POV - SERENA LEE
“Secara hukum … ada satu celah.”
Aku langsung berdiri tegak.
“Yes!” Aku bahkan tidak sadar mengucapkannya keras.
“Kalau properti itu menjadi harta bersama pasangan sah sebelum sidang pertama… posisi penggugat akan jauh lebih lemah.”
Aku berkedip. Otakku mencoba memproses. “Pasangan sah?”
“Ya.”
“Maksudnya…?”
Beliau menjawab dengan santai. “Ahli waris rumah menikah dan secara hukum – jika rumah itu menjadi harta bersama, maka proses penyitaan mungkin akan tertunda. Selama penundaan,Anda bisa mencari cara lain untuk melunasi hutang itu tanpa pihak menggugat menyita rumah.”
Botol air yang masih kupegang terlepas dari tangan. Gedebuk. Airnya tumpah. Aku bahkan tidak peduli.
“MENIKAH?” Aku refleks berteriak. Lalu menutup mulut sendiri. Tetangga kanan kiri bisa dengar. Aku menurunkan suara.
“Pak… saya tidak punya calon suami.”
“Berarti Anda sudah tidak memiliki harapan.”
“Maksud Bapak. Jika saya tidak menikah atau tidak memiliki suami, maka gugatan akan tetap berlanjut. Tapi jika saya punya dokumen sah tentang kepemilikan bersama dengan orang lain, maka gugatan akan terhalang karena properti sudah berubah status?”
“Ya kurang lebih seperti itu.”
Oh. Bagus sekali. Terima kasih sarannya. Apa saya harus mencari di minimarket?
“Yang penting sah secara hukum.”
Aku duduk pelan. Lutut kiriku berdenyut. Seperti ikut protes.
“Dalam… empat belas hari?”
“Semakin cepat semakin baik.”
Telepon berakhir. Sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berderit. Aku menatap kosong ke depan.
Menikah. Aku bahkan belum move on dari fakta kalau karier voliku tamat. Sekarang harus cari suami dalam waktu singkat. Seperti promo flash sale aplikasi belanja yang bersaing dengan waktu yang sekejap. Aku tertawa kecil.
Pelan. Lalu makin keras. Sampai akhirnya aku menutup wajah sendiri.
“Ya Tuhan….” Aku berdiri.
Mondar-mandir lagi. Dua langkah ke kanan. Balik. Dua langkah ke kiri. Atlet panik memang selalu begitu. Aku membuka kulkas lagi. Masih kosong. Seolah berharap tiba-tiba muncul laki-laki di dalamnya. Tidak ada.
“Ya jelas nggak ada.” Aku menutup kulkas dengan dramatis.
Otak mulai bekerja cepat. Siapa yang masuk daftar calon suamiku saat ini.
Teman SMA? Sudah punya anak dua.
Teman klub voli? Playboy.
Driver langganan? Sudah menikah.
Pak RT? STOP.
Aku menggeleng keras. Tidak boleh sampai segitunya.
Aku mengambil ponsel. Scrolling kontak. Nama demi nama. Tidak ada yang cocok. Aku membuka aplikasi media sosial. Postingan orang lain yang memuat story.
Lamaran romantis. Foto dinner romantis. Liburan bersama pacar di Bali.
Aku ingin melempar ponsel. “Kenapa semua orang hidupnya normal sih!”
Aku mengeluh pada udara. Sunyi menjawab. Aku akhirnya duduk di sofa. Menatap foto ibuku di rak. Senyumnya lembut.
Seperti biasa. Dadaku terasa berat.
“Ma…” Suaraku pelan.
“Aku harus gimana?” Tidak ada jawaban. Hanya angin dari jendela. Aku menelan ludah. Air mata hampir jatuh. Tidak boleh. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Aku Serena Lee. Gadis kuat yang pernah menjadi Dewi Voli di negeri ini.
Dulu aku pernah bermain dengan lutut berdarah di final. Aku tidak menyerah cuma karena surat penyitaan rumah. Aku mengusap wajah cepat.
Oke. Aku butuh sebuah strategi. Kalau pertandingan buntu? Ganti taktik. Aku membuka aplikasi kencan. Download. Buat akun. Pilih foto terbaik. Foto zaman pelatnas. Masih glowing. Masih terlihat seperti manusia sukses.
Aku menulis bio: Mantan atlet. Mencari calon suami yang setia.
Sepuluh menit kemudian. Notifikasi. Pesan masuk.
“Hai cantik.” Aku menatap layar.
Diam karena tersentak fakta. Kalau semua orang tahu aku mencari jodoh di aplikasi bisa berabe. Aku akhirnya menghapus aplikasi. Tidak. Ini bukan cara. Aku butuh suami. Bukan trauma tambahan. Aku menjatuhkan diri ke sofa lagi. Menatap langit-langit.
Empat belas hari. Aku mengangkat tangan ke udara.
“Baiklah Tuhan.”
“Kalau ini ujian… mohon mudahkanlah ya Tuhan soal essay-nya susah banget.”
Tidak ada jawaban. Aku bangkit tiba-tiba. Semangat aneh muncul. Seperti sebelum pertandingan. Tatapan di kaca berubah. Rambut kuikat tinggi. Wajah lelah. Tapi mata itu masih sama. Tatapan orang yang tidak suka kalah. Aku mengambil jaket. Memasukkannya ke tas dengan gerakan cepat.
Kalau hidup sedang menyerang, aku tidak punya waktu untuk duduk manis sambil menangis seperti tokoh drama.
Yang kubutuhkan adalah strategi. Mencari orang yang pernah hampir jadi suami alias mantan pacar.
Aku berhenti di tengah ruang tamu. Menatap kosong. “Oh tidak,” gumamku pelan. Nama itu muncul sendiri di kepalaku. Theo Darmaja. Aku langsung menggeleng keras.
Tidak.
Tidak mungkin.
Sangat tidak mungkin. Itu ide buruk.
Ide paling buruk dalam sejarah manusia setelah seseorang menemukan ide makan mie instan pakai coklat.
Aku berjalan dua langkah tapi berhenti. Lalu balik lagi mundur. Otakku mulai menghitung. Theo adalah atlet voli timnas putra. Gaji sponsornya banyak. Popularitas ada karena selain tinggi dan atletis wajah Theo cukup lumayan ganteng. Dan … dulu ia hampir menikahiku.
Aku menutup wajah. “Ya Tuhan, ini benar-benar memalukan.”
Flashback itu datang tanpa permisi.
Lapangan voli indoor yang perlahan sepi karena baru saja sesi latihan timnas menjelang Sea Games. Theo berdiri di depanku dengan rambut basah karena latihan.
“Kita nikah saja, Ser.”
Aku tertawa waktu itu. Kupikir dia sedang bercanda. Nyatanya dia memang sedang tidak bercanda.
“Aku serius. “
Aku masih ingat ekspresi matanya. Tulus. Bodoh, tapi dia sangat mencintaiku. Aku menolak. Bukan karena tidak sayang. Aku hanya lebih mencintai lapangan saat itu. Turnamen antar klub, Sea Games dan turnamen internasional lainnya. Aku masih ingin mencapai puncak karir – mumpung masih muda.
“Aku belum mau menikah.” Kalimat itu yang mengakhiri semuanya. Lalu cedera datang. Karirku tamat. Hubungan kami juga. Sungguh sangat ironis.
Aku menjatuhkan diri ke sofa lagi. Menatap langit-langit rumah. Theo masih single setahuku. Beberapa bulan lalu dia juga muncul di berita olahraga. Masih kapten klub. Masih terkenal. Dan …
Dia tipe pria yang tidak pernah benar-benar move on. Setidaknya dulu begitu. Aku menggigit bibir. Harga diri Serena Lee saat ini sedang berdiskusi keras dengan kebutuhan bertahan hidup Serena Lee.
Harga diri berkata, “Jangan datang.”
Harga kebutuhan bertahan hidup berkata, “Rumahmu mau disita. Kalau disita statusmu menjadi gelandangan.”
Harga diri kalah telak. Aku berdiri lagi. “Oke.”
Aku mengambil helm.
“Ini bukan minta balikan.” Aku menunjuk diri sendiri di cermin.
“Hanya minta bantuan,” tegasku.
Motor matic-ku menyala setelah lima kali aku starter. Seperti ikut mempertanyakan keputusan hidupku.
Perjalanan menuju gedung latihan klubnya memakan waktu hampir empat puluh menit. Jakarta sore itu masih panas seperti tengah hari.
Di jalan sangat ramai. Seorang bapak-bapak hampir menyerempetku.
Aku menghela napas panjang. “Kalau aku mati sekarang, rumahnya tetap disita nggak ya?” Pertanyaan eksistensial yang tidak perlu dijawab.
Aku akhirnya sampai di depan gedung olahraga klub yang berdiri megah di depan. Aku memarkir motor. Menatap pintu masuk sambil berjalan. Bau khas lapangan langsung menyambut begitu aku masuk.
Keringat, resin bola, dan suara sepatu berdecit di lantai. Dadaku tiba-tiba sesak. Sudah lama aku tidak merasakannya – aroma lapangan voli yang selalu terasa seperti rumah kedua.
Aku berdiri di tribun kosong. Latihan sedang berlangsung. Aku langsung menemukannya di sana. Theo Darmaja. Tinggi menjulang dengan bahu lebar – melompat melakukan spike keras. Bola menghantam lantai dengan suara keras. Anak-anak klub bersorak.
Dia masih sama. Tidak!
Dia lebih matang dengan rambutnya yang sedikit lebih pendek. Tatapannya lebih tajam. Entah kenapa melihatnya membuat dadaku aneh.
Pelatih meniup peluit. Istirahat. Semua pemain berebut mencari spot untuk duduk. Theo mengambil handuk dan mengusap wajah. Lalu — dia melihatku.
Dunia benar-benar punya timing komedi yang buruk. Dia membeku, handuknya jatuh. Aku mengangkat tangan kecil. Senyum kaku.
“Hai!”
Beberapa pemain langsung melihat ke arahku. Bisik-bisik mulai terdengar. Mantannya yang cantik datang. Pasti begitu pikir mereka.
Theo berjalan mendekat perlahan. Ekspresinya campur aduk. Kaget, tidak percaya, dan sesuatu yang tidak ingin kuartikan.
“Serena?” Suaranya pelan.
Aku mengangguk. “Iya.
Hening beberapa detik. Aku tiba-tiba sadar kalau aku datang kesini untuk meminta seseorang menikahiku.
Astaga. Aku ingin kabur.
Theo tertawa kecil. Tidak percaya.
“Kamu beneran?”
“Kalau hologram bisa naik motor, berarti iya.”
Dia tersenyum. Tuhan. Senyum itu masih sama. Hangat. Berbahaya.
“Kamu… sehat?” Pertanyaan sederhana. Tapi membuat tenggorokanku kering.
“Iya.”
Dia melihat lututku sekilas. Theo selalu tahu. Cedera itu yang memisahkan kami.
“Kamu datang kesini ada perlu apa?”
Nah. Ini dia. Aku menelan ludah. Semangat Serena. Ini demi rumah.
Aku menarik napas panjang. “Tolong jangan kaget ya.”
Theo mengernyit. Aku berdiri tegak. Seperti mau servis bola.
“Kalau seseorang butuh menikah cepat…”
Dia mengedip.
“… kamu kenal orang yang lagi butuh istri nggak?”
Lapangan mendadak sunyi. Seseorang menjatuhkan botol minum di belakang.
Theo menatapku. Lama. Sangat lama. Lalu dia tertawa pelan karena tidak percaya.
“Serena Lee…”