Weird fear

1769 Words
Malam hari itu, Sebastian tidak pulang dengan cepat, dirinya bahkan sudah mengirimi Sofia pesan dan meminta maaf karena kesibukannya hari itu di Rumah sakit, mesku pun sebenarnya Sebastian tidak sedang sibuk, karena pada saat ini tak ada satu pun pasien yang datang untuk ditangani oleh Dokter Sebastian. Dan kenyataan yang lainnya Sebastian kini justru terduduk dengan lesu di atas kasur ruangan kerjanya dan kini tengah memikirkan sesuatu hal yang terjadi yang menurutnya sangat-sangat janggal yang diperlihatkan oleh Erik kepada Sebastian ketika dirinya sengaja menemui Erik siang tadi di Kamp pemadam kebakaran. Ingatan Sebastian kembali terulang ketika dirinya berada di Kamp siang itu dan berbincang dengan Erik. Flash back Pandangan Sebastian kini menoleh menatap Erik yang terlihat menatapnya cukup tajam yang dengan segera bertanya, “Apakah kau membawa mereka semua dariku, Sebastian?” pertanyaan yang aneh untuk di tanyakan oleh Erik pada saat itu pun lah yang membuat Sebastian menjadi sangat penasaran oleh dirinya pada saat itu. “Hah?” aku tidak mengambil apa pun darimu, Erik!” itu lah yang diucapkan oleh Sebastian kepada Erik yang terlihat sedikit resah dan dirinya pada saat itu seperti mencari sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Sebastian pada saat itu, yang akhirnya membuat Sebastian pun kini kembali bertanya, “Mereka?? siapa yang kau maksud dengan mereka, Erik?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Erik kini menatapnya seraya berkata dengan cepat, “Luna, Leo, Matt dan Jack! Apakah kau mengambil mereka semua dariku, Dokter?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu pun sontak membuat Sebastian menggelengkan kepalanya dan berucap, “Aha … aku tidak tahu siapa mereka Erik! Jangan denganku! Yah … sepertinya waktu istirahatku sudah habis … aku akan pergi, kita bisa saling kanbar nanti, Erik! See ya!” itu lah yang di ucapkan oleh Sebastian yang sesegera saja pergi meninggalkan Erik seornag diri di kamp tersebut. Flash back off Itu lah ingatan yang kembali di ulang oleh Sebastian di dalam ruangannya. Yang kemudian membuat Sebastian merasa bahwa ada yang aneh dari Erik, karena malam kemarin jelas-jelas Erik terlihat ketakutan dan berkata untuk menjauhkan boneka-boneka itu darinya. Bahkan Sebastian pun masih mengingat memori itu dengan jelas, dikala Erik terlihat bergetar dengan membawa box-box itu masuk ke dalam mobil miliknya, yang kemudian Erik pun segera saja menyerahkan dua box itu kepada Sebastian seraya berkata, “Sebastian …apa pun yang aku lakukan untuk mendapatkan barang-barang ini darimu, jangan pernah kau berikan kepadaku, karena ini mimpi buruk bagiku!” Itu lah yang di katakan oleh Erik malam tadi, dan bahkan suaranya sangat begetar, seperti seseorang yang benar-benar takut akan sesuatu hal, namun siang tadi ekspersi yang diperlihatkan oleh Erik tidak sama dengan yang ia lihat di malam tadi. “Hahh … apakah anak itu sedang menjahiliku?!” terlewat bingung, sehingga Sebastian pun menyimpulkannya dengan asal. “Yah … namun apa pun itu, aku tidak akan memberikan box-box ini kepadanya, karena dia sendiri yang memjinta!” itu lah yang digumamkan oleh Sebastian yang kini mengangguk menanggapi ucapannya sendiri. … Malam itu, ketika Sebastian tengah tertidur bersampingan dengan sang istri, dirinya mendengar suara-suara aneh yang berbisik di telinganya, seolah seseornag tengah memanggil nama beberapa orang yang menurutnya tidak asing untuk di dengar. “Luna …?!” “Leo…?!” “Matt!!” “Jack?!” Suara-suara itu saling bersahutan satu sama lain, seolah mereka-mereka yang tengah memanggilnya berusaha untuk mencari keempat anak yang terdengar di telinga Sebastian kala itu, yang tentu saja membuat Sebastian tidak bisa tertidur dengan nyenyak dan bahkan kini dirinya dengan terpaksa harus membuka kedua matanya dan menyadari jika tak ada lagi suara dari mereka-mereka yang memanggil anak-anak itu. Drrrt … drrrtt … Pandangan Sebastian kini menoleh dan menatap ke arah ponselnya yang baru saja berdering, yang membuat Sebastian pun dengan malas meraih ponsel itu untuk kemudian melihat sambungan yang diterimanya. ‘Kapten Erik Calling’ Itu lah tulisan yang terdapat di dalam handphone miliknya saat itu, yang membuat Sebastian pun segera mengangkat sambungan itu untuk kemudian menjawab panggilan dari Erik di sana, “Erik?” tanya Sebastian kepada Erik yang detik kemudian membuat dahi Sebastian kini mengerut ketika dirinya mendengar suara isak tangisan dari temannya yang satu itu, yang tentu saja kembali memunculkan sebuah tanda tanya yang besar bagi Sebastian pada saat itu, “Erik, Are you okay?” tanya Sebastian kepada Erik yang kini berucap, “Sebastian …. hk … h …help mehh … I am Afraid …. helph …” ucapan dari Erik saat itu, tentu saja membuat Sebastian kini segera terbangkit dari tempat tidurnya dan kini segera menoleh menatap ke arah jam dinding yang kala itu menunjukkan pukul satu dini hari, yang tentu saja membuat Sebastian kini segera berjalan keluar dari kamarnya untuk kemudian bertanya kepada Erik. “Di mana kau saat ini?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Erik kini berkata, “Hk … hk …. di sini sangat gelaph … aku kedinginanh …. hhh … hhh …” Jawaban yang diterima oleh Sebastian pada saat itu pun membuat dirinya menganggukkan kepala dan berkata, “Bertahan lah Erik, aku akan segera ke sana!’ ucap Sebastian kepada Erik, yang kini berkata, “Jangan! Jangan Sebastian …. jangan kau datangh …. dia menyeramkan … kau harus berhati-hati! jangan berikan apa yang dia inginkan!” ucapan Erik saat itu, membuat Sebastian mengerutkan dahinya lagi, merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Erik kepada dirinya, dan bariu saja Sebastian inginb bertanya lebih lanjut, Erik sudah memutuskan sambungan itu, yang membuat Sebastian kini segera kembali menghubungi dirinya. Tuuutt …. tuuuttt …. Cklek! “Yes, Dokter Sebastian?” sebuah suara dari orang yang sama namun nada yang berbeda saat itu, membuat Sebastian terkejut setengah mati, yang kemudian membuat Sebastian pun kini berdeham seraya berkata, “Ehem … Eum, Erik! Apakah kau baik-baik saja?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu pun membuat Erik menjawab, ”Ya! Aku baik … ada apa? Kau bertanya hal itu sesering mungkin kepadaku!” ucap Erik, dan segera membuat Sebastian menggelengkan kepalanya dan berucap, “Aha … tidak, hanya saja aku baru bermimpi kau terjatuh dari kasurmu dan mengalami patah tulang, jadi aku segera meneleponmu!” ucap Sebastian, yang pada akhirnya membahas hal yang tidak masuk di akal. Yang kemudian membuat Erik pun kini tertawa karenanya dan berkata, “Hahahah! Tidak, aku baik-baik saja Dokter, terima kasih!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini membuat Sebastian pun menganggukkan kepalanya dan kemudian menutup telfonnya pada saat itu. “.…” Sebastian tertegun untuk beberapa saat, merasa jika dirinya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar olehnya, ia yakin seratus persen sebelumnya Erik terdengar menangis dan ketakutan, namun entah mengapa di sambungan selanjutnya ia terdengar baik-baik saja. Dan hal itu membuat Sebastian pun berpikir jika ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya, dan Sebastian merasa jika Erik membutuhkan bantuan dari Sebastian pada saat itu. …. Pagi itu, Sebastian dengan sengaja pergi di pagi buta, untui kemudian ia memesan satu box sandwich yang berukuran besar untuk ia bawa ke Kamp pemadam kebakaran. Ia sengaja membawa itu sebagai alibi untuk bertemu dan melihat kondisi dari Erik secara diam-diam. “Huft ….” pikiran Sebastian kembali terulang dan mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Erik pada malam itu. Jangan kau datang, dia sangat menyeramkan … kau harus berhati-hati kepadanya dan jangan berikan apa yang dia inginkan! Dahi Sebastian kembali berkerut ketika mengingat ucapan itu, ”Siapa yang di maksud dengan kata dia?? apakah itu adalah dirinya sendiri?? lalu apa yang dia inginkan?” gumam Sebastian dengan pelan, dirinya bahkan tidak mengerti dengan ucapan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu, namun ia juga tidka berani untuk bertanya secara langsung setelah sebelumnya ia menyadari perubahan sikap yang di tunjukkan oleh Erik di dalam teleponnya saat itu, yang membuat Sebastian yakin jika ada sesuatu yang salah pada malam itu. “Berjaga-jaga dan berhati-hati lebih baik di bandingkan harus tergesa-gesa Sebastian! Yeah … itu semua benar!” gumam Sebastian berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri, yang pada akhirnya ia pun menganggukkan kepala sebelum akhirnya keluar dari dalam mobil dan kemudian membawa box sandwich itu menuju Kamp Bafehood Fire Departemen. … Sebastian berjalan masuk ke dalam kamp dan melihat beberapa orang tengah sibuk membersihkan truck pemadam yang terparkir pada saat itu, yang kini membuat Sebastian pun tersenyum dan menyapa beberapa orang di sana, sebelum pada akhirnya dirinya kembali bertemu dengan Tony, namun tidak hanya dirinya kini Erik dan juga Robert berjalan bersamaan di sana seraya bercanda dan tertawa bersama. “Oh, hi guys!” sebuah sapaan yang ramah yang diucapkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat ketiga orang di sana pun menatap ke arah Sebastian dan kemudian membalas sapaan dengan lebih ramah lagi, “Morning Dok!’ ucap Robert kepada Sebastian yang kini tersenyum dan kemudian menoleh menatap Tony yang bertanya, “Ada apa kali ini, Dok?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony, membuat Sebastian pun dengan segera berkata, “Ah … aku kemari hanya untuk memberikan ini kepada kalian! Hari ini adalah hari ulang tahunku!” ucap Sebastian kepada mereka semua yang kini seketika tersenyum dengan lebar ketika mendapatkan box besar berisi sandwich lezat yang di berikan oleh Sebastian kepada mereka. “Uaaahhh!! thank you so much!” ucap Robert dan juga Tony yang membuat Sebastian mengangguk dan menolehkan pandangannya ke arah Erik yang juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Happy birthday, Dok!” ucap Erik dan membuat Sebastian mengangguk menanggapi hal itu. … Pagi itu Sebastian terduduk di ruang kerjanya, dirinya termenung dan terdiam ketika meyakini ternyata Erik saat itu bukanlah dirinya. Dan itu di sadari oleh Sebastian setelah ternyata Erik alih-alih menyadari jika Sebastian berbohong pun kini malah mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. “Teman macam apa yang akan melupakan hari ulang tahunnya huh?!” gumam Sebastian kepada dirinya sendiri, dan pada akhirnya membuat Sebastian yakin jika Erik yang ditemui olehnya dan yang di telepon olehnya bukanlah Erik yang di kenal oleh dirinya dari kecil, karena Erik tidak akan pernah tega melupakan hari kelahiran sahabat kecilnya sendiri, dan Sebastian yakin akan hal itu. “Jika itu bukan Erik … lalu ke mana Erik yang asli?? dan siapa orang itu?” itu lah yang ada di gumamkan oleh Sebastian pada saat ini. Semua hal itu sangat membuat kepala Sebastian akan pecah, dan dirinya pun merasa bahwa ia membutuhkan sebuah bantuan karena ia tidak tahu harus melakukan apa kepada Erik. Yang pada akhirnya membuat Sebastian pun merasa takut jika sesuatu terjadi pada Erik teman lamanya tersebut, pikirannya pun tidak pernah berhenti mengkhawatirkan sang sahabat. “Apa yang harus aku lakukan untuk membantu dirinya?” itu lah yang di pikirkan oleh Sebastian pada saat itu. … To be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD