Reuni Tidak Terduga

1117 Words
POV SERENA LEE Aku selalu percaya semesta punya selera humor yang aneh. Tapi hari itu, rasanya semesta sedang duduk di kursi penonton sambil makan popcorn dan menonton hidupku runtuh dengan penuh hiburan. Di depan Kantor Urusan Agama. Dengan kebaya putih, tanpa mempelai pria. Tiba-tiba Samudra Raditya berdiri di depanku seperti karakter cameo yang salah masuk genre film. Aku menatapnya terlalu lama sampai lupa berkedip. “Sam.” Nama itu terasa asing sekaligus terlalu akrab di lidahku. Dia berubah. Tentu saja berubah. Kami terakhir bertemu dua belas tahun lalu. Anak SMP kurus dengan rambut sedikit panjang yang selalu terlihat seperti baru bangun tidur itu sekarang berdiri dengan bahu lebar, postur tegap, dan dengan aura mahal. Ya. Itu kata yang paling tepat. Mahal. Kemeja putihnya sederhana tapi jatuh sempurna di tubuhnya. Jam tangan di pergelangan tangannya jelas bukan barang diskon pusat perbelanjaan. Bahkan cara dia berdiri—tenang, santai, tapi seperti seseorang yang terbiasa membuat keputusan besar. Bukan anak yang dulu sering duduk di belakang kelas sambil menunduk. Dia menyeringai. “Masih inget juga ternyata.” Aku mendengus refleks. “Kalau lupa berarti aku sudah pikun.” Dia tertawa kecil. Suaranya lebih berat sekarang dan dalam. Dan entah kenapa suara tawa itu membuat hatiku menciut. Dia bukan lagi Sam yang aku kenal dulu. Tatapannya turun lagi ke kebayaku. Aku langsung merasa seperti tertangkap basah melakukan kejahatan nasional. “Serius nanya,” katanya sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Kamu kesini mau nikah?” Aku membuka mulut. Menutupnya lagi. Aku harus jawab apa? ‘Iya, tapi calon suamiku kabur’? Atau— ‘Aku datang ke sini buat nikah kontrak demi menyelamatkan rumah dari sitaan sepupu licik’? Kedengarannya seperti sinopsis drama jam sepuluh malam. “Aku…” Aku menghela napas. “Harusnya.” Alisnya naik. Harusnya. Dia jelas menangkap kata itu. Tatapannya bergeser ke sekeliling. Ke halaman parkir yang kosong. Ke map dokumen di tanganku. Ke kursi tunggu di dalam gedung. Lalu kembali ke wajahku. Dan sesuatu di matanya berubah. Tidak mengejek. Tidak juga kasihan. Lebih seperti… mengerti. Samudra memang selalu begitu. Pendiam. Tapi pengamat yang mengerikan. “Mana calon suamimu?” tanyanya santai. Aku langsung tersedak udara sendiri. “Ah dia nggak datang!” Jawabanku terlalu cepat. Terlalu keras. Beberapa orang bahkan menoleh. Aku langsung menurunkan suara. “Kayaknya batal menikah.” Dia tidak tertawa. Itu justru membuatku semakin malu. Aku memalingkan wajah. Menatap tangga. Menatap pohon di halaman. Menatap apa saja selain dia. Dan entah kenapa— Kenangan itu datang. Tanpa izin. Tanpa aba-aba. *** Samudra Raditya di SMP bukan anak populer. Dia bahkan nyaris tidak terlihat. Kalau sekolah itu pertandingan voli, dia mungkin bola cadangan yang lupa dipompa. Aku pertama kali benar-benar memperhatikannya waktu kelas dua. Waktu itu aku habis latihan voli sore, seragam jersey-ku masih basah keringat. Dan aku mendengar suara ribut di belakang gedung laboratorium. “Anak mama nih.” “Tadi nangis lagi nggak?” “Tuh mukanya kayak anak ilang.” Aku berjalan mendekat. Tiga anak laki-laki berdiri melingkar. Di tengah mereka— Samudra. Tasnya jatuh. Buku berserakan. Dia tidak melawan. Tidak juga bicara. Cuma berdiri. Menunduk. Seperti berharap semuanya selesai lebih cepat kalau dia diam. Aku tidak suka itu. Aku memang bukan anak perempuan feminin sejak lahir. Aku lebih sering main futsal sama anak cowok daripada rebutan gebetan. Silat, voli, atau basket. Kalau ada pilihan naik sepeda atau duduk manis, aku pasti pilih yang bikin lutut lecet. Jadi melihat tiga anak sok jago mengganggu satu orang? Mood-ku langsung jelek. “Hei.” Suara sepatu olahragaku menghentak lantai. Mereka menoleh. “Apa sih?” salah satu dari mereka mendengus. Aku menunjuk buku yang jatuh. “Ambilin.” Dia tertawa. “Kenapa?” Aku memutar bahu dengan memasang wajah siap duel. “Kamu mau aku ulangi pakai cara lain?” Aku tidak tinggi waktu itu. Tapi aku atlet sekolah. Dan reputasi pukulan silatku… cukup terkenal. Akhirnya mereka pergi sambil menggerutu. Aku memunguti buku Samudra. Dia masih diam. Bahkan tidak bilang terima kasih. Aku kesal. “Kamu bisu?” Dia mengangkat kepala pelan. Mata hitamnya… kosong. Bukan kosong bodoh. Kosong karena capek. Seperti orang yang terlalu sering kalah sampai tidak punya tenaga marah lagi. “Makasih,” katanya pelan. Suaranya hampir tidak terdengar. Dan sejak hari itu — aku seperti punya anak angkat. Lucunya… aku sendiri waktu itu masih anak SMP. Aku sering menemukan dia tidur di perpustakaan. Di UKS. Di belakang aula. Pernah sekali tidur di tribun lapangan voli. “Kenapa kamu nggak pulang?” tanyaku suatu sore. Dia lama menjawab. “Males.” Itu saja. Belakangan aku dengar dari gosip guru. Ayahnya tukang selingkuh. Ibunya sering kena kekerasan. Rumah mereka seperti medan perang. Tidak heran dia lebih suka sekolah sampai malam. Jadi aku mulai melakukan hal paling bodoh sekaligus paling alami. Aku mengajaknya pulang. Mama tidak pernah keberatan. Mama bahkan selalu memasak lebih. “Teman kamu kurus sekali,” katanya suatu malam. Samudra makan seperti orang yang baru ketemu nasi. Tapi matanya lembut waktu Mama menyodorkan tambah nasi. Kadang dia tidur di sofa ruang tamu. Kadang belajar bareng. Kadang cuma duduk menonton pertandingan voli nasional bersamaku. Dia jarang bicara. Tapi selalu mendengarkan. Dan entah sejak kapan— Aku mulai terbiasa kalau dia ada. Aku senang punya teman laki-laki. Tidak ribet. Tidak drama. Kami bahkan pernah latihan servis voli sampai tetangga protes karena bola masuk halaman mereka lima kali. Dia sering diledek teman lain. “Ngumpet di ketiak cewek.” “Awas nanti bodyguard-nya marah!” Aku tidak peduli. Kalau ada yang mengganggu dia— Aku yang maju duluan. Lucunya? Samudra tidak pernah meminta. Dia cuma… ada. Dan semakin lama… Dia semakin sering tersenyum. Senyum kecil. Yang cuma muncul kalau dia merasa aman. Tapi setelah kelulusan SMP— Dia menghilang. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Nomor lama mati. Seperti seseorang yang benar-benar memutus masa lalu. Dan sekarang. Dua belas tahun kemudian. Dia berdiri di depanku. Di depan KUA. Saat hidupku sedang berantakan. * “Serena?” Aku tersentak. Samudra berdiri lebih dekat sekarang. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan dia mendekat. “Kamu nggak jawab malah bengong.” “Ah iya, sorry … sorry!” Dia tersenyum miring. Senyum waktu SMP itu masih ada. Dan anehnya— Dadaku terasa hangat. “Jadi,” katanya santai. “Siapa yang bikin kamu berdiri sendirian pakai kebaya di depan kantor nikah?” Aku menatapnya. Lama. Dan untuk pertama kalinya hari itu… Aku tertawa. Tawa kecil. Putus asa. “Ceritanya panjang.” Dia mengangguk ringan. “Kalau nggak keberatan aku mau dengarkan. Berhubung kita baru ketemu lagi, kita ngobrol sambil makan siang.” “Cocok! Ini sudah jam makan siang. Aku lapar!” sahutku tanpa malu. Peduli setan dengan imej-ku. Toh selama kenal dengan Samudra aku tidak pernah berusaha menjadi cewek tulen yang feminim dan jaga gengsi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD