POV SERENA LEE
Sepuluh hari ternyata bisa terasa lebih lama dari satu musim kompetisi nasional. Aku menghitungnya seperti atlet menghitung skor set penentuan.
Hari pertama aku masih yakin. Hari kedua mulai gelisah. Hari kelima aku sudah memeriksa ponsel setiap lima menit seperti orang yang menunggu hasil ujian hidup mati. Hari kesembilan aku bahkan bermimpi berdiri sendirian di depan gedung KUA memakai kebaya pengantin sementara semua orang menertawaiku.
Ironisnya? Mimpi itu hampir jadi kenyataan.
***
Pukul delapan pagi. Aku berdiri di depan cermin kamar. Kebaya putih itu menggantung di tubuhku. Kebaya milik mama.
Tanganku sempat gemetar waktu mengeluarkannya dari lemari dua hari lalu. Aromanya masih samar—campuran kamper, sabun lama, dan sesuatu yang terlalu familiar sampai membuat dadaku sesak. Mama memakainya saat ulang tahun pernikahan terakhir sebelum Papa meninggal.
Aku tidak pernah berpikir suatu hari aku akan memakainya untuk pernikahan kontrak. Hidup memang punya selera humor yang buruk. Aku merapikan kerahnya. Tidak terlalu mewah. Tidak ada payet berlebihan. Putih sederhana dengan renda halus di bagian lengan.
Aku berdandan sendiri. Sedikit bedak. Lipstik tipis supaya tidak terlihat seperti pasien kurang darah. Aku bahkan menyisir rambut dua kali.
Serena Lee. Mantan atlet nasional. Hari ini mau menikah.
Tanpa keluarga.
Tanpa teman.
Tanpa musik.
Tanpa bunga.
Dan kemungkinan besar… tanpa mempelai pria.
“Stop mikir aneh-aneh,” gumamku pada bayangan sendiri.
Theo bukan tipe orang yang ingkar janji. Dia bukan pria seperti itu, ‘kan? Aku menarik napas panjang. Lalu mengambil map berisi dokumen. Surat gugatan. Fotokopi KTP. Semua berkas yang membuat hidupku terasa seperti proyek administrasi negara.
Motor matic-ku menyala dengan suara protes biasa. Aku berangkat menuju gedung KUA. Janjian langsung bertemu di sana dengan Theo. Selama perjalanan aku berusaha untuk tidak tegang. Meski kata orang menikah itu sekali seumur hidup. Namun, pernikahan ini hanya sebatas kontrak saja demi mengamankan rumah sementara. Theo tidak menegaskan alasan apa dia mau menikah denganku.
Meski dia pernah melamarku dua tahun lalu, tapi saat ini aku tidak mau berharap lebih. Kutegaskan dalam hati kalau Theo hanya membantuku.
***
Gedung Kantor Urusan Agama terlihat biasa saja. Tidak begitu ramai namun tidak juga terlalu sepi. Beberapa pasangan yang mau menikah sudah datang. Ada yang membawa keluarga besar, ada yang membawa fotografer, dan ada juga yang datang hanya sekedar mengantar teman untuk mendaftar pernikahannya, dan lain sebagainya.
Aku berdiri sendirian, cukup terlihat menyedihkan . Tanpa keluarga, tanpa fotografer, tanpa bunga. Bahkan calon suami yang belum juga datang.
“Serena!”
Aku menoleh. Pak Rama berjalan cepat ke arahku. Pria enam puluhan itu masih mengenakan kemeja rapi meskipun jelas terburu-buru. Tetangga lama Mama. Orang yang menggendongku waktu kecil. Dan satu-satunya orang yang cukup baik untuk menjadi saksi nikah kontrakku.
“Kamu cantik sekali,” katanya tulus.
Aku tersenyum kecil. “Terima kasih, Pak.”
Beliau melihat ke belakangku. “Calon suaminya mana?”
Aku ikut menoleh ke tempat parkiran. Kosong.
“Belum sampai,” jawabku ringan.
Masih ringan. Masih optimis. Jam menunjukkan pukul sembilan. Waktu yang kami sepakati. Theo selalu tepat waktu. Atlet profesional tidak pernah terlambat. Aku duduk di kursi tunggu. Pak Rama duduk di sebelahku. Kami ngobrol hal-hal ringan sambil menunggu Theo datang. Aku tertawa beberapa kali. Berusaha terlihat santai.
Pukul sembilan lewat dua puluh. Aku mulai mengecek ponsel. Tidak ada pesan. Mungkin macet. Jakarta memang suka drama macet dimana-mana.
Pukul sepuluh. Aku membuka berita olahraga. Klub Theo menang telak dua pertandingan terakhir. Foto dia bahkan muncul di headline. Tersenyum lebar sambil mengangkat trofi kecil. Artinya? Dia bebas hari ini. Tidak ada latihan. Tidak ada pertandingan. Harusnya dia datang. Harusnya.
Pukul sepuluh lewat empat puluh lima. Aku mulai menggigit kuku. Tidak. Serena Lee tidak panik. Aku cuma — berpikir.
Mungkin mobilnya mogok. Mungkin ada pertemuan tim mendadak. Mungkin— Mungkin dia lupa. Dadaku langsung terasa dingin. Tidak mungkin. Theo bukan orang pelupa, bukan?
Pak Rama melirik jam.
“Serena…?” Aku tersenyum cepat.
“Sebentar lagi Pak.”
Jam sebelas. Pasangan di sebelahku sudah selesai akad. Mereka berpelukan. Ibunya menangis. Aku menatap ke arah lain. Jam sebelas lewat tiga puluh.
Pak Rama menerima telepon. Beliau menjauh sebentar. Kembali dengan wajah tidak enak.
“Maaf ya, Serena.”
Aku langsung tahu. “Ada urusan?”
Dia mengangguk pelan. “Ada saudara yang sakit keras. Saya harus ke sana.”
Tentu saja. Semesta benar-benar serius ingin menguji mental mantan atlet nasional hari ini. Tidak apa-apa. Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa Pak.”
Beliau ragu. “Yakin?”
“Iya.”
Beliau menepuk bahuku. “Kalau sudah selesai kabari ya.”
Aku mengangguk. Dan beberapa menit kemudian…
Aku sendirian. Benar-benar sendirian. Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Aku duduk di kursi yang sama.
Sudah tiga jam aku menunggu. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Aku menatap ponsel. Nomor Theo ada di sana. Sangat mudah. Tinggal tekan.
Halo.
Kamu di mana?
Tapi jari-jariku tidak bergerak.
Harga diri. Itu masalahnya. Aku sudah datang meminta. Sudah memohon. Aku tidak mau terlihat seperti pengemis yang mengejar belas kasihan. Kalau dia telat — dia pasti mengabari. Kalau dia benar-benar mau datang — dia pasti datang.
Aku menarik napas panjang. Mungkin dia berubah pikiran. Mungkin dia sadar ini ide paling bodoh yang pernah dia dengar. Mungkin sejak awal dia cuma merasa kasihan. Atau— dia mempermainkanku. Dadaku seperti ditarik sesuatu.
Aku berdiri pelan. Selesai. Aku tidak akan menangis di sini. Tidak di depan kantor pemerintah. Aku Serena Lee. Aku tidak akan pernah terlihat lemah di depan banyak orang.
Aku pernah kalah final nasional di depan ribuan orang dan tetap berdiri. Aku bisa pulang. Aku bisa cari cara lain. Walaupun aku tidak tahu caranya.
Aku berjalan keluar. Langkahku terasa ringan sekaligus kosong. Panas siang Jakarta menyambut. Aku menuruni tangga pelan.
“Serena?” Sebuah panggilan mengejutkanku.
Aku berhenti. Suara itu. Aku menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dariku. Tinggi. Kemeja putih digulung sampai siku. Tatapan tajam yang dulu sering membuat guru BK menyerah menasehatinya.
Rambutnya lebih rapi sekarang. Lebih dewasa. Lebih mahal. Tapi senyum miring itu? Masih sama.
Persis seperti anak SMP yang dulu sering kabur dari rumah lalu tidur di sofa ruang tamuku sambil pura-pura tidak lapar.
Dadaku seperti berhenti sebentar.
“Sam?”
Dia tersenyum lebar.
“Wah.” Nada suaranya santai. Seolah kami terakhir bertemu kemarin sore.
“Serena Lee.”
Tatapannya turun. Dari wajahku. Ke kebaya putih. Ke map dokumen di tanganku. Lalu kembali ke mataku. Alisnya terangkat.
“Ini aku telat datang ke reuni SMP…” Dia berhenti sebentar. “Atau kamu memang lagi mau nikah?”
Aku merasa malu bisa bertemu dengannya lagi di saat yang tidak tepat. Andai saat ini ada pintu Doraemon, aku ingin melarikan diri saat ini juga.