Last Call

1677 Words
Drrt … drtt… drrtt … Dahi Sebastian berkerut, dirinya kini terbangun dari tidurnya untuk kemudian menoleh menatap ke arah jam yang tertempel di dinding yang kala itu menunjukkan pukul tiga lebih tujuh pagi. Pandangan Sebastian kini menatap ke arah layar dari handphonenya. ‘Kapten Erik Calling you’ Itu lah yang tertulis di dalam informasinya, yang pada akhirnya membuat Sebastian segera mengangkat telepon dari Erik. “Halo?” tanya Sebastian kepada Erik, “kuh …. kuh … kuh … hik …. hk …” Dahi Sebastian spontan mengerut dan kini dirinya kembali terkejut ketika mendengar sebuah suara tangisan dari Erik di kejauhan sana. “Erik, Are you ok?” tanya Sebastian, dan hal itu membuat tangisan dari Erik semakin menjadi, sebelum akhirnya berkata, “Sebastian … aku tidak kuat lagih … maafkan akuhh … tolong jaga istri dan anakkuh … aku benar-benar takuth … Sebastianh … huk … huk … huk ….” Ucapan Erik saat itu membuat Sebastian sangat tidka mengerti, dirinya kini beranjak dari tidurnya untuk kemudian berkata, “Apa yang terjadi? Di mana kau sekarang, apa yang kau katakan, Erik?!” tanya Sebastian kepada Erik, untuk kemudian Sebastian kembali mendengar suara Erik menangis dan berkata, “Maafkan aku … mereka terlalu kuat untukku, mereka menyeramkan … mereka menakutkan! Maafkan aku karena aku tidak bisa membohongi mereka lagi … selanjutnya kau yang akan mereka cari … Sebastiannhhh … huk … segera lah cari bantuan … jangan pernah berbicara dengan anak-anak itu! Bakar mereka semua!!” “STOP IT YOU i***t!!!” Tuuuuuttttt … “!!!” Sebastian sunggu terkejut, dirinya mendengar suara lain yang menjerit saat itu, namun ia juga khawatir dengan kondisi dari Erik pada saat itu, karena mereka belum selesai berbicara, yang tentu saja ia menjadi kebingungan karenanya. “Astaga, apa yang terjadi para Erik?!” itu lah yang ada di dalam benaknya saat ini. … Berita terkini, kebakaran yang terjadi pada sebuah pom bensin yang terletak di distrik 17 dini hari tadi, tidak bisa dikendalikan. Ledakan kedua yang terjadi pada saat itu seketika menewaskan satu tim personil pemadam kebakaran dengan kode 180. hingga pagi ini, beberapa pemadam kebakaran di kerahkan untuk menghentikan api yang berkobar, dan kemacetan pun terjadi dan tidak dapat dielakan lagi… Trak! Sebastian yang kala itu tengah sarapan bersama dengan Sofia sang istri pun seketika menjatuhkan sendoknya dan tertegun dengan lemas setelah mendengar kabar tersebut, dan hal itu membuat Sofia segera menolehkan pandangannya ke arah sang Suami seraya berkata, “Dear, are you ok … oh babe!” ucap Sofia, ketika mengetahui jika teman kecil dari Sebastian sang suami adalah ketua dari tim tersebut. “...” tak ada satu pun kata dan reaksi yang diperlihatkan oleh Sebastian selain terdiam terkejut pada saat itu, kedua matanya tidak lepas dari pemberitaan yang terputar di TV tepat di samping sudut ruangan itu. Ledakan kedua di perkirakan terjadi pada pukul tiga lebih tujuh dini hari tadi, dan … “?!” dahi Sebastian seketika berkerut ketika mendengar kabar itu, yang membuatnya kini segera mengecek handphonenya dan melihat panggilan terakhir yang di lakukan olehnya dengan Erik, dan itu pukul tiga lebih tujuh. Kepala Sebastian seketika menggeleng dan kemudian berucap, “Mustahil … itu mustahil Sofia!” ucap Sebastian kepada Sofia yang kala itu terlihat kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh sang suami, “Aku dan Erik saling berhubungan satu sama lain, dia yang menghubungiku di jam itu!! tidak mungkin jika ia tewas bukan?!” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, sama sekali tidak membuat Sofia berkutik, yang membuat Sebastian pun segera dan berusaha untuk menghubungi kembali sahabat kecilnya yang satu itu. “Come on … Erik … kau selamat, come on!” gumam Sebastian menunggu sambungan itu diangkat oleh Erik, namun bersamaan dengan itu pandangannya kini tertuju ke arah layar TV yang kini memberitakan jumlah korban yang tewas ketika peristiwa itu terjadi, dan nama dari Erik tercantum di dalamnya. Hal itu tentu saja membuat Sebastian seketika lunglai, dirinya terjatuh dan merasa lemas, beruntung sang Istrik segera menghampiri dan memeluknya di sana. “Babe! Oh My god …. still with me … you will gonna be alright … I’m here!” ucap Sofia kepada Sebastian yang kini mulai menjadi tidak terkendali lagi dan pada akhirnya menangis. Sebastian merasa sangat-sangat sedih, Erik adalah sahabat lamanya dan mereka sudah seperti saudara sendiri, namun ia tidak akan pernah menduga jika panggilan malam tadi merupakan panggilan terakhir darinya, yang kemudian membuat Sebastian pun kembali tersadar dengan semua ucapan yang di lontarkan oleh Erik kepadanya malam itu. Beruntungnya Sebastian juga sudah merekam semua pembicaraan mereka selama ini, namun jika ia pikirkan kembali, apa untungnya? Ia tidak bisa mengobati Erik dan kini Erik pun sudah tiada, yang tentu saja membuat dirinya menjadi tidak tahu arah. “Apa yang harus aku lakukan?? apa yang akan terjadi selanjutnya?? kenapa kau meninggalkanku temanku?” itu lah gumaman yang di lontarkan oleh Sebastian di dalam pelukan Sofia. Kabar itu pada akhirnya membuat Sebastian absen untuk bekerja, dirinya memilih untuk beristirahat dan segera pergi ke rumah duka ketika tubuhnya sudah sedikit membaik dari keterkejutannya pada saat itu. … Tok … tok … tok … Sebuah ketukan pada pintu di luar rumah, membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya mendengar ketukan itu, namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya lagi karena ia tahu jika ia harus tenang agar setidaknya bisa pergi ke rumah duka sekitar jam sepuluh nanti. Tok … tok … tok … Ketukan itu kembali terdengar, yang tentu saja membuat Sebastian kini menoleh menatap ke arah pintu dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sang Istri, namun detik kemudian ia menyadari jika Sofia tidak ada di sana. “Apakah dia sendang mandi?” itu lah yang di gumamkan oleh Sebastian pada saat itu, yang pada akhirnya membuat Sebastian pun kini beranjak untuk berjalan dan mendekati pintu ruang tamunya. Tok … tok … tok … Cklek! Pintu itu pun segera di buka oleh Sebastian, dna pandangannya kini menatap ke arah seorang anak perempuan dengan usia sekitar sembilan tahunan itu, yang kala itu mengenakan dress berwarna abu-abu dengan pita merah yang ia kenakan sebagai bando dari rambut panjang hitamnya itu kini berdiri tepat di hadapan Sebastian, yang membuat dirinya kini mengerutkan dahi seraya berkata, “Yea?” tanya Sebastian dengan lemas di sana, dan membuat anak gadis itu tersebut dan berucap, “Apakah kau Sebastian?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh anak perempuan itu, membuat Sebastian seketika mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya dari mana dirinya mengetahui namanya pada saat itu. “Eum … siapa?? ya, saya Sebastian!” ucap Sebastian kepada anak perempuan itu yang kemudian kini menadahkan tangannya ke depan untuk berucap, “Bolehkan aku meminta mereka semua?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh anak perempuan itu membuat Sebastian seketika mengertukan dahinya meenanggapi ucapan dari anak perempuan itu, “Huh?? apa yang kau maksudkan, nak?” tanya Sebastian lagi kepada anak perempuan itu, yang kini menatapnya masih dengan senyumannya saat itu. “Teman-temanku, temanmu mengatakan bahwa kau lah yang membawa mereka kemari, Sebastian!” ucap anak perempuan itu, yang kini membuat Sebastian semakin tidak mengerti, “Aku tidak mengerti, teman-temanmu yang mana?” tanya Sebastian kepada anak perempuan itu yang kini kembali berkata, “Mereka yang ada di belakangmu, kau yang membawanya malam itu!” ucap anak perempuan itu, yang membuat Sebastian segera menoleh menatao ke arah belakang di mana empat anak kecil kini terduduk di sofa panjang itu dengan darah yang bercucuran di sekitar wajah mereka, yang tentu saja mengejutkan Sebastian pada saat itu, yang kini kembali menoleh menatap anak perempuan itu yang baru saja ia dengan tertawa dengan sangat-sangat puas. “Ahahahahahahahaha….” dan ketika Sebastian menatapnya, anak perempuan itu kini menyeringai di hadapannya dan berucap,   “Dan aku juga akan membawa jiwamu, sama seperti aku membawa Erik!” wajah dari anak perempuan itu seketika berubah menjadi nenek-nenek yang menyeramkan sehingga sangat mengejutkan Sebastian. “!!!” Sebastian seketika terbangun dari mimpi buruknya, dan membuatnya kini menghembuskan napas saat sadar jika ia tertidur di pagi hari itu, “Sebastian … apa kau baik-baik saja?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Istri pada saat itu, membuat Sebastian kini menoleh menatap sang Istri yang ternyata sudah berisap-siap pada saat itu, yang akhirnya mem buat Sebastian pun menganggukkan kepalanya untuk kemudian berdiri dari duduknya saat itu, “Yeah!” ucap Sebastian dengan lemas, namun ketika dirinya baru saja berdiri dari sana, sebuah benda yang asing pun terjatuh dari pangkuan dirinya, yang membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya ketika mendapati jika sebuah lipatan kecil kertas lah yang terjatuh pada saat itu. Dengan segera Sebastiab meraih kertas tersebut untuk kemudian membaca isi tulisan yang ternyata ada di dalam kertas itu. ‘U need Help!’ Sebuah pesan yang membuat Sebatsian cukup terkejut, karena ia mengetahui tulisan tangan yang ia genggam saat ini, dan itu merupakan tulisan tangan dari Erik. Yang tentu saja membuat Sebastian menjadi sangat-sangat terkejut sekaligus ketakutan pada saat ini. Dan saat itu membuat dirinya kembali teringat dengan ucapan Erik malam itu, Maafkan aku karena aku tidak bisa membohongi mereka lagi … selanjutnya kau yang akan mereka cari … Sebastiannhhh … huk … segera lah cari bantuan … jangan pernah berbicara dengan anak-anak itu! Bakar mereka semua!! Itu lah ucapan yang diingat oleh Sebastian, yang pada akhirnya membuat dirinya menyadari jika selanjutnya dia lah yang akan diincar oleh sesuatu yang tidak diketahui olehnya pada saat itu, ‘jangan pernah berbicara dengan anak-anak itu’ apa mungkin yang di maksud dengan Erik adalah anak perempuan itu? Gumam Sebastian di dalam hatinya. Yang selanjutnya ia pun berpikir mengenai kata ‘mereka’ itu lah yang diucapkan oleh Erik kepada Sebastian, yang membuat Sebastian menyadari jika jumlahnya pasti lah banyak. ‘Bakar mereka semua’ dan selanjutanya Sebastian harus mencari tahu, mereka yang di maksud apakah berbeda ataukah sama? Namun detik kemudian ia teringat jika ini merupakan kasus yang diawali oleh Ingrid, dan membuat dirinya pun harus segera bertemu dengan Ingrid pada saat ini. “Dia pasti ada di pemakaman, aku yakin itu!” itu lah yang di gumamkan oleh Sebastian, yang membuat dirinya pun mengangguk dan memutuskan untuk bertanya atau setidaknya meminta bantuan kepada dirinya saat itu. …    to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD