Adam tertegun setelah dirinya kembali teringat dengan mimpi buruknya saat itu, yang membuatnya kini mulai berpikir mengenai apakah semua hal ini ada hubungannya dengan mimpi yang dia alami? Ataukah itu hanya sebuah firasat saja? Namun, karena ia tidak mau memikirkan mengenai mimpi itu terlalu jauh, dan ia juga tidak mau mempermasalahakan hal yang menurutnya bukan masalah dan akan menjadi panjang jika di jadikan sebagai sebuah masalah, terlebih menyangkut kekasih dari Tony sahabatnya, membuat Adam pun memutuskan untuk melupakan dan bertindak seolah jika tidak ada yang terjadi di hari itu, entah mengenai mimpinya atau tepon darurat yang di lakukan oleh Ingrid yang secara kebetulan ia tangani, meski ia penasaran setengah mati. Agar setidaknya ia bisa terus berhubungan baik dengan Tony dan menjauhi kabar yang nantinya akan membuat Tony salah paham kepada dirinya. Adam memutuskan untuk melupakan itu semua dan menjalani pekerjaannya seperti biasa di hari itu.
…
Hari berlalu dengan sangat cepat, dan pekerjaan dari Adam pun telah usai sampai di malam itu.
“Good jon for today, Guys!” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Rose pada saat itu membuat Adam dan juga Roul tersenyum dan menganggukkan kepala mereka, mendengar pujian yang dilontarkan oleh Rose pada saat itu. Mereka bertiga tengah berganti pakaian, atau lebih tepatnya hanya Roul dan Adam yang ada di dalam ruang ganti, sedangkan Rose berada di ruang loker yang tersekat, sehingga Roul dan Adam tidak bisa melihat Rose kala itu dan hanya bisa mendengar suara darinya saja.
“Hei! Bagaimana kalau malam ini kita makan pizza bersama?” sebuah tawaran yang di lontarkan oleh Rose kepada Roul dan juga Adam, membuat Roul menganggukkan kepalanya dan menoleh menatap Adam yang tengah memasukkan kedua lengannya ke dalam lubang kaos yang dipakai olehnya di sana, yang kemudian membuat Adam pun ikut menganggukkan kepala menanggapi tawaran tersebut.
“Itu bagus! Sekalian menyegarkan pikiran! Aku memiliki masalah dengan salah satu penelpon tadi!” ucap Roul, dan hal itu membuat Adam terkekeh mendengarnya,
“Ingatlah … mungkin dia panik!” ucap Roul kepada Adam yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian berucap,
“Yeah … mereka pasti merasa seperti itu!” ucap Roul dan kemudian keduanya pun berjalan untuk bertemu dengan Rose, dan bersama-sama pergi meninggalkan gedung kantor.
Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, Roul, Rose dan Adam berdiskusi mengenai toko pizza yang akan mereka datangi. Namun ketika ketiganya baru saja menginjakkan kaki di luar gedung kantor, sebuah suara panggilan pun terdengar dan membuat ketiganya menoleh menatap seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobilnya dan berlari untuk menghampiri ketiganya saat itu, dan ketiganya sangat kenal siapa orang itu.
“Hei, Adam!” itu lah panggilan yang lainnya yang di lontarkan oleh lelaki yang mereka kenali sebagai Tony, yang baru saja berhenti tepat di hadapan ketiganya, dan membuat Adam mengerutkan dahinya karena sepertinya Tony datang untuk menemui dirinya dan itu terlihat dari cara dia hanya memanggil namanya saja diantara ketiga orang yang ada di sana saat itu.
“Hei, Tony! Bagaimana dengan keadaan anak-anak itu di sana?” sebuah pertanyaan yang menurut dirinya cukup normal untuk di tanyakan, membuat Tony kini menghembuskan napasnya dengan cukup kencang seraya berucap,
“Apakah kau merasa tidak aneh dengan Ingrid, ketika ia menelponmu?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, tentu membuat Adam merasa tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Tony pada saat ini.
“Apa maksudmu?” tanya Adam kepada Tony yang kini berucap,
“Kau tahu? Ketika timku dan Ambulance datang, tak ada apapun di sana!” jelas Tony kepada Adam yang terkejut mendengar penjelasan itu,
“W … What?” seolah Adam tidak percaya dan terkejut mendengar hal itu, dan membuatnya kembali bertanya kepada Tony, “Lalu bagaimana dengan Ingrid? Dia menghubungi kami dan mengatakan hal itu dengan histeris dan mendetail!” jelas Adam kepada Tony yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kembali menghembuskan napasnya dengan panjang sebelum akhirnya kemudian berucap,
“Hh … Ingrid di bawa ke rumah sakit jiwa atas saran dari tetangga kami! Karena sebenarnya akhir-akhir ini kondisi psikisnya sengan tidak baik! Dia mengalami semacam halusinasi, dan kebetulan saja dia lupa untuk meminum itu siang tadi! Jadi aku rasa dia menelpon serta melaporkan kejadian, bukan karena ia melihatnya secara nyata, namun ia berhalusinasi!” jelas Tony kepada Adam yang kembali mengerutkan dahinya mendengar hal itu, sedangkan Roul kini mulai ikut berkomentar,
“Jadi … dia melakukan semacam panggilan atas laporan palsu?” pertanyaan yang di lontarkan oleh Roul pada saat itu pun membuat Tony menoleh menatapnya dan menganggukkan kepalanya,
“Aku terkejut, karena ketika aku tiba di Apartemen kami, dirinya datang menghampiriku seperti orang gila yang ketakutan dan kami juga sudah memastikan semuanya, bahkan mengelilingi apartemen los d angel sebanyak tiga kali untuk mengecek semua cerita yang dia lontarkan dan laporan yang kau berikan! Tapi kami tidak menemukan apapun, tak ada satu pun saksi mata atau orang yang pernah melihat anak kecil usia tujuh dan delapan yang bermain di lantai tiga belas apartemen itu!” jelas Tony lagi kepada Adam, “Jadi aku merasa bahwa dia tengah berhalusinasi!” sambung Tony lagi, dan membuat ketiganya menganggukkan kepala menanggapi hal itu.
“Eum, lalu … di mana Ingrid sekarang, apakah dia sudah tenang?” tanya Adam kepada Tony yang kini menganggukkan kepalanya dan berkata,
“Karena aku merasa jika dirinya membutuhkan ahli untuk setidaknya membuatnya tenang, jadi baru saja aku membawanya dan dia tinggal untuk beberapa hari di rumah sakit jiwa pinggir kota!” jelas Tony, yang tentu saja membuat ketiganya menjadi terkejut setelah mendengar hal itu,
“Kau memasukkan kekasihmu ke dalam rumah sakit jiwa?!” tanya Rose terdengar amat keberatan dengan tindakan yang di lakukan oleh Tony kepada Ingrid pada saat itu, yang langsung membuat Tony menggelengkan kepalanya dan dengan lantang membela diri dengan berucap,
“Karena aku rasa jika ini yang terbaik untuknya! Setidaknya … tiga hari ia berada di sana akan membuatnya menjadi lebih tenang, karena aku tidak tega melihtanya ketakutan beberapa minggu ini!dan meninggalkannya di apartemen sendirian akan memperburuk kondisinya!” jelas Tony kepada Rose, dan membuat Adam kini menganggukkan kepala dan berkata,
“Kapan ia mulai mengeluh kepadamu mengenai halusinasinya, Tony?” Adam bertanya kepada Tony, yang kini membuat Tony pun terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menoleh kembali menatap Adam dan menjawab,
“Mungkin sekitar dua minggu! Setelah ia pergi bermalam di rumah temannya, aku pikir ia merasa ketakutan karena mendengar cerita seram yang diceritakan oleh teman-temannya kepadanya mengenai anak-anak yang masuk dan menghilang ke di dalam hutan! Tapi entah lah … aku tidak tahu pasti, yang jelas ia terlihat mempercayai itu semua! Yang seharusnya menurutku ia tidak mempercayainya karena dia adalah seorang guru TK!” jelas Tony kepada Adam yang kini menghembuskan napasnya dan kemudian kembali mengangguk untuk menanggapi penjelasan dari Tony dan kemudian berkata.
“Yah … aku rasa tindakanmu itu benar, Tony! Dengan membawanya ke rumah sakit jiwa dan di tangani oleh para ahli akan membuatnya menjadi tenang! Aku harap dia segera pulih!” ucap Adam kepada Tony, dirinya kini menepuk bahu Tony untuk bermaksud menyemangatinya. Dan hal itu membuat Tony menganggukkan kepala menanggapi hal itu. Yang pada akhirnya, Adam pun mengajak Roul dan Rose untuk pergi dari sana, setelah sebelumnya ia berpamitan kepada Tony.
Pada saat itu, Adam memang terlihat tidak acuh dengan cerita mengenai keanehan dari Ingrid, namun pada kenyataannya ia terus memikirkan hal itu di dalam hatinya dan berusaha untuk mencari sebuah jalan atau setidaknya hal yang membuatnya tahu apa penyebab dari halusinasi Ingrid di sana.
…
To Be Continue.