyakit aneh di mana orang-orang yang terkena penyakit tersebut kulitnya berubah menjadi hitam, dan masyarakat pun semakin menjadi ketakutan karenanya. Yang dulu mereka sebut sebagai “Great plague” atau yang kita sebut sebagai “Black Death”. Banyak juga yang mempercayai jika genosida kucing itu di lakukan karena banyak yang ketakutan akan para penyihir yang berubah menjadi kucing, dan beberapa juga mempercayai jika black death merupakan sebuah kutukan yang diberikan oleh roh-roh para penyihir yang murka yang kala itu dimatikan ketika genosida kucing berlangsung. … Membaca hal itu, membuat Sebastian kini terdiam dan pandangannya tertuju pada dua kata, yaitu ‘Roh Penyihir’ yang membuat Sebastian merasa merinding ketika membaca kata tersebut. … To Be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD