Sepanjang perjalanan, Erik masih terlihat santai untuk mengendarai mobilnya menuju perbatasan antara Desa Unom ke desa Fareham. Namun di pertengahan jalan, mendadak mobil yang dikendarai oleh Erik berhenti secara tiba-tiba, yang tentu saja membuat Erik kini mengerutkan dahinya merasa aneh, karena seharusnya kendaraan miliknya saat itu baik-baik saja, pasalnya satu minggu yang lalu ia baru saja mengganti oli dan segala macam halnya agar awet dan tidak mogok seperti saat ini.
Erik hanya bis amengedikkan kepalanya saat ini, setelah merasa bahwa ini aneh dan sangat-sangat aneh.
“Seharusnya mobilku baik-baik saja!” gumam Erik yang kini beranjak dari mobilnya dan segera membuka kap mobil untuk memeriksa apa kesalahan yang terjadi sehingga mobil miliknya mendadak berhenti pada saat itu.
Ckitt .. ckiit … ckiit …
Sebuah suara samar yang semakin lama semakin menjadi jelas di telinga Erik pada saat itu pun membuat Erik dengan segera menoleh menatap ke arah belakang di mana kini sebuah sepeda berhenti tepat di hadapan Erik, yang tentu saja mengejutkan dirinya saat itu.
“Oh!” itu lah yang di lontarkan oleh Erik ketika melihat seorang lelaki muda kini menghentikan laju sepedanya tepat di hadapan Erik,
“Mobil anda mogok, Sir?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang pemuda saat itu, membuat Erik yang mendengarnya kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan kemudian berkata,
“Ah … ya! Mobilku secara aneh mogok begitu saja!” ucap Erik kepada pemuda itu yang kini menganggukkan kepalanya dan segera turun dari sepeda usang miliknya di sana.
“Beruntung lah anda, karena saya ahli dalam kendaraan!” ucap pemuda itu kepada Erik yang kini tersenyum dengan canggung mendengarnya untuk kemudian menganggukkan kepala seraya berkata,
“Oh … yeah … syukur lah!” ucap Erik kepada pemuda itu yang kini tersenyum dan mengangguk untuk kemudian melihat kendala yang terjadi pada mesin monbilnya, yang kemudian membuat pemuda itu pun berkata,
“Ah! Nampaknya ada sesuatu yang tersangkut di sini!” ucap pemuda itu kepada Erik, yang kemudian mengerutkan dahinya dan kemudian berkata,
“Eh?!” Erik menoleh menatap ke arah mesin yang kini di tunjuk oleh pemuda itu, yang ternyata sebuah kain lah yang membuat mobil itu mendadak mogok.
“Apakah anda memiliki sebuah gunting atau pisau, Sir?!” Sebuah pertanyaann yang di lontarkan oleh pemuda itu kepada Erik, membuat Erik segera mengangguk dan berkata,
“Wait! I have Knife!” ucap Erik seraya pergi untuk mengambil pisau lipat dari dashboard mobilnya dan kemudian menyerahkan pisau itu kepada sang pemuda yang kini menggulungkan lengan bajunya ke tas, untuk kemudian mengangguk dan segera membantu Erik untuk menyingkirkan kain tersebut.
“WAh … aku tidak tahu jika ada kain di dalam kap mobilku!” ucap Erik kepada sang pemuda yang kini tersenyum dan kemudian berkata,
“Mungkin saja anda lupa mengambilnya setelah mencuci mobilnya, Sir!” ucap sang pemuda, dan membuat Erik kini menganggukkan kepalanya seraya berkata,
“Hmmm yeah hal itu bisa saja terjadi!” gumam Erik kepada sang Pemuda yang kini tersenyum menanggapi hal itu.
“Jadi … ke mana tujuan anda sebenarnya, Sir? Aku tidak pernah melihat mobil berlalu di malam hari seperti saat ini di sekitaran sini!” ucap pemuda itu kepada Erik yang kini terkekeh dan kemudian berkata,
“Aha … itu, aku akan pergi ke desa Fareham! Aku ingin berkunjung untuk menemui teman lamaku di sana!” jawab Erik berbohong kepada pemuda itu yang seketika saja menghentikan pergerakan tangannya secepat setelah ia mendengar nama Desa yang akan di tuju oleh Erik pada saat itu. Dan perubahan raut wajah sang pemuda pun terlihat jelas oleh Erik, yang kini mengerutkan dahinya dan bertanya,
“Eum … anda baik-baik saja?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik kepada sang pemuda, membuat pemuda itu dengan cepat menolehkan pandandangannya untuk menatap Erik dan berbalik bertanya,
“Apakah anda yakin akan pergi ke tempat itu di malam hari dan seorang diri, Sir?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang pemuda itu kepada Erik terdengar seperti orang yang ketakutan dan bahkan wajah yang diperlihatkan oleh sang pemuda saat itu sama seperti raut dari wajah Sebastian yang ketakutan, yang tentu saja membuat Erik kini bertanya.
“Kenapa?? ada kah hal yang salah dengan itu, nak?” tanya Erik kepada pemuda itu yang kini menggelengkan kepalanya dan segera membetulkan mesin mobil milik Erik dengan cepat seraya berucap,
“Tidak! Hanya saja … akan menjadi lebih baik jika anda bertemu dengan kawan lama anda di luar Desa, atau setidaknya pergi lah di siang hari dan bawalah empat atau enam teman anda untuk bersama dengan anda, karena Desa itu tidak aman jika anda datang seorang diri saja, Sir!” ucap sang pemuda kepada Erik yang kemudian membuat Erik kini mengerutkan dahinay mendengar hal itu,
“Tidak aman?” tanya Erik dan secepat itu sang pemuda kini menutup kap mobilnya dan berkata,
“Bantuanku sudah selesai Sir … mobil anda sudah bisa di nyalakan! Sekarang anda boleh berputar balik dan datang lah di pagi harinya!” ucap sang pemuda kepada Erik yang kini merasa sangat kebingungan karenanya,
“Tapi aku tidak bisa berputar balik … aku sudah sangat jauh dari rumah!” jelas Erik, dan membuat sang pemuda kini menggelengkan kepala untuk kemudian berkata,
“Saya sudah mengingatkan anda, Sir!jangan salahkan saya karenanya nanti!” ucap sang pemuda yang kini segera berjalan menuju sepeda nya dan kembali menjalankan sepeda itu dengan cepar, dan bahkan ia menghiraukan uang yang hendak di berikan oleh Erik kepada dirinya saat itu. Yang tentu saja membuat Erik menjadi semakin penasaran di buatnya.
“Apa itu? Kenapa dia terlihat sangat ketakutan ketika aku mengatakan nama tujuan ku saat ini?!” gumam Erik kepada dirinya sendiri, namun karena ia tidak tahu menahu, ia pun tidak lagi menanggapi apa pun termasuk wantian dari sang pemuda, yang kini membuat Erik berjalan masuk kembali ke dalam mobil untuk kemudian menyalakannya dan menjalankannya lagi menuju Desa Fareham.
…
Tidak mencapai sepuluh menit dari tempat di mana mobilnya mogok saat itu, perbatasan antara Desa Unom serta Desa Fareham pun terlihat, yang membuat senyuman Eri kini terkembang di sana.
“Yah … akhirnya aku sampai juga di tempatnya!” ucap Erik yang kini melihat ke arah sekitar Desa, yang kemudian menimbulkan sebuah tanda tanya yang ada di dalam pikiran Erik pada saat itu, karena Desa Fareham terlihat begitu sepi di bandingkan dengan Desa Unom.
Tak ada satu pun pemuda yang menongkrong di setiap pos penjagaan, dan bahkan tempat itu di biarkan kosong begitu saja, yang tentu saja membuat Erik merasa jika hal itu sangat-sangat mengganggunya.
“Ck! Ada apa ini?? tempat ini terlihat sangat sepi!” itu lah yang di gumam kan oleh Erik ketika ia berhenti tepat di kantor desa, yang seharusnya ramai oleh para petugas yang setidaknya berjaga di sana seperti di kantor pusat Desa sebelah.
Pandangan Erik kini tertuju ke arah kanan dan kiri, untuk memantau apakah di sekitar sana ada orang, namun ketika ia merasa di sekitarnya tidak ada siapa pun, membuat Erik pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan mengecek ke dalam kantor desa yang kala itu pintunya pun terbuka dengan lebar, yang tentu saja membuat dirinya yakin jika kantor itu masih buka sampai saat ini, karena pintu dari kantornya terbuka lebar.
Cklek!
Tap .. tap …
Dup!
Erik dengan santainya keluar dari mobil dan berjalan menuju aula kantor,
“Permisi! Apakah ada orang?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu pun terdengar seolah Erik adalah satu-satunya orang yang ada di sana, karena tempat itu terlewat sepi sehingga suara Erik sedikit menggema karenanya.
“Hh … ini aneh! Kenapa sangat sepi?” tanya Erik kepada dirinya sendiri, yang kini mengedikkan kepala dan menoleh ke arah sekitarnya lagi, untuk setidaknya mencari tahu sesuatu hal yang mungkin saja ada hal yang tidak ia kira terjadi di sana.
Desa itu memang tidak gelap, dan malah kebalikan dari kata itu, karena banyaknya lampu yang menyala menerangi seluruh Desa, namun suasana Sepi yang di rasakan oleh Erik lah yang memberikan kesan jika Desa ini terasa menyeramkan saat itu.
“Tidak mungkin jika Desa ini merupakan Desa hantu bukan?” gumam Erik kepada dirinya sendiri, ia kini berjalan menuju sebuah papan pengumuman yang tertempel di samping dinding ruangan aula kantor Desa, yang membuat Erik kini mengerutkan dahinya untuk membaca apa yang terdapat di dalam papan pengumuman itu, yang kemudian membuat dirinya kini terbelalak terkejut ketika mendapati sesuatu hal yang mengejutkan baginya saat itu.
‘Pencarian Orang yang hilang pada tahun 2021 berjumlah 50 anak’
Sebuah laporan pengumuman yang tentu saja mengejutkan Erik saat itu, membuat dirinya kini terkejut hingga dirinya menutup mulutnya karena hal itu.
“Jumlah orang hilang?” gumam Erik, yang kemudian dengan cepat kini mengeluarkan handphonenya untuk kemudian memotret pengumuman tersebut. Pandangan Erik kini kembali menoleh ke arah sekitar untuk mencari tahu apa yang setidaknya bisa ia dapatkan dari sana, dan kini kedua matanya tertuju ke arah kursi yang tepat di atasnya pada saat itu terdapat sebuah box file dan juga tumpukan data di dalamnya yang tertuliskan data orang hilang di Desa Fareham, yang pada akhirnya membuat Erik pun menghembuskan napasnya dengan cepat, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Data ini seharusnya tidak ada di sini! Karena seharusnya ini merupakan data penting di Desa! Kenapa bisa berada di sini?” itu lah yang di gumamkan oleh Erik, namun karena ia juga membutuhkan hal itu, pada akhirnya Erik pun segera menghampiri box itu untuk kemudian mengambilnya dan segera berjalan menuju mobilnya dan segera meletakkan box itu di dalamnya.
Dan bersamaan dengan ia memasukkan file itu ke dalam mobilnya, perasaannya menjadi tidak karuan dan membuatnya merasa untuk ingin segera pulang dari tempat itu saat itu juga, yang membuat Erik pun kini menelan air liurnya dan menganggukkan kepala seraya bergumam,
“Yeah … aku pikir ini sudah cukup! Aku harus segera pergi dari sini!” itu lah yang di gumamkan oleh Erik yang kini segera masuk ke dalam mobilnya untuk kemudian menyalakan mobil dan bermaksud untuk pergi meninggalkan Desa Fareham.
“Kenapa terburu-buru paman? Tidak kah seharusnya kita bermain terlebih dahulu?” sebuah pertanyaan yang terdengar di telinga Erik pada saat itu, seketika membuat dirinya tertegun dan terdiam di dalam gerakannya. Napas Erik menjadi tidak karuan pada saat itu, dan dirinya kini mendongakkan kepalanya ke depan dengan perlahan untuk menatap ke arah kaca spion, setelah ia merasa jika suara yang baru saja ia dengar saat itu berasal dari arah belakang.
“Hihinhi …”
“Hehehehe …”
Suara tawa anak kecil pun terdengar setelah ia menoleh menatap ke arah kaca spion mobilnya, dan Erik sangat terkejut ketika mendapati empat orang anak kecil yang terduduk berdempetan di belakang sana dengan darah yang berceceran di wajah dan tubuh mereka, yang tentu saja membuat Erik ketakutan setengah mati hingga dia berteriak dengan kencang saat ini.
“EAAAAAGHH!!!!”
…
To Be Continue.