bc

Nikah Dulu, Panik Belakangan!

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
family
friends to lovers
drama
like
intro-logo
Blurb

Serena Lee punya dua kabar buruk.

Pertama, rumah peninggalan ibunya akan disita dalam empat belas hari.

Kedua, satu-satunya cara menunda penyitaan itu adalah… memiliki surat nikah.

Masalahnya?

Dia jomblo.

Dengan sisa kewarasan yang menipis, Serena memutuskan meminta bantuan Theo—mantan pacarnya yang sekarang jadi atlet tim nasional voli. Pria yang dulu hampir menjadi masa depannya.

Theo setuju menikahinya.

Gaun sudah siap.

Dokumen lengkap.

Mental… setengah siap.

Lalu di hari akad—

Theo tidak datang.

Yang datang justru Samudra Raditya.

Teman SMP yang dulu sering kabur dari rumah karena ayahnya tukang selingkuh dan menjadikan sofa ruang tamu Serena sebagai tempat pengungsian.

Sekarang dia berubah menjadi direktur muda sukses, tampan menyebalkan, dan entah kenapa berdiri santai di depan KUA seperti ini bukan kejadian aneh.

Dengan waktu tinggal hitungan jam sebelum rumahnya benar-benar disita, Serena melakukan hal paling nekat dalam hidupnya.

Dia menikahi Sam.

Pernikahan kontrak.

Tanpa cinta.

Tanpa drama.

(Spoiler: ternyata penuh drama.)

Karena suami barunya memasak seperti chef hotel bintang lima, mengisi kulkas tanpa izin, terlalu posesif soal kesetiaan, dan bersikap seolah pernikahan ini sungguhan.

Belum sempat Serena memahami kenapa jantungnya mulai tidak aman setiap Sam memanggilnya “istri”—

Theo kembali.

Dengan alasan yang terlambat.

Dengan tatapan yang masih sama.

Dan dengan keyakinan bahwa Serena seharusnya menikah dengannya.

Sekarang Serena harus menghadapi mantan yang ingin merebutnya kembali…

Dan suami kontrak yang tiba-tiba berubah sangat tidak kooperatif.

Karena Samudra Raditya punya satu aturan sederhana tentang pernikahan:

Dia tidak percaya pada pengkhianatan.

Dan dia juga tidak pernah menyerahkan apa yang sudah menjadi miliknya. Termasuk istrinya.

chap-preview
Free preview
Surat Cinta Dari Pengadilan
POV — SERENA LEE Kalau hidup adalah pertandingan voli, maka saat ini aku sedang berada di set kelima. Skor 24–24. Deuce. Dan seseorang di atas sana sepertinya sengaja menjadikan aku bola yang dipukul berkali-kali tanpa diberi kesempatan menyentuh lantai. Aku menatap amplop coklat di tanganku – seolah itu adalah bom waktu yang harus segera dijinakkan, namun aku terlalu tegang untuk membukanya. “Bu… ini benar harus dibuka sekarang?” tanyaku pada ibu pemilik warung fotokopi yang berdiri di balik meja kasir. Sebuah amplop yang dititipkan oleh tukang pos karena tadi pagi rumahku sepi tidak ada orang. Beliau mengunyah kerupuk dengan santai. “Ya kalau suratnya buat Mbak ya dibuka, masa buat saya.” Masuk akal. Aku menarik napas panjang. Tidak ada firasat buruk sebenarnya. Oke. Ku buka sedikit dengan hati-hati. Tangan gemetar karena isi surat itu mungkin akan merubah semuanya. Sebelum terbuka semua aku putuskan membukanya sambil duduk di bangku panjang depan warung. Sejak pagi lutut kiriku nyeri seperti biasanya kalau hujan mau turun. Alarm alami tubuh mantan atlet yang gagal. Mantan atlet. Aku masih belum terbiasa dengan kata itu. Dulu orang memanggilku “Serlee Timnas”. Sekarang? “Serena yang rumahnya catnya ngelupas.” Hidup memang cepat berubah. Aku merobek amplop itu. Kertasnya licin. Berlogo kantor hukum. Jantungku langsung tidak suka. Aku membaca baris pertama. Dan aku merasa dunia yang kupijak berhenti berputar. Secara harfiah aku berusaha untuk membaca. Suara mesin fotokopi di belakangku tetap berdengung. Motor lewat. Orang ketawa. Tapi semuanya terasa jauh. Aku membaca lagi. Lebih pelan seperti gerakan slow motion. Supaya mungkin hurufnya berubah. Biasanya di drama televisi begitu. Tokohnya salah baca. Terus ternyata cuma promo kartu kredit. Sayangnya ini bukan drama. Pemberitahuan Gugatan Sengketa Kepemilikan Properti. Aku mengedip. Sekali. Dua kali. Lalu membaca nama alamatnya. Alamat rumahku. Rumah satu-satunya. Rumah yang bahkan gentengnya hafal suara langkah kakiku. Tanganku mulai dingin. Aku membaca sampai bawah. Tanggal sidang. Empat belas hari lagi. Empat belas. Bukan empat bulan. Empat belas hari. “Mb— Mbak?” suara ibu warung terdengar ragu. Aku baru sadar aku berdiri terlalu lama di depan kiosnya. “Ah… iya Bu,” jawabku cepat. “Wajahnya kok pucat. Jangan-jangan dapat surat cinta dari bank.” Aku tersenyum kaku. “Iya Bu. Bank yang cinta banget sama saya.” Sangat cinta sampai mau mengambil rumah saya. Aku melipat kertas itu. Tanganku gemetar tapi tetap menunjukkan kalau aku baik-baik saja. Nama itu tertulis jelas sebagai penggugat. Dimas James Adrian. Kalau ada kompetisi manusia paling tidak tahu malu se-Asia Tenggara, dia pasti juara umum. Aku keluar dari warung. Udara siang terasa panas. Langit mendung tapi tidak hujan. Persis seperti mood-ku. Aku berjalan pulang tanpa sadar. Langkahku otomatis melewati gang kecil yang sudah kuhafal sejak umur lima tahun. Anak-anak berlarian bermain petak umpet. Penjual cilok dan sate ayam saling menyahut menjajakan dagangan mereka. Seekor kucing oranye tidur di pot bunga tetangga. Bahkan suara ibu Rosidah tetanggaku yang sedang karaoke dangdut. Semuanya normal. Terlalu normal. Padahal hidupku barusan runtuh. Rumah itu muncul di ujung gang. Cat putihnya memudar. Pagar besinya sedikit miring karena pernah kutabrak pakai motor dua tahun lalu. Jangan tanya.Ceritanya panjang. Aku berhenti di depan gerbang. Tanganku menggenggam kertas itu lebih erat. Rumah ini bukan sekadar bangunan. Di teras itu ibuku pernah berdiri dengan gagang sapu saat aku pulang terlalu sore. Di ruang tamu itu aku pertama kali menangis karena gagal masuk klub junior. Di dapur itu… Ibuku memasak mie goreng tengah malam untuk seorang anak laki-laki kurus yang kabur dari rumah. Aku menggeleng cepat. Tidak! Fokus Serena. Jangan nostalgia dulu! Aku masuk. Pintu berderit seperti biasa kalau aku buka. “Tenang, aku belum jual kamu,” gumamku pada pintu. Aku memang sering bicara dengan benda mati. Efek terlalu lama tinggal sendiri. Tas kulempar ke sofa. Aku duduk. Lalu membuka surat itu lagi. Masih sama.Tidak berubah. Aku berharap ada tulisan kecil di bawah: Selamat! Anda terkena prank. Jelas tidak ada. Aku membaca bagian alasan gugatan. Hutang keluarga lama. Hak waris. Dokumen yang katanya ditandatangani ibuku. Mustahil. Ibuku tidak pernah berhutang sebesar itu. Aku tahu. Karena setiap akhir bulan beliau bahkan membayar uang listrik pakai uang koin kembalian minimarket yang selalu dikumpulkan. Dadaku mulai sesak. Empat belas hari. Kalau kalah? Eksekusi. Rumah dijual. Aku tertawa kecil. Suara tawaku aneh. Kedengaran seperti orang gila. “Bagus Serena,” gumamku. “Karier voli gagal. Tabungan tipis. Sekarang tunawisma.” Lengkap sudah penderitaanmu di usia ke dua puluh tujuh ini. Aku bangkit. Mondar-mandir. Atlet itu terbiasa bergerak saat panik. Duduk membuat pikiran makin berisik. Aku membuka kulkas. Isinya kosong selain saus sambal dan air putih. Klasik. Sudah berapa minggu aku tidak sempat belanja isi kulkas karena sedang mode hemat. Gajiku sebagai pelatih ekskul voli di SMA belum turun. Aku mengambil air minum langsung dari botol. Minum beberapa teguk sampai airnya hampir habis. Berharap dapat pencerahan spiritual. Tidak ada yang muncul, hanya pikiranku yang kosong Aku mengambil ponsel. Menghubungi seorang pengacara yang pernah menolong kami waktu almarhum ibuku masih ada. Nada sambung tunggu “I Heart You” dari boyband SMASH membuatku merinding. “Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu … “Selalu peluh pun menetes setiap dekat kamu ….” Aku langsung menjauhkan ponsel dari telinga. Astaga. Siapa sih yang masih pakai nada sambung lagu boyband tahun dua ribuan? Pengacara nostalgia? Atau beliau sedang mengalami krisis paruh baya? Lagu itu terus berjalan dengan penuh energi, padahal hatiku sedang cenat-cenut karena rumahku satu-satunya akan disita. Ironis sekali. Di saat seseorang sedang menghadapi kemungkinan akan menjadi tunawisma, justru diiringi soundtrack cinta remaja. Aku menatap langit-langit dapur menunggu dengan kesal. “You know me so well … Girl, I need you.” Nada sambung berhenti. Terdengar bunyi klik dan suara sapaan seorang pria dewasa yang terdengar tenang dari seberang. “Halo.” Aku langsung duduk tegak. “Selamat siang Pak.” “Siang Mbak Serena, tumben nelpon.” “Iya Pak,” jawabku cepat. “Saya sudah menerima surat gugatannya dari pengadilan.” “Ada yang bisa saya bantu?” Banyak. Sangat banyak. Hidup saya hampir tamat Pak. Tapi tentu saja aku tidak mungkin mengatakan itu. Aku menarik napas panjang. “Pak saya mau memastikan. Apa benar rumah saya bisa disita?” Ada jeda. Jenis jeda yang biasanya tidak disukai manusia normal. Aku menahan napas menunggu jawaban Pak Bisma. “Kemungkinan besar iya.” Jawaban jujur memang menyakitkan. Aku menutup mata. Oke aku masih tenang, masih bisa bersikap dewasa. Aku adalah mantan atlet voli nasional. Aku pernah menghadapi final dengan ribuan penonton. Jadi aku bisa menghadapi satu pengacara ini. “Tapi … kalau saya melawan?” “Dokumen hutang mendiang Ibu Anda yang diajukan cukup kuat.” Aku menarik napas panjang – dan mulai jalan mondar-mandir lagi. “Pak, Ibu saya tidak pernah berhutang sebanyak itu. Ini hanya akal-akalan Dimas aja untuk menguasai rumah peninggalan orang tua saya.” “Bisa saja dokumennya dipalsukan. Tapi proses pembuktiannya panjang dan lama.” Panjang dan lama. Sedangkan aku cuma waktu empat belas hari saja sebelum rumah disita. “Sebenarnya ada cara cepat dibandingkan membuktikan dokumen hutang yang dipalsukan.” Di seberang sana terdengar suara kertas dibalik. Beliau sedang mempertimbangkan sesuatu. Ada harapan kecil muncul. Harapan yang biasanya di drama muncul sebelum karakter utama semakin menderita. “Secara hukum … ada satu celah.” Satu kalimat itu sangat menjadi berpengaruh padaku. Bahwa masih ada jalan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.8K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook