“Hihinhi …”
“Hehehehe …”
Pandangan Erik kini menatap ke arah keempat anak kecil yang tertawa menatap Erik, yang tentu saja mengejutkan dan menakutkan bagi Erik, seolah rasa takutnya saat itu memeluknya dengan sangat tiba-tiba sehingga saat itu pun ia berteriak ketakutan dan segera keluar dari mobil untuk menghindari keempat anak itu.
“EAAGH!!”
Blak!!
Erik segera keluar dari dalam mobil dengan tergesa dan dirinya kini berlari untuk masuk ke dalam kantor pusat desa, namun langkahnya kembali terhenti ketika melihat beberapa wanita melayang dengan leher patah mereka, seolah mereka meninggal tergantung saat itu. Yang tentu saja membuat Erik kembali menghentikan kedua langkah kakinya untuk akhirnya berlari keluar dari wilayah tersebut, ia berlari keluar dari gerbang kantor pusat desa untuk kemudian berteriak meminta sebuah pertolongan pada saat itu.
“Tolong!! Tolong!!” itu lah yang di teriaki oleh Erik sepanjang ia berlari dengan tergesa, ia berlari untuk kemudian mendekati ke sebuah rumah yang terlihat pintunya tertutup dengan rapat di sana,
“Tolong!! bantu aku!!”
Buk!! buk!! buk!!
Erik berteriak dan menggedor pintu atau lebih tepatnya memukul-mukuli pintu itu dengan cukup kencang, namun tak ada satu pun suara yang di balas dari dalam sana, sehingga Erik kembali berlari ke arah rumah yang lainnya dan melakukan hal yang sama, namun sama seperti yang awal setiap rumah yang di gedor oleh Erik sama sekali tidak menyahut atau pun membukakan pintu untuknya saat ini.
“Hihihi …”
“Hehehehe!!”
Suara tawa itu kembali terdengar, yang tentu saja membuat Erik semakinj ketakutan saat ini, yang membuat dirinya tidak memiliki pilihan lain selain berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu dan bersembunyi agar setidaknya dirinya tidka di temukan oleh anak-anak dan juga hantu wanita tua yang menyeramkan di sana.
…
“Hahh …hahh … hahhh… “
Napas Erik kini menderu-deru, ia sangat ketakutan namun ia juga harus segera berlari dan bersembunyi di suatu tempat karena ia sudah merasa lelah pada saat itu, yang akhirnya pandangannya pun mendapati sebuah ladang jagung yang terhampar luas pada saat itu, dan pepohonan jagung yang tinggu saat itu pun menjadi hal yang cocok baginya bersembunyi, dan akhirnya pilihan terakhir itu lah yang di ambil oleh Erik saat ini.
Srakkk … sraakkk
“Euhh… euhh …” Erik bersusah payah untuk masuk ke dalam ladang jagung tersebut dan terus berjalan tanpa henti dan membiarkan dirinya sendiri tersesat diantara pepohonan jagung tinggi yang menjulang saat itu.
Seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat dan ia baru menyadari jika keputusannya dalam pergi ke desa ini merupakan hal yang sangat buruk! Sehingga dirinya bahkan menyesali perbuatannya dan menginginkan waktu untuk diputar kembali, ia mengepalkan jemarinya yang kini bergetar hebat di sana, dan napasnya masih memburu, ia pun menangis ketakutan.
“Oh My … ku mohon … siapa punh … jauh kan aku dari mereka!” bisik Erik di dalam tangisannya, dan detik kemudian ia teringat dengan pesan yang di berikan oleh Sebastian pada saat itu, yang pada akhirnya membuatnya segera mengeluarkan handphone miliknya untuk segera menghubungi Dokter Sebastian.
…
Malam itu di rumah sakit Sebastian tengah terduduk di kursinya, ia tengah bersandar dan tengah melamun untuk detik kemudian ia memejamkan kedua matanya setelah merasa lelah karena seharian harus berjaga dan memeriksa beberapa pasien saat itu.
Drrt … drrrt …
Pandangan Sebastian seketika menoleh menatap ke arah handphone miliknya yang kini bergetar, yang tentu saja membuat Sebastian kini meraih handphone tersebut untuk kemudian menoleh menatap seseorang yang baru saja menghubungi dirinya pada saat itu, dan nama dari Erik lah yang muncul di sana, yang tentu saja membuat Sebastian pun dengan segera menekan tombol hijau di sana dan kemudian menyapa Erik.
“Ya, bagaimana Erik?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu pun membuat Erik yang berada jauh di sana kini berkata,
“S…sebastianhh … h .. help me … hk … help meee…” sebuah ucapan yang di dengar oleh Sebastian pada saat itu, tentu saja membuat dirinya terkejut dan kini menoleh menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul sebelas malam saat itu, yang tentu saja membuat Sebastian merasa khawatir kepada temannya yang satu itu,
“Erik are you ok?” tanya Sebastian kepada Erik, yang kemudian dapat dengan jelas Sebastian mendengar suara tangisan dari Erik yang kini berkata,
“Please… aku takut … kau benar … aku tidak seharusnya datang ke mari! Aku mohon … tolong aku!” ucap Erik dan itu terdengar sangat-sangat putus asa, sehingga dengan berani Sebastian kini beranjak dari duduknya dan bertanya,
“Di mana kamu?! aku akan segera menyusul!” ucap Sebastian kepada Erik yang kini berkata,
“Aku masih berada di desa ini, aku mohon … tolong aku!” ucap Erik dan membuat Sebastian kembali menganggukkan kepalanya, kini ia meraih kunci mobilnya dan berkata,
“Tunggu lah! Aku akan ke tempatmu secepat yang aku bisa!” itu lah yang di ucapkan oleh Sebastian sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan itu dan segera berlari keluar dari ruangan untuk pergi menuju mobilnya.
…
Pip!
Erik menekan tombol merah di sana, dan tangannya bergetar dengan sangat hebat saat itu, ia berusaha untuk tidak membuat sedikit pun suara di tempat persembunyian nya saat itu, karena ia tahu banyak hal yang tengah mencari dirinya saat ini, karena ia merasa selama ini ia terus di awasi dan bahkan suara dari tawa anak kecil selalu terdengar dari kejauhan sana, yang tentu saja membuat Erik menjadi tidak nyaman dan semakin ketakutan.
…
Langkah kaki Sebastian kini berjalan menuju mobilnya, dan sepanjang ia berjalan menuju ke arah mobilnya, ia terus memikirkan bagaimana kondisi dari Erik saat ini, dan yang pada akhirnya ia merasa kesal karena Erik tidak mendengar semua ucapan yang ia katakan di awal.
“Sudah aku katakan, seharusnya ia menuruti ucapanku siang itu!” gumam Sebastian yang kini masuk ke dalam mobilnya dan dengan segera ia pun menyalakan mobil miliknya dan meluncur menuju Desa Fareham yang letaknya memang memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam jika macet dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Brummm ….
Sebastian mengemudikan mobil itu dengan sangat cepat, dan dirinya banyak di peruntungkan karena saat itu adalah malam hari, dan tidak ada polisi yang berjaga, kendaraan pun jarang bermunculan sehingga ia bisa sampai di Desa Fareham tempat di mana Erik berada saat ini lebih cepat dari yang biasanya pada saat itu.
Tuk … tuk …. tuk …
Jari jemari Sebastian pada saat itu di ketukkan berkali-kali ke setir mobilnya yang ada di sana, dan itu sangat jelas menandakan jika dirinya sedang merasa khawatir saat ini, bagaimana tidak … ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah panggilan dari Erik yang tengah menangis ketakutan dan meminta pertolongan kepada dirinya saat itu, yang tentu saja membuat ia tidak pernah berhenti untuk mengkhawatirkan Erik pada saat ini, karena pasalnya Erik adalah orang yang jarang takut, jadi Sebastian memiliki anggapan jika Desa Fareham sangat menyeramkan atau ia bertemu dengan seseornag yang menyeramkan di sana hingga Erik pun menangis ketakutan saat itu.
“Apa yang di temui olehnya saat itu?” itu lah yang ada di dalam pikiran dari Sebastian yang kala itu digumamkan olehnya sendiri. Pandangannya terus tertuju kepada jalanan dan pada akhirnya ia sampai di perbatasan Desa unom dan juga Desa Fareham, namun dahi Sebastian kini berkerut ketika menatap ke arah pintu masuk di mana kini Erik tengah berdiri di samping mobil jeepnya yang terparkir di sana, yang membuat Sebastian pun spontan menepikan mobilnya pada saat itu.
Ckiit!
“???” Sebastian keluar dari dalam mobil dan menghampiri Erik yang terlihat melamun di pinggir jalan itu,
“Erik??” panggilan Sebastian pada saat itu pun membuat Erik segera menoleh menatapnya dan menghembuskan napasnya terlihat sangat lega.
“Kau datang, Sebastian?!” tanya Erik kepada Sebastian yang kini mengangguk dan membuat Erik pun segera membuka pintu mobil untuk akhirnya membawa dua buah box dari sana dan kemudian berucap,
“Ayo! Kita harus pergi dari sini!” ucap Erik kepada Sebastian yang kini membuat Sebastian mengerutkan dahinya dan kemudian berkata,
“Ada apa?? apakah kau baik Erik??” tanya Sebastian lagi,
“Sekarang bukan saatnya untuk berbincang … ayo segera pergi dari sini, Sebastian!” ucapan Erik terdengar bergetar saat itu, dan dirinya kini menatap kedua mata Erik yang ketakutan ketika menatap ke arah belakang dari Sebastian, yang tentu saja membuat Sebastian merasa sangat Penasaran,
“Siapa itu? Siapa yang di belakangku, Erik?” tanya Sebastian, dan Erik segera menggelengkan kepalanya untuk berbisik,
“Tidak … jangan meliriknya dan jangan penasaran … buka lah pintunya, kita harus segera pergi dari desa ini!” itu lah bisikan yang di ucapkan oleh Erik, yang seketika saja membuat Sebastian menganggukkan kepala untuk kemudian berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil di sana, yang kemudian Erik pun segera saja masuk dan meminta Sebastian untuk segera pergi dari tempat itu.
“Ayo cepat pergi!!” ucap Erik, dan membuat Sebastian mengangguk dan menyalakan mobil di sana. Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Erik, Sebastian segera memutar balik dan pergi dari desa itu.
Pandangan Sebastin sesekali menatap ke arah Erik yang terlihat tegang sepanjang perjalanan, namun selepas mereka keluar dari Desa Unom, wajah Erik kini terlihat menjadi lesu seolah dirinya baru saja melalui sesuatu hal yang menyeramkan beberapa saat yang lalu, yang membuat Sebastian kini berkata,
“Are you ok, Erik?” tanya Sebastian, dan membuat Erik pun kini menoleh menatapnya seraya menggelengkan kepala untuk berkata,
“Hh … aku rasa aku tidak akan melanjutkan apapun yang berhubungan dengan Desa dan juga gadis itu, Sebastian! Jadi aku mohon … bawa lah Box itu dan simpan lah jauh-jauh dariku!” sambung Erik kepada Sebastian, yang membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya dan kemudian menganggukkan kepala menanggapi hal itu,
“Baik lah … jika itu yang kau inginkan, aku akan membawa box box itu!” ucap Sebastian kepada Erik yang menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Jadi … apakah kau ingin aku antar ke rumah mu, Erik?” Sebastian bertanya kepada Erik yang kini dengan diam menganggukkan kepalanya, namun pandangan Sebastian kini menoleh menatap ke arah kedua tangan Erik yang terlihat bergetar dengan hebat, yang membuat Sebastian merasa bahwa dirinya mengalami hal yang benar-benar menakutkan malam itu.
…
To Be Continue.