Lamaran Yang Salah Tempat

1484 Words
POV SERENA LEE “Serena Lee….” Theo menggeleng pelan sambil tertawa. Jenis tawa yang biasanya muncul kalau seseorang sedang berusaha memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. “Kamu ini lagi syuting konten apa?” Aku berkedip. “Hah! Apa?” Dia menunjuk sekeliling. Lapangan latihan. Pemain klub. Pelatih yang pura-pura tidak melihat tapi jelas mendengarkan. Beberapa anak muda bahkan sudah mengeluarkan ponsel. Oh tidak. Tidak. Jangan bilang mereka— Theo menyeringai. “Hidden camera?” Aku menatapnya kosong. Lalu menoleh ke kanan. Ke kiri. Tidak ada kamera. Tidak ada kru. Tidak ada sponsor minuman energi. “Hah?” Theo mendekat sedikit. Suaranya merendah. “Kamu influencer sekarang ya?” Aku menutup wajah. Ya Tuhan. Aku datang dengan harga diri hampir nol untuk meminta mantan pacarku menikahiku. Dan dia pikir ini prank bertajuk konten. “Sayangnya aku belum sejatuh itu sampai bikin konten prank mantan,” gumamku. Dia tertawa lagi. “Serius?” Aku menatapnya lurus. Tidak tersenyum. Tidak bercanda. Hanya Serena Lee versi lelah. Dan perlahan… tawanya berhenti. Ekspresinya berubah. “Kamu… serius?” Aku membuka mulut. Ingin menjelaskan. Tapi— “WOI KAPTEN! CEPAT! LATIHAN SERVIS!” Pelatih berteriak dari belakang. Beberapa pemain bersiul. Seseorang bahkan berbisik keras. “Bang Theo dilamar mantan!” Aku ingin menghilang. Serius. Aku ingin berubah jadi debu saking malunya. Theo menghela napas. Melirik ke belakang. Lalu kembali padaku. “Kita nggak bisa ngobrol di sini.” Aku mengangguk cepat. Terima kasih Tuhan akhirnya ada orang waras. “Aku juga nggak mau menjelaskan soal pernikahan di depan lima belas atlet berkeringat,” kataku jujur. Dia tersenyum kecil. Dan anehnya… senyum itu sedikit membuatku gugup. “Kamu tunggu aku ya!” Aku mengerut. “Hah?” “Habis latihan.” Theo mengusap tengkuknya. “Kita ngobrol di tempat biasa.” Tempat biasa. Dadaku seperti ditekan sesuatu. Kafe kecil dekat gedung olahraga. Tempat kami dulu sering kabur setelah latihan pelatnas. Tempat dia pertama kali mengatakan cinta padaku. Tempat aku pertama kali menangis karena kalah pertandingan. Dan tempat aku menghancurkan hatinya. Aku menelan ludah. “… oke.” Dia mengangguk. “Jam enam.” Aku melirik jam. Sekarang jam tiga sore. Tiga jam. Tiga jam menunggu mantan pacar yang mungkin akan menjadi suami kontrakku. Hidupku benar-benar sudah keluar jalur. *** Kafe itu masih sama. Lampu kuning hangat. Aroma kopi. Musik jazz pelan. Aku duduk di pojok dekat jendela. Menatap jam. Jam 18.10. Masih wajar. Atlet yang habis latihan biasanya mandi dulu. Aku memesan es kopi s**u. Sambil menunggu aku tak sadar menghabiskannya. Jam 19.00. Aku memesan lagi. Pelayan mulai mengenalku. Jam 19.30. Aku mulai mempertanyakan keputusan hidup. Jam 20.05. Aku hampir pulang. Serius. Harga diriku sudah kembali hidup dan berkata, “Sudah cukup Serena. Dia mungkin berubah pikiran.” Aku meraih tas. Berdiri. Lalu— lonceng pintu berbunyi. Aku menoleh. Theo masuk. Rambutnya masih sedikit basah. Kaos hitam sederhana. Tas olahraga di bahu. Dan senyum minta maaf. “Sorry.” Dia langsung duduk di depanku. “Aku ditahan anak-anak klub. Mereka nggak mau pulang.” Aku duduk lagi pelan. Tidak sadar ternyata aku lega. Bodoh. “Kamu nunggu lama?” Aku menatap tiga gelas kosong di meja. Dia mengikuti arah pandanganku. Theo tertawa pelan. “Oke. Lama banget ya.” Aku mengangkat bahu. “Lumayan. Aku hampir pesan makan malam ulang tahun juga.” Dia tersenyum. Lalu hening datang. Jenis hening yang tidak canggung. Tapi berat. Theo menatapku lama. Seperti sedang memastikan aku nyata. “Kamu kurusan,” katanya pelan. Aku mengangkat alis. “Terima kasih. Itu bukan pujian.” Dia tersenyum samar. “Aku kangen.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa peringatan. Aku pura-pura sibuk mengambil sedotan. Tidak siap membahas masa lalu. “Kita fokus ke topik utama aja ya.” Theo mengangguk. Ini serius sekarang. “Oke.” Aku menarik napas panjang. Serena. Ini Servis pertama. Jangan gagal. “Rumahku digugat.” Aku menjelaskan semuanya. Surat penggugatan, sepupu b******k. Waktunya hanya empat belas hari. Ancaman penyitaan. Theo tidak memotong. Tidak bercanda. Hanya mendengarkan. Tatapannya berubah setiap menit. Marah. Khawatir. Dan sesuatu yang membuatku sedikit tidak nyaman. Aku mengakhiri dengan satu kalimat. “Kalau aku menikah sebelum sidang… rumahnya aman sementara.” Hening. Theo bersandar. Menatap meja. Lama sekali. Aku mulai menyesal. Ini gila. Sangat gila. Theo pasti menganggapku datang menemuinya hanya ingin memanfaatkannya saja. Menikah karena menunda penyitaan rumah, bukan karena komitmen saling cinta saling jaga seperti tepuk sakinah yang jadi marketing KUA. Theo masih diam. Diam yang terlalu lama sampai aku mulai menghitung detik di kepalaku sendiri. Satu. Dua. Tiga. Empat. Oke. Ini bukan pertandingan voli. Tidak ada wasit yang meniup peluit tanda jeda berpikir. Aku menggenggam gelas kopi yang sudah kosong sejak setengah jam lalu. Esnya tinggal mencair seperti harga diriku saat ini. Theo menatap meja. Tangannya saling bertaut. Rahangnya mengeras. Aku tahu ekspresi itu. Ekspresi Theo kalau sedang berpikir keras. Dan semakin lama dia tidak bicara, semakin jelas satu hal di kepalaku. Dia akan menolak. Tentu saja dia akan menolak. Siapa perempuan waras yang datang menemui mantan pacarnya setelah bertahun-tahun hilang, hanya untuk berkata, “Hai, kamu mau menikah denganku supaya rumahku tidak disita?” Aku bahkan ingin menampar diri sendiri. Aku menarik napas pelan. “Oke,” kataku akhirnya sambil berdiri. Theo langsung mengangkat kepala. “Apa?” Aku meraih tas. “Nggak apa-apa. Aku ngerti kok.” Dia mengerut. “Mengerti apa?” Aku tersenyum. Senyum sopan yang biasa kupakai saat kalah pertandingan tapi pura-pura kuat. “Ini memang permintaan gila. Aku juga kalau di posisi kamu mungkin bakal mikir dua kali.” Atau sepuluh kali. Aku menunduk sedikit. “Terima kasih sudah mau dengar.” Aku benar-benar hampir pergi. Serius. Harga diriku akhirnya bangun dari koma panjang dan berkata, Cukup. Namun— “Serena.” Suaranya membuat langkahku berhenti. Aku menoleh. Theo sudah berdiri. Tatapannya lurus ke arahku. “Aku belum jawab.” Aku menelan ludah. “O… oke.” Aku duduk lagi perlahan. Jantungku mulai tidak sopan berdetak terlalu keras. Theo mengusap wajahnya. Menghela napas panjang. “Kamu tahu nggak sih… sejak kamu datang ke lapangan tadi aku pikir hidupku lagi kena prank.” Aku mendengus kecil. “Maaf ya kalau eksistensiku terasa seperti konten YouTube.” Dia tersenyum tipis. Lalu wajahnya kembali serius. “Kamu benar-benar nggak punya pilihan lain?” Aku menggeleng. “Kalau ada… aku nggak akan datang.” Suasana kembali sunyi. Theo menatapku lama. Bukan seperti pria yang sedang menilai. Lebih seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu. “Kamu tahu…” katanya pelan. “Aku dulu pernah mau menikahimu.” Dadaku langsung terasa aneh. Aku menatap meja. Iya. Aku tahu. Dan aku yang menolak. Theo tertawa kecil. Tidak pahit. Tidak marah. “Hari itu aku bahkan sudah siap berhenti dari klub luar negeri.” Aku mengangkat kepala cepat. “Hah?” Dia mengangkat bahu santai. “Aku pikir kalau kita nikah… aku mau lebih dekat sama kamu. Nggak perlu LDR.” Aku membeku. Aku tidak pernah tahu itu. Tidak pernah. Theo tersenyum samar. “Terus kamu bilang karir voli lebih penting mumpung masih muda.” Aku menggigit bibir. Maaf. Kata itu hampir keluar tapi tertahan. Dia menghela napas. “Aku marah waktu itu.” “Tahu,” gumamku pelan. “Tapi aku nggak pernah berhenti berharap kamu berubah pikiran.” Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air. Pelan. Tapi dalam. Aku tidak tahu harus melihat ke mana. Theo akhirnya bersandar di kursi. Menatap langit-langit sebentar. Seperti mengambil keputusan besar. Lalu dia kembali menatapku. Langsung. Tanpa ragu. “Oke.” Aku berkedip. “… apa?” “Aku bantu kamu.” Aku benar-benar tidak bereaksi selama beberapa detik. Otakku loading. Seperti laptop tua. “Hah?” Theo tersenyum kecil melihat ekspresiku. “Aku bilang aku bantu.” “Tunggu— serius?” “Iya.” Aku menatapnya seperti dia baru saja berkata mau membelikan planet. “Kamu… nggak mikir dulu?” Dia tertawa pelan. “Aku udah mikir dari tadi.” “Tapi ini nikah, Theo.” “Iya.” “Secara hukum.” “Iya.” “Bisa ribet.” “Iya.” Aku hampir frustasi. “Kamu ini kenapa santai banget!” Theo menyandarkan siku di meja. Menatapku dengan mata hangat yang dulu selalu membuatku kalah argumen. “Karena orang yang kamu minta itu aku.” Aku terdiam. Dan dia melanjutkan pelan. “Aku butuh waktu untuk bisa menikah. Jadi bagaimana kalau sepuluh hari lagi dari sekarang. Masih ada waktu ‘kan? tanyanya ulang. “Ya, aku siap. Aku tunggu. Sepuluh hari lagi!” “Hmm, aku ada dua pertandingan penting dulu. Setelah itu aku akan datang menemuimu untuk menikah.” Aku tahu karena dia sedang menjalani sisa pertandingan laga musim ini. Sepuluh hari adalah waktu yang sangat logis. Itu juga kalau tidak ada hal terjadi di pertandingan, misalnya cedera atau pertandingan ditunda karena alasan teknis lapangan. “Kita janjian di depan KUA langsung untuk mendaftarkan pernikahan kita!” ujarnya memberiku harapan manis. Harapan kalau aku tidak akan jadi gelandangan di empat belas hari kedepan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD