Journey to Fareham village

1765 Words
“That’s Ok … serahkan semuanya kepadaku, Sebastian .. tunggu lah di sana, dan aku akan pulang membawa data atau bukti kuat untuk memecahkan kasus ini, ok!” Erik berucap demikian seraya menutup sambungan telepon yang menyambungkan antara dirinya dan juga Dokter Sebastian sore itu. Erik berjalan untuk meraih peta yang ia miliki di rak peta yang tersedia di ruang tamu, karena ia dan juga keluarga selalu berpergian jika hari libur tiba, dan semacam sebuah healing bagi mereka. “Darling, kau akan pergi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Istri yang kala itu baru saja datang dari pasar dan membeli beberapa bahan makanan untuk memasak di sore hari pun, membuat Erik yang mendengarnya kini tersenyum dan menganggukkan kepala dan kemudian berkata, “Yeah … ada hal yang harus aku pastikan!” ucap Erik kepada sang Istri yang kini menghampirinya dan mencium pipi sang kapten, “Apakah kau akan pulang malam ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang istri pun membuat Erik kini mengerutkan kepalanya dan menggelengkan kepala seraya berkata, “Aku pikir aku akan menginap di rumah temanku setelahnya, itu pun jika aku tidak sempat pulang ke mari! Jadi kau dan anak-anak tidak perlu menungguku, Jasmin!” jelas Erik, dan membuat sang Istri bernama Jasmin itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Erik pada saat itu. “Be Careful on your trip, Babe!” ucap Jasmin kepada Erik yang kini meraih box miliknya yang tergeletak di meja ruang tamu itu, sebelum akhirnya tersenyum dan mengecup pipi Jasmin untuk akhirnya pergi dari rumah. … Perjalanan dari Kota Bafehood ke Desa Fareham membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam jika kondisi tengah macet parah, sehingga Erik pun merasa bahwa dirinya tidak perlu terburu-buru karena ia tahu jika kondisi di jalanan saat ini lancar-lancar saja. “Wah … baik lah Erik, kita akan pergi ke Desa itu!” gumam Erik kepada dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala dan segera menaiki mobil miliknya dan mulai mengendarai menuju desa tersebut. Sepanjang perjalanan dirinya merasa bahwa ia sangat-sangat penasaran dengan kasus yang tengah di tangani olehnya pada saat itu, meski pun ia sendiri tahu seharusnya ia tidak melakukan hal sejauh ini karena pada dasarnya hal seperti ini di luar tugas dan tanggung jawabnya, namun mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur menanganinya dan terlanjur penasaran. Dengan santai, Erik menekan tombol radio untuk setidaknya menemaninya dalam perjalanan di kesunyian sore itu. Krrrssskk … ‘One sheep … two sheeps … have you any sheep? Yes, justin I have three seven sheeps … Three for the lead sheeps, Seven for the vassal, You just have to choose what you want~ One sheep … two sheeps … have you any sheep~’ Bersamaan dengan Erik yang mendengar lagu anak-anak yang menyanyikan Have you any sheep di sana pun membuat dahi dari Erik seketika berkerut, dan terlihat terkejut ketika ia menoleh menatap ke arah tape radio mobilnya, “Ck! What is that??? untuk apa mereka memutar lagu ini di radio?!” gumam Erik seraya menghembuskan napasnya untuk kemudian memutar saluran yang lainnya, yang pada akhirnya ia pun membiarkan saluran itu berada di frekuensi 77.9 yang kala itu memutarkan lagu Billie Jean, dari sang legendary Michael Jackson. Yang bahkan karena lagu itu, Erik menjadi semakin bersemangat mengendarai mobilnya keluar dari Kota Bafehood untuk kemudian masuk ke perbatasan kota Iremia. Pandangan Erik kini tertroleh menatap ke arah bar bensin dari mobilnya yang kini hanya menyisakkan satu bar saja, dan membuat Erik kini menganggukkan kepala dan merasa bahwa ia harus segera mengisi bensin mobil miliknya, “Bersiap lebih baik dari pada tidak ada persiapan sama sekali, Erik!” ucap Erik kepada dirinya sendiri, yang bersamaan dengan itu segera membelokkan mobil miliknya untuk masuk ke dalam sebuah pom di mana mereka menjajakan bahan bakar yang di butuhkan oleh Erik untuk perjalanannya ke Desa Fareham. Karena sistem dari tempat pengisian bahan bakar menggunakan sistem mandiri, membuat Erik pun kini segera mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil untuk menemui sang pejaga dan memberikan uang darinya sebelum akhirnya ia kembali untuk mengisi bensinnya. Kring! Setibanya Erik masuk ke dalam toko, lonceng pun berbunyi dan membuat sang penjaga bertubuh tambun itu yang kala itu tengah menonton sebuah pertandingan tinju pun kini menolehkan pandangannya ke arah Erik untuk kemudian berkata, “Yeah … apa yang kau mau?!” pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki itu terkesan tidak ramah sama sekali, namun Erik tidak memperdulikannya dan kemudian berkata, “Aku mengisi bahan bakarku dengan penuh!” ucap Erik seraya menoleh menatap ke arah Snack ringan rasa keju yang tersusun rapi di atas meja itu, yang tentu saja membuat dirinya kini meraih snack itu dan melempar snack itu ke atas meja, sebelum akhirnya ia berbalik dan meraih beberapa botol air minuman dan menoleh menatap sang penjaga toko yang kini menatapnya dengan berkata, “Ini saja?” tanya sang penjaga toko, yang membuat Erik kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. “Yeah … hanya ini yang aku butuhkan!” ucap Erik kepada sang penjaga toko yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, namun dirinya yang tengah memeriksa harga dari hal-hal yang di beli oleh Erik pun kini menoleh dengan singkat ke arah mobil milik Erik, yang kemudian berkata, “Ke mana kalian akan pergi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang penjaga toko pada saat itu pun, membuat Erik yang juga ikut menonton pertandingan tinju di sana kini mengerutkan dahinya dan kemudian berkata, “Huh?! What??” tanya Erik kembali kepada sang penjaga toko yang kini menatapnya seraya berkata, “You and your kids! Kulihat kalian bukan orang sini!” ucap sang penjaga toko, dan membuat Erik kini mengerutkan dahinya lagi untuk menoleh ke arah mobil yang kala itu memang tidak ada siapa pun di sana, dan karenanya Erik kini menggelengkan kepala seraya berkata, “I’m alone, Dude!” ucap Erik kepada sang penjaga toko yang kini mengangguk-anggukkan kepalanya dengan malas seraya berkata, “Yea … terserah padamu saja, semuanya ten dollar and fifty sen!” ucap sang penjaga toko, yang membuat Erik kini mengeluarkan dompetnya dan memberikan sepuluh dolar serta lima puluh sen kepada sang penjaga toko, “Thanks!” ucap Erik seraya pergi dari toko itu, namun snag penjaga toko berkata, “Watch out with your kids, dude! They have to wear Safety belt!” ucap sang penjaga toko, yang tentu saja membuat Erik kini menoleh menatap sang penjaga toko dengan raut yang terganggu karena ucapannya saat itu. Namun karena dirinya tidak ingin berdebat, membuat Erik pun tidak menanggapi lebih jauh sang pemilik toko dan berjalan begitu saja mendekati mobilnya. “What is wrong with him?! apakah dia tengah mabuk?” gumam Erik membicarakan sang pemilik toko di sana, yang kemudian Erik pun mengedikkan kepalanya dan mulai membuka penutup tangki mobilnya untuk kemudian mengisi bensin hingga penuh saat itu. Tidak lama dari sana, Erik segera kembali masuk ke dalam mobilnya untuk kemudian pergi dari sana dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Desa Fareham, dan begitu ia menyalakan mobilnya, radionya segera saja aktif dan memutarkan sebuah lagu yang kembali mengejutkan dirinya pada saat itu. ‘ hide seek … hide seek … Let’s we play … You just need to hide from him … Stay away from soldiers and merchants … Don’t let your body turning black! Hide seek … hide seek … Let’s we play … We just have to hide from him!’ Pandangan Erik seketika menoleh menatap ke arah layar radio seraya berakat, “What the hell?? kapan aku memindahkan frekuensinya?!” gumam Erik sebelum akhirnya dirinya kembali memindahkan frekuensi radio ke 77.9 dan kembali ia mendengarkan musik lainnya yang ia sukai di sana, sebelum akhirnya Erik kembali menjalankan mobilnya pada sore hari yang kala itu sudah menjelang malam. Sepanjang jalan menuju desa Fareham, Erik merasa bahwa jalanan menjadi semakin sepi dan semakin gelap. Meski pun dalam hati ia merasa ada hal yang sedikit tidak enak di hatinya saat itu, namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya dan berspekulasi jika kondiri langit saat itu memanglah normal, perubahan dari sore ke malam akan terasa sangat jelas ketika mereka berada di dalam perjalanan. Syuhhh … Jelanan pada malam itu terasa sangat-sangat sepi, yang bahkan membuat Erik kini mendecik merasa bahwa jantungnya saat itu berdebar semakin kencang, seolah firasatnya mengatakan bahwa hal yang ia lakukan saat ini adalah salah besar, namun seperti tidak ingin mendengarkan apa yang dirasakan oleh firasatnya, membuat Erik pun kini menggelengkan kepala dan berucap, “Oh ayo lah … apakah kau sepenakut Sebastian, Erik?!” tanya Erik lagi kepada dirinya sendiri, yang spontan saja menggelengkan kepalanya untuk menolak perbandingan yang satu itu dan kemudian dirinya sendiri pun membalas ucapan itu dengan berkata. “Thidak mungkin … aku tidak sepenakut anak itu! Aku tidak bisa di samakan oleh Dokter Sebastian, oh ayo lah! Aku seorang kapten pemadam kebakaran, aku tidak aku api dan bahkan hantu … kh! Aku tidak percaya mereka ada!” gumam Erik kepada dirinya sendiri yang kini terkekeh dan menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia rasakan pada saat itu. “Hahh … aku rasa ini semua karena pemikiran dan tindakan dari Sebastian yang terlihat seperti itu, yang pada akhirnya ikut memengaruhi diriku saat ini!” gumam Erik lagi, dan kini dirinya menatap ke arah sebuah gapura yang bertuliskan selamat tinggal kota Iremia dan selamat datang di Desa Unom, untuk akhirnya Erik pun menyadari jika dirinya sebentar lagi akan sampai di Desa yang ia tuju. Drrtt … drrrt … Pandnagan Erik segera menoleh menatap handphone miliknya yang baru saja bergetar, dan membuat dirinya kini meraih handphone itu tanpa sedikit pun teralihkan dari jalanan yang tengah di lalui olehnya malam itu. Dengan cepat Erik menoleh menatap ke arah layar yang kini memperlihatkan sebuah notifikasi yang memperlihatkan nama dari Dokter Sebastian di sana. ‘One message from Dr. Stranger!’ Itu lah tulisan yang timbul di layar handphonenya, yang membuat Erik pun menghembuskan napasnya dan segera menepikan kendaraannya dan mulai membaca pesan yang diterima olehnya dari Dokter Stranger, atau lebih tepatnya panggilan yang diberikan oleh Erik kepada Dokter Sebastian. ‘jika ada sesuatu hal yang kau butuhkan, segera lah hubungi aku, aku akan stand bye dari tempatku saat ini!’ Itu lah pesan yang di terima oleh Erik dari Dokter Sebastian, yang tentu saja membuat Erik kini terkekeh mendengarnya dan kembali bergumam, “Dari tempatmu?? memangnya kau ada di mana, huh?!” itu lah yang di gumamkan oleh Erik yang kini menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, dan segera membalas kembali pesan dari Dokter Sebastian pada saat itu. ‘Ok’ Itu lah pesan yang di kirimkan oleh Erik kepada Dokter Sebastian, sebelum akhirnya Erik kembali mengendarai mobilnya untuk melanjutkan perjalanan. …. To Be Continue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD